Sobs...

Jujur saja, saya mengikuti link yang diberikan oleh mas AZA (lihat tail
email saya)
karena ada statementnya eyang Ahmad Dahlan (padahal kalo ketemu saya dia kok
ndak pernah bicara gitu kok yah? ha ha ha)..

Rekans, maaf yah, saya bukan mau cari ribut...
namun coba lihat.. salah satu bagian dalam sejarah Eyang Ahmad Dahlan
(sebagian orang bilangnya KH.Ahmad Dahlan),
di sejarah beliau halaman 3 dari 5 pada paragraf 3, ada yg menggelitik
saya... baca sendiri saja deh.. saya jadi agak kecewa ajah, begitu mudahnya
orang menghujat orang lain tanpa info yg jelas, tetapi nyatanya? sampe ada
kejadian ribut berdarah pula...

mungkin aja saya juga salah info.. tetapi kok namanya sama yah? bukankah
eyang ahmad dahlan ini orang cerdas? dan bahkan golongan mereka itu dulu
bisa sampai memprediksi 100 tahun kedepan?

jadi...
hmm... my opinion is my opinion.. setidaknya, kita bisa lebih selidak
selidik dulu baru "nggeplak" hue he he he

Semoga dugaan gue benar, hbiar banyak orang yg menyesal, bawa bukan gituh
caranya Rasulullah menegakkan kalimah Allah.
Damai..damai...damai...and Fight to those who fought you only, excluded
plantation, child, and woman...

"Pada tanggal 20 Desember 1912, Ahmad Dahlan mengajukan permohonan kepada
Pemerintah Hindia Belanda untuk mendapatkan badan hukum. Permohonan itu baru
dikabulkan pada tahun 1914, dengan Surat Ketetapan Pemerintah No. 81 tanggal
22 Agustus 1914. Izin itu hanya berlaku untuk daerah Yogyakarta dan
organisasi ini hanya boleh bergerak di daerah Yogyakarta. Dari Pemerintah
Hindia Belanda timbul kekhawatiran akan perkembangan organisasi ini. Itulah
sebabnya kegiatannya dibatasi. Walaupun Muhammadiyah dibatasi, tetapi di
daerah lain seperti Srandakan, Wonosari, dan Imogiri dan lain-lain tempat
telah berdiri cabang Muhammadiyah. Hal ini jelas bertentangan dengan dengan
keinginan pemerintah Hindia Belanda. Untuk mengatasinya, maka KH. Ahmad
Dahlan mensiasatinya dengan menganjurkan agar cabang Muhammadiyah di luar
Yogyakarta memakai nama lain. Misalnya Nurul Islam di Pekalongan, Ujung
Pandang dengan nama Al-Munir, di Garut dengan nama Ahmadiyah. Sedangkan di
Solo berdiri perkumpulan Sidiq Amanah Tabligh Fathonah (SATF) yang mendapat
pimpinan dari cabang Muhammadiyah. Bahkan dalam kota Yogyakarta sendiri ia
menganjurkan adanya jama'ah dan perkumpulan untuk mengadakan pengajian dan
menjalankan kepentingan Islam. Perkumpulan-perkumpulan dan Jama'ah-jama'ah
ini mendapat bimbingan dari Muhammadiyah, yang di antaranya ialah Ikhwanul
Muslimin, Taqwimuddin, Cahaya Muda, Hambudi-Suci, Khayatul Qulub, Priya
Utama, Dewan Islam, Thaharatul Qulub, Thaharatul-Aba, Ta'awanu alal birri,
Ta'ruf bima kan,u wal-Fajri, Wal-Ashri, Jamiyatul Muslimin, Syahratul
Mubtadi (Kutojo dan Safwan, 1991: 33)."


jadi, ya kita berdamai ajah yah...lebih terasa kata iklan dan mohon maaf
atas kebodohan dan ketidak tahuan saya, semoga sobs semua mau memaafkan saya
(bila ada yg gak suka dg posting ini).

Salam damai penuh semangat (jadi inget ibu cantik yang satu itu...)

# Tribas




2008/8/7 Achmad Zaenal Abidin <[EMAIL PROTECTED]>

> At 09:47 07/08/2008, tri hasmoro wrote:
>
>> 2008/8/7 Achmad Zaenal Abidin <[EMAIL PROTECTED]>
>>
>> > At 09:18 07/08/2008, Wahyu wrote:
>> > >PMB = PAN Merah Banget?
>> >
>>
>>    Partai Modal Bismillah...=)
>>
>
> Tahu saja nich Mas Tri Hasmoro :-) memang militansi dan semangat anak muda
> lebih tinggi dibandingkan generasi tua yang telah banyak teracuni oleh
> konsumerisme dan budaya korupsi berjamaah.. :-(
>
> Mengutip kata kata Kyai Haji Achmad Dachlan:"Barang siapa yang tidak
> mengikuti generasi muda Muhammadiyah, maka orang tersebut bukan
> Muhammadiyah" http://www.muhammadiyah.or.id/
>
> Salam,
> Zaenal
>

Kirim email ke