Cerita kecil di hari Jum'at, mungkin ada
korelasinya dengan kenyataan?
http://mandrib.multiply.com/journal/item/1/Ustadz_Juga_Manusia_sebuah_fiksi
Ustadz Juga Manusia
(Kisah
berikut nggak ada hubungannya dengan makhluk manapun yang sudah mati,
yang masih hidup, yang akan mati, maupun yang merasa nggak mati-mati.
Kesamaan nama oknum dan lain-lain bukanlah suatu kesengajaan. Lha,
namanya juga fiksi, man!)
Murid Garing: Wah, Pak Ustadz, Bapak Anu yang penjahat,
eh sorry,
penjabat, yang kerja di Departmen Hantu, hebat ya, punya mobil Mercy,
kebun sawit dimana-mana, anak-anaknya pada sekolah di sekolah mahal.
Jangan-jangan beliau korupsi ya?
Ustadz Ucok: (sambil
tersenyum bijaksana, mengangguk-angguk takzim, dan mengelus-elus dagu
;-) ) Sabar, Dik. Kita harus berprasangka baik. Sesungguhnya sebagian
prasangka adalah dosa (Al Hujurat [49]:12). Siapa tahu beliau dapat
warisan.
Murid Garing: Emangnya
banyak penjabat dapet warisan ya? Kok pada kaya-kaya, jarang ada yang
bersahaja seperti Rasul saw atau Umar bin Khaththab ra? Kagak kasian
sama rakyatnye?
Ustadz Ucok: Wah, itu tergantung pada pribadi
masing-masing. Rezeki masing-masing dan urusan masing-masing atuh.
Murid Garing:
Ustadz ini udah kayak artis aja, semua-mua pake "Tergantung pada
pribadi masing-masing." Kayaknya udah tertular virus liberalisme nih.
Ustadz Ucok: Yah, Ustadz juga rocker,
eh... maksudnya manusia. Yang penting kita nggak boleh iri terhadap
rezeki orang lain. "Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang
dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian
yang lain." (An Nisa [4]:32)
Murid Garing: Ayat
itu kan ada lanjutannya, Ustadz. "... bagi orang laki-laki ada bahagian
dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita ada bahagian
dari apa yang mereka usahakan." Kalau usaha-nya hasil korup...
Ustadz Ucok: (memotong)...
ya ada bagiannya juga. Sudahlah, ngapain ngurusin orang lain. Hisablah
dirimu sendiri. Jagalah hati... jagalah hati...
Murid Garing: "Dan
peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa
orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah
amat keras siksaan-Nya." (Al Anfal [8]:25). Menurut Tafsir Al Mishbah,
sendi-sendi bangunan masyarakat akan melemah bila kontrol sosial
melemah. Akibatnya, akibat kesalahan tidak menimpa hanya kepada yang
bersalah: si Polan yang membuang sampah ke sungai, si Pokir yang
terkena banjirnya. :-)
Ustadz Ucok: Bener
juga, nih. Kalau kebanyakan menjaga hati saja dan kagak berani mengubah
yang salah, itu tanda orang yang beriman lemah. Lebih baik bersuara,
dan paling baik bertindak.
Murid Garing: Gitu dong, Stadz. By the way,
kenapa nggak kita teliti dulu kasus Bapak Anu, penjabat yang kaya raya
tadi? Apa beliau bisa membuktikan bahwa hartanya bukan hasil korupsi,
atau memakai pembuktian terbalik, bukannya cuma pakai azas praduga
tidak bersalah? Kalau memang beliau dapat warisan, apa bisa beliau juga
membuktikan bahwa orang tuanya dulu itu juga kaya raya, dan bayar
pajak, dan bukannye penjabat juga?
Ustadz Ucok: Ssssst...
Jangan banyak cincong, Ring. Sini ana bisikin dah... Ana nggak enak
atuh, soalnye waktu ana naek haji yang kesekian kalinya, Bapak Anu itu
yang ngongkosin. ONH Plus lagi!
Murid Garing: .... (pingsan) ... (Penulis: Tentu saja, nggak ada Ustadz
yang demikian. We hope so. :-) )
--
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat.
Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt