Renungan mejelang HUT ke 63 Kemerdekaan RI
" Bagi rakyat jelata, semboyan 'Merdeka' itu tidak saja berarti negara
Indonesia yang berdaulat. Bendera merah putih baginya tidak saja berart
simbol persatuan dan cita-cita bangsa dan negara, akan tetapi terutama
kemerdekaan dirinya sendiri dan sewenang-wenang dari kelaparan dan
kesengsaraan. Dan Merah Putih baginya terutama simbol perjuangannya ,
yaitu perjuangan kerakyatan " Sutan Sjahrir dalam */perjuangan kita/*
**Patriotisme dan nasionalisme harus ada di dada setiap anak Bangsa,
Seperti Bung Karno, ia menentang Imperialisme dan Kapitalisme. Tapi
tidak menolak masuknya Investasi asing selama itu tidak bertentangan
dengan kepentingan nasional. Indonesia membutuhkan industri dan berbagai
aktivitas bisnis yang membutuhkan modal besar.
Nasionalisme, kata sjahrir, tak ada artinya tanpa demokrasi. Revolusi
rakyat dan revolusi nasional tidak akan efektif tanpa demokrasi.
Tanpa demokrasi, revolusi menjadi fasisme dan feodalisme akan tetap eksis.
Jauh lebih sulit mewujudkan demokrasi dibanding menghasut rakyat untuk
membenci asing seperti yang dilakukan oleh agitator. Sikap membenci
asing dan bangsa lain hanya merugikan posisi Indonesia dimata dunia.
Kita sudah hidup di era globalisasi dimana sarat dengan ketergantungan.
Memang banyak kemajuan yang sudah di capai selama 63 tahun Indonesia
merdeka. Tapi tidak sedikit kondisi yang menunjukan bahwa Indonesia saat
ini sama saja dengan Indonesia di awal kemerdekaan, bahkan dalam hal-hal
penting justru lebih mundur*/. Di bidang Ekonomi, kemajuan yang dicapai
harus dibayar mahal oleh Bangsa ini, Kita kehilangan hutan dan sumber
daya alam kita nyaris ludes di eksploitasi oleh asing
/*
*Jadi menjelang HUT ke -63 kemerdekaan RI, kita mempertanyakan kembali
tujuan kita bernegara dan membentuk Pemerintahan, dan apa yang saalah
dengan Bangsa ini, sehingga Indonesia terus terpuruk ????*
* *
*Saalam,*
***Hilman Muchsin*