LAPAN pernah punya ambisi meluncurkan satelit sendiri ke orbit geostationer di tahun 1980. dan hingga hari ini menggapai ionosfer aja keteteran. Tahu kenapa?
Jwab : kebanyakan koruptornya! BTW, lupakan sejenak masalah korupsi. Terlepas dr masalah normatif administratif, sy rasa arah pengembangan teknologi kita emang sempat salah arah. Bahkan sejak masih di era Habibi. Kesalahan itu adalah: abai terhadap penguasaan teknologi bahan (material teknologi). Industri kita selalu menitik beratkan pada pembuatan produk akhir dengan bahan baku yg berorientasi impor. Sedangkan kalau kita membaca sejarah, maka penguasaan teknologi bahan adalah kunci kemajuan. Itulah kenapa periodesasi sejarah ditandai dengan material yang mereka kuasai hari itu (zaman batu, zaman perunggu, zaman besi, dan sebenarnya hari ini adalah zaman silikon) Banyak bukti yang menunjukkan qt sangat mengabaikan teknologi bahan. contoh sederhana: Walaupun IPTN telah berdiri sejak tahun 70-an tapi hingga hari ini tidak ada pabrik Aluminum di Indonesia. Aluminum dan juga bahan2 baku komposit lainnya masih selalu di impor. hingga hari ini. Kenyataan yang ironis jika kita ingat bahwa di kepulauan belitung sana kita punya tambang bauksit. Bukti lain; ITB baru buka jurusan teknik Material di tahun 97. Atau fakta bahwa hingga tahun 2005 qt tidak punya pabrik ekstraksi tembaga, yg ada sekarang pun PMA 100%, padahal penghasil bijih tembaga terbesar di dunia adalah Indonesia. Atau yang ini: PT. KS yang meng-IMPOR pelet besi sebagai bahan bakunya padahal potensi pasir besi ada dari sabang sampai sulawesi. dan sebagainya dan seterusnya. dan nampaknya kecenderungan ini masih belum berakhir. teknologi IC hingga kini belum bisa maju di indonesia karena hal yang sama. yaitu pengabaian (pemerintah) terhadap teknologi prosesing bahan (Mampukah mikro-nano-elektronika Indonesia bangkit?) bagaimana kita bisa bersaing??? istilah Pak Azwar, dosen q dulu di UI "bagaimana mungkin roket LAPAN bisa terbang kalau terbuat dari baja". Jadi yaa wajarlah kalau hari ini qt tertinggal dari Iran. Wassalam Yorga ________________________________ From: Achmad Chamdani Eka P. <[email protected]> To: [email protected]; Indonesia <[email protected]> Sent: Wednesday, February 4, 2009 9:05:57 AM Subject: [indonesia] fwd: Iran Luncurkan Pesawat Luar Angkasa Dalam 10 Tahun Peluncuran Satelit Safir 1 minggu lalu, membuktikan bahwa hanya dalam waktu 31 tahun setelah revolusi Iran tahun 1978, Iran berhasil masuk dalam jajaran negara negara yang mempunyai teknologi nuklir dan ruang angkasa. Kalau Iran bisa, kenapa kita tidak ? Adakah yang salah dalam kebijakan teknologi kita. Sejak Habibie turun sebagai Menristek, kita ibarat berjalan di tempat dalam pengembangan teknologi. Salam. ------------------------------------------------------------------------ Iran Luncurkan Pesawat Luar Angkasa Dalam 10 Tahun Selasa, 3 Februari 2009 - 16:12 wib Anton Suhartono - Okezone Foto: ISNA TEHERAN - Pemimpin Badan Antariksa Iran (IAO) mengatakan, Iran berambisi untuk mengirim warga negara pertamanya ke ruang angkasa dalam sepuluh tahun ke depan. Pemimpin IAO, Reza Taqipour, seperti dikutip Press TV, Selasa (3/2/2009) menyatakan, rencana pengiriman orang Iran pertama ke luar angkasa akan dibuat dalam enam hingga 12 bulan. Taqipour juga menyatakan, Iran akan menjadi negara pertama di kawasan regional yang mampu mengirimkan pesawat dan orang ke ruang angkasa pada 2021. Dalam kalender Iran, itu bertepatan dengan tahun 1.400. Rencana ambisius itu disampaikan setelah Iran berhasil menempatkan satelit buatan dalam negeri pertamanya di orbit bumi. Satelit Safir 1 itu diluncurkan pada Minggu lalu dengan roket pendorong yang juga dibuat oleh Iran. Dalam 12 bulan ke depan, lanjut Taqipour, Iran juga akan meluncurkan satelit lainnya bernama Omid. Omid merupakan Bahasa Persia yang berarti "harapan". (ton) -- Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Info pengelolaan milis Indonesia next better : http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
