Mengapa banyak orang bersibuk ria mengenai pemekaran? Benarkah tujuannya
supaya ada perimbangan, keadilan, semata-mata untuk kepentingan masyarakat
di daerahnya? Tidak adakah ulterior motives tertentu? Berikut tulisan satire
 tentang"sisi lain" dari pemekaran, yang mencoba mengupas hal-hal yang
umumnya hanya diketahui segelintir pihak.
Di Republik BBM (mohon diingat ya, bukan NKRI), ada kasus di mana Pemda dan
DPRD tingkat provinsi dan kabupaten sekitar belum ACC  adanya pemekaran,
tiba-tiba di DPR Pusat sudah "ribut". Lho kok bisa?

Ya, karena konsepnya memang sengaja dibuat begitu: "Ribut" dulu, sehingga
nanti terekspose di media massa (apalagi bila ada di antara "pencetus
pemekaran" yang punya media massa pribadi), lalu timbul sentimentalita
etnisisme (plus agama), kemudian makin ribut lagi dengan membawa massa yang
sebenarnya tidak tahu massalah, barulah Gubernur dan Ketua DPRD-nya terpaksa
(baca: *dipaksa*) teken.

Pokoknya harus, karena itu sudah harga mati! (Dan pihak mana yang sebenarnya
harus mati? Siapapun yang tidak setuju pemekaran, tentu saja.)

Bagaimana dengan urusan feasibility study? Masalah teknis? Sosio-kultural?
Itu urusan belakangan, yang penting "jadi" dululah.

Analisis Prof. Ryaas Rasyid dua malam y.l. (yang juga menginspirasi tulisan
ini --Red) mengenai bagaimana umumnya proses pemerkaran itu terjadi (and for
what cryptic reasons) menegaskan bahwa pemekaran tak lain dan tak bukan
adalah separatisme dalam bentuk lain. (Btw, Prof. Ryaas mengambil contoh
analisis dari NKRI, bukan fiksi ala Republik BBM.)

Apa yang akan terjadi setelah daerah baru itu benar-benar jadi ditetapkan?
Ya, nanti bisa bagi-bagi jabatanlah: suami jadi kepala daerah, istri jadi
ketua Dharma Wanita merangkap tukang "stempel proyek" (Mrs. "Ten Percent"),
ponakan sepupu jadi Sekda (15%), anak dan karib kerabat serta tim sukses
yang ikut "berjuang" jadi pengusaha proyek-proyek pengadaan (barang harga
60%, bisa dijual paling tidak 150%).

Lho, rakyat yang tadinya "diperjuangkan" ke mana? Bisa ditebak, setelah
demonstrasi dan "habis manis", mereka tetap sajalah jadi petani, tukang
becak, buruh sawit, dan pengangguran, Pakcik dan Makcik!

Tapi, no worries, alam punya keseimbangannya sendiri.
Apabila nanti muncul insiden "bini muda" atau "tertangkap di lobby hotel"
barulah semua berkelahi. :-)

Salam,
Andri

Kirim email ke