Rekan sejawat alumni ITB YSH,

Saya sangat setuju dengan usulan mengenai jenis pekan orientasi atau pengenalan 
baru untuk menuju WCU, semoga dengan dukungan nyata dari teman2 semua maka 
adik2 kita di Himpunan dapat lebih berkualitas lagi. Kami ingin berbagi 
beberapa pengalaman yang pernah dilakukan yaitu; sejak tahun 2000 saya sudah 
mencoba menggagas usulan semacam ini pada Himpunan Mahasiswa Mesin dan Himpunan 
Material dan beberapa rekan dosen lainnya. Rupanya usulan kegiatan semacam itu 
kurang dinilai dapat "membina" adik2nya.  Saya merasakan adanya  nilai2 
"tradisi" yang ingin dilestarikan. Mesti kita gali bersama nilai-nilai tradisi 
apa saja sih yang sampai hari ini masih dilaksanakan.  Saya merasakan (dulu 
juga mahasiswa) disamping adanya usaha senior untuk melatih, membina kita yang 
muda2 akan tetapi terkadang ada juga yang berbau feodalisme, seperti menghardik 
atau berteriak-teriak dan persentase bobot antara keduanya yang tidak jelas.

Usaha yang sudah kami lakukan dan sudah mulai terlihat hasilnya (walaupun 
sedikit yang berminat - lebih senang kegiatan kemahasiswaan yang wah, hura2 
etc) adalah mendorong mahasiswa di Himpunan Teknik Material untuk menjadi kakak 
asuh bagi anak2 SD yang tidak mampu dan berada di sekitar sungai Cikapundung, 
walaupun jumlahnya masih 20 an.  Jadi anak2 SD tersebut diberi motivasi sampai 
lulus SD, mereka tidak diberi uang secara langsung akan tetapi didampingi 
dengan mengajari mereka, membantu membeli buku dlsb. Sayang usaha kami untuk 
cari sponsor belum berhasil, pernah menghubungi Sampoerna Outreach Foundation 
tetapi jawaban mereka adalah; hanya memberikan beasiswa pada yang berprestasi 
saja (mahasiswa). GNOTA (Gerakan Nasional Orang Tua Asuh) kelihatannya tidak 
cukup berhasil  karena anak2 diberi uang dan biasanya uang tersebut bukan 
dipakai untuk keperluan pendidikan.  FYI disekitar kali Cikapundung ada anak 
dibawah umur yang dinikahkan maka itu gak usah cari jauh2 deh, ada yang disuruh 
ngamen, ada yang mabuk dlsb. Orang tua mereka tidak punya visi pendidikan, 
untuk makan saja sulit setengah mati, rumah juga dengan mendiami tanah ITB 
secara illegal. Bagaimanapun pada dasarnya mereka bangsa Indonesia juga kan ?.  
Padahal sekitar 500 meter dari lingkungan mereka ada Institusi Akademik yang 
megah luar biasa (WCU-webometrics rank 600-an ada banyak sistim perankingan 
yang lain) yaitu ITB.  Bagaimana dengan kepedulian sosial kita terhadap 
lingkungan ? Apakah kita sudah melatih anak2 atau adik2 kita ini untuk lebih 
peduli ? Atau ??? Too many questions to ask for.

Usaha lainnya adalah sejak 1994 kami memotivasi secara intensif para mahasiswa 
agar mau untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri untuk S2 atau S3, untuk 
kemudian kembali dan membangun Indonesia. Usaha ini cukup berhasil bahkan ada 
yang saat ini sedang menyelesaikan S3 nya di MIT (WCU-webometrics rank 1). 
Lulusan tersebut belajar S2 dan S3 atas biaya Perguruan Tinggi setempat, jadi 
orang tua tidak mengeluarkan biaya sepeserpun kecuali untuk urus paspor, visa, 
transport awal dan biaya flight ke negara tujuan direimburse kemudian.

Demikianlah sedikit sharing atas beberapa usaha kecil yang telah kami lakukan 
dan mari kita berusaha dan merenungkan bersama pembinaan anak-anak kita ini 
sebagai generasi penerus.  Mengubah budaya atau tradisi tidak semudah dan 
sekedar membalikkan telapak tangan, perlu dilakukan secara bertahap dan 
sistemik agar dimasa mendatang kualitas kita semakin baik.


Mohon sharing pengalaman dari rekan-rekan alumni sekalian. 
Salam Kompak

Aditianto Ramelan
MS76
>From the City of 1st Asian African Conf, Sangkuriang, Oncom & Peyeum. 
  ----- Original Message ----- 
  From: joefrizal joefrizal 
  To: [email protected] ; [email protected] 
  Sent: Sunday, February 15, 2009 11:10 PM
  Subject: [indonesia] Re: Ospek Masa Depan Untuk World Class ITB (was: 
Panjenengan Mas Ayu Hanif, et. al.)


        Ide yang menarik,

        Kalau kita lihat OSPEK yang terjadi selama ini terperangkap pada 
hubungan satu-satu yaitu panitia dan swasta yang "mengerjai" pihak yang di 
OS,dan pihak yang di OS yang"dikerjai" oleh panitia dan pihak swasta.

        Hubungan ini memerangkap kita dan tidak melihat adanya hal-hal lain 
diluar sistem OS tersebut. Ide untuk membuat suatu project OS dengan target 
desa-desa tertentu merupakan ide yang sangat baik karena dengan demikian OS itu 
tidak hanya bermanfaat bagi mahasiswa baru akan tetapi juga memberikan 
pendalaman praktik atas teori-teori yang telah dipelajari oleh "BOSS-BOSS" dari 
os tersebut. Penggalangan dana tentu bisa dilakukan dan keikut sertaan pihak 
institut juga akan memperkaya kegiatan tahunan ini.

        Fungsi dari panitia dan bos-bos swasta ini akan lebih mengarah pada 
kegiatan konseptual, perencaanaan (infrastruktur apa yang akan di bangun, atau 
sistem adminsitrasi pelayanan masyarakat yang dibuat, manajemen di lapangan 
(pembagian kelompok dan manaejemen dari kelompok-kelompok tersebut,dlsb). 
Kegiatan ini tentunya menjadi ciri dari masing-masing jurusan. Sementara 
peserta OS dapat melakukan kegiatan-kegiatan lapangannya, manajemen kelompoknya 
masing masing dan juga ketua angkatan dapat melakukan koordinasi antar 
kelompok. 

        Didalam kegiatan ini teori-teori bagaimana membuat komunikasi yang 
efektik, membuat kelompok yang solid, kerjasama didalam dan antar kelompok 
dapat diterapkan.

        OS seperti ini akan siap dipertandngkan dengan OS-OS jurusan lain 
sehingga dengan kompetisi yang ketat ini, kualitas dari OS-OS tersebut dapat 
selalu ditingkatkan.

        Kawan-kawan, menurut saya OS ini adalah sumber daya mahasiswa ITB yang 
belum tergarap dengan baik dan prospeknya sangat besar untuk memajukan kualitas 
dai ITB itu sendiri.

        Mungkin pula, pihak rektorat dan mahasiswa ITB bisa membentuk panitia 
untuk melakukan studi perbandingan tentang kegiatan mahasiswa di perguruan 
tinggi lain diluar negri.

        Wassallam,


        Joefrizal
        SI-83  

        --- On Sun, 2/15/09, Mohammad Andri Budiman <[email protected]> wrote:

          From: Mohammad Andri Budiman <[email protected]>
          Subject: [indonesia] Ospek Masa Depan Untuk World Class ITB (was: 
Panjenengan Mas Ayu Hanif, et. al.)
          To: [email protected]
          Date: Sunday, February 15, 2009, 3:30 AM


Rekan-rekan ysh.,

Ospek Sipil dan jurusan lain (termasuk IMG) tidaklah sama. Jadi no
stereotyping, no generalization. Zaman juga sudah berbeda, dan saya
menerima banyak input bahwa Ospek angkatan 2000-an tidaklah seperti
era teman-teman 80, 90-an. So, no generalization, no stereotyping.

Shortly speaking, nampaknya kita semua sama-sama ingin Ospek ke
depannya menjadi lebih baik sehingga nama baik ITB pun pulih kembali
sehingga kelak dapat menjadi World Class Institute. Berikut, sebuah
saran dari seorang Rekan sipil yang sungguh bermanfaat yang
Rekan-rekan bisa mem-fine-tune-nya lagi untuk ospek yang lebih
bermutu.  So, inilah ide "Ospek Masa Depan" dari Rekan Adhitya Mulya
(SI96), pengarang "Jomblo", penguasa "Zaralde.com" dan
SuamiGila.com.
:-)


---suggestions begin---

saya bikin coba bikin power point presentation untuk sebuah kaderisasi
(gak tau ya kalo kaderisasi sekarang jauh lebih baik dari yang di
bawah). tapi power pointnya memble (ARRGHH). Jadi saya salin aja di
bawah:

time frame: 3 bulan masa libur tingkat 1 ke tingkat 2.

project: meninjau dan memperbaiki desa X di Jabar (ambil yang deket bandung).

step:
step 1. Panitia survey desa-desa yang paling parah infrastrukturnya
dengan check list sbb:
- sekolah. ada apa nggak, kalo ada, rusak gak?
- sumur dan MCK. higienis dan efisien gak secara teknik sipil/lingkungan
- posyandu. Ada apa nggak? kalo ada rusak gak?
- jaringan jalan. di aspal atau tidak?
- jaringan irigiasi tertiernya bagus gak?

check listnya segini aja karena:
a. relevan dengan persyaratan vital berjalannya sebuah desa.
b. relevan dengan teknik sipil. Setidaknya Air, struktur, MRK dan transpotasi.

Step 2. costing.
Misalnya dari step di atas sudah didapat hasil berikut:
- sekolah. ada tapi atap rubuh. oke, lanjut ke costing, berapa harga
renovasi? costing = Rp A
- Sumur dan MCK. Ada dan higienis. Beres, gak perlu disentuh.
- Posyandu. Gak ada. Oke, kalo bikin, costingnya berapa? costing = Rp B.
- Jaringan jalan. Gak ada aspal. Oke, costing = Rp C.
- Jaringan irigasi tertier udah ok. beres, gak erlu diapa-apain.

total costing = rp A + B + C = Rp 60 juta

hikmah step 2
- belajar ekonomi
- belajar financial planning
- belajar project planning

Step 3. Fund raising
bulan 1 sampai 9 perkuliahan diisi oleh panitia dan kuya cari dana.
Itu aja agendanya. Soalnya hari gini nyari dana 60 juta gak gampang.
cara2nya ini yang menarik dan dari sini lah kita bikin event-event.
dari sini bisa melihat potensi kepemimpinan seorang kuya. Kalo yang
menonjol pasti menojol.
- Jualan domba pas idul adha. profitnya masuk kas project itu.
- Pentas dana
- Jualan macam-macam baju HMS atau pun himpunan lain (percaya lah,
jualan baju sangat menguntungkan. Istri saya buktinya di sini:
http://zaralde.com)
- service komputer
- fotokopi (masih ada gak fotokopi di himpunan?)
- dan masih banyak lagi yang pastinya banyak yang lebih ngerti dari saya.

hikmah step 3:
- belajar surivival secara ekonomi. Nyar kalo udah lulus, pada
kenyataannya emang kiat semua kerja apa aja yang serbautan asal dapur
ngepul.
- belajar kepemimpinan dan organisasi.

Intinya kalo cari 60 juta dari alumni kan susah juga. makanya
aktifitasnya banyak biar income banyak. targetnya kalo costing 60 juta
selama 9 bulan ya per bulannya kuya harus dapet 6.5 juta.

Step 4. review Fund vs costing
setelah UAS dan menjelang liburan, panitia dan kuay mereview dana yang
masuk. Jika dana < costing maka kita pilih item2 yang lebih penting.
hikmah step 4: belajar prioritas dan belajar jadi pejabat hehe.

step 5. Eksekusi project
3 bulan kita liburan, dipakai untuk membangun desa itu. kuya yang jadi kulinya.

hikmah step 5:
- kuya mengenal lebih dekat ilmu yang dia pelajari nanti di tingkat 2 3 4.
- bos ngajarin apa yang dia belajar di tingkat 2 3
- kuya jadi ngerti, oh ini ya nanti yang gue kerjain kalo gue udah lulus.
- kuya ngeliat sendiri, apa yang dia lakukan memperbaiki hajat hidup rakyat.

Di atas lumayan lengkap kalo saya bilang.
- relevan dengan teknik sipil
- relevan dengan mendidik kepemimpinan
- relevan dengan mendidik interpreneuship
- menumbuhkan kecintaan dini tentang apa yang kuya akan pelajari
- relevan dengan membantu rakyat
- semua bisa dan harus aktif karena padat karya sepanjang tahun.

Gitu aja, maaf kalo banyak kurangnya.



Rgds/ Adhitya
http://zaralde.com
htto://suamigila.com

---suggestions end---


Salam,
Andri
HMS93

-- 
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat.

Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
 

Kirim email ke