Maksudnya banyak cara untuk "ngakali" disini adalah terutama kalau aplikasi tadi ada komponen software, maka weight software itunya yang digedein. Kalau software mau ngaku buatan siapa juga bisa. Lain dengan hardware seperti komponen yang harus
ada pabrik dan proses produksinya. Gitu saja kok repot !!!

Jose Rizal wrote:
Cara perhitungannya ada di PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN  NO.
49/M-IND/PER/5/2009
Tetapi untuk mendapat sertifikat TKDN itu juga tidak mudah karena akan
diaudit lagi oleh pihak ketiga seperti surveyor indonesia

Salam
jose

-----Original Message-----
From: [email protected]
[mailto:[email protected]] On Behalf Of Adi Indrayanto
Sent: Friday, January 08, 2010 8:14 AM
To: [email protected]
Cc: [email protected]; [email protected];
[email protected]; [email protected]
Subject: [indonesia] Re: [QBmember] Metro-TV: Depkominfo minta Jepang ikut
Proyek Palapa Ring. Seklian minta agar ada Mitra Lokal dan TKDN 40%

Kuncinya nanti tetap akan di KomInfo (Postel?) saat mau memberikan ijin
frekuensi ke operator. Produk yg boleh digunakan operator harus memenuhi
sertifikasi dari Postel, dan TKDN bisa di "monitor" lagi di level ini.

Tapi saya ingin tanya, bagaimana sebenarnya TKDN ini dihitung?  Apakah hanya
dari Bill of Material saja? Atau ada komponen riset dan pengembangan yg
dihitung? Sementara kita tahu, kalau komponen R&D nya dihitung, maka makin
banyak produk yg diproduksi, makin kecil komponen R&D ini ....artinya makin
kecil TKDN nya.

Sementara, banyak cara untuk "mengakali" perhitungan TKDN ... kalau kita
tidak cermat menyusun mekanisme menghitung TKDN nya.

Berikutnya, kalau memang benar pengembangan industri kita akan lakukan via
pengetatan TKDN, pemerintah perlu membuat program dukungan untuk membangun
ekosistem agar terbentuk supply chain yg nantinya akan meningkatkan TKDN
ini.

Dulu di otomotif, dgn adanya proteksi tax barrier dari produk kendaraan
import, dapat memberikan perlindungan yg cukup untuk pasar dalam negeri
otomotif sehingga ekosistem supply chain komponen otomotif bisa berkembang.
Tapi itu dulu ... saat tax barrier masih bisa digunakan sebagai instrumen
insentif.

Nah sekarang dgn eranya FTA, bagaimana?  Hanya melalui proteksi TKDN saya
kira sangat sedikit produk yg bisa diproteksi, yaitu produk yg harus
mendapatkan sertifikasi lagi dari Dep lain, semisal untuk ijin frekuensi
dsbnya?


salam,

-ai-


2010/1/7 Jose Rizal <[email protected]>:
Saya Tertarik dengan penyataan pak ARI, memang betul Pabrik ex SIEMEN itu sekarang namanya CCSI ( Communication Cable Systems Indonesia). Mereka telah lama memproduksi Submarine kabel Optic, bahkan di tahun 2000 produk mereka pernah di ekspor ke New Zealand sepanjang 201KM (dalam satu panjang). Bahkan terakhir saya dengar bahwa TKDN mereka sudah
mencapai 45%.
Yang menjadi pertanyaan apakah PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN  NO.
49/M-IND/PER/5/2009 benar bisa dan akan dijalankan? Atau hanya sekedar peraturan tanpa adanya kontrol dari sipembuat.
Atau mungkin TELKOM pura-pura tidak tahu saja

ANJING MENGGONGGONG KHAFILAH BERLALU............

Salam Jose




-----Original Message-----
From: [email protected]
[mailto:[email protected]] On Behalf Of S Roestam
Sent: Thursday, January 07, 2010 10:18 AM
To: [email protected]; [email protected]; [email protected]
Cc: [email protected]; [email protected]
Subject: [indonesia] Re: [QBmember] Metro-TV: Depkominfo minta Jepang ikut Proyek Palapa Ring. Seklian minta agar ada Mitra Lokal dan TKDN 40%

Pak Chamdani, Pak Ari Mukhlason, Pak AS dan Kawan2 Milis Yth,

Terimakasih atas tanggapannya yang positif atas usulan agar untuk
Proyek2 Besar Telekomunikasi diterapkan persyaratan untuk penggunaan TKDN dengan level awalnya dengan tagret yg achievable saat ini dan bertahap ditingkatkan ke maksimal.

Memang semua sangat tergantung dari komitment Pemerintah/Menteri yg membidangi hal ini. Mumpung para Menterinya masih baru dan belum terkontaminasi, maka marilah kita rame2 menyarankan hal ini, demi kemajuan bangsa dan negara.

Rencananya MASTEL akan bertemu Bapak Menkominfo minggu depan, jadi mudah2an beliau adalah Menteri yang sangat terbuka untuk menerima masukan yang positif, kreatif dan innovatif.

Semoga cita2 yg luhur ini mendapat dukungan semua pihak.
Wassalam,
S Roestam
--------------


----Original Message----
From: [email protected]
Date: 07/01/2010 9:09
To: <[email protected]>
Subj: [indonesia] Re: [QBmember] Metro-TV: Depkominfo minta Jepang ikut Proyek Palapa Ring. Seklian minta agar ada Mitra Lokal dan TKDN 40%

Setuju sekali dengan penerapan batas minimum kandungan lokal tsb.
Kontraktor utamanya seharusnya perusahaan lokal, atau perusahaan asing yang mempunyai entity di Indonesia.

Indonesia harus mampu memanfaat proyek sebesar palapa ring ini untuk tujuan pembangunan industri lokal. Melihat perakat hardwarenya saja, saat ini saya tidak yakin bahwa lokal konten bisa diatas 5%. Mulai dari FO cablenya sendiri, Optical transceiver/receivernya sampai router dll. Paling tidak pemerintah harus berani memaksa component maker tsb. untuk membuat pabrik di Indonesia. Kalau kesempatan project ini terlewatkan, maka habislah harapan kita untuk mempunyai industri
sendiri.
Cara yang sama pernah dilakukan baik oleh China maupun India.

Yang jelas, kalau cuma melibatkan pihak asing, siapapun bisa. Tetapi, menjawab tantangan bahwa adanya project ini adalah tantangan untuk membangun industri lokal, tidak semua menteri bisa.

Salam.

Muhammad Ari Mukhlason wrote:
Yang saya tahu Pak, seharusnya pemberdayaan TKDN itu semaksimal
mungkin.
Pemerintah harusnya bisa membatasi peserta tender terutama yang dari
asing
dengan membuka mata lebar2 bahwa industri2 dalam negeri banyak yang berkualifikasi dan memiliki kemampuan khusus untuk ini.

Saya pernah berhubungan dengan satu perusahaan ex Siemens yang ada
di
Cilegon
yang memiliki spesialisasi produksi kabel serat optik, khususnya
yang
untuk bawah
laut. Tidak tahu apakah aset ini dimanfaatkan betul oleh pemerintah sbg pemilik proyek.

Yang memang masih menjadi kendala adalah satelit berkemampuan besar (yang kecil sudah berhasil dibuat oleh rekan2 Lapan yg bekerja sama dengan
Jerman
dan India),
serta perangkat hardware jaringan, seperti router dan semisalnya.
Padahal sebenarnya
potensinya sangat besar untuk kawasan seluas Indonesia yang
memiliki
penduduk
sangat banyak serta pulau yang banyak.

2010/1/7 S Roestam <[email protected] <mailto:[email protected]>>

    Kawan2 Yth,

    Dari Running Text Metro-TV, ada info bahwa DEPKOMINFO akan
meminta
    Jepang untuk ikut serta dalam Proyek Palapa Ring. Setahu saya
ada 5
    Vendor Besar Jaringan Kabel SKKL Serta Optik Dunia. Kami
sarankan agar
    para pemenang Proyek SKKL Palapa Ring diharuskan untuk mempunyai
Mitra
    Lokal dan tingkat kandungan komponen Dalam Negeri (TKDN) paling
tidak
    sebesar 40%, demi untuk memajukan Industri Dalam Negeri
Indonesia.
    Sebab selama ini hampir tidak ada persyaratan semacam ini untuk
    proyek2 besar Telekomunikasi, lihat saja dengan Jaringan 3G dan
    terminal2 Handset, semuanya Produk LN, dan kandungan komponen DN
    sangat
    kecil, serta tidak bisa menghidupkan Industri Lokal.

    Silahkan ditanggapi dan semoga membawa kemajuan pesat Indonesia
    Wassalam,
    S Roestam
    http://wartamastel.blogspot.com
    http://mastel.wordpress.com

    _______________________________________________
    Untuk unsubscribe : kirim email kosong ke
    [email protected]
    <mailto:[email protected]> dengan subject
"unsubscribe"


--
m ari mukhlason
--
e/GM/FB : [email protected] <mailto:[email protected]> YM :
[email protected]
blog1 : http://mukhlason.wordpress.com
blog2 : http://aerospaceitb.wordpress.com
p1 : 0818-223-062
----Original Message----
From: [email protected]
Date: 07/01/2010 3:56
To: <[email protected]>
Subj: Re: [Telematika] Metro-TV: Depkominfo minta Jepang ikut Proyek Palapa Ring. Seklian minta agar ada Mitra Lokal dan TKDN 40%


Siiip Pak,
ini berteriak di padang gurun atau berteria di Indonesia yah Pak?

kalau tekanan LN kuat dan pemerintah yang tida punya integritas maka jadilah bansga ini sebagai pasar potensial LN. Ini kan masalah
keberpihakan Pak.
Kalau kita melihat India yang sealau di benchmark mengenai kemajuannya maka mereka, para menterinya, bangga dengan mengunakan mobil made in India Excelsior seharga sekitar 100 jt.
Menteri Malaysia bangga dengan Proton seharga 300 jt.

Nah................................ :-D Indonesia bangga dengan Crown Saloon 3000 cc seharga 1.3M Pak Bapak bisa menyimpulkan bukan?
Itu namanya sistem nilai Pak, keberpihakan yang tercermin kedalam
perilaku.
Kita boleh bangga dengan perumbuhan ekonomi yang positif dibawah China dan India, namun China sudah melesat ke ruang angkasa, sudah membuat kereta api yang ke Tibet, suda membangun kereta cepat transfer technology dengan Maglev. Sedang India selalau dibicarakan dengan Bangalorenya. Kebanggaan pertumbuhan ekonomi positif sebagai pemebanaran dan kebanggaan itu adalah khas Jawa. Ruang tamu dan halaman kelihatan bersih tetapi tempat tidur dan jamban berantakan.

Jadi, keberpihakan itu mestinya yang harus dipertanyakan dulu. Itu adalah dasar segala keputusan dan kebijaksanaan dan telah ditulis oleh para pendiri bangsa agar bangsa ini mandiri di bidang ekonomi, berdaulat d bidang politik, dan berkepribadian di bidang kebudayaan.
Kalau ini menjadi pegangan, maka nisacaya Bp tidak perlu menulis itu.

salam



--
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat.

Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt


--
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia
dan akhirat.
Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt


--
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan
akhirat.

Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt


Kirim email ke