Cooperative CHP:Lulusan PT Isi Gap Antara Sektor Publik dan SwastaKamis, 21 
Januari 2010 | 07:08 WIB


JAKARTA, KOMPAS.com - Sistem pendidikan nasional yang tidak selaras atau 
sinkron dengan dunia kerja menyebabkan banyaknya lulusan sekolah menengah atas 
dan perguruan tinggi yang menjadi penganggur terbuka. Masalah pengangguran 
tidak akan pernah selesai apabila lulusan terdidik hanya menjadi pegawai, 
karyawan, atau buruh di suatu perusahaan.Demikian dikemukakan Deputi Menteri 
Negara Perencanaan Pembangunan Nasional Bidang SDM dan Kebudayaan Bappenas Nina 
Sardjunani dalam seminar Daya Tawar Pemuda dalam Dunia Kerja: Menghubungkan 
Pendidikan, Ketenagakerjaan, dan Kewirausahaan, Rabu (20/1/2010) di 
Jakarta.Berdasarkan hasil survei angkatan kerja nasional atau Sakernas 2009, 
mayoritas lulusan perguruan tinggi (74 persen) dan lulusan SMA (64 persen) 
menjadi pegawai, karyawan, atau buruh. Hasil ini menunjukkan lulusan 
terdidik—terutama lulusan perguruan tinggi—rela menganggur hanya untuk menunggu 
kesempatan menjadi pegawai atau karyawan apa pun, tidak mau
 mencoba terjun ke dunia usaha.Pendiri Universitas Ciputra Entrepreneurship 
Center (UCEC), Ciputra, mengatakan, jika ingin mempercepat pertumbuhan ekonomi, 
idealnya Indonesia membutuhkan setidaknya 4,4 juta pengusaha. Untuk mencapai 
jumlah ideal itu, dari jumlah sekarang sekitar 400.000 pengusaha, kuncinya ada 
pada dunia pendidikan, terutama kalangan pendidik (guru atau dosen).Menurut 
Ciputra, sistem pendidikan Indonesia saat ini tidak sinkron dengan dunia kerja 
karena sekolah hanya mencetak para pencari kerja, bukan lulusan yang mampu 
menciptakan lapangan pekerjaan.Secara terpisah, Mira Kusumarini, Ashoka 
Indonesia Representative, mengatakan, pendidikan kita belum mampu membawa ke 
arah berkembangnya budaya kebebasan berpikir dan berkreasi dalam diri tiap 
anak. ”Anak-anak yang berpikir berbeda justru diprotes dan tidak didukung oleh 
guru, teman-teman, orangtua, serta masyarakat,” ujar Mira Kusumarini, seusai 
acara Ashoka Young Changemakers Award 2009
 atau pembaru muda kepada 20 anak muda berusia 10-25 tahun di Jakarta, Rabu. 
(LUK/ELN)
http://ap2i.blogspot.com/


      

Kirim email ke