Selamat untuk Arifin Panigoro,
rasanya beliau tepat untuk mendapatkan penghargaan tersebut.
Namun ITB tetap perlu berhati-hati untuk tidak sembarang memberikan gelar
HC, karena enterpreneur harus benar-benar dilihat peranannya, bukan sekedar
materi kekayaannya.
Dalam hal peranan, saya termasuk kagum atas langkah-langkah Arifin Panigoro.

Tara

2010/1/22 Cardiyan HIS <[email protected]>

>    *ITB Berubah: Menghargai Entrepreneur Arifin Panigoro dengan Doktor HC*
>
> *Oleh Cardiyan HIS *
>
>
>
> ITB berubah. ITB yang sangat pelit dalam memberikan gelar doktor kehormatan
> (DR. HC) karena kriterianya sangat ketat dan baru memberikan DR. (HC) kepada
> 6 (enam) orang saja. Salah satu yang mendapat penghargaan pelit ITB ini
> adalah *Ir. Soekarno*, Presiden Pertama RI sekaligus alumnus ITB angkatan
> pertama (1920).   ITB akan mengubah sejarahnya dengan memberikan DR.(HC)
> kepada seorang entrepreneur papan atas Indonesia; *Ir. Arifin Panigoro*.
> Rencananya Arifin Panigoro, pendiri dan pemilik utama Medco Group akan
> diganjar DR.(HC)  bidang *Technopreneur* pada Sidang Terbuka ITB, di Aula
> Barat ITB, Sabtu, 23 Januari 2010.
>
> Penghargaan ITB untuk Arifin Panigoro, seorang Entrepreneur atau lebih
> spesifik lagi Technopreneur papan atas Indonesia patut disambut baik.
> Terlebih sebelumnya ITB telah mengundang kontroversi atas rencana pemberian
> DR. (HC) kepada Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden RI sekarang, yang
> berujung dengan “pembatalan” karena SBY sendiri meminta untuk “menunda”-nya
> karena alasan politis yang bakal merugikan citranya dan citra ITB pula.
>
> Keputusan ITB kali ini sangat tepat karena Arifin Panigoro adalah salah
> satu alumnus ITB (Teknik Elektro) yang sangat menonjol dalam proses
> pencapaian kewirausahaannya, sehingga meraih derajat *“world class genuine
> entrepreneur especially in energy industry”*.  Kakang Pipin (begitu nama
> akrab dan egaliter yang dipanggil teman-temannya) memulai kewirausahaannya
> dari perusahaan kecil yang didirikannya sejak lulus dari ITB awal tahun
> 1970an. Kecerdasannya dalam mengendus peluang dan (terutama) *
> keberaniannya* *dalam mengambil risiko* telah membawanya meniti tangga
> demi tangga menjadi seorang Wirausaha Sejati kelas dunia.
>
> ITB sebenarnya sangat terlambat dalam memberikan apresiasi DR.(HC) bagi
> kalangan Wirausaha Sejati. UGM telah lebih dulu memberikan DR.(HC) kepada
> salah seorang alumnus terkemukanya, *Jakob Oetama*, Founder and Chairman
> Kompas Gramedia Group dan bahkan kepada *Ir. Ciputra*, yang nota bene
> adalah alumnus Departemen Arsitektur ITB!. Tetapi seperti pepatah masih
> lebih baik terlambat dari pada tidak berbuat sama sekali, bolehlah kita
> menghargai keputusan ITB ini.
>
> Dan yang lebih penting keputusan ITB ini tidak berhenti hanya kepada
> memberikan DR. (HC) kepada seorang Wirausaha Sejati, Arifin Panigoro, tetapi
> bertindak nyata dalam mengukuhkan kerjasama yang lebih intens dengan
> kalangan dunia usaha. ITB harus aktif jemput bola, mendatangi industri agar
> mau memanfaatkan invensi dan inovasi kampus ITB dalam upaya meningkatkan
> skala usahanya. Banyak kolega penulis yang “curhat” kepada penulis bahwa ITB
> terlalu sombong untuk mau *“door to door”* mendatangi
> perusahaan-perusahaan yang sebenarnya merupakan *“potential clients”.*
>
> Kita sangat berharap, pemberian DR.(HC) oleh ITB kepada yang berhak dengan
> latar belakang Technopreneur sekelas Arifin Panigoro akan memberikan
> inspirasi kepada para alumni ITB, baik yang baru memulai maupun yang tengah
> didera banyak masalah dalam proses kewirausahaannya untuk tetap tidak
> menyerah dalam mengarungi samudra ganas dunia usaha. Perjuangan Anda seperti
> halnya Wirausaha Sejati Arifin Panigoro, Aburizal Bakrie, Ciputra, TP
> Rachmat, Beny Subianto, Iman Taufik, Achmad Kalla dan masih banyak lagi,
> suatu ketika akan terbukti dapat memberikan solusi terhadap permasalahan
> bangsa Indonesia dalam membuka kesempatan kerja yang sangat luas.**
>
> Dan *last but not least*, ITB harus pula mengubah *mindset* dalam cara
> pandang menangani mahasiswa ITB secara keseluruhan terlebih lagi kepada para
> mahasiswa yang memiliki minat tinggi kepada dunia kewirausahaan. ITB
> hendaknya memandang mahasiswa sebagai bagian dari proses pendidikan untuk
> suatu *“human investment” *berjangka panjang dan bukan menganggap
> menangani mahasiswa adalah suatu *“cost centre”* yang buang uang dan buang
> waktu.  Maka ITB hendaknya memberikan lebih banyak lagi proses latihan
> kepada para mahasiswanya yang merupakan bibit unggul terbaik di kawasan Asia
> Pasifik dalam hal Selektifitas Mahasiswa. Cetak lebih banyak lagi *“Business
> Incubator”* pada unit-unit kegiatan mahasiswa. Dari sinilah awalnya
> sebenarnya puluhan tahun kemudian akan dijumpai banyak alumni ITB yang
> berkelas Arifin Panigoro bahkan akan melampaui skala ekonominya juga proses
> pencapaiannya yang bermartabat.
>
> ITB akan dicap gagal total kalau tak mampu menaikkan nilai tambah kepada
> para mahasiswanya yang talentanya sangat hebat *(high achiever)* kalau
> hanya berkutat pintar mengawasi bahkan memata-matai kegiatan mahasiswa ITB
> dan hanya pintar memberikan sanksi akademis. ITB memang harus berubah
> menjadi lebih sabar dan lebih kreatif menuju *“ITB Technopreneur
> University”* berkelas dunia.
>
> * *
>
>
> ------------------------------
> Selalu bisa chat di profil jaringan, blog, atau situs web pribadi!
> <http://sg.rd.yahoo.com/id/messenger/pingbox/mailtagline/*http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/>
> Yahoo! memungkinkan Anda selalu bisa chat melalui Pingbox. Coba!

Kirim email ke