Fenomena yang terjadi saat ini adalah:
Ketika imam shalat bilang, "rapatkan barisan" maka:
- ada makmum yang segera merapatkan barisan dan mengingatkan jamaah lain di
sampingnya untuk merapatkan barisan
- ada makmum yang sibuk dengan dirinya sendiri dan tidak peduli apakah dia
sudah rapat atau belum di dalam barisan
- ada makmum yang ogah untuk merapatkan barisan
- ada makmum yang tidak sabar, karena punya urusan sehingga tidak nyaman
dengan anjuran imam
- dll.
- dan ada yang tidak suka untuk shalat berjamaah
dan diantara kebanyakan dari jamaah tersebut merasa bahwa dialah
(masing-masing) yang paling benar.
al-haqqu min rabbikum
(kebenaran itu (datangnya) dari Tuhanmu)
salam,
andri
----- Original Message -----
From: "S Roestam" <[email protected]>
To: <[email protected]>
Sent: Tuesday, February 09, 2010 5:21 AM
Subject: [indonesia] Re: Masyarakat yang Tak Bisa Makan Nasi Makin Banyak
Katanya mau menerapkan Ekonomi Jalan Tengah, antara Neolib dan Ekonomi
Kerakyatan. Apakah ini hasilnya?
----Original Message----
From: [email protected]
Date: 08/02/2010 19:10
To: <[email protected]>
Subj: [indonesia] Re: Masyarakat yang Tak Bisa Makan Nasi Makin Banyak
Ini akibat yang harus mereka tanggung sendiri apabila salah memilih
pimpinan.
Kenaikan BBM giliran berikutnya.
Harlizon MBAu wrote:
http://www.tribun-timur.com/read/artikel/76452
*Sekarang, Masyarakat yang Tak Bisa Makan Nasi Makin Banyak*
Laporan: Kompas.com
--
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat.
Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt