Setuju sekali. Manajemen Sepakbola Indonesia adalah Mismanajemen. Salam, Cardiyan HIS
--- Pada Ming, 14/2/10, lukman zaaidi <[email protected]> menulis: Dari: lukman zaaidi <[email protected]> Judul: [indonesia] Re: [indonesia] Re: [indonesia] Tim Impian Indonesia “Lolos” ke Piala Dunia Kepada: [email protected] Tanggal: Minggu, 14 Februari, 2010, 9:51 AM kalu PSSI untuk cari ketua yang bersih dari masalah hukum saja tak bisa, jangan mimpi untuk jadi Jago Asia lagi.salam zz From: Muhammad Geovani <[email protected]> To: [email protected] Sent: Sun, February 14, 2010 11:09:59 PM Subject: [indonesia] Re: [indonesia] Tim Impian Indonesia “Lolos” ke Piala Dunia Sekarang tim Mesir yg pernah dikalahkan PSSI difinal Ganefo 1964, sudah bisa masuk 10 besar tim terbaik dunia di rangking terbaru FIFA karena pencapaiannya yg cukup luarbiasa menjadi juara African cup kedua kalinya berturut2 beberapa minggu yang lalu. Terlepas dari absen nya pemain2 andalan mereka seperti striker flamboyan Mohammed Aboutreika, Amr Zaki & Ahmed Mido, pemain pelapis spt Mohd Zidan, Ahmed Hassan & Geido bisa membungkam tim2 penuh bintang negara2 afrika yg lain spt Essien (Ghana), E.Adebayor (Trinidad &Tobago), Didier Drogba (Pantai Gading), Yaya Toure, Kolo Toure, Eto'o (Kamerun), Alex.Song (Kamerun), Frederic Kanoute (Mali) Sayang memang Mesir tak lolos piala dunia 2010, tapi itupun tak perlu terlalu disesali karena tim yg mengubur mimpi besar itu adalah saudara 'muda' mereka yaitu Aljazair yg juga tampil ciamik di african cup 2010 lalu (biarpun akhirnya harus kandas secara antiklimaks di semifinal oleh Mesir). 2 tim ini yaitu mesir & aljazair (bahkan kalo boleh juga Tunisia yg tak pernah kalah tapi tetap tersingkir dari turnamen) seharusnyalah jadi tauladan yg ideal bagi timnas PSSI, bukan hanya karena ketenangannya & kecerdasannya dlm bermain bola tapi juga daya juang yg tak kenal lelah di lapangan sehingga nama2 beken pemain afrika diatas yg sgt ditakuti di 2 liga yg byk diklaim sbg liga terbaik dunia (liga Inggris & Spanyol), ditambah lg postur/fisik pemain2 timnas afrika yg diatas rata2 pemain mesir/aljazair/tunisia dibuat tidak berkutik. Sesaat setelah kemenangan heroik 3-2 Aljazair atas Pantai Gading di perempat final yg berlangsung sgt seru but a bit ''physical' saya dg gemasnya bertanya pada teman kerja sy org Aljazair tentang mengapa beberapa pemain aljazair yg sudah berdarah2 kepalanya (diantaranya Goalie Fawzi Chaouchi) tidak meminta diganti tapi malah melanjutkan pertandungan sampai akhirnya sempat collapse/pingsan di akhir laga , dg bangganya teman saya itu menjawab, you may never seen surrender algerian :). Salam From: Cardiyan HIS <[email protected]> To: [email protected] Sent: Sun, February 14, 2010 6:04:16 AM Subject: [indonesia] Tim Impian Indonesia “Lolos” ke Piala Dunia Tim Impian Indonesia “Lolos” ke Piala Dunia Oleh Cardiyan HIS Indonesia adalah “Brazil Asia”. Yang ngomong bukan sembarang orang tetapi Ketua FIFA Sepp Blater. Tapi pujian itu hanya didedikasikan untuk tim nasional sepakbola Indonesia yang dikapteni oleh Soetjipto “Gareng” Soentoro. Dan Ketua Umum PSSI-nya jelas bukan Nurdin Halid pula, tetapi kakak kandung Solichin GP yakni Kosasih Purwanegara. Pada era 1950-an, 1960-an sampai medio 1970-an, kesebelasan Indonesia memang menjadi kesebelasan elite Asia kalau tak boleh dijuluki “Raja Asia”, yang sangat dihormati oleh kesebelasan-kesebelasan di Asia bahkan Eropa dan Amerika Latin. Padahal modal kas PSSI semata-mata dari keuntungan bersih jualan karcis di stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, manakala Indonesia melawan tim-tim kelas dunia seperti Dynamo Moscow, Dynamo Kiev (dahulu masih Uni Soviet dimana Lev Yashin penjaga gawang terbaik sepanjang masa bersama penjaga gawang Indonesia Yudho Hadianto mengelilingi sentel ban dielu-elukan penonton sebelum mereka bertanding), Santos, Cruzero, Sao Paolo, Flamengo (Brazil), Independiente (Argentina), Cosmos (dimana Pele, Franz Beckenbauer, Carlos Alberto, Chinaglia terakhir bermain) dan Washington Diplomats (klub terakhir Johan Cruyff, setelah pindah dari Barcelona). Saingan berat Indonesia di Asia hanya Israel (belum masuk zona Eropa), Iran dan Burma (sekarang Myanmar). Jepang dan Korea Selatan yang menjadi langganan Piala Dunia sekarang ini, biasa dipermak habis Indonesia dengan minimal skor 3-0. Bahkan Timnas Taiwan dicukur Indonesia dengan skor telak 11-1 di Piala Merdeka Games, Malaysia, tahun 1968. Jangan tanyalah timnas Thailand, Vietnam dan Singapura karena ketiganya nggak level disandingkan dengan Indonesia. Terlebih negara-negara di jazirah Arab seperti Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat Arab, Qatar dan Oman (kecuali Mesir yang dikalahkan Indonesia 1-0 di final Ganefo Games 1964), bahkan mereka “belum tahu cara bermain bola”. Maklumlah federasi sepakbola pun mereka belum punya. Bayangkan saja sejak Piala Merdeka Games yang sangat prestisius di Asia pertama kali diadakan sejak 1954 dan Indonesia yang pertama kali menjuarainya. Kemudian Indonesia memenanginya kembali pada tahun 1960, 1961, 1962 dan 1969 (dan tahun-tahun yang hilang keikutsertaan Indonesia di Merdeka Games karena Indonesia sedang berkonfrontasi dengan Malaysia). Rute emas kejuaraan yang dimenangi Indonesia selalu dimulai dari kota Dacca (ibukota Pakistan Timur ketika itu, sekarang ibukota Bangladesh) dimana ada turnamen Agha Khan Gold Cup yang bergengsi tinggi pula. Indonesia menjuarai piala Agha Khan ini sejak 1961, 1966, 1967, 1968 dan 1979 (tahun-tahun lainnya Indonesia adalah juara 2). Kemudian tim Indonesia turun ke Bangkok untuk menjuarai King’s Cup dan Queen’s Cup pada tahun 1968 dan 1971 (tahun-tahun lainnya Indonesia selalu lolos ke final). Kalau “sempat” Indonesia mampir ke Saigon (Vietnam Selatan ketika itu) untuk menjuarai turnamen Quoc Khanh (Piala Kemerdekaan) . Kemudian timnas Indonesia memenangi Piala Sukan Singapura, bahkan menciptakan All Indonesian Final antara Indonesia A dan Indonesia B pada tahun 1972. Dan terakhir tentu saja main di kandang sendiri pada Jakarta Anniversary Cup, yang terakhir dijuarai pada tahun 1972 dengan menundukkan timnas Korea Selatan dengan skor 4-2. Itulah kemenangan terakhir timnas Indonesia atas Korea Selatan, yang tak pernah diraih lagi sampai sekarang di dua periode kepengurusan Nurdin Halid. Bahkan pemain-pemain Indonesia sudah kalah sebelum bertanding mendengar nama besar Park Ji Sung, gelandang timnas Korea Selatan yang bermain cemerlang di Manchester United. Atas supremasi kesebelasan Indonesia itulah akhirnya Indonesia diminta AFC (Asia Football Confederation) mengirim 5 pemain nasionalnya untuk mengisi skuad “Asia All Stars”. Mereka itu adalah Soetjipto Soentoro (penyerang lubang sekaligus bertindak sebagai kapten), Yacob Sihasale (penyerang tengah), Iswadi Idris (sayap kanan), Abdul Kadir (sayap kiri) dan Yudho Hadianto (penjaga gawang). Sebenarnya AFC berniat memanggil pemain Indonesia lebih banyak lagi seperti stopper Anwar Udjang dan Mulyadi serta duo gelandang elegan Basri dan Aliandu. Tetapi AFC tentu saja harus bertindak adil dengan memanggil pemain Asia lainnya meskipun hanya masing-masing satu orang saja. Apa sih keunggulan pemain-pemain Indonesia ketika itu? Indonesia memiliki penjaga gawang “sangat kebal” seperti dinobatkan oleh koran “Utusan Malaysia”, Kuala Lumpur dan “Bangkok Post”, Bangkok pada diri Yudho Hadianto. Fisik Yudho sebenarnya tidak terlalu tinggi sebagai penjaga gawang. Tetapi dia mampu mengundang decak kagum penonton karena mampu berakrobat tetapi tak kehilangan akurasinya. dalam menyelamatkan setiap gempuran penyerang lawan. Yudho juga pintar membaca permainan sehingga bisa mengkomunikasikan situasi ke rekan-rekan pemain belakang yang dikomandani oleh Anwar Udjang. Abdul Kadir adalah pemain sayap kiri tercepat di Asia dalam membawa maupun tanpa membawa bola; umpan-umpan dari Kadir inilah menjadi santapan empuk bagi striker Yacob dan second striker Soetjipto Soentoro untuk menciptakan gol-gol spektakuler yang tidak bisa dilihat pada setiap pertandingan. Iswadi Idris adalah pemain dengan kepercayaan diri tinggi. Rekannya Soetjipto memuji habis Iswadi Idris sebagai penggiring bola terbaik karena gaya meliuk dan mematah-matahkan sergapan dua-tiga pemain belakang lawan nyaris tak ada putusnya sebelum akhirnya mengumpan bola matang ke kotak penalti lawan dimana Yacob Sihasale dan atau ke Soetjipto coming from behind. Yacob Sihasale adalah striker oportunis dengan sundulan kepala yang sangat luar biasa keras dan terarah disamping kemampuan dribbling, screening dan tendangan yang akurat. Dan Soetjipto “Gareng” Soentoro tentu adalah pemain istimewa yang pernah dilahirkan Indonesia. Ballskill Soetjipto sangat sempurna; kemampuan menjaga bola (screening) sangat sempurna pula sehingga setiap lawan yang akan merebut bola dari kakinya akan sering berbuah pelanggaran. Tendangannya sangat keras dan terarah dari berbagai sudut sempit sekalipun. Kemampuan si Gareng mengecoh dua-tiga pemain belakang sering menjadi makanannya hampir pada setiap pertandingan karena memiliki kemampuan “menyulap” bola demikian cepat dan penuh kejutan. Namun di atas segalanya, Soetjipto memiliki jiwa kepemimpinan, kepercayaan diri dan mentalitas bertanding sangat tinggi sehingga bisa mengangkat permainan tim dalam situasi tertekan sekalipun. Karena itulah Soetjipto dipercaya belasan tahun menyandang ban kapten timnas Indonesia, sebelum menyerahkannya kepada berturut-turut Anwar Udjang, Iswadi Idris dan Ronny Pattinasarani. Selengkapnya inilah “Tim Impian Indonesia” yang diyakini oleh penulis bakal “Lolos” ke Piala Dunia seandainya 30 pemain-pemainnya masih berkumpul utuh untuk mengikuti Pelatnas seperti di jaman kejayaan Indonesia dulu: Penjaga gawang: Yudho Hadianto, Yus Etek, Ronny Pasla Belakang: Yuswardi, Sunarto, Reny Salaki, Mulyadi, Anwar Udjang, Masri, Ishak Udin, Makful, Ronny Pattinasarani, Johanes Auri. Gelandang: Aliandu, Surya Lesmana, Basri, Fatah Hidayat, Bob Hippy, Djunaedi Abdillah, Nobon, Anjas Asmara, Mettu Duaramuri. Depan: Soetjipto Soentoro (Kapten), Yacob Sihasale, Komar, Omo, Wowo, Yacob Sihasale, Iswadi Idris, Abdul Kadir, Risdianto. Inilah hasil seleksi Pelatnas yang menghasilkan “Starting Eleven”: Yudho Hadianto (Penjaga Gawang), Yuswardi, Reny Salaki, Mulyadi, Anwar Udjang (Belakang), Iswadi Idris, Aliandu, Basri, Abdul Kadir (Gelandang), Soetjipto Soentoro, Yacob Sihasale (Penyerang) Pelatih: Tony Poganik (Pelatih Utama), EA Mangindaan, Endang Witarsa (Asisten Pelatih) Manajer Tim: Kamarudin Panggabean http://cardiyanhis.blogspot.com Lebih bergaul dan terhubung dengan lebih baik. Tambah lebih banyak teman ke Yahoo! Messenger sekarang! Yahoo! Mail Kini Lebih Cepat dan Lebih Bersih. Rasakan bedanya sekarang! http://id.mail.yahoo.com
