Saluut anda mempunyai datas persepakbolaan Jadul yang lengkap, saya ingat tahun1956 hanya melalui radio saya mendengarkan pertandingan Olympiade Indonesia lawan Uni Sovyet dg hasil 0-0 , diulang baru kalah kalau nggak salah 4-1 yang kemudian U>Sovyet menjadi Juara, mengenai Merdeka Games dll saya ikuti terus , sekarang males betul menikuti PSSI, yang mencari Pengurus saja Syuuusah, akibatnya ya seperti sekarang, percuma sarasehan2 , tunggu kalau ada Ayam beranak. he,he,he.
________________________________ From: Cardiyan HIS <[email protected]> To: [email protected] Sent: Mon, February 15, 2010 4:02:29 AM Subject: [indonesia] Bls: [indonesia] Re: [indonesia] Re: [indonesia] Tim Impian Indonesia “Lolos” ke Piala Dunia Setuju sekali. Manajemen Sepakbola Indonesia adalah Mismanajemen. Salam, Cardiyan HIS --- Pada Ming, 14/2/10, lukman zaaidi <[email protected]> menulis: >Dari: lukman zaaidi <[email protected]> >Judul: [indonesia] Re: [indonesia] Re: [indonesia] Tim Impian Indonesia >“Lolos” ke Piala Dunia >Kepada: [email protected] >Tanggal: Minggu, 14 Februari, 2010, 9:51 AM > > > > >kalu PSSI untuk cari ketua yang bersih dari masalah hukum saja tak bisa, >jangan mimpi untuk jadi Jago Asia lagi.salam zz > > > > ________________________________ From: Muhammad Geovani <[email protected]> >To: [email protected] >Sent: Sun, February 14, 2010 11:09:59 PM >Subject: [indonesia] Re: [indonesia] Tim Impian Indonesia “Lolos” ke Piala >Dunia > > >Sekarang tim Mesir yg pernah dikalahkan PSSI difinal Ganefo 1964, sudah bisa >masuk 10 besar tim terbaik dunia di rangking terbaru FIFA karena pencapaiannya >yg cukup luarbiasa menjadi juara African cup kedua kalinya berturut2 beberapa >minggu yang lalu. > >Terlepas dari absen nya pemain2 andalan mereka seperti striker flamboyan >Mohammed Aboutreika, Amr Zaki & Ahmed Mido, pemain pelapis spt Mohd Zidan, >Ahmed Hassan & Geido bisa membungkam tim2 penuh bintang negara2 afrika yg lain >spt Essien (Ghana), E.Adebayor (Trinidad &Tobago), Didier Drogba (Pantai >Gading), Yaya Toure, Kolo Toure, Eto'o (Kamerun), Alex.Song (Kamerun), >Frederic Kanoute (Mali) > > >Sayang memang Mesir tak lolos piala dunia 2010, tapi itupun tak perlu terlalu >disesali karena tim yg mengubur mimpi besar itu adalah saudara 'muda' mereka >yaitu Aljazair yg juga tampil ciamik di african cup 2010 lalu (biarpun >akhirnya harus kandas secara antiklimaks di semifinal oleh Mesir). > >2 tim ini yaitu mesir & aljazair (bahkan kalo boleh juga Tunisia yg tak pernah >kalah tapi tetap tersingkir dari turnamen) seharusnyalah jadi tauladan yg >ideal bagi timnas PSSI, bukan hanya karena ketenangannya & kecerdasannya dlm >bermain bola tapi juga daya juang yg tak kenal lelah di lapangan sehingga >nama2 beken pemain afrika diatas yg sgt ditakuti di 2 liga yg byk diklaim sbg >liga terbaik dunia (liga Inggris & Spanyol), ditambah lg postur/fisik pemain2 >timnas afrika yg diatas rata2 pemain mesir/aljazair/tunisia dibuat tidak >berkutik. > >Sesaat setelah > kemenangan heroik 3-2 Aljazair atas Pantai Gading di perempat final yg > berlangsung sgt seru but a bit ''physical' saya dg gemasnya bertanya pada > teman kerja sy org Aljazair tentang mengapa beberapa pemain aljazair yg sudah > berdarah2 kepalanya (diantaranya Goalie Fawzi Chaouchi) tidak meminta diganti > tapi malah melanjutkan pertandungan sampai akhirnya sempat collapse/pingsan > di akhir laga , dg bangganya teman saya itu menjawab, you may never seen > surrender algerian :). > > >Salam > > > ________________________________ From: Cardiyan HIS <[email protected]> >To: [email protected] >Sent: Sun, February 14, 2010 6:04:16 AM >Subject: [indonesia] Tim Impian Indonesia “Lolos” ke Piala Dunia > > >Tim Impian Indonesia “Lolos” ke Piala Dunia >Oleh Cardiyan HIS > >Indonesia adalah “Brazil Asia”. Yang ngomong bukan sembarang orang tetapi >Ketua FIFA Sepp Blater. Tapi pujian itu hanya didedikasikan untuk tim nasional >sepakbola Indonesia yang dikapteni oleh Soetjipto “Gareng” Soentoro. Dan >Ketua Umum PSSI-nya jelas bukan Nurdin Halid pula, tetapi kakak kandung >Solichin GP yakni Kosasih Purwanegara. >Pada era 1950-an, 1960-an sampai medio 1970-an, kesebelasan Indonesia memang >menjadi kesebelasan elite Asia kalau tak boleh dijuluki “Raja Asia”, yang >sangat dihormati oleh kesebelasan-kesebelasan di Asia bahkan Eropa dan Amerika >Latin. Padahal modal kas PSSI semata-mata dari keuntungan bersih jualan karcis >di stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, manakala Indonesia melawan >tim-tim kelas dunia seperti Dynamo Moscow, Dynamo Kiev (dahulu masih Uni >Soviet dimana Lev Yashin penjaga gawang terbaik sepanjang masa bersama penjaga >gawang Indonesia Yudho Hadianto mengelilingi sentel ban dielu-elukan penonton >sebelum mereka bertanding), Santos, Cruzero, Sao Paolo, Flamengo (Brazil), >Independiente (Argentina), Cosmos (dimana Pele, Franz Beckenbauer, Carlos >Alberto, Chinaglia terakhir > bermain) dan Washington Diplomats (klub terakhir Johan Cruyff, setelah > pindah dari Barcelona). >Saingan berat Indonesia di Asia hanya Israel (belum masuk zona Eropa), Iran >dan Burma (sekarang Myanmar). Jepang dan Korea Selatan yang menjadi langganan >Piala Dunia sekarang ini, biasa dipermak habis Indonesia dengan minimal skor >3-0. Bahkan Timnas Taiwan dicukur Indonesia dengan skor telak 11-1 di Piala >Merdeka Games, Malaysia, tahun 1968. Jangan tanyalah timnas Thailand, Vietnam >dan Singapura karena ketiganya nggak level disandingkan dengan Indonesia. >Terlebih negara-negara di jazirah Arab seperti Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat >Arab, Qatar dan Oman (kecuali Mesir yang dikalahkan Indonesia 1-0 di final >Ganefo Games 1964), bahkan mereka “belum tahu cara bermain bola”. Maklumlah >federasi sepakbola pun mereka belum punya. >Bayangkan saja sejak Piala Merdeka Games yang sangat prestisius di Asia >pertama kali diadakan sejak 1954 dan Indonesia yang pertama kali menjuarainya. >Kemudian Indonesia memenanginya kembali pada tahun 1960, 1961, 1962 dan 1969 >(dan tahun-tahun yang hilang keikutsertaan Indonesia di Merdeka Games karena >Indonesia sedang berkonfrontasi dengan Malaysia). Rute emas kejuaraan yang >dimenangi Indonesia selalu dimulai dari kota Dacca (ibukota Pakistan Timur >ketika itu, sekarang ibukota Bangladesh) dimana ada turnamen Agha Khan Gold >Cup yang bergengsi tinggi pula. Indonesia menjuarai piala Agha Khan ini sejak >1961, 1966, 1967, 1968 dan 1979 (tahun-tahun lainnya Indonesia adalah juara >2). Kemudian tim Indonesia turun ke Bangkok untuk menjuarai King’s Cup dan >Queen’s Cup pada tahun 1968 dan 1971 (tahun-tahun lainnya Indonesia > selalu lolos ke final). Kalau “sempat” Indonesia mampir ke Saigon (Vietnam > Selatan ketika itu) untuk menjuarai turnamen Quoc Khanh (Piala Kemerdekaan) . > Kemudian timnas Indonesia memenangi Piala Sukan Singapura, bahkan > menciptakan All Indonesian Final antara Indonesia A dan Indonesia B pada > tahun 1972. >Dan terakhir tentu saja main di kandang sendiri pada Jakarta Anniversary Cup, >yang terakhir dijuarai pada tahun 1972 dengan menundukkan timnas Korea >Selatan dengan skor 4-2. Itulah kemenangan terakhir timnas Indonesia atas >Korea Selatan, yang tak pernah diraih lagi sampai sekarang di dua periode >kepengurusan Nurdin Halid. Bahkan pemain-pemain Indonesia sudah kalah sebelum >bertanding mendengar nama besar Park Ji Sung, gelandang timnas Korea Selatan >yang bermain cemerlang di Manchester United. >Atas supremasi kesebelasan Indonesia itulah akhirnya Indonesia diminta AFC >(Asia Football Confederation) mengirim 5 pemain nasionalnya untuk mengisi >skuad “Asia All Stars”. Mereka itu adalah Soetjipto Soentoro (penyerang >lubang sekaligus bertindak sebagai kapten), Yacob Sihasale (penyerang tengah), >Iswadi Idris (sayap kanan), Abdul Kadir (sayap kiri) dan Yudho Hadianto >(penjaga gawang). Sebenarnya AFC berniat memanggil pemain Indonesia lebih >banyak lagi seperti stopper Anwar Udjang dan Mulyadi serta duo gelandang >elegan Basri dan Aliandu. Tetapi AFC tentu saja harus bertindak adil dengan >memanggil pemain Asia lainnya meskipun hanya masing-masing satu orang saja. >Apa sih keunggulan pemain-pemain Indonesia ketika itu? >Indonesia memiliki penjaga gawang “sangat kebal” seperti dinobatkan oleh koran >“Utusan Malaysia”, Kuala Lumpur dan “Bangkok Post”, Bangkok pada diri Yudho >Hadianto. Fisik Yudho sebenarnya tidak terlalu tinggi sebagai penjaga gawang. > Tetapi dia mampu mengundang decak kagum penonton karena mampu berakrobat >tetapi tak kehilangan akurasinya. dalam menyelamatkan setiap gempuran >penyerang lawan. Yudho juga pintar membaca permainan sehingga bisa >mengkomunikasikan situasi ke rekan-rekan pemain belakang yang dikomandani oleh >Anwar Udjang. >Abdul Kadir adalah pemain sayap kiri tercepat di Asia dalam membawa maupun >tanpa membawa bola; umpan-umpan dari Kadir inilah menjadi santapan empuk bagi >striker Yacob dan second striker Soetjipto Soentoro untuk menciptakan gol-gol >spektakuler yang tidak bisa dilihat pada setiap pertandingan. >Iswadi Idris adalah pemain dengan kepercayaan diri tinggi. Rekannya Soetjipto >memuji habis Iswadi Idris sebagai penggiring bola terbaik karena gaya meliuk >dan mematah-matahkan sergapan dua-tiga pemain belakang lawan nyaris tak ada >putusnya sebelum akhirnya mengumpan bola matang ke kotak penalti lawan dimana >Yacob Sihasale dan atau ke Soetjipto coming from behind. >Yacob Sihasale adalah striker oportunis dengan sundulan kepala yang sangat >luar biasa keras dan terarah disamping kemampuan dribbling, screening dan >tendangan yang akurat. >Dan Soetjipto “Gareng” Soentoro tentu adalah pemain istimewa yang pernah >dilahirkan Indonesia. Ballskill Soetjipto sangat sempurna; kemampuan menjaga >bola (screening) sangat sempurna pula sehingga setiap lawan yang akan merebut >bola dari kakinya akan sering berbuah pelanggaran. Tendangannya sangat keras >dan terarah dari berbagai sudut sempit sekalipun. Kemampuan si Gareng mengecoh >dua-tiga pemain belakang sering menjadi makanannya hampir pada setiap >pertandingan karena memiliki kemampuan “menyulap” bola demikian cepat dan >penuh kejutan. Namun di atas segalanya, Soetjipto memiliki jiwa kepemimpinan, >kepercayaan diri dan mentalitas bertanding sangat tinggi sehingga bisa >mengangkat permainan tim dalam situasi tertekan sekalipun. Karena itulah >Soetjipto dipercaya > belasan tahun menyandang ban kapten timnas Indonesia, sebelum menyerahkannya > kepada berturut-turut Anwar Udjang, Iswadi Idris dan Ronny Pattinasarani. >Selengkapnya inilah “Tim Impian Indonesia” yang diyakini oleh penulis bakal >“Lolos” ke Piala Dunia seandainya 30 pemain-pemainnya masih berkumpul utuh >untuk mengikuti Pelatnas seperti di jaman kejayaan Indonesia dulu: >Penjaga gawang: Yudho Hadianto, Yus Etek, Ronny Pasla >Belakang: Yuswardi, Sunarto, Reny Salaki, Mulyadi, Anwar Udjang, Masri, Ishak >Udin, Makful, Ronny Pattinasarani, Johanes Auri. >Gelandang: Aliandu, Surya Lesmana, Basri, Fatah Hidayat, Bob Hippy, Djunaedi >Abdillah, Nobon, Anjas Asmara, Mettu Duaramuri. >Depan: Soetjipto Soentoro (Kapten), Yacob Sihasale, Komar, Omo, Wowo, Yacob >Sihasale, Iswadi Idris, Abdul Kadir, Risdianto. > >Inilah hasil seleksi Pelatnas yang menghasilkan “Starting Eleven”: >Yudho Hadianto (Penjaga Gawang), >Yuswardi, Reny Salaki, Mulyadi, Anwar Udjang (Belakang), >Iswadi Idris, Aliandu, Basri, Abdul Kadir (Gelandang), >Soetjipto Soentoro, Yacob Sihasale (Penyerang) > >Pelatih: Tony Poganik (Pelatih Utama), EA Mangindaan, Endang Witarsa (Asisten >Pelatih) >Manajer Tim: Kamarudin Panggabean > >http://cardiyanhis.blogspot.com >________________________________ Lebih bergaul dan terhubung dengan lebih baik. >Tambah lebih banyak teman ke Yahoo! Messenger sekarang! > > ________________________________ Nikmati chatting lebih sering di blog dan situs web Gunakan Wizard Pembuat Pingbox Online
