Saya ngebayangin gimana waktu Bank Dunia mengambil keputusan utk mengangkat SMI 
jadi Managing Directornya.  Pasti waktu itu masalah bailout Century dibahas 
juga ama mereka.  Yg saya pikir adalah pasti mereka, para pakar ekonomi kelas 
dunia tertawa cekikikan mendengar para doktor2 ekonomi Indonesia  (terutama yg 
tamatan ITB, kali) yg sangat sengit melawan keputusan bailout sambil 
geleng-geleng kepala:). salam, -Irsal
--- On Wed, 5/5/10, Cardiyan HIS <[email protected]> wrote:

From: Cardiyan HIS <[email protected]>
Subject: [indonesia] Sri Mulyani Ngambek, Bola Liar Panas Menggelinding ke SBY
To: [email protected]
Date: Wednesday, May 5, 2010, 5:26 PM

Sri Mulyani Ngambek, Bola Liar Panas Menggelinding ke SBY 
   
Oleh Cardiyan HIS 
   
Sri Mulyani dilamar World Bank. SM menerima lamaran World Bank itu dan siap 
masuk kerja per tanggal 1 Juni 2010. Apakah sesederhana itu prosesnya seperti 
seorang “head hunter” merekrut seorang eksekutif berprestasi untuk bergabung 
dengan kliennya; sebuah perusahaan raksasa. Sementara SM yang sadar hukum tentu 
sangat faham bahwa ia sewaktu-waktu masih harus bolak-balik diperiksa KPK, yang 
tak mungkin dilakukan bila ia sudah berkantor di World Bank, at New York, USA. 
  
Jabatan Menteri Keuangan RI di dua periode kabinet SBY, sebenarnya merupakan 
perjalanan panjang obsesi SM setelah terakhir menempuh kariernya sebagai 
Managing Director IMF. Saya menengarai alasan SM menerima lamaran World Bank 
sebenarnya adalah puncak dari kekecewaan SM terhadap SBY yang tidak total dalam 
membela dirinya pada kasus  Bank Century. Bahwa SBY selalu membela SM dan B 
dalam kasus Century dalam beberapa kesempatan adalah sangat situasional 
substansi dan sifatnya dan bukan merupakan sikap konsisten seorang pemimpin 
layaknya dalam membela anak buah. Manakala sang anak buah sudah tak bisa 
diselamatkan lagi, SBY berubah haluan hanya ingin menyelamatkan dirinya sendiri
 yang nota bene sebagai pemegang kebijakan puncak. 
   
SM sangat letih dan memancarkan aura kekecewaan yang mendalam setelah 
penyelidikan kedua oleh KPK (4 Mei 2010). Inilah sebenarnya awal dari SM 
ngambek kepada SBY dengan jurus mundur karena alasan menerima lamaran menjadi 
Managing Director World Bank (5 Mei 2010). Secara politis SM telah dijatuhkan 
vonis oleh DPR. Dan sekarang ada indikasi sangat kuat KPK agaknya telah mampu 
membuktikan kesalahan SM yang fatal, antara lain yang utama adalah lalai begitu 
saja menerima input data dari B, Gubernur BI ketika itu. Sehingga kelalaian SM 
itu telah mengakibatkan terjadinya kebijakan yang menguntungkan pihak lain dan 
merugikan negara. 
   
SM sebagai orang Jawa telah memberikan sinyal simbolik dengan ambekannya. 
Sebagai pribadi yang pinter, jujur dan tak memperkaya diri, berasal dari kedua 
orang tua berpendidikan sangat baik (keduanya adalah profesor doktor ternama) 
dan semua saudaranya berpendidikan tinggi 5 (lima) di antaranya lulusan ITB; 
sangat disayangkan SM tersandung karena kelalaian membuat kebijakan fatal tadi. 
Apa latar belakang orang sekelas SM tersandung, bisa saja karena ada latar 
belakang kepentingan politik di dalamnya. Sebuah poster demonstrasi minggu lalu 
bergambar SM dicloseup oleh media elektronik berbunyi “Menyesal Membela Partai 
Demokrat”,
 terlalu sayang dilewatkan begitu saja untuk sebuah analisis lebih mendalam. 
   
Seperti tulisan-tulisan saya sebelumnya berjudul “Apa Kabar Jargon Katakan 
Tidak pada Korupsi. Lanjutkan?” (mailist IA-ITB, 6 September 2009) dan 
“Percumalah Program 100 Hari SBY Kalau KPK Diloyokan” (mailist IA-ITB, 31 
Oktober 2009) yang dikutip banyak website dan grup mailist (silakan Google 
Search); runtutan kisruh di republik tercinta ini sebenarnya bermuara kepada 
adanya indikasi kuat terjadinya ketidak-jujuran para pelaku politik pada Pemilu 
2009. Bahwa Kabareskrim Polri SD ketika itu “tak serius” memproses banyak kasus
 pelanggaran Pemilu karena dalih lemahnya data menjadi tanda tanya besar. Dan 
bahwa akhirnya KPU secara formal telah menetapkan rekapitulasi resmi hasil 
Pemilu, dengan menutup terutama banyak kasus pengkloningan data pemilih, tidak 
otomatis berhasil menutupnya. Ini terbukti mencuatnya kasus Bank Century 
beberapa bulan kemudian, yang dicurigai menjadi amunisi bagi pemenangan partai 
tertentu. 
   
Apakah SM punya kartu truf terakhir, begitu pula SD pada kasus Bank Century 
dalam keterkaitan dengan pemenangan Pemilu oleh partai tertentu? Inilah yang 
ditunggu perkembangannya. Karena kalau kedua “whistle blower” ini bernyanyi, 
bola panas liar ini justru akan mengarah ke Presiden SBY, bukan hanya kepada 
Wakil Presiden B. Sebab para anggota DPR dan banyak LSM telah mengajukan 
Judicial Review kepada Mahkamah Konstitusi (MK) tentang qorum DPR untuk Hak 
Menyatakan Pendapat agar cukup 50% plus 1 dan bukan 75% dari anggota DPR. 
   
Apakah SBY dan B akan dimakzulkan pasca ngambeknya SM dan bernyanyinya SD? 
Hanya waktu yang akan membuktikan. Kita sebagai rakyat hanyalah berkeinginan 
agar kebenaran ditegakkan. Kejahatan betapapun dikemas dengan begitu rapih, 
Tuhan YME telah menguatkan kejahatan itu untuk sementara saja  dan pada 
akhirnya pasti akan mengazab mereka dengan penegakan hukum keadilan, yang tak 
terkirakan hina bagi para pelakunya. Insya Allah, Indonesia akan kembali 
menjadi Bangsa yang besar karena kita punya tradisi sebagai Bangsa Pejuang; 
pejuang untuk menegakkan kebenaran dan  kemerdekaan yang hakiki bagi keadilan 
Rakyat Indonesia.   
   
www.cardiyanhis.blogspot.com 
       
   
           
  



      

Kirim email ke