Ehem.. Rekayasa Industri mas.. Bukan Rekayasa Indonesia... Kalo disingkat bisa sama2 REKIND, tapi jd panjang urusannya kalo beda kepanjangannya
Ђέђέђέ.. Inpartnership with Telkomsel BlackBerry® -----Original Message----- From: "Wicak Sarosa" <[email protected]> Date: Sat, 15 May 2010 01:36:05 To: <[email protected]> Subject: [indonesia] Re: Kenapa BUMN merugi & bangkrut - Sharing Pidatosaya saat pengunduran diri pada RUPSLB Mengapa kesimpulannya BUMN harus dijual? Kan, kalau contoh yang diambil adalah Rekayasa Indonesia seperti yg ditulis rekan Hengki, sebuah BUMN pun bisa dikelola secara profesional dan kompetitif.... Di dunia, ada saja kok BUMN yang bisa professional (lihat aja BUMN milik Singapore, Malaysia, China beberapa negara Timur Tengah)....mereka turut menyumbang pemasukan negara melalui deviden.... -- tapi memang harus professional dan tidak diintervensi secara politis.... Kombinasi milik negara + milik publik (TBk) mungkin juga bisa bagus... Full swasta juga ngga apa2 asal jangan terus terjadi arus uang keluar (berarti tidak mensejahterakan bangsa....hehehe).. Tapi menjaga ini utk tidak terjadi, tidak akan mudah ketika sudah menjadi swasta penuh... Ah, saya cuma sotoy aja nih...wong bukan pengusaha.... Hehehe... Salam Wicaksono AR 78 Sent from iCon's-mobile® -----Original Message----- From: Basuki Suhardiman <[email protected]> Date: Sat, 15 May 2010 08:13:35 To: Indonesianext<[email protected]> Subject: [indonesia] Re: Kenapa BUMN merugi & bangkrut - Sharing Pidato saya saat pengunduran diri pada RUPSLB Makanya , BUMN itu dibubarkan saja , berikan ke swasta "asli Indonesia" dan tidak boleh ada 'capital fly out' selama menjadi BUMN , pasti ada 'political touch' yg selalu mengikuti makanya gak pernah effisien itu BUMN .. urusan nya capital fly in and out khan pengawasan BI , lha BI nya juga memble , ngurusi satu bank kecil macam century aja gak bisa ? gimana mau kontrol capital fly in and out ? soal bahan baku , masih banyak bahan baku di Indonesia (raw material) masalahnya BUMN-BUMN macam Krakatau steel tidak pernah explorasi dan exploitasi , Telkom berubah ? itu karena Indosat dijual ke asing dan value nya menjadi puluhan kali lipat dibanding sejak sebelum dijual , cuma salahnya dijual nya ke 'asing' bukan ke 'orang indonesia asli' ... revenue terbesar Telkom adalah dari Telkomsel , kalau Telkomsel dipisah dari induknya (Telkom) niscaya langsung ancur :-) coba saja analisis dari sini http://www.telkom.co.id/hubungan-investor/laporan-laporan/laporan-keuangan/ :-) Saat ini , Telkom sdh mulai keteter sama Indosat dan anak perusahaan nya , salah satu yg menanng tender USO adalah Lintas Artha , anak perusahaan Indosat , bukan Telkom ,,,,why ? dan banyak pengguna jaringan baik pemerintah maupun swasta mulai beralih ke Indosat group , Why ? ... On Fri, 14 May 2010, [email protected] wrote: > Hidup Neolib:). > > -Irsal > The true sign of intelligence is not knowledge, but imagination. > #Albert Einstein > > -----Original Message----- > From: goenarso goenoprawiro <[email protected]> > Date: Fri, 14 May 2010 15:44:03 > To: bisnis mailist<[email protected]>; Venture > Capital<[email protected]>; Alumni > Teladan<[email protected]>; indonesia > entrepreneur<[email protected]>; milist > indonesia<[email protected]>; renewable > energy<[email protected]>; asosiai desain > grafis<[email protected]>; sanbima > xibmer<[email protected]>; mailist > mantanIBM<[email protected]> > Subject: [indonesia] Kenapa BUMN merugi & bangkrut - Sharing Pidato saya saat > pengunduran diri pada RUPSLB > > Ibu dan Bapak, Sharing tulisan bagus dari mailist tetangga, Goenarso ----- Pesan Diteruskan ---- Dari: Triharyo Soesilo <[email protected]> Kepada: [email protected] Terkirim: Kam, 13 Mei, 2010 22:25:03 Judul: [itb77] Kenapa BUMN merugi & bangkrut - Sharing Pidato saya saat pengunduran diri pada RUPSLB Pada hari Rabu 12 Mei, 2010, Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) telah menyetujui pengunduran diri saya sebagai Direktur Utama PT Rekayasa Industri. Saya kebetulan diberi kesempatan untuk menyampaikan kesan dan pesan. Berikut ini saya “share” pidato saya pada acara tersebut dengan doa mudah-mudahan ada manfaatnya bagi rekan-rekan yang ingin membacanya. Ass wr wb Pertama-tama marilah kita memanjatkan puji syukur Alhamdulilah kepada Allah SWT, karena pagi hari ini kita diberikan nikmat kesehatan olehNya untuk bisa menghadiri sebuah acara yang sangat luar biasa ini. Kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas persetujuan bapak-bapak pemegang saham atas pengunduran diri saya. Dalam kesempatan yang sangat indah ini, izinkanlah saya menyampaikan “sharing” saya tentang penugasan yang telah diamanahkan oleh bapak-bapak pemegang saham kepada saya, untuk ikut mengelola PT Rekayasa Industri selama hampir 5,5 tahun sebagai Dirut dan hampir 10 tahun sebagai Direksi. Sebut saja, ini adalah thesis saya. Diantara banyak BUMN yang mengalami kesulitan, kerugian dan bahkan kebangkrutan, kita semua patut bersyukur bahwa PT Rekayasa Industri justru dalam 5 tahun terakhir ini, bisa tumbuh pendapatannnya 6x lipat dari Rp 500 milyard per tahun ke Rp 3 triliun per tahun, asetnya-pun bisa meningkat 2x lipat menjadi sekitar Rp 1,7 Trilliun. Dimana pencapaian tersebut diperoleh dengan jumlah karyawan yang justru menurun jumlahnya dari 1200 ke 1000 orang. Setelah saya pelajari secara seksama, ternyata ada 3 (tiga) alasan kenapa BUMN-BUMN di Indonesia, mengalami kemunduran dan bahkan kebangkrutan. Alhamdulilah ketiga alasan tersebut dapat diatasi secara bersama-sama dan berkat kerja keras seluruh jajaran PT Rekayasa Industri baik Dewan komisarisnya, Dewan Direksinya maupun seluruh karyawan. Inilah rahasia-rahasianya dan juga kiat-kiat kami. Mudah-mudahan dari “sharing” ini bisa dipetik sari pengalamannya oleh BUMN-BUMN ataupun perusahaan-perusahaan lainnya di Indonesia . Alasan pertama banyak BUMN bangkrut adalah karena hilangnya atau habisnya bahan baku . Contoh-contohnya antara lain PT Asean Aceh Fertilizer, PT Iglas, PT Soda Waru, PT Kertas Kraft Aceh, PT Sandang, PT Basuki rachmat dan sangat banyak lagi. Cukup lama saya memikirkan tentang apa sebenarnya bahan baku PT Rekayasa Industri. Karena mengerti tentang ketergantungan bahan baku dan juga mengupayakan ketersediannya, merupakan kunci bagi kesuksesan sebuah perseroan. Ternyata setelah saya renung-renungkan, bahan baku sebuah perusahaan Engineering, Procurement, Construction (EPC) seperti PT Rekayasa Industri ini adalah “experience list” atau pengalaman proyek sejenis. Tanpa experience list, kita tidak mungkin bisa lulus prakualifikasi untuk ikut tender. Jadi salah satu rahasia kami adalah ”Partnership management”. Bagaimana kami bisa memperoleh partner atau mitra paling kompetitif, yang memiliki experience list, sehingga kami bisa ikut tender, adalah salah satu kunci dari perusahaan ini. Kami menganggap hubungan dengan partner, adalah bagaikan hubungan suami dan istri, saling jujur, saling terbuka, saling mengetahui peran masing-masing, saling mengerti kelemahan serta kekuatan masing-masing dan tentunya dengan mengandalkan cinta kasih. Sifat-sifat setia dan loyal, tidak mudah selingkuh dan tidak mudah berganti-ganti pasangan adalah sifat-sifat yang kami kembangkan dengan partner kami. Bapak-bapak para wakil pemegang saham, kami laporkan dengan kiat-kiat tersebut, saat ini bila ada proyek baru di Indonesia , kami justru sulit menolak-nolak partner yang ingin bermitra dengan kami. Karena hampir semua perusahaan-perusahaan asing tersebut, pilihan pertamanya adalah ingin bermitra dengan kami. Alasan kedua kenapa banyak BUMN mengalami kesulitan, merugi dan bahkan bangkrut, karena mereka tidak bisa mengubah dirinya dari bisnis yang sebenarnya “diberi oleh pemerintah”, ke bisnis yang berdasarkan persaingan bebas. Banyak BUMN-BUMN yang seperti ini, contohnya PT Peruri, PT Balai Pustaka, PT Inhutani, PT Sang Hyang seri, PT Inhutani, PT Pertani, PT Pos Indonesia, PT Koja Bahari, PT Dirgantara Indonesia, PT PAL dll. Bapak-bapak para wakil pemegang saham, rahasia kedua kenapa kami dapat tumbuh berlipat-lipat selama beberapa tahun terakhir ini adalah dengan cara meniru kiat PT Telkom. Kami tidak merasa malu untuk mengatakannya, karena kami rasa meniru dari contoh yang baik adalah wajib hukumnya. PT Telkom adalah sebuah BUMN yang mampu mengubah dirinya, dari perusahaan yang tadinya sangat tergantung pada bisnis telpon fixed line, kemudian bertransformasi ke bisnis seluler. Dengan kiat-kiat “customer centric organization” dan melalui pembentukan organisasi cluster yang terdiri dari business management, program management, dan technology management, PT Rekayasa Industri akhirnya bisa melepaskan diri dari ketergantungan proyek pupuk yang notabene di masa lampau adalah ”pemberian oleh pemerintah”. Kami berpindah ke bisnis yang lebih berdasarkan pemenangan proyek-proyek, melalui persaingan terbuka. Kami memasuki dan akhirnya mendominasi bisnis panas bumi, bisnis kilang minyak, bisnis gas, dan saat ini memulai bisnis pengolahan bahan tambang dan juga bisnis lepas laut (offshore). Client-client kamipun sudah tidak hanya di Indonesia namun sudah melebar ke mancanegara, seperti ke Brunei dan Australia . Alasan ketiga banyak BUMN yang merugi dan bahkan bangkrut adalah karena mereka tidak mengembangkan sumber daya manusianya dengan berdasarkan basis kompetensi atau di kami, lebih dikenal dengan istilah ”Remunerasi berdasarkan Merit” dan juga berdasarkan rekam jejak atau track record”. Bapak-bapak para wakil pemegang saham, banyak BUMN yang berkali-kali mencanangkan dalam vision statementnya, ingin ”menjadi perusahaan kelas dunia”. Namun setelah saya pelajari secara rinci, umumnya mereka banyak yang mengalami kegagalan. Salah satu alasan kenapa mereka gagal adalah, karena perusahaan-perusahaan tersebut ternyata tidak bisa menaikan gaji karyawannya ke standard gaji kelas dunia. Tanpa peningkatan gaji karyawan ke standard perusahaan kelas dunia, tidak mungkin perusahaan tersebut akan menjadi perusahaan kelas dunia. Kami laporkan bahwa karyawan PT Rekayasa Industri, saat ini telah ditingkatkan gajinya dan pendapatannya selama 5 tahun terakhir sebanyak hampir 3x lipat. Andaikan saja di tahun 2009 tidak terjadi krisis, mungkin gaji karyawan kami bisa naik 4x lipat sejak tahun 2005. Saat ini kami memang baru bisa menyaingi pendapatan karyawan perusahaan minyak asing yang berada di Indonesia . Salah satu rahasia kunci kami dalam bagaimana meningkatkan gaji ini, adalah peningkatan paket remunerasi yang dilakukan dan diupayakan se-tepat-tepatnya. Peningkatan remunerasi ini terus menerus kami upayakan untuk diberikan kepada mereka-mereka yang justru memang betul-betul berprestasi. Inilah rahasianya. Untuk melakukan ini, banyak sekali kiat-kiat yang telah dilakukan oleh seluruh jajaran PT Rekayasa Industri, seperti menyusun penentuan tingkatan gaji berdasarkan kuantitatif bukan kualitatif, sistem tingkatan gaji yang berdasarkan penilaian karya maupun merit (rekam jejak), bonus sistem yang berdasarkan kinerja kelompok, sistem insentif milestone, sistem insentif penghematan yang berdasarkan kinerja proyek dlsb. Demikianlah beberapa kiat-kiat kunci yang telah dikembangkan dan dilakukan oleh jajaran PT Rekayasa Industri selama 5,5 tahun terakhir. Namun diantara berbagai kiat-kiat yang telah dilakukan ini, izinkanlah saya memohon maaf yang sebesar-besarnya, karena ada juga beberapa upaya-upaya yang belum berhasil kami capai. Secara spesifik ada 3(tiga) hal yang belum bisa kami lakukan selama masa bakti kami. Salah satunya adalah bahwa kami belum berhasil untuk menjadikan perusahaan ini menjadi sebuah perusahaan publik. Saya sangat yakin seyakin-yakinnya bahwa BUMN yang menjadi perusahaan publik akan tumbuh besar dan berkembang. Lihatlah PT Semen Gresik, PT Telkom, PT Aneka Tambang, PT PGN, PT Bank Mandiri, PT BNI dan banyak lagi. Sayang sekali sewaktu kami sedang gigih-gigihnya ingin Initial Public Offering (IPO), kondisi perekonomian dunia tiba-tiba memburuk dengan sangat pesat, sehingga kami kehilangan momentum. Persiapan-persiapan yang telah dilakukan di tahun 2008, Insya Allah sangat mudah diaktifkan kembali, bila kondisi pasar bisnis EPC sudah semakin membaik. Hal kedua yang belum bisa kami lakukan selama 5(lima) tahun terakhir ini adalah melakukan investasi yang baik, sehingga perseroan belum bisa memperoleh pendapatan tetap (fixed income) yang rutin. Pengembangan investasi ini, perlu kami upayakan mengingat bisnis EPC yang naik turun, sedangkan keperluan untuk me-”retain” (menjaga dan mempetahankan) karyawan yang baik-baik sifatnya tetap pengeluaran biayanya. Namun kami laporkan bahwa fondasi-fondasinya sudah ada. Hal terakhir, yang belum bisa kami lakukan selama 5 (lima) tahun terakhir ini dan merupakan penyakit mendasar di hampir semua BUMN, adalah merubah karyawan PT Rekayasa Industri menjadi ”economic animals” untuk perusahaan. Kami belum bisa menemukan kiat-kiat yang tepat dimana karyawan perusahaan ini, selain menjadi umat beragama yang berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT, dan juga insan masyarakat yang santun dan berbudaya, namun bisa berusaha sekeras-kerasnya dalam mencari keuntungan yang luar biasa besarnya bagi perusahaan. Saya kira pertumbuhan net profit perseroan selama tahun-tahun terakhir, yang masih kurang menggembirakan, mencerminkan hal ini. Demikian kesan dan pesan kami untuk hal-hal yang mungkin perlu untuk diteruskan dan tentunya diperbaiki oleh pengelola PT Rekayasa Industri di masa-masa mendatang. Sebelum saya menutup, saya ingin sedikit menyampaikan bahwa Pemerintah telah memberikan amanah kepada saya menjadi salah satu dari 7 (tujuh) dewan komisaris PT Pertamina (persero). Menurut bapak Menteri ESDM, Presiden telah memilih dengan teliti dan sangat seksama, dari banyak sekali kandidat. Pilihan 7 (tujuh) orang tersebut jatuh pada seorang mantan menteri BUMN yang mengerti tentang korporasi dan bisnis migas, 2 (dua) orang mantan Sekjen ESDM yang sangat mengerti tentang kebijakan Migas, 2 (dua) orang Dirjen aktif yang terkait ke Pertamina yaitu Dirjen Anggaran dan Dirjen ESDM, seorang Jendral militer dan seorang insinyur praktisi. Sebagai keluarga besar PT Pupuk Sriwidjaja, dan tentunya keluarga besar BUMN, rasanya kita patut bersyukur bahwa Presiden memilih satu-satunya praktisi sebagai dewan komisaris Pertamina, dari PT Rekayasa Industri dan juga dari anggota keluarga besar Pupuk. Presiden tidak memilih kandidat dari dalam Pertamina. Presiden tidak memilih dari perusahaan swasta. Presiden-pun tidak memilih kandidat dari perusahaan minyak asing. Ini tentunya sebuah penghargaan dan apresiasi Presiden, bukan kepada saya, tetapi kepada prestasi seluruh jajaran PT Rekayasa Industri, yang selama ini banyak sekali membangun kilang-kilang dan karya-karya bagi PT Pertamina maupun bagi bangsa ini. Setahu saya, inilah juga untuk pertama kalinya, seorang wakil dari keluarga besar Pupuk, ditugaskan menjadi komisaris di PT Pertamina. Tentunya saya sangat yakin, Presiden mempertimbangkan dengan cermat, bahwa penugasan ini terkait dengan upaya-upaya pengaliran gas alam milik Pertamina kepada industri Pupuk. Harapannya, salah satu permasalahan utama bangsa ini, yaitu pasokan pupuk, dapat terpenuhi. Akhir kata, izinkanlah saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada bapak-bapak para pemegang saham atas bimbingannya, pengarahannya, kerja samanya dan cinta kasihnya selama ini. Tidak lain kami juga mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahan-kesalahan yang mungkin telah kami lakukan. Kami mendoakan semoga bapak-bapak para wakil pemegang saham terus menerus mendapatkan berkah yang melimpah dari Allah SWT. Amien Tentunya sebelum menutup kesan dan pesan ini, kami sangat memohon kepada bapak para pemegang saham untuk memilih team management yang rekam jejaknya sangat baik, dan juga mampu diterima oleh seluruh stakeholders dengan baik. Saya ingin mengingatkan bahwa bisnis perusahaan ini adalah bisnis berlandaskan kepercayaan. Lebih kurangnya mohon maaf. Wabil taufiq wal hidayah Wass wr wb > ���fڕ�]jV����i���)ޮ�z�����j'Z�)f��^�z%��z�Z��"�Ʋjxjy��������K�Ț���zh�y��j�jwn�&�jv��*ڴ�ߢ����h����)b��ݢw��������i��nnw�������z�ߊW��h���b��'zȚ�w�� ���fڕ�]jV����i���)ޮ�z�����j'Z�)f��^�z%��z�Z��"�Ʋjxjy��������K�Ț���zh�y��j�jwn�&�jv��*ڴ�ߢ����h����)b��ݢw��������i��nnw�������z�ߊW��h���b��'zȚ�w��
