Singapura: Indonesia dan Singapura sepakat bahwa kerjasama kedua negara
harus dapat diukur kemajuannya, sekaligus bisa diidentifikasi manakala
ada masalah atau hambatan. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan
hal ini dalam keterangan pers dengan wartawan Indonesia yang menyertai
kunjungan ke Singapura, di Hotel Shangri-La, Senin (17/5) malam.
Untuk memastikan ada peningkatan nyata yang bisa diukur tersebut,
dibentuk enam kelompok kerja atau working group. Masing-masing,
kelompok kerja untuk peningkatan kerjasama di Batam-Bintan-Karimun,
peningkatan investasi, dan peningkatan kerjasama transportasi udara.
Kemudian, working group untuk penigkatan pariwisata, kerjasama
ketenagakerjaan untuk skill workers dari Indonesia, dan working
group untuk kerjasama agribisnis.
"Keenam working group itu, pada sisi Indonesia, dikoordinasikan
oleh Menko Perekonomian. Sedangkan masing-masing working group
dipimpin oleh menteri teknis yang bersangkutan," kata Presiden SBY.
Di luar enam working group itu, dibentuk pula kelompok kerja
untuk mengkoordinasikan kerjasama penanggulangan terorisme di kawasan.
"Seperti diketahui, kejahatan terorisme itu sudah lintas batas negara.
Di Asia Tenggara sendiri, terorisme itu ada koneksi antara satu negara
dengan negara lain. Oleh karena itu, ada keperluan untuk meningkatkan
kerjasama di kawasan ini, baik secara bilateral, multirateral, maupun
regional untuk menghadapi ancaman terorisme tersebut," Presiden
menjelaskan.
Dalam kerjasama segitiga Batam-Bintan-Karimun, Indonesia ingin melakukan
lebih banyak lagi untuk kepentingan kedua negara, misalnya di bidang
pariwisata, sheeping logistic for oil and gas, manufaktur, dan
aktivitas ekonomi yang betul-betul bisa mendatangkan nilai tambah dari
keberadaan kawasan khusus Batam-Bintan-Karimun. "Kita juga bersama-sama
meningkatkan join promotion," Presiden menambahkan.
Kerjasama investasi RI-Singapura naik sekitar 192 persen tahun lalu.
"Kami bersepakat untuk melaksanakan join promotionuntuk investasi
ini. Kita juga ingin bersama melaksanakan capacity building
sekali lagi agar upaya menarik investasi ini berlangsung dengan baik,"
ujar SBY.
Di bidang transportasi udara, Indonesia harus mempersiapkan open
sky's policy tingkat ASEAN pada 2015. Salah satunya, membangun regional
connectivity. "Untuk Indonesia, persoalannya bukan hanya membangun regional
connectivity di kawasan Asia Tenggara, tetapi kita juga ingin
membangun domestic connectivity antar pulau-pulau besar kita,
baik itu menyangkut transportasi udara, telekomunikasi, maupun
infrastruktur," SBY menegaskan.
Soal tenaga kerja, Presiden telah mendapat laporan bahwa Singapura
terbuka bagi tenaga kerja terdidik dari Indonesia. "Mudah-mudah dengan
format kerjasama yang baik kita bisa mengisi opportunity ini,"
kata Presiden.
Di bidang agribisnis, market share Indonesia di Singapura masih
rendah. Indonesia menargetkan, sebelum tahun 2014 pangsa pasar
buah-buahan, sayur, maupun ikan segar kita di Singapura menjadi 30
persen.
Singapura, menurut SBY, merupakan salah satu mitra kuat (strong
partner) terutama dalam investasi, perdagangan, dan kerjasama
ekonomi lainnya. Sebagai contoh, meskipun dunia mengalami resesi tahun
2008/2009, volume perdagangan dengan Indonesia tetap tinggi, mencapai 25
milliar dollar AS. Ini tergolong tinggi, setelah Jepang, Amerika
Serikat, dan RRT. Investasi Singapura ke Indonesia juga mencapai jumlah
yang signifikan, sekitar 4,5 miliar dollar AS atau setara dengan Rp 43
triliun.
Pembentukan kelompok kerja ini merupakan usulan dari pertemuan pendahulu
kedua negara, sebelum kunjungan Presiden SBY ini. Dari pihak Indonesia,
tim pendahulu ini dipimpin Menko Perekonomian Hatta Rajasa dengan
anggota menteri-menteri terkait.
Dalam keterangan pers ini, Presiden didampingi Menko Polhukam Djoko
Suyanto, Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Menlu Marty Natalegawa, Mendag
Mari E. Pangestu, Menakertrans Muhaimin Iskandar, Menbudpar Jero Wacik,
Mentan Suswono, dan Ketua DPD RI Irman Gusman. (dit/har)
http://icaexpo.coop