Bang Hatta, Saya juga pernah memberi masukan di emailist ini, yg notabene anggotanya tdk sedikit jadi pejabat negeri ini. Memberi masukan bukan mengritik, demi perbaikan seluruh rakyat, bagaimana existensi bangsa Indonesia mendatang tapi kenyataan email saya tdk lolos dari sensor moderator waktu itu.
Perlu diingat bhw kita hidup ini hakekatnya bukan mengejar duniawi atau uang semata, tapi hakekatnya adalah mengejar orang-orang yg kira-kira bisa datangkan duit. Itulah sebaiknya para alumni itb yg ditakdirkan Tuhan sebagai pejabat dan para aparat pemerintah, semoga terbuka hati agar jadi leader bagaimana bisa layani masyarakat dengan baik, yang penuh kasih sayang... Jangan hanya menarik pajak ke rakyat semena-mena, pajak perorangan lagi yg asal memenuhi target tetapi imbalan yg bisa dinikmati rakyat secara nyata nyaris tidak ada sama sekali atau bahkan tdk ada ?. Rakyat sudah lama hidup di negeri sendiri, yg katanya negeri yg kaya raya n subur loh jinawi tapi kenyataan banyak yg miskin, sengsara, tertindas dan bahkan tersingkir dari negeri sendiri ke negeri orang jadi TKI/TKW. Saran saya, pemerintah dengan rakyat, baiknya hidup dengan suasana harmonis, layani masyarakat dg penuh kasih sayang agar datangkan barokah dari Tuhan. Jangan mengejar keuntungan sesaat tanpa perdulikan kepentingan bagi org banyak. Jangan mengharapkan acungan jempol atau sanjungan dari bangsa2 yg punya duit tapi harapkan ridlo Tuhan, sanjungan para malaikat dari langit agar kehidupan berbangsa dan bernegara ini benar2 datangkan rahmat Nya. Bukan laknat dan berbagai bencana ...! Semoga bermanfaat. Maaf.. salam Aziz -----Original Message----- From: "Shaukat ally" <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Sat, 5 Jun 2010 05:28:51 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: Re: [IA-ITB] Hatta Malu Birokrasi RI Terburuk Kedua di Asia Buat bang hatta, Aneh ya kalau alumni itb yang mengeritik birokrasi di anggap membelot, birokrasi di indonesia sudah sangat parah, kami dari Impres(implementing renewable energy society) bersedia memberikan edukasi kepada dept terkait pelaksana implementasi re agar tepat guana tepat sasaran dan tepat kemanfaatan Salam Sa Powered by Telkomsel BlackBerry® -----Original Message----- From: "Teuku Gandawan" <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Sat, 5 Jun 2010 03:08:53 To: Milis IA-ITB Pusat<[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: Re: [IA-ITB] Hatta Malu Birokrasi RI Terburuk Kedua di Asia Wahhh...kalau selevel Bang Hatta yang menjabat Menko Perekonomian harusnya jawabannya tidak cukup malu saja... Harus ada gebrakan untuk melakukan pembenahan, paling tidak untuk seluruh organisasi pemerintahan di bagian perekonomian... Harus segera ada kaji ulang atas semua program reformasi birokrasi yang sudah berjalan. Jadi sumir rasanya jika di-claim ada program ini, tapi hasil riset pihak ketiga berbicara lain...atau temuan kepolisian juga mendapatkan fakta yang berbeda. Rasanya tidak perlu menunggu fakta baru untuk sadar ada yang salah. Sensus 2010 oleh BPS juga baru disadari banyak kelalaian petugas di penghujung kegiatan. Padahal dengan Sensus yang sangat baik, kita bisa memetakan banyak sekali fakta untuk menentukan ulang arah pembangunan, mempertahankan yang sudah baik, memperbaiki yang salah arah dan hasil... Menyedihkan sekali negara tidak kaya seperti kita ini menghambur-hamburkan biaya, yang katanya untuk memperbaiki, namun ternyata memperparah kerusakan yang ada atau malah membuat kerusakan baru... Entahlah kalau kita memang sudah sepakat bahwa inilah life style Indonesia... :) Regards, Ganda -----Original Message----- From: Jarwo Expert <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Fri, 4 Jun 2010 18:44:02 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: [IA-ITB] Hatta Malu Birokrasi RI Terburuk Kedua di Asia Hatta Malu Birokrasi RI Terburuk Kedua di Asia Ramdhania El Hida - detikFinance Jumat, 04/06/2010 13:53 WIB Jakarta - Menko Perekonomian Hatta Rajasa akui malu dengan hasil survei yang dilaksanakan Political and Economic Risk Consultancy (PERC) kepada para eksekutif ekspatriat. Berdasarkan hasil survei tersebut kinerja birokrasi Indonesia mendapat predikat terburuk nomor dua di Asia setelah India dalam hal efisiensi pelayanan masyarakat dan iklim investasi asing. "Ya kan malu juga," ujarnya menanggapi pertanyaan wartawan terhadap hasil survei tersebut dalam forum bincang wartawan di Kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat (4/6/2010). Hatta meminta agar masyarakat dan media tetap mengawasi pelaksanaan reformasi birokrasi yang sudah berjalan. Hal tersebut disebabkan reformasi birokrasi tersebut merupakan salah satu bentuk usaha pemerintah dalam memperbaiki sistem birokrasi. "Salah satu program besar pemerintah dalam reformasi birokrasi, bukan berarti remunerasi,ada KPI-KPI-nya (Key Performance Indicator) misalnya perizinan,ada reward and punishment. Kalau lebih dari KPI maka ada punishment,UU kebijakan publik sudah mengatur itu, kontrol saja oleh media. Kita kerja keras untuk itu," tegasnya. Sebelumnya, survei yang diadakan pada awal 2010 itu melibatkan 1.373 eksekutif ekspatriat pada level menengah dan senior. Survei PERC itu memaparkan, selain belum bisa meningkatkan efisiensi birokrasi, kegagalan President SBY dalam menggulirkan reformasi birokrasi pun harus dibayar mahal anak buahnya. Kegagalan SBY itu turut berkontribusi kepada pengunduran diri mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani yang akhirnya menyatakan menerima posisi senior di Bank Dunia. "Tingkat keterpilihan yang tinggi kepada Presiden SBY dalam Pemilu tidak serta-merta membuat SBY memiliki kekuatan untuk merombang birokrasi di Indonesia," kata konsultansi PERC itu. Kantor Cabang PERC di Hong Kong mengungkapkan, birokrasi pemerintahan di beberapa negara Asia telah menjadi pusat kekuatan yang berpusat pada pengertian mereka sendiri. Hal itu jalannya pemerintahan menjadi tidak efisien karena secara efektif menolak reformasi yang digulirkan para politikus dan aparat yang ditunjuk. Dalam survei itu, lembaga finansial regional di Singapura dan Hong Kong mendapat predikat sebagai negara dengan sistem birokrasi yang paling efisien di Asia. Dalam survei itu, urutan peringkat terbagi menjadi 12 negara dengan skala skor 1-10, di mana 10 menjadi skala paling buruk. Singapura menduduki peringkat pertama dengan skor 2.53, menyusul Hong Kong di peringkat kedua dengan skor 3,49. Singapura dan Hong Kong juga menduduki peringkat pertama dan ketiga secara global dalam survei teranyar Bank Dunia dalam hal kemudahan menjalankan bisnis (the ease of doing business). Survei oleh Bank Dunia itu dilakukan kepada 183 ekonom. Secara urutan, posisi Indonesia persis satu peringkat lebih baik dari India sebagai negara di peringkat paling buncit. Para eksekutif bisnis dalam survei menyatakan India sebagai negara dengan kinerja birokrasi yang paling tidak efisen. India memiliki skor 9,41, sedang Indonesia 8,59. Menyusul di atasnya secara berturut-turut yakni Filipina dengan skor 8,37, Vietnam (8,13), China (7,93), Malaysia (6,97), Taiwan (6,60), Japan (6,57), Korea Selatan (6,13), dan Thailand (5,53).
