Topik yang sedang hangat dibicarakan di media.

Kiprah para Patwal semakin menambah benang kusut lalu lintas kota Jakarta. Bukan cuma itu, arogansi mereka membuat miris banyak pengguna jalan. Dan lucunya, kita yang sudah mengeluarkan kocek untuk bayar jalan bebas hambatan, harus rela untuk dipinggirkan. Bahkan banyak diantara pengguna lalulintas ini yang mendapat perlakuan
tidak senonoh dari patwal.

Saya teringat kejadian 7 tahun lalu. Pengalaman hitam ini bermula ketika
saya sedang mengendarai mobil di tol Gatot Subroto. Tiba tiba dari arah belakang dengan kecepatan tinggi datang rombongan Presiden (Megawati). Paling depan patwal berkendaraan 2 atau 3 moge "zig zag" meliuk liuk "menyapu" kendaraan lain yang ada di depannya. Diikuti oleh beberapa jip mercy dengan pengeras suara yang berteriak agar kendaraan lain semua menepi. Dan hampir saja mobil saya tertabrak oleh rombongan patwal ini. "Ah, sungguh arogan sekali mereka" saya hanya bisa
mengelus dada.

Bukan hanya patwal RI1 dan RI2 yang bermasalah. Patwal sudah menjadi konsumsi umum. Mulai dari Presiden, menteri, anggota DPR, gubernur, walikota, ketua partai dll. Bahkan anak pejabat yang hendak kawin atau punya hajat sunatan pun pakai patwal.
Serius, saya pernah lihat dengan mata kepala sendiri !!!
Kesimpulan saya,
1) Pejabat di negara kita senantiasa minta didahulukan daripada rakyatnya. Entah itu di rumah, di kantor bahkan di jalan. Padahal kita kita juga yang bayar mereka melalui pajak. Sudah KKN masih minta didahulukan lagi. Betapa parahnya golongan manusia ini !

2) (Pengawalan) polisi bisa dibeli. Siapa yang mau pengawalan, silahkan bayar polisi dan dia akan dapat service ini. Ini sejalan dengan pepatah "Ada uang ada jalan".

Perundangan di negara kita sungguh merugikan rakyat dan tidak jelas. Siapa saja yang berhak mendapat pengawalan di jalan dan bagaimana prosedur yang "ramah" buat pemakai jalan lain. Para pejabat itu pikir, merekalah orang yang paling penting di negeri ini (padahal kerjaan
mereka paling paling juga KKN juga tho).

Saya kira perundangan yang berkaitan dengan hal ini, suka atau tidak suka, perlu ditinjau segera. Sebelum jatuh lebih banyak lagi korban. Semua orang harus diperlakukan sama dan penting di negeri ini. Karena pegawai swasta misalnya juga sama sama memberikan kontribusi terhadap pembangunan.



Salam.
Ach. Chamdani Eka
--------------------------------------------------
Redaksi Yth
Trauma oleh Patwal Presiden

Sebagai tetangga dekat Pak SBY, hampir saban hari saya menyaksikan
arogansi Patroli dan Pengawalan (Patwal) iring-iringan Presiden di
jalur Cikeas-Cibubur sampai Tol Jagorawi. Karena itu, saya-juga
mayoritas pengguna jalan itu-memilih menghindar dan menjauh bila
terdengar sirene Patwal.

Namun, kejadian Jumat (9/7) sekitar pukul 13.00 di Pintu Tol
Cililitan (antara Tol Jagorawi dan tol dalam kota) sungguh menyisakan
pengalaman traumatik, khususnya bagi anak perempuan saya.

Setelah membayar tarif tol dalam kota, terdengar sirene dan
hardikan petugas lewat mikrofon untuk segera menyingkir. Saya pun
sadar, Pak SBY atau keluarganya akan lewat. Saya dan pengguna jalan
lain memperlambat kendaraan, mencari posisi berhenti paling aman.
Tiba-tiba muncul belasan mobil Patwal membuat barisan penutup semua
jalur, kira-kira 100 meter setelah Pintu Tol Cililitan. Mobil kami
paling depan. Mobil Patwal yang tepat di depan saya dengan isyarat
tangan memerintahkan untuk bergerak ke kiri. Secara perlahan, saya
membelokkan setir ke kiri.

Namun, muncul perintah lain lewat pelantam suara untuk menepi ke
kanan dengan menyebut merek dan tipe mobil saya secara jelas. Saat
saya ke kanan, Patwal di depan murka bilang ke kiri. Saya ke kiri,
suara dari pelantam membentak ke kanan. Bingung dan panik, sayapun
diam menunggu perintah mana yang saya laksanakan.

Patwal di depan turun dan menghajar kap mesin mobil saya dan
memukul spion kanan sampai terlipat. Dari mulutnya terdengar ancaman,
“Apa mau Anda saya bedil?” Setelah menepi di sisi paling kiri, polisi
itu menghampiri saya. Makian dan umpatan meluncur tanpa memberi saya
kesempatan bicara. Melihat putri saya ketakutan, saya akhirnya
mendebatnya.

Saya jelaskan situasi tadi. Amarahya tak mereda, malah terucap
alasan konyol tak masuk akal seperti “dari mana sumber suara speaker
itu?”, atau “mestinya kamu ikuti saya saja”, atau “tangan saya sudah
mau patah gara-gara memberi tanda ke kiri”. Permintaan saya
dipertemukan dengan oknum pemberi perintah dari pelantam tak digubris.
Intimidasi hampir 10 menit yang berlangsung tepat di depan Kantor Jasa
Marga itu tak mengetuk hati satu pun dari anggota Patwal lain yang
menyaksikan kejadian itu. Paling tidak, menunjukkan diri sebagai
pelayan pelindung masyarakat. Karena dialog tak kondusif, saya buka
identitas saya sebagai wartawan untuk mencegah oknum melakukan tindak
kekerasan. Ia malah melecehkan profesi wartawan dan tak mengakui
perbuatannya merusak mobil saya. Identitasnya tertutup rompi. Oknum
ini malah mengeluarkan ocehan, “Kami ini tiap hari kepanasan dengan
gaji kecil. Emangnya saya mau kerjaan ini?”

Saat rombongan SBY lewat, ia segera berlari menuju mobil PJR-nya,
mengikuti belasan temannya meninggalkan saya dan putri saya yang
terbengong-bengong.

Pak SBY yang kami hormati, mohon pindah ke Istana Negara sebagai
tempat kediaman resmi presiden. Betapa kami saban hari sengsara setiap
Anda dan keluarga keluar dari rumah di Cikeas. Cibubur hanya lancar
buat Presiden dan keluarga, tidak untuk kebanyakan warga.

HENDRA NS
Cibubur

http://www.resep.web.id/berita/hendra-ns-surat-pembaca-kompas-mohon-pindah-ke-istana-negara.htm


--
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat.

Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt

Kirim email ke