Masih ingatkah korban meninggal tubrukan kendaraan di tol jagorawi beberapa tahun lalu, ketika rombongan Presiden SBY ?. Apakah mereka tidak belajar dari pengalaman ? Dan bagaimana memajukan suatu negara kalo semua ini diisi dengan tidak penuh kasih sayang sesama manusia. Tapi yang adanya arogansi, dan yang dicari uang serta uang bagaimana masing2 hanya cari enak sendiri tanpa perdulikan manusia lain, yang dicari hanya keuntungan sesaat tidak perdulikan kesengsaraan orang lain. Mereka pergi dari rumah cari nafkah ke tempat kerja, di jalan dibikin susah dan bayar, kemudian uang hasil kerja pun masih harus disisihkan untuk keharusan bayar pajak.
Siapapun presiden atau siapa pun orang yg banyak duit kalo begini terus2an, wah bukan datangkan barokah lagi, tapi bencana bagi kehidupan bermasyarakat itu sendiri. Bagaimana menurut pandangan agama ? Bagaimana pandangan orang2 awam sebagaimana manusia biasa ?. Salam, M. H. Aziz -----Original Message----- From: "Achmad Chamdani Eka P." <[email protected]> Sender: [email protected]: Tue, 20 Jul 2010 21:07:28 To: Indonesia<[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: [indonesia] Trauma oleh Patwal (bukan cuma Patwal) Presiden Topik yang sedang hangat dibicarakan di media. Kiprah para Patwal semakin menambah benang kusut lalu lintas kota Jakarta. Bukan cuma itu, arogansi mereka membuat miris banyak pengguna jalan. Dan lucunya, kita yang sudah mengeluarkan kocek untuk bayar jalan bebas hambatan, harus rela untuk dipinggirkan. Bahkan banyak diantara pengguna lalulintas ini yang mendapat perlakuan tidak senonoh dari patwal. Saya teringat kejadian 7 tahun lalu. Pengalaman hitam ini bermula ketika saya sedang mengendarai mobil di tol Gatot Subroto. Tiba tiba dari arah belakang dengan kecepatan tinggi datang rombongan Presiden (Megawati). Paling depan patwal berkendaraan 2 atau 3 moge "zig zag" meliuk liuk "menyapu" kendaraan lain yang ada di depannya. Diikuti oleh beberapa jip mercy dengan pengeras suara yang berteriak agar kendaraan lain semua menepi. Dan hampir saja mobil saya tertabrak oleh rombongan patwal ini. "Ah, sungguh arogan sekali mereka" saya hanya bisa mengelus dada. Bukan hanya patwal RI1 dan RI2 yang bermasalah. Patwal sudah menjadi konsumsi umum. Mulai dari Presiden, menteri, anggota DPR, gubernur, walikota, ketua partai dll. Bahkan anak pejabat yang hendak kawin atau punya hajat sunatan pun pakai patwal. Serius, saya pernah lihat dengan mata kepala sendiri !!! Kesimpulan saya, 1) Pejabat di negara kita senantiasa minta didahulukan daripada rakyatnya. Entah itu di rumah, di kantor bahkan di jalan. Padahal kita kita juga yang bayar mereka melalui pajak. Sudah KKN masih minta didahulukan lagi. Betapa parahnya golongan manusia ini ! 2) (Pengawalan) polisi bisa dibeli. Siapa yang mau pengawalan, silahkan bayar polisi dan dia akan dapat service ini. Ini sejalan dengan pepatah "Ada uang ada jalan". Perundangan di negara kita sungguh merugikan rakyat dan tidak jelas. Siapa saja yang berhak mendapat pengawalan di jalan dan bagaimana prosedur yang "ramah" buat pemakai jalan lain. Para pejabat itu pikir, merekalah orang yang paling penting di negeri ini (padahal kerjaan mereka paling paling juga KKN juga tho). Saya kira perundangan yang berkaitan dengan hal ini, suka atau tidak suka, perlu ditinjau segera. Sebelum jatuh lebih banyak lagi korban. Semua orang harus diperlakukan sama dan penting di negeri ini. Karena pegawai swasta misalnya juga sama sama memberikan kontribusi terhadap pembangunan. Salam. Ach. Chamdani Eka -------------------------------------------------- Redaksi Yth Trauma oleh Patwal Presiden Sebagai tetangga dekat Pak SBY, hampir saban hari saya menyaksikan arogansi Patroli dan Pengawalan (Patwal) iring-iringan Presiden di jalur Cikeas-Cibubur sampai Tol Jagorawi. Karena itu, saya-juga mayoritas pengguna jalan itu-memilih menghindar dan menjauh bila terdengar sirene Patwal. Namun, kejadian Jumat (9/7) sekitar pukul 13.00 di Pintu Tol Cililitan (antara Tol Jagorawi dan tol dalam kota) sungguh menyisakan pengalaman traumatik, khususnya bagi anak perempuan saya. Setelah membayar tarif tol dalam kota, terdengar sirene dan hardikan petugas lewat mikrofon untuk segera menyingkir. Saya pun sadar, Pak SBY atau keluarganya akan lewat. Saya dan pengguna jalan lain memperlambat kendaraan, mencari posisi berhenti paling aman. Tiba-tiba muncul belasan mobil Patwal membuat barisan penutup semua jalur, kira-kira 100 meter setelah Pintu Tol Cililitan. Mobil kami paling depan. Mobil Patwal yang tepat di depan saya dengan isyarat tangan memerintahkan untuk bergerak ke kiri. Secara perlahan, saya membelokkan setir ke kiri. Namun, muncul perintah lain lewat pelantam suara untuk menepi ke kanan dengan menyebut merek dan tipe mobil saya secara jelas. Saat saya ke kanan, Patwal di depan murka bilang ke kiri. Saya ke kiri, suara dari pelantam membentak ke kanan. Bingung dan panik, sayapun diam menunggu perintah mana yang saya laksanakan. Patwal di depan turun dan menghajar kap mesin mobil saya dan memukul spion kanan sampai terlipat. Dari mulutnya terdengar ancaman, “Apa mau Anda saya bedil?” Setelah menepi di sisi paling kiri, polisi itu menghampiri saya. Makian dan umpatan meluncur tanpa memberi saya kesempatan bicara. Melihat putri saya ketakutan, saya akhirnya mendebatnya. Saya jelaskan situasi tadi. Amarahya tak mereda, malah terucap alasan konyol tak masuk akal seperti “dari mana sumber suara speaker itu?”, atau “mestinya kamu ikuti saya saja”, atau “tangan saya sudah mau patah gara-gara memberi tanda ke kiri”. Permintaan saya dipertemukan dengan oknum pemberi perintah dari pelantam tak digubris. Intimidasi hampir 10 menit yang berlangsung tepat di depan Kantor Jasa Marga itu tak mengetuk hati satu pun dari anggota Patwal lain yang menyaksikan kejadian itu. Paling tidak, menunjukkan diri sebagai pelayan pelindung masyarakat. Karena dialog tak kondusif, saya buka identitas saya sebagai wartawan untuk mencegah oknum melakukan tindak kekerasan. Ia malah melecehkan profesi wartawan dan tak mengakui perbuatannya merusak mobil saya. Identitasnya tertutup rompi. Oknum ini malah mengeluarkan ocehan, “Kami ini tiap hari kepanasan dengan gaji kecil. Emangnya saya mau kerjaan ini?” Saat rombongan SBY lewat, ia segera berlari menuju mobil PJR-nya, mengikuti belasan temannya meninggalkan saya dan putri saya yang terbengong-bengong. Pak SBY yang kami hormati, mohon pindah ke Istana Negara sebagai tempat kediaman resmi presiden. Betapa kami saban hari sengsara setiap Anda dan keluarga keluar dari rumah di Cikeas. Cibubur hanya lancar buat Presiden dan keluarga, tidak untuk kebanyakan warga. HENDRA NS Cibubur http://www.resep.web.id/berita/hendra-ns-surat-pembaca-kompas-mohon-pindah-ke-istana-negara.htm -- Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Info pengelolaan milis Indonesia next better : http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
