________________________________
From: Munadjad Iskandar <[email protected]>
To: Abimantrono Anwar <[email protected]>; Inanda Murni 
<[email protected]>; "Lukman Zaaidi, Ir." <[email protected]>
Sent: Sat, August 28, 2010 6:49:40 AM
Subject: Fw: [ClubSixty] KWK


A nation of full hutang.



----- Forwarded Message ----
From: Anwari Doel Arnowo <[email protected]>
To: Budiman AM <[email protected]>; john oei <[email protected]>; Gunadi 
<[email protected]>; Suzy Wallace <[email protected]>; soebianto hudyana 
<[email protected]>; Abdul Irsan <[email protected]>; ClubSixty 
<[email protected]>; Peter Wedarso <[email protected]>
Sent: Fri, August 27,  2010 3:41:01 PM
Subject: [ClubSixty] KWK

Utang yang dibuat jaman Suharto, saya sebagai orang yang tua, merasa ikut 
bersalah: KARENA NGGAK BERANI NGOMONG, SEBAB SAYA TAKUT. Utang yang disebut pak 
Kwik Kian Gie ini, saya sudah menulis banyak kali, tetapi sama saja hasilnya. 
Apa?
SEMUA UTANG MENJADI BEBAN KITA SEDIKIT, TETAPI MENJADI BEBAN LUAR BIASA BESAR 
BAGI SEMUA ANAK CUCU KITA ...
Kita harus minta maaf kepada anak cucu kita sekarang, sebelum saya dan anda 
meninggal..!!!
Anwari Doel Arnowo
27 Agustus, 2010
Kwik: APBN Tak Akan Pernah Pro Rakyat
Kamis, 26 Agustus 2010 22:56 WIB | Ekonomi & Bisnis | Makro | Dibaca 609 kali
Jakarta (ANTARA News) - Mantan Menteri Koordinator Perekonomian Bidang Ekonomi, 
Keuangan dan Industri (Menko Ekuin) Kwik Kian Gie mengatakan, APBN tak akan 
pernah pro rakyat karena tingginya beban utang negara.

"APBN tak akan pernah pro rakyat sejak Pak Harto (Presiden Soeharto) lengser, 
utang menyadera APBN," katanya saat diskusi di Megawati Institute di Jakarta, 
Kamis.

Ia mengatakan, sejak krisis ekonomi yang melengserkan Presiden Soeharto, utang 
Indonesia membengkak tajam, terutama untuk membiayai krisis.

"Untuk utang dari obligasi rekapitulasi saja mencapai Rp430 triliun, belum lagi 
bunga yang harus dibayar Rp600 triliun, jadi totalnya Rp1.030 triliun. Itu baru 
obligasi rekapitulasi, belum BLBI," katanya.

Menurut dia, utang Indonesia terus membengkak. Begitu pula dengan pembayaran 
cicilan utang pokok dan bunga setiap tahunnya sangat membebani APBN.

Pada RAPBN 2011, cicilan untuk bunga utang saja telah mencapai Rp116,4 triliun, 
lebih tinggi hampir dua kali lipat dibandingkan dengan 2005 yang hanya Rp65,2 
triliun. Sementara total utang mencapai Rp1.600 triliun lebih.

"Itu baru cicilan bunganya saja. Kalau sama dengan pokoknya cicilan mencapai 
Rp240 triliun atau 25 persen APBN," katanya.

Ia menambahkan, bila 25 persen APBN terserap untuk utang, 50 persen lainnya 
digunakan untuk membayar gaji pegawai negeri sipil, 25 persen lainnya digunakan 
untuk berbagai hal, mulai dari pembelian barang dan modal, perawatan hingga 
subsidi.

Hal ini telah membuat APBN sulit untuk pro rakyat. "Utangnya besar sekali, 
sementara pemerintah terus menambah utang, baik luar negeri atau melalui utang 
dalam negeri," jelasnya.

Menurut dia, APBN tidak akan pro rakyat bila pemerintah tidak progresif dalam 
masalah utang. Ia mengatakan, selama ini kita tidak pernah mau menegosiasikan 
utang dengan sungguh-sungguh.

"Kita ini penurut, mereka (pemberi utang) maunya apa, IMF maunya apa, Bank 
Dunia 
maunya, apa kita nurut saja, lha kita ini memang negara yang baik versi mereka. 
Kita ini juga penakut, ditakuti sedikit takut," katanya.

Padahal, menurut dia, kalau utang-utang tersebut tidak di negosiasikan kembali 
atau bahkan meminta agar utang dimoratorium (dihapuskan), maka dana sosial 
untuk 
kesejahteraan rakyat dipastikan akan terus berkurang.

"Ini masalah keberanian, masalah ketegasan, berani tidak pemerintah kita minta 
negosiasi lagi," katanya.

 kwik-kian-gie.jpg
10K   View   Download   27/08/2010
Anwari Doel Arnowo
[email protected] 
Toronto - Canada



-- 
You received this message because you are subscribed to the Google Groups 
"ClubSixty" group.
To post to this group, send email to [email protected].
To unsubscribe from this group, send email to 
[email protected].
For more options, visit this group at 
http://groups.google.com/group/clubsixty?hl=en.


      

Kirim email ke