Assalamualaikum wr. wb.

Selamat Hari Raya Idul Fitri, Maaf Lahir Batin.

Masih ingin "ganyang Malaysia"?  Mudah-mudahan
kini kita lebih ingin
bersilaturahmi, kenal lebi baik.  Di sekitar
rumah saya saja,
ternyata ada beberapa yang berkeluarga warga
Malaysia: tantenya,
saudara sepupunya, malah kakak kandung,
misalnya.  "Ngenger" ke
Saudara di sana sudah dipraktekkan sejak dulu,
bahkan sebelum "Londo"
mengkotak-kotakkan negeri-negeri di kawasan kita
ini.

TKI ke Malaysia sudah dari dulu. 80 persen dari
orang Melayu Malaysia
itu turunan suku-suku di Indonesia.  Di beberapa
tempat di Malaysia
kita bisa ngomong bahasa Jawa, Bugis atau
Padang.  Banyak lulusan ITB
sekarang ada di sana: di industri minyak,
kampus-kampus, dstnya. 
Daripada "ribut nggak produktif" mending lebih
sering saling kenal:
suruh anak/ponakan kita main-main ke sana atau
tampung anak sana
tinggal di keluarga kita sementara, misalnya.

PM Najib turunan Raja Gowa.  Lebaran tahun ini,
saya ditunjuki
gambar-gambar Menteri Pertahanan Dato Zahid Hamidi
yang beberapa tahun
terakhir ini bertandang ke"akar"nya di kampungnya
dekat Yogya (Mbahnya
orang Wates, Jogja; ibunya orang Ponorogo.
Bolehkan kalau terus pakai
bahasa Jawa --ngoko-- dan mainkan reog Ponorogo?

Sedikit tulisan di bawah tentang orang-orang kita
yang merantau dan
"sukses" di sana itu (Pak Najib dan Mas Zahid) 
Mungkin kita bisa
bicara baik-baik dengan mereka itu (Saudara
sendiri, kan?) daripada
ribut-ribut ngajak perang.    

http://penaleklook.blogspot.com/2007/12/alon-alon-waton-kelakon.html
http://www.antaranews.com/berita/1251724258/malaysia-negeri-perantau-indonesia

Salam,
Hanan Nugroho, dari Bantul
TUESDAY, DECEMBER 25, 2007
 1.  ALON-ALON WATON KELAKON[1] 

   (Terlintas nama Jogjakarta, Indonesia teringat
akan asal usul
keturunan sebelah bapa dari Kerajaan Mataram.
Berikut tulisan seorang
penulis Indonesia, Achmad Supardi mengenai Datuk
Ahmad Zahid Hamidi
ketika mula menjejaki kampung asal nenak moyang
sebelah bapa.
Rencananya disiarkan di Surabaya Post pada 9 Jun
2006).

Deputi Menteri Malaysia Keturunan Jawa ‘Orang
Jawa Dikenal Rajin
dan Taat Ibadah’ Selama sepekan ini, Deputi
Menteri Pariwisata
Malaysia, Dato’ Ahmad Zahid Hamidi sibuk
mempromosikan Malaysia
Great Sale ke sejumlah kota di Indonesia. Tapi
siapa sangka bahwa ia
ternyata keturunan Jawa, dan masih bisa berbicara
dalam Bahasa Jawa
pula? Bagaimana ia bisa sampai ke Malaysia dan
menjadi pejabat tinggi
di negeri itu? Berikut ceritanya dalam gaya
bertutur. Oleh: Achmad
Supardi – F.A. Aziz

Keluarga saya yang pertama datang ke Malaysia
adalah kakek saya,
almarhum Raden H. Abdul Fatah dan nenek saya,
almarhumah Raden Hj.
Mardiyah. Keduanya datang ke Malaysia tahun 1932
dari Wates,
Jogjakarta. Saya tidak tahu persis mengapa mereka
pindah, tapi itu
mungkin bagian dari program transmigrasi yang
digelar pemerintah
penjajah waktu itu, atau mungkin juga menghindari
sistem feudal dan
tekanan hidup yang keras saat itu. 

Di Malaysia, mereka kemudian bertempat di Kampung
Sungai Nipah Darat,
Distrik Bagan Datuk, Negara Bagian Perak. Di sana
kakek saya termasuk
yang pertama membabat alas dan membangun
pemukiman. Beliau juga
mendirikan Madrasah Mambaul Ulum. Meski bernama
madrasah, ia kemudian
menjelma menjadi pondok pesantren (Ponpes). 

Setelah beliau wafat, kepemimpinan Ponpes ada di
tangan almarhum
Raden H. siradj, kakak tertua ayah saya dan
kemudian digantikan ayah
saya, Raden Hamidi ketika beliau berpulang juga.
Ayah saya sendiri
anak ke-7 dari 9 bersaudara. 

Bagi sebagian orang yang paham budaya Jawa,
mungkin keluarga kami
adalah perkecualian karena jarang ningrat yang
juga sekaligus santri.
Ayah saya kemudian menikah dengan ibu saya,
Tuminah, yang juga berasal
dari Jawa, tepatnya dari Ponorogo. 

Alhamdulillah, keduanya masih hidup, ayah saya 85
tahun dan ibu 80
tahun. Keduanya masih di Kampung Sungai Nipah
Darat. Asal tahu saja,
wilayah ini 100% penduduknya keturunan Jawa. Di
sini, semua
penduduknya berkomunikasi dalam Bahasa Jawa.
Mereka hanya menggunakan
Bahasa Melayu untuk berhubungan dengan orang luar,
misalnya di kantor
atau sekolah. 

Para orang tua, katakanlah hingga generasi ayah
saya, masih
menggunakan Bahasa Jawa halus (krama). Kalau
generasi saya hanya paham
Bahasa Jawa pasar saja. Kami mengerti bahasa
krama, namun tidak bisa
mengungkapkannya. Bahasa Jawa juga dipakai dalam
forum-forum
pengajian, biasnaya bahasa krama. 

Orangtua saya memang mengajarkan Bahasa Jawa pada
kami, namun saya
tidak secara khusus mengajarkannya pada anak-anak
saya. Meski
demikian, 2 dari 5 anak saya menunjukkan
ketertarikan untuk mengerti
Bahasa Jawa. Mereka paham Bahasa Jawa, namun tidak
pandai dalam
mengutarakannya. 

Enak juga, lo, bisa berbahasa Jawa. Saya sering
menggunakannya untuk
menyampaikan hal-hal yang sifatnya rahasia. Kadang
kawan-kawan saya
bingung, mereka bertanya-tanya saya bicara bahasa
apa, tapi biar
saja…. 

Sekarang, alhamdulillah saya berkesempatan
mengunjungi wilayah asal
leluhur saya. Saya akan ke Jogjakarta tanggal 11
atau 12 Juni ini.
Selain urusan promosi wisata Malaysia, saya juga
akan mengunjungi
Wates, tempat asal kakek saya. 

Syukur, kami masih memiliki kontak dengan keluarga
kami di
Jogjakarta. Saudara sepupu ayah saya masih ada di
situ. Ini memang
kunjungan saya yang pertama ke Wates. Saya bawa
serta istri, 2 putri
dan 1 putra saya. Saya kira kunjungan nanti memang
akan sangat
emosional. 

Kenduri dan Bedug Selain bahasa yang masih
dipahami banyak kalangan
keturunan Jawa di Malaysia, warisan budaya Jawa
lainnya juga masih
hidup di Malaysia. Di antaranya adalah makanan,
adat perkawinan, juga
kendurian. 

Untuk makanan, misalnya, kami masih suka makan
kacang tolo, sop
kikil, sambel taun, juga gudeg. Tempe, lauk
tradisional Jawa itu,
seolah menjadi menu wajib bagi kami. Adat
perkawinan juga masih
dipertahankan. Hanya saja, hal-hal yang berbau
kurafat atau warisan
Hindu, kami buang. Sementara untuk kenduri,
suasananya masih khas Jawa
sejauh yang saya ketahui. Misalnya, ada bag-bagi
berkat (bingkisan
makanan) di akhir kenduri. 

Selain itu, di masjid, musala, juga dalam acara
perkawinan masih
dipakai bedug. Ini benar-benar khas jawa karena
musala atau masjid
Melayu tidak mengenalnya. Di luar itu, orang
keturunan Jawa juga
dikenal karena banyak menjadi tukang khitan
(calak). 

Orang Melayu pun banyak berkhitan pada mereka.
Selain di Kampung
Sungai Nipah Darat, Perak, ada beberapa tempat
yang juga merupakan
komunitas Jawa, mislanya di Kampung Sungai Balai
Darat (Perak), juga
di kawasan Klang (Selangor) dan daerah-daerah di
Johor. Malah dalam
komunitas-komunitas Jawa di luar Perak, warna
jawanya lebih kental.
Termasuk, masih dipakainya nama-nama Jawa. 

Jadi jangan kaget kalau menemukan nama-nama
seperti Sukarno, Supardi,
Tukiman dan sejenisnya. Kalau untuk generasi
ketiga seperti saya,
nama-nama yang dipakai sudah nama-nama Melayu
(Islam). 

Terkenal Rajin Meski banyak budaya Jawa yang masih
dipertahankan oleh
komunitas-komunitas Jawa di Malaysia, namun ada
beberapa hal yang
sempat mengejutkan saya. Misalnya, orang Jawa
dikenal di Indonesia
sebagai entitas dengan sifat atau kebiasaan kurang
baik seperti lamban
sampai ada ungkapan alon-alon waton kelakon (biar
lambat asal
selesai). 

Di Malaysia, orang Jawa justru terkenal sebagai
pekerja keras. Sifat
pekerja keras ini bukan hanya untuk para tenaga
kerja Indonesia (TKI),
namun juga bagi warga Malaysia keturunan Jawa. 

Selain itu, orang Jawa juga dikenal kuat dalam
ibadah, bahkan lebih
taat dari orang Melayu sendiri. Sifat lainnya,
orang Jawa di Malaysia
dikenal patuh pada ketua dan tidak suka menikam
dari belakang. 

Jadi, sosok Jawa cukup disukai di Malaysia karena
sifat-sifat positif
itu. Saya terkejut juga, ternyata cap yang sama
tidak melekat pada
ornag Jawa di Indonesia. Mungkin keturunan Jawa di
Malaysia menjadi
pekerja keras karena merasa sebagai orang rantau,
ya? 

Orang-orang UMNO (Organisasi Nasional Melayu
Bersatu, partai terbesar
Malaysia) tahu bahwa saya orang Jawa. Malah, 10
dari 191 anggota
parlemen berasal dari keturunan Jawa. 

Menteri Besar (semacam gubernur negara bagian)
Selangor, M. Kheir bin
Toyo juga keturunan Jawa. Sebagai orang yang
memiliki leluhur Jawa,
kadang saya trenyuh juga mengetahui berita-berita
penyiksaan terhadap
TKI, misalnya. 

Dua dari 4 pembantu rumah tangga saya juga orang
Jawa, asal Solo dan
Jember. Dalam hal-hal seperti itu, di forum-forum
rapat, saya termasuk
yang vokal meminta agar diberikan perlindungan
yang baik. 

Sebenarnya situasi di Malaysia sendiri baik, hanya
saja kalau ada
masalah, memang saya termasuk yang paling awal
untuk meminta
perhatian. Dalam kasus TKI terakhir, misalnya,
saya bekerja sama
dengan anggota parlemen dari DPR Indonesia, Ade
Nasution. 

Tentang hal-hal yang sifatnya konflik kedua
negara, seperti Ambalat,
saya termasuk yang tidak ingin itu membesar.
Apalagi di Malaysia
sendiri Ambalat memang bukan soal besar. Warga
tidak memikirkannya
secara serius. Itu hanya masalah dagang, masalah
Petronas. 
2. MALAYSIA, NEGERI PERANTAU INDONESIA

Senin, 31 Agustus 2009 20:10 WIB | Artikel |
Spektrum | Dibaca 10134
kali

ADI LAZUARDI
Najib Razak (ANTARA/Reutres)Kuala Lumpur (ANTARA
News) - "Saya datang
bukan untuk merebut kekuasaan. Saya datang sebagai
orang perantauan
Bugis yang sukses dan kini menjadi Perdana Menteri
Malaysia," kata
Najib Tun Razak di hadapan masyarakat Gowa,
Sulawesi Selatan, tanah
leluhurnya.

Tak lama setelah dilantik menjadi PM Malaysia
keenam dan menghadiri
acara World Ocean Confenrene (WOC) di Manado, PM
Najib Tun Razak
mengunjungi Gowa untuk menziarahi makam raja-raja
Gowa. Najib sendiri
adalah keturunan Sultan Gowa ke-19 atau cucu dari
Sultan Hasanudin.

Leluhurnya meninggalkan Gowa untuk merantau ke
Pahang, salah satu
negara bagian di Malaysia, demi menghindari
konflik perebutan
kekuasaan. Perantauannya ke Semenanjung Malaysia
ternyata berujung
sukses, setelah ayahnya menjadi PM Malaysia kedua,
sementara dia
sendiri menjadi PM Malaysia keenam.

Hampir 80 persen keturunan Melayu di Malaysia
adalah keturunan orang
Indonesia. Ada keturunan Aceh, Padang, Sumatera
Utara, Jambi,
Palembang, Jawa, Madura, Bawean, dan Bugis.

Banyak sekali keturunan Indonesia hidup sukses di
Malaysia. Di
jajaran kabinet saat ini, Menteri Pertahanan
Malaysia Ahmad Zahid
Hamidi, berkakek orang Yogyakarta. Bahasa Jawanya
pun masih medok.

Begitu juga dengan Rais Yatim, Menteri Penerangan
dan Kebudayaan
Malaysia, yang menghabiskan masa kecilnya di
Sawahlunto, Sumatera
Barat.

Kesuksesan perantauan Indonesia di Malaysia bukan
hanya sampai
tingkat menteri. Beberapa sultan di beberapa
negara bagian juga
keturunan Indonesia, contohnya Sultan di Johor
Bahru dan Selangor
adalah keturunan Bugis.

Bukan saja di kalangan pemerintahan dan sultan,
keturunan Indonesia
di Malaysia sukses membina hidup di Malaysia. 

Bintang film legendaris Malaysia, P. Ramlee
misalnya, adalah anak
Aceh yang sukses di Malaysia. Penyanyi pria paling
top saat ini, Mawi,
juga masih keturunan orang Jawa.

Itulah sedikit contoh orang Indonesia yang sukses
merantau di
Malaysia. Warga Indonesia yang merantau ke
Malaysia yang sukses, ada
di semua lini dan sendi kehidupan.

Negara Sukses

Malaysia hari ini memperingati hari kemerdekaannya
ke-52. Negara
jiran dan serumpun dengan Indonesia ini telah
menjadi negara sukses
nan maju di kawasan ASEAN setelah Singapura.

Banyak ikon Malaysia yang menjadi kebanggaan dunia
dan menjadi tujuan
wisata terkemukan, contohnya gedung menara kembar
Petronas, yang
menjadi salah satu pencakar langit tertinggi di
dunia.

Menara Kuala Lumpur juga menjadi salah satu menara
paling tinggi di
dunia, dilengkapi restoran berputar yang mewah dan
cantik.

Perusahaan dan BUMN Malaysia juga punya kiprah
yang besar dalam
bisnis internasional. BUMN Migas Petronas,
maskapai penerbangan MAS
(Malaysian Airlines), perusahaan telekomunikasi
Maxis, perbankan
Maybank dan CIMB adalah beberapa dari korporasi
bisnis Malaysia yang
telah menjadi perusahaan "world class" (kelas
dunia).

Malaysia juga memiliki infrastruktur ekonomi yang
bagus. Jalan raya
yang mulus mulai dari Johor Bahru (Selatan) hingga
ke Perlis (Utara),
dari Kuala Terengganu (Timur) sampai Kuala Lumpur
(Barat).

Bukan itu saja, mereka juga mempunyai jaringan
telekomunikasi maha
luas, tetapi murah. Jaringan listriknya pun
berkapasitas sangat besar
sehingga menunjang kota Kuala Lumpur untuk terang
benderang sepanjang
malam, sepanjang hari, memasok listrik untuk dua
jaringan LRT (light
rapid train) dan satu monorel.

Daya listrik bagi warga Malaysia tidak mengenal
klasifikasi 450 watt,
900 watt atau 1.200 watt. Pokoknya, tidak ada
batasnya. Itu cukup
untuk menunjukan kapasitas listrik yang tersedia
masih sangat besar.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pernah memuji
infrastruktur ekonomi
Malaysia. "Kita lihat jalan-jalan begitu mulus
sejak dari Bandara
hingga ke hotel," kata Yudhoyono kepada wartawan,
ketika melawat ke
negara jiran ini.

Karena ditunjang oleh infrastruktur ekonomi yang
baik, maka sektor
pariwisata Malaysia ikut mencicipi dampaknya.
Kunjungan turis asing ke
negeri yang terkenal dengan "Nasi lemak dan teh
tarik" ini hingga
lebih mencapai 20 juta turis mancanegara per
tahun.

Malaysia dipercaya dan dipilih sebagai tempat
berlangsung perlombaan
F1 (Formula One). Arena balap mobil bergengsi di
dunia. Kuala Lumpur
juga menjadi kota pilihan perusahaan multinasional
sebagai kantor
pusatnya untuk kawasan ASEAN.

"Bukan itu saja, beberapa negara yang tidak mampu
memiliki kedutaan
di semua negara memilih kota Kuala Lumpur
merangkap Jakarta Indonesia,
dan bukan sebaliknya," kata Dubes RI Da`i
Bahctiar.

Peran Indonesia

Malaysia sebagai sebuah negara sukses di ASEAN dan
Asia, sebenarnya
tidak terlepas dari peran serta Indonesia sebagai
negara tetangga dan
serumpun Melayu.

Kesuksesan Malaysia dibangun juga oleh orang-orang
perantauan asal
Indonesia yang turut menyulap negara yang
bergantung kepada karet itu
menjadi negara maju dengan topangan sektor jasanya
yang cemerlang,
seperti pariwisata, perbankan dan pendidikan.

Malaysia memiliki target tahun 2020 sebagai negara
jasa dengan
infrastruktur ekonomi sekelas negara-negara maju
seperti Eropa dan
Amerika.

Peran warga Indonesia sangat besar dalam
pembangunan ekonomi dan
sosial Malaysia sejak awal pembangunan ekonomi dan
sosialnya hingga
kini.

Presiden RI Soeharto peranh mengirim ribuan guru,
dokter dan perawat
ke Malaysia pada awal tahun 1970an. Banyak juga
dosen-dosen Indonesia
mengajar di Malaysia. Pada dekade 1970an, tenaga
pendidik dan terampil
banyak dikirim ke Malaysia.

Namun pertengahan dekade 1980an, situasi berbalik,
justru tenaga
buruh dan kasar yang semakin banyak dikirim ke
Malaysia.

Para pekerja pembangunan menara kembar Petronas
contohnya, mayoritas
adalah TKI (Tenaga Kerja Indonesia). Demikian pula
dengan pembangunan
kawasan pemerintahan Putrajaya dan KLIA (Kuala
Lumpur International
Airport) yang terkenal megah itu.

Sebagian besar buruh perkebunan kelapa sawit di
Malaysia juga adalah
TKI. Mereka inilah yang ikut mengantarkan Malaysia
menjadi produsen
terbesar minyak kelapa sawit kedua setelah
Indonesia.

Namun tidak sedikit pula peran ekspatriat
Indonesia berkeahlian
tinggi dalam memajukan perusahaan dan BUMN
Malaysia sehingga banyak
diantaranya berubah menjadi perusahaan kelas
dunia. "Jika ada 10
penentu kebijakan di Petronas, enam dari 10 orang
itu adalah warga
Indonesia," kata Da`i.

Jadi, sebagai salah satu negara ASEAN tersukses,
keberhasilan
Malaysia itu tidak terlepas dari peran warga
Indonesia. Kesuksesan
Malaysia adalah juga lambang sukses hidup para
perantau Indonesia di
negeri jiran ini.

Sukses dan selamat HUT Kemerdekaan ke-52 untuk
Malaysia dan mantan
orang Indonesia. (*)

        COPYRIGHT © 2009

----- Original Message -----
SUBJECT: INDONESIA DIGEST V5 #184
FROM: [email protected]
TO: [email protected]
DATE: 09-13-2010 3:52 pm


Links:
------
[1]
HTTP://PENALEKLOOK.BLOGSPOT.COM/2007/12/ALON-ALON-WATON-KELAKON.HTML

Kirim email ke