Daya tarik kehidupan justru terletak pada keanekaragaman, dan perbedaan justru 
membuat hidup semakin meriah. Misal, ada orang pandai di bidang IT tapi dia tak 
mampu membuat baju. Ada petani yang buta IT tapi bisa saja padi yang ditanamnya 
dikonsumsi pilot pesawat kepresidenan. Banyak tamu-tamu hotel berbintang yang 
ahli di berbagai bidang, tapi mereka membutuhkan juru masak untuk menyiapkan 
sarapan paginya.   

Pekerja komuter butuh infrastruktur dan perangkat IT untuk bisa bekerja di 
rumah. Sementara para pejabat (pemerintah) menghendaki bawahannya masuk kantor 
tepat waktu. Dua-duanya benar, dan tidak ada hukum yang mengatur agar kedua 
kutub budaya itu untuk bertukar posisi. Lebih bagus ya alamiah saja. 

Orang yang mengerti IT pasti akan lebih memilih menjadi pekerja komuter, dan 
rasanya mereka juga tidak keberatan untuk mengucapkan "selamat pagi bos" 
bilamana waktunya tepat. Separo kerja di kantor dan separo kerja di rumah 
adalah ide yang baik. Cuma tidak harus diterapkan di semua jenis perkerjaan. 
Maksudnya, agar perbedaan (budaya) itu tetap indah.

Salam,
Dwi Ananto Widjojo  
Pekerja IT, Telekomunikasi & Broadcast.    

-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
On Behalf Of S Roestam
Sent: Saturday, September 25, 2010 8:12 AM
To: [email protected]; [email protected]; S Roestam; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]
Subject: [indonesia] Re: [Telematika] olusi Cerdas Kemacetan LL dan Penghematan 
BBM dengan Kerja Dari Rumah, 2-hari di Kantor, 3-hari di Rumah

Pak Suyadi dan Kawan2 Yth,

Terimakasih atas tanggapan Bapak yg cepat serta sangat rinci tentang 
situasi dan kondisi Budaya Masyarakat Indonesia pada umumnya.

Inilah yang perlu kita lakukan perubahan secara bersama-sama, 
menyadarkan akan kekurangan2 kita, secara intensif kalau kita ingin 
menuju kepada era baru bangas Indonesia, yang secara cerdas memilih 
solusi-solusi yang tepat bagi berbagai permasalahan kita masa kini.

Mudah2an diskusi2 di Milis2 ini dapat juga sampai kepada para Pemimpin 
Indonesia yang bisa memulai upaya perbaikan yg diperlukan bangsa 
Indonesia.

Silahkan kawan2 lainnya memberikan tanggapan atau dukungannya.

Wassalam,
S Roestam
----------------

----Original Message----
From: [email protected]
Date: 25/09/2010 8:02 
To: <[email protected]>, "S Roestam"<[email protected]>, 
<[email protected]>, <[email protected]>, 
<[email protected]>, <[email protected]>
Subj: Re: [Telematika] olusi Cerdas Kemacetan LL dan Penghematan BBM    
dengan Kerja Dari Rumah, 2-hari di Kantor, 3-hari di Rumah

Pak Mitro Yth:Salah satu kata kuncinya "Sistem Nilai" kita, 
diantaranya sbb 
:
Sistem nilai dari diri kita, kalau jam kerja tidak ngantor (bekerja 
dikantor), merasa tidak nyaman (kaya penggangguran) jadi ini masalah 
aktualisasi diri
Penilaian dari Lingkungan demikian pula, kalau ada orang tidak 
ngantor/bekerja dirumah seproduktif apapun, dianggap tidak jelas 
pekerjaannya, mungkin malah dinilai mencurigagakan bahkan bisa 
"dicurigai" 
dan bagi bujang hati-2 ntar ga dapet restu dari CAMER...:)
Sistem kinerja dikantor (Pemerintah/swasta) masih banyak dinilai 
secara 
kualitatif/bukan kuantitatif, misalkan budaya hadir tepat waktu 
(walopun 
dilanjutkan dengan ngrokok, ngobrol, bobo') masih lebih baik 
dibanding 
karyawan yang sekian jam produktif dirumah dengan sedikit kelambatan 
ke 
kantor, sebagai Contoh, kemarin begitu diekspose_nya penindakan 
aparat 
pemerintah yang telat/mbolos karena mudik lebaran, walopun memang anu 
juga... :)
Budaya kebutuhan tatap muka antar pejabat, kolega, sejawat dan lainnya 
masih 
tinggi, jangan harap apa yang kita kerjakan betapa baiknya atau 
mulianya, 
kalau tidak "sowan/tatap muka" akan dianggap baik/lancar
Dan seterusnya
Masalah diatas, akan mudah apabila dikaitkan dengan ukuran secara 
kuantitatif, misalkan :
Apa program & target pencapaian suatu intanasi (pemerintah/swasta) 
yang akan 
dicoba dalam suatu peride tertentu, misalkan 3 bulan kedepan 
(sederhana saja 
tapi konkrit)
Kemudian buat team atau serahkan kepada yang kompeten/PICnya untuk 
mencapai 
dengan kebebasan waktu kerja, tapi harus dimonitor/diukur target 
pencapaiannya setiap bulan, kalau tercapai/selesai, program ini 
dikembangkan 
lagi dengan target yang lain dengan team/PIC yang lain pula dan 
seterusnya,
Untuk suksesnya program ini :
Ada tidak yang mau mencoba dengan resep Pak Mitro ini, misalkan dari 
Pemda 
DKI
Dukungan infrastruktur IT sebagai alat kerja, kalau bisa sebagian 
dilakukan 
Online, Pak Jusup Basuki-Dirjendpostel sekian waktu yang lalu sudah 
memikirkan/membuat terobosan infrastruktur ini, dengan gelar desa 
Pinter 
(Pusat Akses Internet?)
Ada yang mau mencoba, silahkan tetapi harus siap, tidak dihormati 
oleh 
karyawan dengan ucapan selamat pagi Boosss...:) karena budaya kita 
masih 
banyak yang perlu dibegitukan loh, terserah masalah benar/salah atau 
tercapai/tidaknya tugas instansi...hehehe...
Eh....ngomong-2 masalah Single ID Nasional, sampai dimana ya? Instansi 
mana 
yang menanganijadinya ya?...nah ini salah satu yang bisa kita coba 
programnya hehehehe....sesederhana ini saja....hayooooo.....
Pak Mitro salam hormat kami atas ide cemerlangnya, suwun
was
suyadi

 

__________ Information from ESET NOD32 Antivirus, version of virus signature 
database 5477 (20100924) __________

The message was checked by ESET NOD32 Antivirus.

http://www.eset.com
 


--
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat.

Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt

Kirim email ke