Hehehe.. Black campaign.
Keliatan banget ketakutan dg gerakan srimulyani.net baru2 ini.

Betapa bisa memalukan perbuatan seseorang ya, ketika nafsu mengalahkan 
integritas diri sendiri.

-fau


iFaumobileā„¢

-----Original Message-----
From: "s.Rahardjo" <[email protected]>
Sender: [email protected]: Wed, 6 Oct 2010 16:33:35 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [indonesia]   Inilah ''Prestasi Buruk'' Sri Mulyani di World Bank

FYI, dari milist tetangga

SR

  

http://www.rimanews.com/read/20101003/3168/inilah-''prestasi-buruk''-sri-mul
yani-di-world-bank?sms_ss=yahoomail

Inilah ''Prestasi Buruk'' Sri Mulyani di World Bank

 

WASHINGTON,RIMANEWS- Sebagai Managing Director di Wolrd Bank, prestasi kerja
Sri Mulyani di Bank Dunia ternyata tidak sebaik yang diharapkan. Terbukti,
dari
segi  leadership, analisa, konsep, administrasi managerial
dan  kinerjanya, prestasi Sri Mulyani Indrawati (SMI) kalah di bawah
Direktur Eksekutif yang lain yakni adalah  Ngozi Okonjo-Iweala  (
dari Nigeria ) dan Graeme Wheeler ( dari New Zealand ) yang segera
digantikan
oleh  Mahmoud Mohieldin (dari Mesir).

'' Saya menduga , barangkali itulah alasan sebenarnya mengapa Sri Mulyani
ingin kembali ke Indonesia,karena di World Bank dia mungkin tidak kerasan
lagi  lantaran kalah wibawa dan prestasi dengan para managing director
lainnya. Kalau di sini kan
banyak media yang mudah membesar-besarkannya,'' kata seorang ekonom UI
yang enggan disebut namanya.

Terbetik berita dari sumber yang sangat bisa dipercaya di World Bank
Washington DC, bahwa  ternyata Prestasi dan kemampuannya jauh dibawah dua
(2) Managing Director Bank Dunia yang sejajar dengannya  ( di Bank Dunia
ada tiga (3) Managing Director ( MD ), dua (2)  Senior Vice President dan
tiga (3) Vice President  yang kedudukannya sejajar dan dua (2) Vice
President yang merupakan staf dari Robert Zoellick, President Bank Dunia ).

Ada pun dua (2)  MD yang lain adalah  Ngozi Okonjo-Iweala  (
dari Nigeria ) dan Graeme Wheeler ( dari New Zealand ) yang segera
digantikan
oleh  Mahmoud Mohieldin ( dari Mesir ).

Berita tersebut  tentu tidak kami percayai begitu saja dan mendorong
kami untuk mengetahui lebih jauh  tentang para MD lain dari Bank Dunia
yang prestasinya diatas Sri Mulyani.

Dr Ngozi Okonjo-Iweala  dari Nigeria ,yang ditunjuk menjadi  Menteri
Keuangan ( 2003 ) dan Menteri Luar Negeri Nigeria ( 2006 ) ternyata lulus S1
dari  Harvard University USA  dengan predikat  Magna Cum Laude
1977 dan mendapatkan gelar PhD dari  Massachusetts Institut of Technology
( MIT ) dalam  Ekonomi Regional dan Pembangunan . Ayahnya seorang Profesor
Ekonomi ( Chukuka Okonjo ) yang mendalami  Statistik Matematik dan menjadi
anggota dari  Asosiasi Matematik Jerman. Putri sulungnya , Onyinye Iweala
, lulus PhD dari Harvard University USA dalam bidang Experimental Pathology
tahun 2008 dan  Harvard Medical School  tahun 2010.

Sebelum ditunjuk menjadi Menteri Keuangan Nigeria 2003 , DR Ngozi
Okonjo-Iweala
adalah Vice President dan Corporate Secretary  Bank Dunia. Dia juga
mendapat penghargaan sebagai Global Finance Minister of the Year 2005 dari
Majalah Euromoney dan juga penghargaan  dari Financial
Times/The Banker 2005. Dia mendapat 5 buah gelar Doctor Honoris Causa dari
Perguruan Tinggi di USA ( 3 buah ), Irlandia ( 1 buah ) dan Jamaica ( 1 buah
).

Dengan sederet  prestasi dan pengalaman kerja yang seperti itu
sangatlah mudah dimengerti bahwa prestasi kerjanya  sebagai Managing
Director Bank Dunia jauh diatas Sri Mulyani Indrawati (SMI), walaupun SMI
juga
pernah menjadi Direktur Eksekutif  IMF Asia Tenggara ( 2002-2004) ,
Menteri/Kepala Bappenas ( 2004-2005) dan Menteri Keuangan ( 2005-2010 ), dan
hanya pernah mendapat penghargaan dari majalah Euromoney Asia, bukan
Euromoney
(yang kelas dunia internasonal-red).

'' Kita sudah mendengar dari sahabat yang bekerja di Bank Dunia, dari segi 
leadership, analisa, konsep, administrasi managerial dan 
kinerjanya, di World Bank Sri Mulyani yang  lulusan Illinois itu, 
ternyata kalah berat dibanding Ngozi Okonjo-Iweala yang lulusan Harvard dan
MIT,'' kata Ir.Abdulrachim, alumnus ITB dan aktivis gerakan mahasiswa
1977-78
yang juga peneliti ekonomi di Komite Bangkit Indonesia.

Pada Oktober 2005 , Dr Ngozi Okonjo-Iweala sebagai Menteri Keuangan 
sukses memimpin  Tim negosiasi  hutang Pemerintah Nigeria
dengan  Paris Club , dengan hasilnya adalah dihapuskannya hutang pokok
Nigeria sebesar  $ 18 Milyard (  Rp 162 Trilyun ). Sebagai gantinya Nigeria
membayar lunas  $ 12 Milyard
(  Rp 108 Trilyun ) yang  merupakan sebagian dari hutang Nigeria .
Sebelumnya Nigeria
selalu membayar hutangnya $ 1 Milyard setiap tahunnya, tetapi  tidak
mengurangi pokok hutangnya secara berarti. Dengan berhasilnya mengurangi
pokok
hutang bagi Nigeria
sangat terlihat rasa Nasionalisme dan pengabdian kepada negaranya,
walaupun  dia sebelumnya bekerja sebagai Vice President Bank Dunia.

Hal ini kalau dibandingkan dengan Sri Mulyani justru bertentangan sekali.
Pada
waktu menjadi Menteri Keuangan  selama  4 tahun 7 bulan , Sri Mulyani
(Doktor Ilmu Ekonomi lulusan Universitas Illinois, AS) malahan membuat
tambahan
hutang RI besar sekali, sekitar Rp 400 Trilyun ( $ 36 Milyard ) , jauh lebih
besar dari  separoh  hutang luar negeri RI yang dibuat Orde
Baru  selama 32 tahun sampai dengan Maret 98  (  $ 65,57 Milyard
, berarti separohnya sama dengan $ 32,785 Milyard ). 

Hal ini sangat memprihatinkan , karena akan sangat membebani Negara
RI selama puluhan tahun , dan akan sangat
menguntungkan negara-negara kreditor yang akan terus menerus mendapatkan
kekuatan untuk mendikte ekonomi Indonesia
ke depan. Di sinilah sangat terlihat bagaimana rendahnya rasa Nasionalisme
Sri
Mulyani dan dapat dipertanyakan kesetiaannya kepada bangsa dan negara.
Betapa
jauh bedanya dengan kesetiaan Dr Ngozi Okonja-Iweala kepada bangsa dan
negaranya, Nigeria.

Itulah ''hipokrisi politik  imagologi'' Sri Mulyani yang berbuat
skandal Century: sudah membebani rakyat kita dengan utang luar negeri dan
prestasinya buruk di World Bank, masih juga membuat situs ''srimulyani.net''
yang dikelola koleganya untuk ''mencuci dosa dan membersihkan citra''
dirinya,
yang sebenarnya justru menambah beban masalah bagi bangsa kita dan dirinya
sendiri pula. .(BY)

        
 

Kirim email ke