He.. he.. he..!

Dari Zaman Adam sudah ada penipuan...
Adampun ketipu setan...

Jangan-jangan ilmu sekolahan juga banyak yang isinya tipuan...
Jangan-jangan...

Kalo mau tahu jelasnya...
Sila mbaca lagi kitab-kitab Allah... (P Lama, P Baru & P Terakhir/Al
Quran...)
Siapa tahu bisa lebih jelas apanya yang ditipu dan siapa yang nipu...

Salam Z

2010/10/28 <[email protected]>

> Rekan JR
> Sy jadi ingin tanya :
>
> *1*. Apakah Test Bakat, juga tidak menjamin bahwa bakatnya adalah sesuai
> hasil test tsb?
>
> Saya punya pengalaman pribadi sewaktu akan masuk perguruan tinggi, saat itu
> ikut bimbingan test tertulis selama 1 bln (Soal-soal MA, FI, KI & BI) + Test
> IQ dan Bakat , setelah itu kemudian wawancara empat mata dengan MAW BRAWER
> (Alm) di ruangannya , di RS BOROMEUS - Bandung. Waktu itu MAW BRAWER adalah
> dosen Psychology UNPAR
>
> MAW BRAWER sambil membaca hasil test saya, beliau dapat  mengetahui
> kelemahan-kelemahan dan keunggulan-keunggulan saya, sehingga beliau
> menyarankan saya untuk mengambil jurusan tertentu, agar sekolahnya berhasil
> dan hasil nya optimal.
>
> Ternyata apa yang disarankan beliau benar, dan sampai saat sudah tua pun
> keunggulan dan kelemahan itu tetap seperti sewaktu lulus SMA.
>
> *2*. IQ, EQ dan SQ
>     Apakah EQ dan SQ dapat di latih , sehingga mencapai kadar yang
> harmonis? apakah ada ukurannya ?
>     misal IQ = 118, EQ = 50%(0 - 100), SQ = 70% (0 - 100)
>
> *3*. Apakah benar persepsi saya bahwa segalanya , Alam dan seisinya itu
> sudah di tetapkan dari awal, proses dan akhirnya.
>     Sehingga semua peristiwa itu sudah menjadi suatau "PAKET" Misalnya :"
> Anak lulus sekolah" Prosesnya di belajar dsb sehingga ujung nya
>     lulus demikian pula sebaliknya. Jadi sebetulnya kita tidak bisa apa-apa
> kerna semua sdh ditetapkan akan tetapi karena canggihnya
>     program yang menciptakan kita , maka seolah-olah kita yang
> beraktifitas, kita yang berfikir dsb.
>    Jadi kita ini Robot yang di remote dan diprogram dengan sangat canggih
>
>
> Mohon Pencerahan nya
> Pura-puranya saya akan befikir dan menganalisa
>
> Salam
> Djoni Supriyadi
>
>
>  From: Mohammad Andri Budiman <[email protected]> To: [email protected]
> Date: 27/10/2010 23:26 Subject: [indonesia] Fw: Sarlito Wirawan: "Teori
> otak tengah sudah jelas penipuan" Sent by: [email protected]
> ------------------------------
>
>
>
> Otak kiri, otak kanan, otak tengah, otak miring, otak-otak...
>
> Salam,
> CA
>
> ---------- Forwarded message ----------
> From: imr® <[email protected]>
> Date: Wed, 27 Oct 2010 13:32:19 +0000
> Subject: [kuyasipil-tarbiyah] Fw: [M_S] Fw: [jurnalisme] Sarlito
> Wirawan: "Teori otak tengah sudah jelas penipuan"
> To: Tarb+ <[email protected]>
>
>
> / mailed by ObamaBerry® /
>
> -----Original Message-----
> From: "Johan Romadhon - MAAS Accounting, Tax, and Finance Consultants"
> <[email protected]>
> Sender: [email protected]
> Date: Wed, 27 Oct 2010 13:12:00
> To: milis alumni sma1semarang<[email protected]>; milis
> muh<[email protected]>; milis sta
> 87<[email protected]>; milis stanners<[email protected]>
> Reply-To: [email protected]
> Subject: [M_S] Fw: [jurnalisme] Sarlito Wirawan: "Teori otak tengah
> sudah jelas penipuan"
>
> Sudahkah anda ikut tertipu? Mudah-mudahan tidak.
> Sila dibaca,
> JR
> Sent from my Blackkerupuks®
> powered by Gusti Allah
>
> -----Original Message-----
> From: Satrio Arismunandar <[email protected]>
> Sender: [email protected]
> Date: Wed, 27 Oct 2010 01:36:49
> To: news Trans TV<[email protected]>; kampus
> tiga<[email protected]>; ppiindia<[email protected]>;
> nasional list<[email protected]>; ex menwa UI
> 2<[email protected]>; HMI Kahmi Pro
> Network<[email protected]>;
> jurnalisme<[email protected]>; AJI
> INDONESIA<[email protected]>;
> technomedia<[email protected]>; netsains
> sains<[email protected]>;
> warta-lingk<[email protected]>; sastra
> pembebasan<[email protected]>; Pers
> Indonesia<[email protected]>
> Reply-To: [email protected]
> Subject: [jurnalisme] Sarlito Wirawan: "Teori otak tengah sudah jelas
> penipuan"
>
>
> From: Anto Ryantori <[email protected]>
> Date: Wednesday, October 27, 2010, 12:02 PM
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Aslmkm rekan-rekan ISMES, info berikut semoga bermanfaat.
>
>
>
> "Teori otak tengah sudah jelas penipuan"
>
> Dengan berpikir atau bertanya sedikit, setiap orang bisa tahu bahwa ini
> adalah penipuan. Namun orang Indonesia itu malas bertanya dan ingin yang
> serba instan. Termasuk kaum terpelajar dan orang berduitnya. Jadi kita
>
>
> gampang sekali jadi sasaran penipuan. Inilah menurut saya yang paling
> memprihatinkan dari maraknya kasus otak tengah ini.
>
>
> Saturday, 18 September 2010
>
> Di suasana Lebaran ini mestinya saya menulis sesuatu tentang
>
>
> Lebaran,tepatnya tentang bermaaf-maafan, wabil-khusus tentang psikologi
> maaf. Namun,draf tulisan yang sedang saya siapkan terpaksa saya sisihkan
> dulu saking gemasnya mengamati perkembangan pseudo-science (ilmu semu)yang
>
>
> sangat membahayakan akhir-akhir ini tentang otak tengah(midbrain).
> Mudah-mudahan artikel ini bisa menjadi bahan bacaan alternatif yang
> menarik di tengah tengah banjirnya (lebih parah dari banjir Pakistan)
>
> artikel dan siaran tentang Idul Fitri di hari-hari seputar Lebaran ini.
>
> Otak tengah adalah bagian terkecil dari otak yang berfungsi sebagai relay
> station untuk penglihatan dan pendengaran. Dia juga mengendalikan gerak
>
>
> bola mata. Bagian berpigmen gelapnya yang disebut red nucleus (inti merah)
> dan substantia nigra juga mengatur gerak motorik anggota tubuh. Karena itu
> kelainan atau gangguan di otak tengah bisa menyebabkan parkinson.
>
>
>
> Untuk keterangan lebih lanjut silakan berkonsultasi dengan dokter.
>
> Namun, yang jelas, otak tengah tidak mengurusi inteligensi, emosi, apalagi
> aspek-aspek kepribadian lain seperti sikap, motivasi, dan minat. Para
>
>
> pakar ilmu syaraf(neuroscience) Richard Haier dari Universitas California
> dan Irvineserta Rex Jung dari Universitas New Mexico, Amerika Serikat,
> menemukan bahwa inteligensi atau kecerdasan yang sering dinyatakan dalam
>
>
> ukuran IQ tidak terpusat pada satu
> bagian tertentu dari otak, melainkan
> merupakan hasil interaksi antar beberapa bagian dari otak.
>
> Makin bagus kinerja antar bagian- bagian otak itu, makin tinggi tingkat
> kecerdasan seseorang (teori parieto-frontal integration). Di sisi lain,
>
>
> pusat emosi terletak di bagian lain dari otak yang dinamakan amygdala, tak
> ada hubungannya dengan midbrain. Sementara itu aspek kepribadian lain
> seperti minat dan motivasi lebih merupakan aspek sosial (bukan neurologis)
>
>
> dari jiwa, yang lebih gampang diamati melalui perilaku seseorang ketimbang
> dicari pusatnya di otak.
>
> Sampai dengan tahun 1980-an (bahkan sampai hari ini) masih banyak yang
> percaya bahwa keberhasilan seseorang sangat tergantung pada IQ-nya. Makin
>
>
> tinggi IQ seseorang akan makin besar kemungkinannya untuk berhasil. Itulah
> sebabnya banyak sekolah mempersyaratkan hasil tes IQ di atas 120 untuk
> bisa diterima di sekolah yang bersangkutan. Namun, sejak
> Howard Gardner
> menemukan teori tentang multiple intelligence (1983) dan Daniel Goleman
> memublikasikan temuannya tentang Emotional Intelligence (1995), maka para
> pakar dan awam pun tahu bahwa peran IQ pada keberhasilan seseorang hanya
>
>
> sekitar 20–30% saja.
>
> Selebihnya tergantung pada faktor-faktor kepribadian lain seperti usaha,
> ketekunan, konsentrasi, dedikasi, kemampuan sosial. Walaupun begitu,
> beberapa bulan terakhir ini, marak sekali kampanye tentang pelatihan otak
>
>
> tengah.
>
> Bahkan rekan saya psikolog psikolog muda ada yang bersemangat sekali
> mengampanyekan otak tengah sambil mengikutsertakan anak-anak mereka
> kepelatihan otak tengah yang biayanya mencapai Rp3,5 juta/anak (kalau dua
>
>
> anak sudah Rp 7 juta, kan) hanya untuk dua hari kursus.
>
> Hasilnya adalah bahwa anak-anak itu dalam dua hari bisa menggambar warna
> dengan mata tertutup. Wah, bangganya bukan main para ortu itu. Mereka
>
> pikir setelah bisa menggambar dengan mata tertutup, anak-anak mereka
> langsung akan jadi cerdas, bisa konsentrasi di kelas, bersikap sopan
> santun kepada orang tua, bersemangat belajar tinggi, percaya diri, dan
>
>
> sebagainya seperti yang dijanjikan oleh kursus-kursus seperti ini.
>
> Mungkin mereka mengira bahwa dengan menginvestasikan Rp3,5 juta untuk dua
> hari kursus, orang tua tidak usah lagi bersusah payah menyuruh anak mereka
>
>
> belajar (karena mereka akan termotivasi untuk belajar sendiri), tidak usah
> membayar guru les lagi (karena otomatis anak akan mengerti sendiri
> pelajarannya), dan yang terpenting anak pasti naik kelas, malah bisa masuk
>
>
> peringkat. Inilah yang saya maksud dengan “berbahaya” dari tren yang
> sedang berkembang pesat akhir-akhir ini.
>
> Untuk orang tua yang berduit, uang sebesar Rp3,5 juta mungkin tidak ada
> artinya. Namun, kasihan anaknya jika ternyata dia tidak bisa memenuhi
>
> harapan orang tuanya. Selain bisa menggambar dengan mata tertutup
> (sebagian hanya berpura-pura bisa dengan mengintip lewat celah penutup
> mata dekat hidung), ternyata dia tidak bisa apa-apa.
>
> Konsentrasi tetap payah, motivasi tetap rendah, dan emosi tetap
>
>
> meledak-ledak tak terkendali. Pasalnya memang tidak ada hubungannya antara
> otak tengah dengan faktor faktor kepribadian itu.
>
> Namun, orangtua sepertinya tidak mau tahu. Dia sudah membayar Rp3,5 juta
> dan sudah mendengarkan ceramah Dr David Ting, pakar otak tengah dari
>
>
> Malaysia itu.
>
> Kata Dr Ting, anak yang sudah ikut pelatihan otak tengah bukan hanya jadi
> makin pintar, tetapi jadi jenius. Karena itu nama perusahaannya juga
> Genius Mind Corporation. Malah bukan itu saja. Menurut Dr Ting, anak yang
>
>
> sudah terlatih otak tengahnya bisa melihat di balik dinding, bisa melihat
> apa yang akan terjadi (seperti almarhumah Mama Laurenz), bahkan bisa
>
> mengobati orang sakit. Ya, itulah yang dijanjikannya dalam iklan-iklan
> Youtube-nya di internet. Dan dampaknya bisa dahsyat sekali karena angka
> KDRT pada anak bisa langsung melompat naik gara-gara banyak anak dicubiti
>
>
> atau dipukuli pantatnya sampai babak-belur oleh mama-mama mereka sendiril
> antaran tidak bisa melihat di balik tembok, meramal atau mengobati orang
> sakit.***
>
> Untuk menyiapkan tulisan ini, saya sengaja menelusuri nama David Ting di
>
>
> Google. Ternyata ada puluhan pakar di dunia yang bernama David Ting dan
> David Ting yang menganjurkan otak tengah ini ternyata bukan pakar ilmu
> syaraf, kedokteran, biologi, atau psikologi. Dia disebutkan sebagai pakar
>
>
> pendidikan dan tidak ada hubungannya dengan ilmu syaraf (neuroscience).
>
> Maka saya ragu akan ilmunya. Apalagi saya hanya mendapati beberapa versi
> Youtube yang diulang-ulang saja, beberapa tulisan kesaksian, dan
>
>
> cerita-cerita yang sulit
> diverifikasi kebenarannya. Saya pun lanjut dengan
> menelusuri jurnal-jurnal ilmiah online, siapa tahu tulisan-tulisan
> ilmiahnya sudah banyak, tetapi saya belum pernah membacanya. Namun
> hasilnya juga nol.
>
>
>
> Maka saya makin tidak percaya.
>
> Saya yakin bahwa teori David Ting tentang otak tengah hanyalah
> pseudo-science atau ilmu semu karena seakan-akan ilmiah, tetapi tidak bisa
> diverifikasi secara ilmiah. Sama halnya dengan teori otak kanan-otak kiri
>
>
> yang juga ilmu semu atau astrologi atau palmistri (membaca nasib orang
> dengan melihat garis-garis telapak tangannya). Masalahnya, astrologi dan
> palmistri yang sudah kuno itu tidak merugikan siapa-siapa karena hanya
>
>
> dilakukan oleh yang mempercayainya atau sekadar iseng-iseng tanpa biaya
> dan tanpa beban apaapa. Kalau betul syukur, kalau salah yo wis.
>
> Lain halnya dengan pelatihan otak tengah dan dulu pernah juga populer
>
>
> pelatihan otak kanak-otak kiri.
> Bahkan, saya pernah memergoki, di sebuah
> gedung pertemuan (kebetulan saya ke sana untuk keperluan lain), sebuah
> pelatihan diselenggarakan oleh sebuah instansi pemerintah yang judulnya
> “Meningkatkan Kecerdasan Salat”. Semuanya dijual sebagai pelatihan dengan
>
>
> biaya (istilah mereka“biaya investasi”) yang mahal. Ini sudah masuk ke
> masalah membohongi publik, sebab mana mungkin dengan satu pelatihan selama
> dua har iseorang anak bisa disulap menjadi jenius yang serbabisa, bahkan
>
>
> bisa melihat di balik dinding seperti Superman.
>
> Lagipula, apa hubungannya antara menggambar dengan mata tertutup dengan
> jenius?
>
> Einstein, Colombus, Thomas Edison, Bill Gates, Barack Obama, dan masih
>
>
> banyak lagi adalah kaum jenius tingkat dunia, tetapi tak satu pun bisa
> menggambar dengan mata tertutup.
>
> Teori otak tengah sudah jelas penipuan. Dengan berpikir atau bertanya
> sedikit, setiap orang bisa tahu bahwa ini
> adalah penipuan.
>
> Namun orang Indonesia itu malas bertanya dan ingin yang serba instan.
> Termasuk kaum terpelajar dan orang berduitnya. Jadi kita gampang sekali
> jadi sasaran penipuan.
>
> Inilah menurut saya yang paling memprihatinkan dari maraknyakasus otak
>
>
> tengah ini.
>
> (*)SARLITO WIRAWAN SARWONOGuru Besar Fakultas Psikologi UI
> ----------------------------------------------------
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
> --
> Sent from my mobile device
>
> --
> Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
> kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan
> akhirat.
>
> Info pengelolaan milis Indonesia next better :
> http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
>
>

Kirim email ke