Kawan2 Anggota Milis Yth,

Gempa di Kepulauan Mentawai yang menimbulkan lebih dari 400 orang tewas perlu 
di carikan solusinya agar hal serupa tidak akan terulang kembali. Sebenarnya 
masyarakat Kepulauan Mentawai sudah memiliki pengamanan dari Tsunami secara 
tradisional turun-temurun dari Nenek-moyang mereka, yaitu aturan penyelamatan 
diri, begitu ada gempa, semuanya lari secepat-cepatnya menuju ke bukit atau 
tanah tinggi didekat desa atau kampung mereka.



Tenyata Sistem Peringatan Dini Tradisionil tersebut diatas itu lebih efektif 
dari pada menunggu pengumuman dari Sistem Tsunami Early Warning System (EWS) 
yang khabarnya telah dipasang di Pantai Barat Sumatra dengan bantuan asing yang 
nilainya beberapa juta Dollar AS. Pengumuman EWS ini disalurkan melalui 
jaringan komunikasi Telpon dan SMS, yang tentunya akan memakan waktu 10-20 
menit paling tidak.

Dalam kasus Tsunami di Kepulauan Mentawai, terutama Pulau Pagai Utara dan Pulau 
Pagai Selatan, gelombang Tsunami datang begitu cepat, sekitar 15 menit setelah 
terjadinya gempa. Anehnya, BMKG malah mengumumkan setelah 30-menit kemudian, 
bahwa gempai itu tidak akan menimbulkan bahaya Tsunami, seperti dapat kita 
saksikan dari tayangan-tayangan TV-One dan Metro TV. Sepertinya ada yang salah 
dalam Sistem EWS yang ada saat ini.

Dalam kasus Tsunami di Kepulauan Mentawai ini, waktu 15-menit memang tidak 
cukup untuk memberikan tanda bahaya ke desa-desa terpencil di Kepulauan 
Mentawai itu, apapun sistem elektronik yang dibangun.

Oleh karena itu Pemerintah hendaknya men-sosialisasikan Sistem Peringatan Dini 
Tsunami Tradisional saja seperti yang diwariskan Nenek-moyang Penduduk 
Kepulauan Mentawai itu, dari pada mencoba mengandalkan EWS made in Luar negeri, 
yang biaya Investasi dan Pemeliharaannya sangat mahal, namun tidak banyak 
gunanya.

Untuk lokasi-lokasi yang jauh dari perbukitan, kami menyarankan agar Pemerintah 
membangun Benteng2 Tsunami dengan ukuran 100 meter x 100 meter dan yang 
ketingginya 10-meter dan bentuknya segi-4 Ketupat, dimana ujung runcing Ketupat 
itu menghadap kelaut agar mengurangi tekanan gelombang Tsunami terhadap Benteng 
itu.

Semoga mendapat sambutan yang positif dari Pemerintah dan Pemda di 
wilayah-wilayah yang rawan Tsunami di Indonesia.

Silahkan ditanggapi dan didukung.
Wassalam,
S Roestam
http://sroestam.wordpress.com

Kirim email ke