Kawan2 Anggota Milis Yth,

Kita beberapa bulan terakhir mendengan berbagai berita tentang peluncuran 
ujicoba jaringan LTE di berbagai negara maupun di Indonesia, namun baru 3 
operator besar dunia yang berniat untuk meluncurkan LTE secara komersial, yaitu 
NTT DoCoMo, dan TeliaSonera. 

Ini karena biaya investasi jaringan LTE dan modemnya masih sangat mahal. 
Sebagai contoh, pada bulan November 2010 yang lalu operator CSL dari Hongkong 
menjadi operator pertama yang membangun jaringan LTE di Asia. Jaringan ini 
merupakan upgrade dari jaringan HSPA+ dengan menambahkan perangkat LTE, 
sehingga pancaran BTS dari jaringan ini ada dua radiasi, yaitu HSPA+ dan LTE 
dalam satu sel seluler.

Walaupun sudah ada radiasi sinyal LTE, namun ini masih dalam tahap 
pengembangan, sebab belum ada perangkat modem LTE yang cukup murah untuk dijual 
kepada pelanggan. Pada sebuah seminar LTE yang diselenggarakan oleh 
Nokia-Siemens Network (NSN) di Jakarta pada bulam Mei 2010 yang lalu, 
diberitahukan bahwa contoh modem LTE yang ada berharga US$20.000,- atau Rp 
200-juta, karena memang baru diproduksi satu atau dua buah saja.

Kebutuhan akan saluran transmisi data berkecepatan tinggi di negara-negara maju 
maupun Indonesia memang terus meningkat, walaupun margin keuntungan para 
Operator Telekomunikasi makin lama makin mengecil. Sampai kapan hal ini akan 
diakhiri? Akankah kita harus menunggu para operator itu bangkrut?

Beberapa bulan yang lalu 3 Operator besar Indonesia mengumumkan bahwa mereka 
telah membangun jaringan HSPA+ dengan kecepatan transmisi puncak sebesar 42 
Mbps. 
Untuk ini diperlukan 2 (dua) pita 5 MHz untuk meningkatkan kecepatan transmisi 
dari system sebelumnya yaitu HSPA dengan kecepatan transmisi puncak sebesar 21 
Mbps, dikalikan dua untuk menjadi 42 Mbps. Akibatnya tiap operator butuh 3 buah 
pita 5 Mhz, sebab yang satu pita 5 MHz diperlukan untuk transmis suara.

Namun saya kaget ketika seorang executive Operator menyatakan bahwa belum ada 
modem yang dijual bagi HSPA+. Kalaupun ada, maka harganya adalah sekitar 
$3.500,- atau Rp 35-juta. Siapakah diantara pelanggan Indodonesia yang mapu 
beli, hanya untuk mendapatkan kecepatan transmisi data puncak sebesar 42 Mbps? 
Belum lagi kalau pelanggan yang  memakai pada saat yang sama lebih dari satu 
(concurrent users), misalnya ada dua orang, maak otomatis kecepatan 
transmisinya akan turun setengahnya, atau menjadi 21 Mbps. Kalau ada 10 orang, 
maka kecepatannya turun menjadi 4,2 Mbps....

Karena meningkatnya kebutuhan akan kecepatan transmisi data yang tingg itu, 
maka para operator telekomunikasi berupaya keras untuk memenuhinya, padahal 
sistem WCDMA sebagai sistem Mobile generasi ke-3 (3G) itu dirancang utamanya 
untuk layanan Voice dan SMS. Upgrading yang dilakukan dengan sistem HSDPA, HSPA 
dan HSPA+ adalah untuk menampung kebutuhan akan transmisi data dari pelanggan.

Memang solusi tepat bagi kebutuhan pelanggan masa depan adalah dengan 
meluncurkan LTE tersebut diatas, yang berbasiskan loncatan teknologi baru, 
yaitu teknologi Orthogonal Frequency Division Multiple Acces (OFDMA), dimana 
dibutuhkan pita2 prekwensi yang saling berdekatan lokasinya, bukan yang 
terpisah-pisah seperti yang ada saat ini, karena implementasi LTE yang sudah 
siap adalah FDD-LTE (Frequency Division Domain LTE), Sedangkan untuk lokasi 
pita frekwensi yang terpisah-pisah seperti yang dibutuhkan Indonesia hanya bisa 
dilakukan oleh sistem TDD-LTE (Time Division Domain LTE) yang baru akan dibuat 
sekitar 2-3 tahun mnendatang. Teknologi OFDMA lebih dahulu dipakai sebagai 
teknologi untuk sistem WiMAX 802.16e (WiMAX versi 1.0) dan WiMAX 802.16m (WiMAX 
versi 2.0)

Jadi bagaimanakah sulusi yang tepat bagi Indonesia dalam menghadapi kebutuhan 
akan transmis data yang makin lama makin besar, dengan profit margin yang makin 
menipis karena mahalnya CAPEX perangkat yang diperlukan?

Tunggulah posting saya berikutnjya.
Silahkan ditanggapi dan semoga bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara.

Wassalam,
S Roestam
http://wirelesstekno.blogspot.com






Kirim email ke