Pak Restam, Bila berada ditengah daerah terpencil yang hanya ada signal 1 bar, penguat signal apakah yang paling ekonomis dipakai perorangan. Thanks. Aristo.
From: S Roestam [mailto:[email protected]] Sent: 30 Nopember 2010 7:23 To: [email protected]; [email protected] Subject: [indonesia] Peluncuran LTE "It is all about money" karena mahalnya biaya CAPEX Kawan2 Anggota Milis Yth, Kita beberapa bulan terakhir mendengan berbagai berita tentang peluncuran ujicoba jaringan LTE di berbagai negara maupun di Indonesia, namun baru 3 operator besar dunia yang berniat untuk meluncurkan LTE secara komersial, yaitu NTT DoCoMo, dan TeliaSonera. Ini karena biaya investasi jaringan LTE dan modemnya masih sangat mahal. Sebagai contoh, pada bulan November 2010 yang lalu operator CSL dari Hongkong menjadi operator pertama yang membangun jaringan LTE di Asia. Jaringan ini merupakan upgrade dari jaringan HSPA+ dengan menambahkan perangkat LTE, sehingga pancaran BTS dari jaringan ini ada dua radiasi, yaitu HSPA+ dan LTE dalam satu sel seluler. Walaupun sudah ada radiasi sinyal LTE, namun ini masih dalam tahap pengembangan, sebab belum ada perangkat modem LTE yang cukup murah untuk dijual kepada pelanggan. Pada sebuah seminar LTE yang diselenggarakan oleh Nokia-Siemens Network (NSN) di Jakarta pada bulam Mei 2010 yang lalu, diberitahukan bahwa contoh modem LTE yang ada berharga US$20.000,- atau Rp 200-juta, karena memang baru diproduksi satu atau dua buah saja. Kebutuhan akan saluran transmisi data berkecepatan tinggi di negara-negara maju maupun Indonesia memang terus meningkat, walaupun margin keuntungan para Operator Telekomunikasi makin lama makin mengecil. Sampai kapan hal ini akan diakhiri? Akankah kita harus menunggu para operator itu bangkrut? Beberapa bulan yang lalu 3 Operator besar Indonesia mengumumkan bahwa mereka telah membangun jaringan HSPA+ dengan kecepatan transmisi puncak sebesar 42 Mbps. Untuk ini diperlukan 2 (dua) pita 5 MHz untuk meningkatkan kecepatan transmisi dari system sebelumnya yaitu HSPA dengan kecepatan transmisi puncak sebesar 21 Mbps, dikalikan dua untuk menjadi 42 Mbps. Akibatnya tiap operator butuh 3 buah pita 5 Mhz, sebab yang satu pita 5 MHz diperlukan untuk transmis suara. Namun saya kaget ketika seorang executive Operator menyatakan bahwa belum ada modem yang dijual bagi HSPA+. Kalaupun ada, maka harganya adalah sekitar $3.500,- atau Rp 35-juta. Siapakah diantara pelanggan Indodonesia yang mapu beli, hanya untuk mendapatkan kecepatan transmisi data puncak sebesar 42 Mbps? Belum lagi kalau pelanggan yang memakai pada saat yang sama lebih dari satu (concurrent users), misalnya ada dua orang, maak otomatis kecepatan transmisinya akan turun setengahnya, atau menjadi 21 Mbps. Kalau ada 10 orang, maka kecepatannya turun menjadi 4,2 Mbps.... Karena meningkatnya kebutuhan akan kecepatan transmisi data yang tingg itu, maka para operator telekomunikasi berupaya keras untuk memenuhinya, padahal sistem WCDMA sebagai sistem Mobile generasi ke-3 (3G) itu dirancang utamanya untuk layanan Voice dan SMS. Upgrading yang dilakukan dengan sistem HSDPA, HSPA dan HSPA+ adalah untuk menampung kebutuhan akan transmisi data dari pelanggan. Memang solusi tepat bagi kebutuhan pelanggan masa depan adalah dengan meluncurkan LTE tersebut diatas, yang berbasiskan loncatan teknologi baru, yaitu teknologi Orthogonal Frequency Division Multiple Acces (OFDMA), dimana dibutuhkan pita2 prekwensi yang saling berdekatan lokasinya, bukan yang terpisah-pisah seperti yang ada saat ini, karena implementasi LTE yang sudah siap adalah FDD-LTE (Frequency Division Domain LTE), Sedangkan untuk lokasi pita frekwensi yang terpisah-pisah seperti yang dibutuhkan Indonesia hanya bisa dilakukan oleh sistem TDD-LTE (Time Division Domain LTE) yang baru akan dibuat sekitar 2-3 tahun mnendatang. Teknologi OFDMA lebih dahulu dipakai sebagai teknologi untuk sistem WiMAX 802.16e (WiMAX versi 1.0) dan WiMAX 802.16m (WiMAX versi 2.0) Jadi bagaimanakah sulusi yang tepat bagi Indonesia dalam menghadapi kebutuhan akan transmis data yang makin lama makin besar, dengan profit margin yang makin menipis karena mahalnya CAPEX perangkat yang diperlukan? Tunggulah posting saya berikutnjya. Silahkan ditanggapi dan semoga bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara. Wassalam, S Roestam http://wirelesstekno.blogspot.com Internal Virus Database is out of date. Checked by AVG. Version: 8.0.101 / Virus Database: 270.4.0/1513 - Release Date: 22/06/2008 7:52
