Pak Nandar dan Kawan2 Yth, 1. Tidak pernah ada wacana untuk menghilangkan 2G, sebab saat ini sudah ada Roadmap dari 2G yang isinya voice dan SMS, 3G yg isinya voice, SMS dan Data, kemudian akan menuju ke Teknologi Wireless Generasi ke-4 (4G) yang isinya multimedia (triple play).
2. Anda saat ini pun masih dapat memakai perangkat HP 2G melalui BTS- BTS Seluler yang ada. Ini menjadi kewajiban bagi para operator, jangan sampai hak pelanggan dikurangi, misalnya ia hanya butuh komunikasi Voice dan SMS, maka masih ada HP murah yg hanya bisa Voice dan SMS, walaupun sekarang sudah banyak HP Smartphone canggih seharga Rp 300.000, - an. 3. Mengapa 3G terlihat lelet saat ini? Ini karena BTS-BTS yg kapasitasnya terbatas, sekitar 1000-an concurrent users (yg bicara pada saat yg sama) dipaksakan untuk menamung sampai berkali-kali lipat, sebab para Operator hanya mau menambah jumlah pelanggan tanpa menambah BTS (yg berarti tambah biaya CAPEX). 4. Contohnya, setahun yg lalu di rumah saya di pinggiran Jakarta saya masih bisa menerima sinyal seluler sampai 4-strip, namun sekaran tinggal 1-strip atau malah NOLL besar.... 5. Dengan maraknya penggunaan Smartphone yg bisa menyalurkan FB, Twitter, Youtube, Streaming Video, BB, iPhone, IPad, Andoid dll, semuanya meningkatkan traffic data secara significant, namun operator memperoleh profit margin yg makin menipis, karena persaingan yg sengit. Ini membuat mereka makin mengurangi CAPEX. 6. Upaya untuk meningkatkan kapasitas Dat itu dilakukan dengan meningkatkan kecepatan transmisi puncak, melalui evolusi 3G ke 3,5G (HSDPA), 3,75G (HSPA) dan 3,9G (HSPA+), tetapi saya tunjukkan bahwa modemnya makin mahal dan malah belum ada barangnya. 7. Salah satu solusi yg cerdas adalah dengan meng-offload traffic data dari 3G ke WiMAX, denga demikian para pelanggan 3G dapat merasakan kenikmatan berselancar di dunia maay dengan lancar, bukan seperti sekarang, sangat lelet. 8. Kesimpulannnya, para operator hendaknya menggelar Mobile WiMAx 16e untuk offload traffic data, seperti dilakukan oleh operator 3G AS, yaitu Verizon Wireles dan Sprint, Jadi disni terjadi mutually benficial co-existence antar 3G dan WiMAX, bersaing dan bersanding... Harga Modem WiMAX sudah mendekati harga Modem 3G, sehingga tidak memberatkan keuangan Rakyat Indonesia. 9. Dari berita mutakhir, proses ini sudah mulai bergulir. Let us cross our fingers.. Semoga bermanfaat dan dan semoga dapat mempercepat kemajuan bangsa dan negara. Wassalam, S Roestam http://wirelesstekno.blogspot.com http://wartaduniamaya.blogspot.com ----Original Message---- From: [email protected] Date: 30/11/2010 9:15 To: <[email protected]> Subj: Re: [Qbmember] Peluncuran LTE "It is all about money" karena mahalnya biaya CAPEX Kalau kita menghitung capex secara nasional, maka sebaiknya, menurut saya, pemerintah janganlah terlalu buru-buru ingin 4G. Perbanyak saja frekuensi untuk 3G/HSPA. Pertimbangan paling utamanya adalah...rakyat banyak sudah pada beli modem 3G yang support sampai 7,2 Mbits tetapi yang terpakai sering tidak sampai 500 Kbits. Ada pula wacana 2G mau dienyahkan dari bumi Indonesia, frekuensinya akan dipakai untuk teknologi baru lagi. Apa sudah dipikir masak-masak berapa ongkos nasional yang harus dipikul seluruh rakyat Indonesia yang hp nya mayoritas seharga 200 ribuan murni 2G tanpa gprs. Jangan karena di Jakarta trend tukar menukar pin BB sudah umum dianggap seluruh Indonesia sudah BB-an. Kalau yang 7,2 Mbits itu bisa diutilisasi saja sudah bisa streaming video-conference dengan baik. Perlu dipikirkan, sesuaikan dengan kebutuhan mayoritas, berapa sih angka bandwith mobile tertinggi yang mau ditarget untuk rakyat Indonesia, karena ini jauh lebih penting dan fundamental daripada perdebatan pilihan teknologi yang sini tak mengerti situ tak paham tapi dua-duanya sok jagoan. Kalau mau speed setinggi langit....terus terang...tidak akan ada teknologi wireless yang bakalan bisa. Hanya wired yang bisa. Pasanglah wired. Jangan sampai terjadi lagi hal-hal yang merugikan, ada orang desa baru jual hasil panen pergi ke kota membeli kulkas padahal di kampungnya belum ada listrik akhirnya jadi lemari pakaian. Ini cerita klasik. Disinilah perlu keberpihakan kepada rakyat bukan kepada pengusaha yang jor-joran iklan supaya produknya laku. Lalu pemerintah pun seperti tidak mau kalah menggelar layanan 4G hanya supaya kelihatan keren di mata dunia. Ini perilaku kampungan. Ndeso pisan. -Nandar- 2010/11/30 S Roestam <[email protected]> > Kawan2 Anggota Milis Yth, > > Kita beberapa bulan terakhir mendengan berbagai berita tentang peluncuran > ujicoba jaringan LTE di berbagai negara maupun di Indonesia, namun baru 3 > operator besar dunia yang berniat untuk meluncurkan LTE secara komersial, > yaitu *NTT DoCoMo, dan TeliaSonera. * > > Ini karena biaya investasi jaringan LTE dan modemnya masih sangat mahal. > Sebagai contoh, pada bulan November 2010 yang lalu operator CSL dari > Hongkong menjadi operator pertama yang membangun jaringan LTE di Asia. > Jaringan ini merupakan *upgrade dari jaringan HSPA+ dengan menambahkan > perangkat LTE, sehingga pancaran BTS dari jaringan ini ada dua radiasi, > yaitu HSPA+ dan LTE dalam satu sel seluler.* > > Walaupun sudah ada radiasi sinyal LTE, namun ini masih dalam tahap > pengembangan, sebab belum ada perangkat modem LTE yang cukup murah untuk > dijual kepada pelanggan. Pada sebuah seminar LTE yang diselenggarakan oleh > Nokia-Siemens Network (NSN) di Jakarta pada bulam Mei 2010 yang lalu, > diberitahukan bahwa contoh *modem LTE yang ada berharga US$20.000,- atau > Rp 200-juta, *karena memang baru diproduksi satu atau dua buah saja. > > *Kebutuhan akan saluran transmisi data berkecepatan tinggi di > negara-negara maju maupun Indonesia *memang terus meningkat, walaupun > margin keuntungan para Operator Telekomunikasi makin lama makin mengecil. > *Sampai kapan hal ini akan diakhiri? Akankah kita harus menunggu para > operator itu bangkrut?* > > Beberapa bulan yang lalu *3 Operator besar Indonesia mengumumkan bahwa > mereka telah membangun jaringan HSPA+ dengan kecepatan transmisi puncak > sebesar 42 Mbps. * > Untuk ini diperlukan 2 (dua) pita 5 MHz untuk meningkatkan kecepatan > transmisi dari system sebelumnya yaitu HSPA dengan kecepatan transmisi > puncak sebesar 21 Mbps, dikalikan dua untuk menjadi 42 Mbps. Akibatnya tiap > operator butuh 3 buah pita 5 Mhz, sebab yang satu pita 5 MHz diperlukan > untuk transmis suara. > > Namun saya kaget ketika seorang executive Operator menyatakan bahwa belum > ada modem yang dijual bagi HSPA+. *Kalaupun ada, maka harganya adalah > sekitar $3.500,- atau Rp 35-juta.* Siapakah diantara pelanggan Indodonesia > yang mapu beli, hanya untuk mendapatkan kecepatan transmisi data puncak > sebesar 42 Mbps? Belum lagi kalau pelanggan yang memakai pada saat yang sama > lebih dari satu (concurrent users), misalnya ada dua orang, maak otomatis > kecepatan transmisinya akan turun setengahnya, atau menjadi 21 Mbps. Kalau > ada 10 orang, maka kecepatannya turun menjadi 4,2 Mbps.... > > Karena meningkatnya kebutuhan akan kecepatan transmisi data yang tingg itu, > maka para operator telekomunikasi berupaya keras untuk memenuhinya, padahal > sistem WCDMA sebagai sistem Mobile generasi ke-3 (3G) itu dirancang utamanya > untuk layanan Voice dan SMS. Upgrading yang dilakukan dengan sistem HSDPA, > HSPA dan HSPA+ adalah untuk menampung kebutuhan akan transmisi data dari > pelanggan. > > Memang solusi tepat bagi kebutuhan pelanggan masa depan adalah dengan > meluncurkan LTE tersebut diatas, yang berbasiskan loncatan teknologi baru, > yaitu teknologi *Orthogonal Frequency Division Multiple Acces (OFDMA) *, > dimana dibutuhkan pita2 prekwensi yang saling berdekatan lokasinya, bukan > yang terpisah-pisah seperti yang ada saat ini, karena implementasi LTE yang > sudah siap adalah FDD-LTE (Frequency Division Domain LTE), Sedangkan untuk > lokasi pita frekwensi yang terpisah-pisah seperti yang dibutuhkan Indonesia > hanya bisa dilakukan oleh sistem TDD-LTE (Time Division Domain LTE) yang > baru akan dibuat sekitar 2-3 tahun mnendatang. *Teknologi OFDMA lebih > dahulu dipakai sebagai teknologi untuk sistem WiMAX 802.16e (WiMAX versi > 1.0) dan WiMAX 802.16m (WiMAX versi 2.0)* > > Jadi bagaimanakah sulusi yang tepat bagi Indonesia dalam menghadapi > kebutuhan akan transmis data yang makin lama makin besar, dengan profit > margin yang makin menipis karena mahalnya CAPEX perangkat yang diperlukan? > > Tunggulah posting saya berikutnjya. > Silahkan ditanggapi dan semoga bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara. > > Wassalam, > S Roestam > http://wirelesstekno.blogspot.com > > > > > > > > _______________________________________________ > Qbmember mailing list > [email protected] > http://leadershipqb.com/mailman/listinfo/qbmember_leadershipqb.com > > _______________________________________________ Qbmember mailing list [email protected] http://leadershipqb.com/mailman/listinfo/qbmember_leadershipqb.com -- Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Info pengelolaan milis Indonesia next better : http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
