Ke Bandung kapan masuk WIMAX Pak.. saya mau coba.. Pakai 3G.. suka mati2 di daerah saya..
salam eflinms 2010/12/22 Adi Sasono <[email protected]> > Terima kasih mas Rustam utk info ttg Wimex..kita perlu usulkan rekomendasi > yg masuk akal tsb., kpd Menkoinfo..ada ide utk tindak lanjutnya ? Bisa kita > jumpa utk diskusi lanjutan ? > > Wassalam ww adi sasono > > Sent from my iPhone > > On Dec 20, 2010, at 7:09 PM, "Sumitro Roestam" <[email protected]> > wrote: > > Pak Adi Yth, > > Saya baru selesai berkunjung ke operator pemenang WiMAX 16d yg sudah > menggelar jaringannya cukup extensif di pinggiran Jkt dgn 90 BTS, dan > pertengahan thn 2011 mencapai 300 BTS. > > Agar bisa laku, mereka harus pasang tarif yg kompetitif terhadap existing > broadband services, terutama Wired Broadband seperti ADSL, Fastnet, Bitnet, > Biznet, dll, juga terhadap Mobile Broadband GSM 3.xxH dan CDMA EVDO. > Tarifmya Rp200.000/bln untuk 1Mbps. Akan ada pula yg 2Mbps dan 3Mbps. > Sebenarnya bisa sampai 9Mbps, tetapi sementara dibatasi ke 3Mbps. Tarifnya > sebanding kecepatan transmisinya. > > Daya tarik utama WiMAX adalah mutu layanannya yg "true Broadband", jadi > untuk lihat siaran TV pakai VoD dan HDTV sangat excellence, tidak > "ndut-ndutan" kaya 3G, sebab sistem teknologi 4G ini memang dia-disain > khusus untuk data, sedangkan 3G untuk voice, data hanya "add-on". > > Pada tarif bulanan tsb diatas maka sebenarnya Operator merugi sebab > tingginya CAPEX CPE dan Jaringan 16d, sebab produk ini sudah langka di > pasar, sedangkan produsen lokal hanya aseembly ex LN dan menyesuaikan > spesifikasi kanal ke 3,75MHz dan 7,5MHz, merubah softwarenya. Mereka bukan > produsen Chipset, sehingga ini menambah biaya CAPEX. CAPEX ini bisa 5-10 > kali lipat CAPEX 16e. > > Sedangkan untuk 16e Indonesia sudah ada disain Chipsetnya yg 100% > Indonesia, walapun sekarang belum di manufaktur disini, nanti kalau sudah > ada Keputusan Spesifikasi 16e mereka akan bangun manufakturnya. Namun untuk > antenna, casing, power supply, rack, dll sudah ada manufakturnya yg lokal. > > Kalau pakai WiMAX 16e maka dengan tarif ke pelanggan tsb diatas, para > operator bisa profitable. > > Jadi alternatifnya hanya ada 2 yaitu: > 1. Bertahan kepada hanya Standar 16d, dengan akibat operator rugi/bangkrut > bila dipaksakan. Kalau tarif dinaikkan minimal 3X lipat supaya break-even, > layanan tidak akan laku. Akibatnya industri 16d akan gagal. > > 2. Menetapkan Standar 16e secepatnya supaya para operator WiMAX segera > beroperasi, dengan syarat TKDN yg sama dg 16d (30/40%). Hasilnya industri > WiMAX Indonesia akan berkembang pesat, memajukan IDN untuk semua komponen2 > WiMAX. > > Keuntungan lain adalah meningkatnya GDP Indonesia sebesar 1,38% per tahun > sebagai dampak dari Broadband Economy (tiap 10% penetrasi BB) yg equivqlen > dgn Rp138 Trilyun per tahun. > > Jadi rekomendasi saya adalah secepatnya menerapkan Opsi nomor 2 diatas, > supaya bangsa in bisa maju lebih cepat, sekaligus juga memajukan Industri > manufaktur nasional. > > Semoga bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara yg kita cintai. > Wassalam, > S Roestam > http://wirelesstekno.blogspot.com > > Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung > Teruuusss...! > ------------------------------ > *From: * Adi Indrayanto <[email protected]> > *Sender: * [email protected] > *Date: *Mon, 20 Dec 2010 11:39:51 +0700 > *To: *<[email protected]> > *ReplyTo: * [email protected] > *Cc: *<[email protected]> > *Subject: *[indonesia] Re: Sebuah Pemikiran buat Masa Depan Anak-Cucu > Kita: "Waiting Game is a Losing Game" > > > Pak Soemitro dan rekan2 milis ysh, > > Seandainya para operator2 tersebut saat membuat bisnis plannya tetap > berpatokan dgn standar tersebut, tentu tidak akan "nekad" menawarkan BHP > sampai milyaran. Lagipula, Owner Estimate yg dilakukan diawal juga tidak > terlalu tinggi utk BHP bukan? > > Asumsi yg digunakan saat membuat BP ini lah yg sebenarnya menjebak mereka > sendiri. Kalau memang tawaran lelang dari KomInfo tidak menarik secara > bisnis, kan tentunya tidak akan ada yg tertarik utk berani pasang nilai > lelang sangat tinggi bukan? > > Nah, pertanyaan saya adalah ... apa yg ada dalam benak para operator2 ini > saat mengikuti lelang tersebut? > > Kemudian, sejak awal program BWA ini memang "diproteksi" utk membangun > industri dalam negeri. Nah, menurut p Soemitro apa yg sebaiknya pemerintah > lakukan? > > Membuka saja proteksi ini, sehingga operator2 bisa dgn mudah menggunakan > produk2 import saja ... yg lebih siap? > > Lalu menurut p Soemitro apa strategi berikutnya untuk bisa membangun > industri perangkat telekomunikasi dalam negeri? > > Lagipula, kalau alasannya hanya terkait dgn kebutuhan boradband, kan > sekarang pun sudah ada teknologi 3.5G yg sudah digelar. Jadi, tidak ada > alasan bahwa layanan akses broadband tidak ada di Indonesia. Justru yg > tidak ada itu adalah, alternatif teknologi sekelas ADSL utk akses ke daerah > rural. WiMax 16d ini bisa jadi lebih cocok utk Fixed BWA daerah Rural ... > > Jadi harus melihatnya secara lengkap pak. Bahwa teknologi WiMAX ini ka > hanya salah satu dari sekian banyak teknologi yg sudah digelar di Indonesia. > WiMAX kan tidak harus menjadi head-to-head dgn 3.5G, bisa memiliki segmen > pasar sendiri. > > Masalah layak tidaknya secara bisnis, kan bisa dihitung dalam BP nya. Kalau > memang pasar kurang besar, ya jangan pasang harga lelang utk BHP terlalu > tinggi lah .... . Ini kan spekulasi namanya ... > > > salam, > > -ai- > > > 2010/12/19 S Roestam <[email protected]> > >> Bapak Adi Indrayanto dan Bapak Chamdani, serta kawan2 Milis Yth, >> >> Saya berterimakasih kepada bapak2 sekalian karena telah mau menagggapi >> tulisan saya dengan topik tersebut diatas, yang tujuan utamanya adalah >> meluruskan kalau ada hal-hal yang kurang tepat dalam strategi dan kebijakan >> untuk mengembangkan Industri Manufaktur BWA di Indonesia. >> >> Jelas dari posting pak Adi, market untuk *BWA WiMAX 16d diperuntukkan >> sebagai substitusi jaringan ADSL* yang jumlahnya terbatas. Jaringan ADSL >> memang kurang kompetitif dari segi tarif, mutu layanan, karena dibangun >> diatas jaringan PSTN yang sudah sangat tua umurnya, mungkin sudah 20-tahunan >> atau lebih, sehingga rawan terhadap kondisi cuaca, hujan dan banjir. >> >> Saat ini ada kompetitor jaringan ADSL yang sangat kompetitif, yaitu >> jaringan *Serat Optik dan kabel coax dari First Media (Fast Net)* yang >> sangat murah tarifnya dan mutunya sangat bagus, saya sudah pakai 1-tahun >> dengan biaya Rp 200.000/bulan dan kecepatan transmisi yang stabil sebesar >> 512 kbps. >> >> Jadi WiMAX 16d hanya cocok buat pelanggan ADSL yang tidak puas, plus >> *pelanggan >> corporate* yang belum terlayani FasNet First Media dan pesaing lainnya >> seperti Bitnet, dll yang layananny sangat bagus. Berapakah proyeksi jumlah >> pelanggan itu yang mau memakainya? Apakah jumlah itu cukup besar untuk >> membangun sebuah Industri Manufaktur WiMAX seperti diharapkan oleh Pak Adi >> Indrayanto? >> >> Mengapa para Operator yang memenagkan Tender !6d tidak mau segera >> meluncurkan layanan itu? Bukankah mereka mengkhawatirkan akan tidak lakunya >> produk ini? >> >> *Saya mengharapkan Pak Adi untuk bisa bersikap realistis berdasarkan >> kondisi pasar layanan Broadband di Indonesia saat ini, sebab pesaing dari >> 16d bukan saja fixed wired Broadband, tetapi juga layanan2 Mobile Broadband >> yang saat ini bisa diberikan oleh operator 3.xxG yang meng-klaim kecepatan >> transmisi puncak sampai 42 Mbps untuk 3,9G atau HSPA+.* >> >> Kita tidak bisa mengikari *Teori Persaingan Bisnis kompetitif Michael >> Porter, dimana akan ada 5-Competitive Forces:* >> * >> 1. Rivalry diantara industri yg sdejenis >> 2. Kompetisi dari Layana Substitusi >> 3. Kompetisi dari New Entrance (Layanan Baru, 16e, LTE) >> 4. Bargaining Power Suppliers, Vendors >> 5. Bargaining Power dari Buyers, Pelanggan.* >> >> Terutama para pelangan, mereka tidak bisa dipaksa untuk pakai layanan yang >> tidak sesuai dengan keinginan mereka, misalnya mereka ingin layanan yang >> bisa untuk fixed maupun mobile, tidak terpaku di satu tempat saja, apalagi >> kalau tarif langganannya dan harga modem/antennanya sangat mahal. >> >> Belum lagi masalah Roadmap teknologi dan layaan, apa ada? >> >> Saya ingin mendengar jawaban/tanggapan pak Adi atau lkawan2 lain, sehingga >> *secara teknis dan realistis* kita bisa membuat kesimpulan yang benar dan >> bermanfaat bagi kemajuan Industri Manufaktur Broadband di Indonesia. >> >> Semoga bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara yang kita cintai. >> >> Wassalam, >> S Roestam >> http://wirelesstekno.blogspot.com >> http://wartaduniamaya.blogspot.com >> http://mastel2020.blogspot.com >> http:/kampus-maya.com >> ===================== >> >> >> >> ----Original Message---- >> From: [email protected] >> Date: 19/12/2010 10:43 >> To: >> Subj: [indonesia] Re: Sebuah Pemikiran buat Masa Depan Anak-Cucu Kita: >> "Waiting Game is a Losing Game" >> >> Pak Chamdani, >> >> Aturan yg dibuat utk BWA dgn menentukan spesifikasi khusus di bandwith dan >> TKDN itu tujuannya untuk memberikan "proteksi" bagi industri dalam negeri >> agar punya kesempatan untuk ikut terlibat dalam pengadaan perangkatnya. >> >> Industri yg saat ini siap utk memproduksi adalah yg mengikuti standard >> 16d, >> sementara yg 16e belum ada yg siap. Kalau pun ada yg mengatakan siap, >> mungkin baru sebagian komponennya saja. Bisa dibuktikan sendiri di >> lapangan. >> >> Tanpa "proteksi" sudah bisa dipastikan produk yg akan masuk adalah produk >> import semua, sama seperti saat teknologi GSM di gelar, dan teknologi2 >> sebelumnya. Apakah kita cukup senang hanya sebagai konsumen produk import >> saja? Lalu bagaimana dgn industrinya? >> >> Sy pernah tulis panjang lebar di milis ini juga. Beberapa waktu yg lalu >> menjawab email yg dikirim p Soemitro juga. Kenapa ada ketidakcocokan >> antara >> operator yg menang dgn industrinya. >> >> Saat lelang BWA dibuka beberapa tahun lalu, yg dibuka adalah yg utk >> standar >> 16d (fixed BWA). Tujuannya adalah utk komplementer teknologi ADSL ... >> khususnya di daerah yg belum tergelar kable telekomunikasi. Alokasi ini >> (kalau tidak salah 2.360-2.390 GHz) memang ditujukan utk fixed BWA, dan >> bukan untuk mobile BWA. Mobile BWA direncanakan berada di alokasi lain, >> 2.300 - 2.360 GHz, lebih besar sebenarnya dan bandwith nya mungkin nanti 5 >> MHz dan 10 MHz, berbeda dgn yg fixed yaitu 3.5 MHz dan 7 MHz. >> >> Jadi "roadmap" nya adalah alokasi frekuensi yg berbeda utk standar yg >> berbeda, karena 16d dan 16e menggunakan teknologi yg agak berbeda. 16d dgn >> OFDM, 16e dgn OFDMA. Ini tidak bisa digunakan pada alokasi frekuensi yg >> sama. >> >> Tapi ... operator berencana beda. Entah sengaja atau mendapatkan informasi >> yg tidak lengkap. Operator saat mengambil lelang alokasi utk Fixed BWA, >> dalam planning nya sepertinya mau menggunakan alokasi ini untuk Mobile BWA >> juga. Di sini masalahnya. Ikut lelang utk Fixed BWA dgn teknologi 16d, >> tapi >> berharap bisa menggelar Mobile BWA dgn teknologi 16e. >> >> Lalu kenapa yg 16e belum dibuka? Ya seperti alasan di atas ... menunggu >> industri dalam negeri nya siap. Nah, apakah industri 16e dalam negeri >> sudah >> siap? Itu yg musti dipastikan. Siap dalam arti bukan sekedar mengakali >> aturan TKDN ... import barang lalu mengaku buatan sendiri. >> >> Jadi ... memang mental bangsa ini yg "parah" ... :-( Maunya gampang ... . >> Kalau memang maunya begitu ... buka saja aturannya ... tidak perlu >> proteksi-proteksian ... Lupakan membangunan industri dalam negeri ... dan >> tutup saja jurusan Teknik Elektro ... toh lulusannya hanya berguna untuk >> pilih barang import dan instal barang import ... >> >> Begitu pak Chamdani. Saya sudah tulis beberapa kali, bahkan di milis ini >> juga. Tapi kok selalu ada yg bertanya lagi ya? Same question. Mungkin pak >> Soemitro berkewajiban untuk menulis secara LENGKAP apa yg sebenarnya >> terjadi >> ... >> >> Apakah ada politis? Ya ada ... politisnya itu tadi ... untuk memberikan >> kesempatan industri dalam negeri perangkat telekomunikasi utk bisa >> berkembang ... dgn mekanisme proteksi. Kalau politis ini dianggap kurang >> tepat ... lha mari kita debatkan ... model seperti apa yg cocok untuk >> membangun industri ini ... itu kalau masih mau dibangun ... >> >> >> salam, >> >> -ai- >> >> >> 2010/12/17 Achmad Chamdani Eka P. >> >> > Pak Roestam, >> > >> > Tulisan dibawah sangat menarik. Saya baru tahu kalau pak Roestam adalah >> > Chairman >> > Mastel. >> > >> > Mungkin Pak Roestam bisa memberikan gambaran untuk Wimax kenapa >> pemerintah >> > masih enggan >> > dalam membuat kebijakan yang sifatnya hanya menetapkan pita frekuensinya >> > saja >> > (bukan teknologi 16d atau 16e). Saya pernah baca Berca gagal mendapatkan >> > persetujuan untuk >> > menggelar layanan hanya karena perbedaan teknologi yang digunakan. >> Apakah >> > ada masalah >> > politis disini ? Terus terang saya jadi blank dengan masalah ini. >> > >> > Kebetulan saya bekerja dari sisi perakatnya. Ibarat kita berjalan di >> > lorong, tanpa pernah melihat >> > setitik cahaya jalan keluar. >> > >> > >> > Salam. >> > Ach. Chamdani Eka >> > >> > >> > S Roestam wrote: >> > >> > Kawan2 Anggota Milis Yth, >> > >> > 1. "Waiting Game is a Losing Game" >> > >> > Kita sudah tertinggal selama 3-tahun dalam menerapkan Broadband Wireless >> > Access sebagai infrastruktur utama untuk menjadikan jaringan Broadband >> > sebagai enabler pertumbuhan perekonomian bangsa. Untuk tiap 10% >> penetrasijaringan Broadband, maka secara empiris diperoleh pertumbuhan >> >> > GDP sebesar 1,38%. GDP Indonesia pada tahun 2010 diperkirakan sebesar >> US$1.000 >> > milyar. Bila kita angap tiap tahun jaringan broadband itu tumbuh sebesar >> > 10%, maka dalam 3-tahun seharusnya GDP itu tumbuh sebagai dampak >> Broadband >> > Economy sebesar 3x1,38%xUS41.000 milyar = US$41,4 milyar atau Rp414 >> > Trilyun. Ini merupakan lost of opportunity dari bangsa Indonesia. >> > >> > 2. "The Future is on Mobile Broadband Technology" >> > >> > Saat ini di Dunia sudah ada 5-milyar perangkat Mobile Wireless. jadi >> untuk >> > menggenapkan jumlah itu menjadi 6-milyar penduduk Dunia, maka "The Next >> > Billion" adalah Mobile Wireless users, utamanya adalah Mobile Broadband >> > Wireless users. >> > >> > Peniliti OVUM memperkirakan bahwa pada tahun 2015 didunia akan ada >> 750-juta >> > Fixed Broadband lines, termasuk didalamnya 150-juta Serat Optik. Pada >> > tahun yang sama jumlah Mobile Wireless Broadband Users sudah akan >> mencapai >> > 3,2-milyar orang atau lebih dari 4-kali lipat dari Fixed Broadband >> lines. >> > >> > 3. Indonesia sudah siap mengembangkan IDN Broadband WiMAX di Pita 2,3 >> GHZ >> > >> > Setelah berjuang selama 3-tahun akhirnya Indonesia memiliki kemampuan >> untuk >> > menguasai Core Teknologi Broadband Wireless Access WiMAX atau Chipset >> > WiMAX, baik itu WiMAX 16d maupun 16e, dimana malah produk WiMAX 16e >> telah >> > berhasil di-expor ke berbagai negara di luar negeri. Bila berhasil >> > dikembangkan lebih lanjut menuju ke teknologi WiMAX 2.0 (Generasi ke-2), >> > yaitu WiMAX 16m yang telah diakui oleh ITU sebagai "True 4G" (Teknologi >> > Seluler Generasi ke-4) yang setara dengan LTE-Advanced, dimana akan >> dapat >> > dicapai kecepatan transmisi puncak sampai 340 Mbps, maka akan dapat >> turut >> > dikembangkan industri pendukungnya di dalam negeri, seperti antena, >> > casing, content dan aplikasi-aplikasinya, after-sales-service, training >> dan >> > education, dll. >> > >> > Ini merupakan sebuah kesempatan emas untuk membangun industri manfaktur >> > dalam negeri Indonesia, dimana bila kesempatan emas ini dilewatkan, maka >> > mungkin kesempatan emas serupa tidak akan hadir dalam jangka waktu 100 >> > atau 1000-tahun lagi. Kita harus ingat pengalaman 3-tahun y.l., "Waiting >> > Game is a Losing Game", melihat ke butir 1 diatas. >> > >> > 4. Indonesia belum siap membangun Core Technology LTE, perlu waktu >> minimum >> > 3-tahun lagi. >> > >> > Teknologi LTE adalah teknologi yang sudah dipatent-kan, Kekayaan >> > Intelektual-nya (IPR-nya) sudah dimiliki oleh negara-negara lain, yaitu >> > Eropa, Cina, Korea dan USA. Kalaupun kita ingin mengembangkan Core >> > Technology LTE sendiri, maka akan perlu waktu lebih dari 3-tahun. Kalau >> beli >> > lisensi, maka akan mahal, lagipula mengembangkan teknologi milik orang >> > lain hanya akan menghasilkan nilai tambah yang sangat minimal. >> > >> > Maka berlaku lagi pengalaman pada butir 1 diatas, yaitu "Waiting Game is >> a >> > Losing Game....." >> > >> > 5. Teknologi WiMAX 16e sudah sangat matang, harga CPE-nya sekitar $30, >> > sedangkan Teknologi LTE masih pada tahap awal, harga CPE-nya diatas >> ribuan >> > Dollar. >> > >> > Teknologi WiMAX adalah teknologi Broadband Wireless yang sudah sangat >> > matang, sebab sudah berjalan selama lebih dari 3-tahun, merupakan >> > teknologi yang hasilnya terjangkau masyarakat luas, harga CPE-nya >> sekitar >> > $30 tahun depan, memiliki ecosystem industri yang robust (kuat), sudah >> ada >> > lebih dari 300-jenis perangkat yang terkait, digunakan pada 500 jaringan >> > telekomunikasi diseluruh dunia yang mencakup populasi sebanyak 800 >> jutaorang. >> > >> > Sedangkan Teknologi LTE adalah teknologi yang baru saja >> dikembangkan(masih bayi, >> > infant). Untuk mencapai tahap kesiapan seperti Teknologi WiMAX diatas, >> > maka akan butuh waktu sekitar 2-3 tahun lagi, sehingga pengalaman pada >> > butir 1 diatas berlaku lagi: "Wating Game is a Losing Game..." >> > >> > 6. Pita 2,3GHZ paling cocok untuk WiMAX, bukan untuk LTE yg akan menjadi >> > keputusan yang aneh. >> > >> > Sejak awal memang pita frekwensi 2,3GHz sudah dialokasikan untuk >> Teknologi >> > Broadband Wireless Access WiMAX. Menempatkan LTE pada pita 2,3GHz >> menjadi >> > sebuah keputusan yang aneh, membuat pelanggan LTE Indonesia menjadi >> > terkucilkan, tidak bisa membawa keluar perangkat ponsel LTE, PDA LTE >> atau >> > Laptop LTE ke luar negeri saat kita bepergian, sebab menggunakan pita >> > frekwensi diluar standar Internasional. Kalaupun ingin membuat CPE >> Indonesia >> > bisa roaming, maka perlu ditambahkan fitur multi-band dengan menambah >> > biaya bagi masyarakat penggunanya, dan membebani keuangan mereka dengan >> > biaya yang tidak seperlunya. >> > >> > Regulator perlu menetapkan pita 2,3GHz sebagai Teknologi Netral untuk >> > WiMAX (16d dan 16e). >> > >> > Kerugian lainnya, perangkat LTE produksi Indonesia pada pita 2,3GHz >> tidak >> > bisa di ekspor ke LN, sehingga membuat industri DN LTE ini sulit untuk >> > berkembang. >> > >> > Solusi yang terbaik bagi LTE Indonesia adalah menempatkannya pada pita >> 3Gkarena LTE adalah kelanjutan dari teknologi itu, atau pada pita hasil >> Digital >> >> > Dividend siaran Broadcast TV di 700 MHz, dan pada pita 2,6MHz seperti >> yang >> > telah dirancang oleh mayoritas negara-negara lain di Dunia. >> > >> > 7. Keuntungan Masa Depan dari Operator 3G yang berevolusi ke LTE tidak >> akan >> > dinikmati oleh Operator Non-3G dan Operator Baru. >> > >> > Para operator telekomunikasi 3G memang mendapat keuntungan penghematan >> > CAPEX ketika ber-evolusi ke LTE, sebab ada common RF Equipment di BTS >> yang >> > dapat di-share oleh kedua teknologi itu. Namun bagi para operator >> Non-3G, >> > seperti para ISP, Cable-TV, dan para operator pendatang baru, tidak >> > mendapatkan keutungan itu ketika menerapkan Teknologi LTE. >> > >> > 8. Perlu ada keputusan yang tepat dan cepat. >> > >> > Semua pengalaman dan penderitaan bangsa ini selama tiga tahun yang lalu >> > perlu kita ambil sebagai sebuah pengalaman dan pelajaran yang mahal >> namun >> > juga berharga, cukup sudah lost opportunity sebesar Rp 414 Trilyun, >> jangan >> > ditambah lagi. Maka kini tiba saatnya kita semua mengambil keputusan >> yang >> > tepat dan cepat.... >> > >> > Silahkan ditanggapi, disanggah, dibenarkan atau didukung, sehingga kita >> > bisa yakin bahwa keputusan yang diambil adalah yang terbaik, demi >> kemajuan >> > bangsa dan negara Indonesia yang kita cintai. >> > >> > Wassalam, >> > S Roestam >> > http://wirelesstekno.blogspot.com >> > http://wartaduniamaya.blogspot.com >> > http://mastel.wordpress.com >> > >> > >> > >> >> >> > > -- Eflin MS / Software Consultant PT. Syridink Informatika Indonesia (Member Of Bandung High Tech Valley) Jl. Riung Mulya VI No. 31 Riung Bandung HP. 0817 4211 30 / 022-722 67883 YM: [email protected] http://syridink.com http://aplikasi-software.co.id/ http://aplikasi-software.com Produk ERP Software: Aplikasi ERP Accounting Tours & Travel Online Aplikasi ERP Human Resources Online Aplikasi ERP Project Management Online
