Ke Bandung kapan masuk WIMAX Pak.. saya mau coba..
Pakai 3G.. suka mati2 di daerah saya..

salam
eflinms


2010/12/22 Adi Sasono <[email protected]>

> Terima  kasih mas Rustam utk info ttg Wimex..kita perlu usulkan rekomendasi
> yg masuk akal tsb., kpd Menkoinfo..ada ide utk tindak lanjutnya ? Bisa kita
> jumpa utk diskusi lanjutan ?
>
> Wassalam ww adi sasono
>
> Sent from my iPhone
>
> On Dec 20, 2010, at 7:09 PM, "Sumitro Roestam" <[email protected]>
> wrote:
>
> Pak Adi Yth,
>
> Saya baru selesai berkunjung ke operator pemenang WiMAX 16d yg sudah
> menggelar jaringannya cukup extensif di pinggiran Jkt dgn 90 BTS, dan
> pertengahan thn 2011 mencapai 300 BTS.
>
> Agar bisa laku, mereka harus pasang tarif yg kompetitif terhadap existing
> broadband services, terutama Wired Broadband seperti ADSL, Fastnet, Bitnet,
> Biznet, dll, juga terhadap Mobile Broadband GSM 3.xxH dan CDMA EVDO.
> Tarifmya Rp200.000/bln untuk 1Mbps. Akan ada pula yg 2Mbps dan 3Mbps.
> Sebenarnya bisa sampai 9Mbps, tetapi sementara dibatasi ke 3Mbps. Tarifnya
> sebanding kecepatan transmisinya.
>
> Daya tarik utama WiMAX adalah mutu layanannya yg "true Broadband", jadi
> untuk lihat siaran TV pakai VoD dan HDTV sangat excellence, tidak
> "ndut-ndutan" kaya 3G, sebab sistem teknologi 4G ini memang dia-disain
> khusus untuk data, sedangkan 3G untuk voice, data hanya "add-on".
>
> Pada tarif bulanan tsb diatas maka sebenarnya Operator merugi sebab
> tingginya CAPEX CPE dan Jaringan 16d, sebab produk ini sudah langka di
> pasar, sedangkan produsen lokal hanya aseembly ex LN dan menyesuaikan
> spesifikasi kanal ke 3,75MHz dan 7,5MHz, merubah softwarenya. Mereka bukan
> produsen Chipset, sehingga ini menambah biaya CAPEX. CAPEX ini bisa 5-10
> kali lipat CAPEX 16e.
>
> Sedangkan untuk 16e Indonesia sudah ada disain Chipsetnya yg 100%
> Indonesia, walapun sekarang belum di manufaktur disini, nanti kalau sudah
> ada Keputusan Spesifikasi 16e mereka akan bangun manufakturnya. Namun untuk
> antenna, casing, power supply, rack, dll sudah ada manufakturnya yg lokal.
>
> Kalau pakai WiMAX 16e maka dengan tarif ke pelanggan tsb diatas, para
> operator bisa profitable.
>
> Jadi alternatifnya hanya ada 2 yaitu:
> 1. Bertahan kepada hanya Standar 16d, dengan akibat operator rugi/bangkrut
> bila dipaksakan. Kalau tarif dinaikkan minimal 3X lipat supaya break-even,
> layanan tidak akan laku. Akibatnya industri 16d akan gagal.
>
> 2. Menetapkan Standar 16e secepatnya supaya para operator WiMAX segera
> beroperasi, dengan syarat TKDN yg sama dg 16d (30/40%). Hasilnya industri
> WiMAX Indonesia akan berkembang pesat, memajukan IDN untuk semua komponen2
> WiMAX.
>
> Keuntungan lain adalah meningkatnya GDP Indonesia sebesar 1,38% per tahun
> sebagai dampak dari Broadband Economy (tiap 10% penetrasi BB) yg equivqlen
> dgn Rp138 Trilyun per tahun.
>
> Jadi rekomendasi saya adalah secepatnya menerapkan Opsi nomor 2 diatas,
> supaya bangsa in bisa maju lebih cepat, sekaligus juga memajukan Industri
> manufaktur nasional.
>
> Semoga bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara yg kita cintai.
> Wassalam,
> S Roestam
> http://wirelesstekno.blogspot.com
>
> Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung
> Teruuusss...!
> ------------------------------
> *From: * Adi Indrayanto <[email protected]>
> *Sender: * [email protected]
> *Date: *Mon, 20 Dec 2010 11:39:51 +0700
> *To: *<[email protected]>
> *ReplyTo: * [email protected]
> *Cc: *<[email protected]>
> *Subject: *[indonesia] Re: Sebuah Pemikiran buat Masa Depan Anak-Cucu
> Kita: "Waiting Game is a Losing Game"
>
>
> Pak Soemitro dan rekan2 milis ysh,
>
> Seandainya para operator2 tersebut saat membuat bisnis plannya tetap
> berpatokan dgn standar tersebut, tentu tidak akan "nekad" menawarkan BHP
> sampai milyaran. Lagipula, Owner Estimate yg dilakukan diawal juga tidak
> terlalu tinggi utk BHP bukan?
>
> Asumsi yg digunakan saat membuat BP ini lah yg sebenarnya menjebak mereka
> sendiri. Kalau memang tawaran lelang dari KomInfo tidak menarik secara
> bisnis, kan tentunya tidak akan ada yg tertarik utk berani pasang nilai
> lelang sangat tinggi bukan?
>
> Nah, pertanyaan saya adalah ... apa yg ada dalam benak para operator2 ini
> saat mengikuti lelang tersebut?
>
> Kemudian, sejak awal program BWA ini memang "diproteksi" utk membangun
> industri dalam negeri. Nah, menurut p Soemitro apa yg sebaiknya pemerintah
> lakukan?
>
> Membuka saja proteksi ini, sehingga operator2 bisa dgn mudah menggunakan
> produk2 import saja ... yg lebih siap?
>
> Lalu menurut p Soemitro apa strategi berikutnya untuk bisa membangun
> industri perangkat telekomunikasi dalam negeri?
>
> Lagipula, kalau alasannya hanya terkait dgn kebutuhan boradband, kan
> sekarang pun sudah ada teknologi 3.5G yg sudah digelar. Jadi, tidak ada
> alasan bahwa layanan akses broadband tidak ada di Indonesia.  Justru yg
> tidak ada itu adalah, alternatif teknologi sekelas ADSL utk akses ke daerah
> rural.  WiMax 16d ini bisa jadi lebih cocok utk Fixed BWA daerah Rural ...
>
> Jadi harus melihatnya secara lengkap pak. Bahwa teknologi WiMAX ini ka
> hanya salah satu dari sekian banyak teknologi yg sudah digelar di Indonesia.
> WiMAX kan tidak harus menjadi head-to-head dgn 3.5G, bisa memiliki segmen
> pasar sendiri.
>
> Masalah layak tidaknya secara bisnis, kan bisa dihitung dalam BP nya. Kalau
> memang pasar kurang besar, ya jangan pasang harga lelang utk BHP terlalu
> tinggi lah .... . Ini kan spekulasi namanya ...
>
>
> salam,
>
> -ai-
>
>
> 2010/12/19 S Roestam <[email protected]>
>
>> Bapak Adi Indrayanto dan Bapak Chamdani, serta kawan2 Milis Yth,
>>
>> Saya berterimakasih kepada bapak2 sekalian karena telah mau menagggapi
>> tulisan saya dengan topik tersebut diatas, yang tujuan utamanya adalah
>> meluruskan kalau ada hal-hal yang kurang tepat dalam strategi dan kebijakan
>> untuk mengembangkan Industri Manufaktur BWA di Indonesia.
>>
>> Jelas dari posting pak Adi, market untuk *BWA WiMAX 16d diperuntukkan
>> sebagai substitusi jaringan ADSL* yang jumlahnya terbatas. Jaringan ADSL
>> memang kurang kompetitif dari segi tarif, mutu layanan, karena dibangun
>> diatas jaringan PSTN yang sudah sangat tua umurnya, mungkin sudah 20-tahunan
>> atau lebih, sehingga rawan terhadap kondisi cuaca, hujan dan banjir.
>>
>> Saat ini ada kompetitor jaringan ADSL yang sangat kompetitif, yaitu
>> jaringan *Serat Optik dan kabel coax dari First Media (Fast Net)* yang
>> sangat murah tarifnya dan mutunya sangat bagus, saya sudah pakai 1-tahun
>> dengan biaya Rp 200.000/bulan dan kecepatan transmisi yang stabil sebesar
>> 512 kbps.
>>
>> Jadi WiMAX 16d hanya cocok buat pelanggan ADSL yang tidak puas, plus 
>> *pelanggan
>> corporate* yang belum terlayani FasNet First Media dan pesaing lainnya
>> seperti Bitnet, dll yang layananny sangat bagus. Berapakah proyeksi jumlah
>> pelanggan itu yang mau memakainya? Apakah jumlah itu cukup besar untuk
>> membangun sebuah Industri Manufaktur WiMAX seperti diharapkan oleh Pak Adi
>> Indrayanto?
>>
>> Mengapa para Operator yang memenagkan Tender !6d tidak mau segera
>> meluncurkan layanan itu? Bukankah mereka mengkhawatirkan akan tidak lakunya
>> produk ini?
>>
>> *Saya mengharapkan Pak Adi untuk bisa bersikap realistis berdasarkan
>> kondisi pasar layanan Broadband di Indonesia saat ini, sebab pesaing dari
>> 16d bukan saja fixed wired Broadband, tetapi juga layanan2 Mobile Broadband
>> yang saat ini bisa diberikan oleh operator 3.xxG yang meng-klaim kecepatan
>> transmisi puncak sampai 42 Mbps untuk 3,9G atau HSPA+.*
>>
>> Kita tidak bisa mengikari *Teori Persaingan Bisnis kompetitif Michael
>> Porter, dimana akan ada 5-Competitive Forces:*
>> *
>> 1. Rivalry diantara industri yg sdejenis
>> 2. Kompetisi dari Layana Substitusi
>> 3. Kompetisi dari New Entrance (Layanan Baru, 16e, LTE)
>> 4. Bargaining Power Suppliers, Vendors
>> 5. Bargaining Power dari Buyers, Pelanggan.*
>>
>> Terutama para pelangan, mereka tidak bisa dipaksa untuk pakai layanan yang
>> tidak sesuai dengan keinginan mereka, misalnya mereka ingin layanan yang
>> bisa untuk fixed maupun mobile, tidak terpaku di satu tempat saja, apalagi
>> kalau tarif langganannya dan harga modem/antennanya sangat mahal.
>>
>> Belum lagi masalah Roadmap teknologi dan layaan, apa ada?
>>
>> Saya ingin mendengar jawaban/tanggapan pak Adi atau lkawan2 lain, sehingga
>> *secara teknis dan realistis* kita bisa membuat kesimpulan yang benar dan
>> bermanfaat bagi kemajuan Industri Manufaktur Broadband di Indonesia.
>>
>> Semoga bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara yang kita cintai.
>>
>> Wassalam,
>> S Roestam
>> http://wirelesstekno.blogspot.com
>> http://wartaduniamaya.blogspot.com
>> http://mastel2020.blogspot.com
>> http:/kampus-maya.com
>> =====================
>>
>>
>>
>> ----Original Message----
>> From: [email protected]
>> Date: 19/12/2010 10:43
>> To:
>> Subj: [indonesia] Re: Sebuah Pemikiran buat Masa Depan Anak-Cucu Kita:
>> &quot;Waiting Game is a Losing Game&quot;
>>
>> Pak Chamdani,
>>
>> Aturan yg dibuat utk BWA dgn menentukan spesifikasi khusus di bandwith dan
>> TKDN itu tujuannya untuk memberikan "proteksi" bagi industri dalam negeri
>> agar punya kesempatan untuk ikut terlibat dalam pengadaan perangkatnya.
>>
>> Industri yg saat ini siap utk memproduksi adalah yg mengikuti standard
>> 16d,
>> sementara yg 16e belum ada yg siap. Kalau pun ada yg mengatakan siap,
>> mungkin baru sebagian komponennya saja. Bisa dibuktikan sendiri di
>> lapangan.
>>
>> Tanpa "proteksi" sudah bisa dipastikan produk yg akan masuk adalah produk
>> import semua, sama seperti saat teknologi GSM di gelar, dan teknologi2
>> sebelumnya. Apakah kita cukup senang hanya sebagai konsumen produk import
>> saja? Lalu bagaimana dgn industrinya?
>>
>> Sy pernah tulis panjang lebar di milis ini juga. Beberapa waktu yg lalu
>> menjawab email yg dikirim p Soemitro juga. Kenapa ada ketidakcocokan
>> antara
>> operator yg menang dgn industrinya.
>>
>> Saat lelang BWA dibuka beberapa tahun lalu, yg dibuka adalah yg utk
>> standar
>> 16d (fixed BWA). Tujuannya adalah utk komplementer teknologi ADSL ...
>> khususnya di daerah yg belum tergelar kable telekomunikasi. Alokasi ini
>> (kalau tidak salah 2.360-2.390 GHz) memang ditujukan utk fixed BWA, dan
>> bukan untuk mobile BWA. Mobile BWA direncanakan berada di alokasi lain,
>> 2.300 - 2.360 GHz, lebih besar sebenarnya dan bandwith nya mungkin nanti 5
>> MHz dan 10 MHz, berbeda dgn yg fixed yaitu 3.5 MHz dan 7 MHz.
>>
>> Jadi "roadmap" nya adalah alokasi frekuensi yg berbeda utk standar yg
>> berbeda, karena 16d dan 16e menggunakan teknologi yg agak berbeda. 16d dgn
>> OFDM, 16e dgn OFDMA. Ini tidak bisa digunakan pada alokasi frekuensi yg
>> sama.
>>
>> Tapi ... operator berencana beda. Entah sengaja atau mendapatkan informasi
>> yg tidak lengkap. Operator saat mengambil lelang alokasi utk Fixed BWA,
>> dalam planning nya sepertinya mau menggunakan alokasi ini untuk Mobile BWA
>> juga. Di sini masalahnya. Ikut lelang utk Fixed BWA dgn teknologi 16d,
>> tapi
>> berharap bisa menggelar Mobile BWA dgn teknologi 16e.
>>
>> Lalu kenapa yg 16e belum dibuka? Ya seperti alasan di atas ... menunggu
>> industri dalam negeri nya siap. Nah, apakah industri 16e dalam negeri
>> sudah
>> siap? Itu yg musti dipastikan. Siap dalam arti bukan sekedar mengakali
>> aturan TKDN ... import barang lalu mengaku buatan sendiri.
>>
>> Jadi ... memang mental bangsa ini yg "parah" ... :-( Maunya gampang ... .
>> Kalau memang maunya begitu ... buka saja aturannya ... tidak perlu
>> proteksi-proteksian ... Lupakan membangunan industri dalam negeri ... dan
>> tutup saja jurusan Teknik Elektro ... toh lulusannya hanya berguna untuk
>> pilih barang import dan instal barang import ...
>>
>> Begitu pak Chamdani. Saya sudah tulis beberapa kali, bahkan di milis ini
>> juga. Tapi kok selalu ada yg bertanya lagi ya? Same question. Mungkin pak
>> Soemitro berkewajiban untuk menulis secara LENGKAP apa yg sebenarnya
>> terjadi
>> ...
>>
>> Apakah ada politis? Ya ada ... politisnya itu tadi ... untuk memberikan
>> kesempatan industri dalam negeri perangkat telekomunikasi utk bisa
>> berkembang ... dgn mekanisme proteksi. Kalau politis ini dianggap kurang
>> tepat ... lha mari kita debatkan ... model seperti apa yg cocok untuk
>> membangun industri ini ... itu kalau masih mau dibangun ...
>>
>>
>> salam,
>>
>> -ai-
>>
>>
>> 2010/12/17 Achmad Chamdani Eka P.
>>
>> > Pak Roestam,
>> >
>> > Tulisan dibawah sangat menarik. Saya baru tahu kalau pak Roestam adalah
>> > Chairman
>> > Mastel.
>> >
>> > Mungkin Pak Roestam bisa memberikan gambaran untuk Wimax kenapa
>> pemerintah
>> > masih enggan
>> > dalam membuat kebijakan yang sifatnya hanya menetapkan pita frekuensinya
>> > saja
>> > (bukan teknologi 16d atau 16e). Saya pernah baca Berca gagal mendapatkan
>> > persetujuan untuk
>> > menggelar layanan hanya karena perbedaan teknologi yang digunakan.
>> Apakah
>> > ada masalah
>> > politis disini ? Terus terang saya jadi blank dengan masalah ini.
>> >
>> > Kebetulan saya bekerja dari sisi perakatnya. Ibarat kita berjalan di
>> > lorong, tanpa pernah melihat
>> > setitik cahaya jalan keluar.
>> >
>> >
>> > Salam.
>> > Ach. Chamdani Eka
>> >
>> >
>> > S Roestam wrote:
>> >
>> > Kawan2 Anggota Milis Yth,
>> >
>> > 1. "Waiting Game is a Losing Game"
>> >
>> > Kita sudah tertinggal selama 3-tahun dalam menerapkan Broadband Wireless
>> > Access sebagai infrastruktur utama untuk menjadikan jaringan Broadband
>> > sebagai enabler pertumbuhan perekonomian bangsa. Untuk tiap 10%
>> penetrasijaringan Broadband, maka secara empiris diperoleh pertumbuhan
>>
>> > GDP sebesar 1,38%. GDP Indonesia pada tahun 2010 diperkirakan sebesar
>> US$1.000
>> > milyar. Bila kita angap tiap tahun jaringan broadband itu tumbuh sebesar
>> > 10%, maka dalam 3-tahun seharusnya GDP itu tumbuh sebagai dampak
>> Broadband
>> > Economy sebesar 3x1,38%xUS41.000 milyar = US$41,4 milyar atau Rp414
>> > Trilyun. Ini merupakan lost of opportunity dari bangsa Indonesia.
>> >
>> > 2. "The Future is on Mobile Broadband Technology"
>> >
>> > Saat ini di Dunia sudah ada 5-milyar perangkat Mobile Wireless. jadi
>> untuk
>> > menggenapkan jumlah itu menjadi 6-milyar penduduk Dunia, maka "The Next
>> > Billion" adalah Mobile Wireless users, utamanya adalah Mobile Broadband
>> > Wireless users.
>> >
>> > Peniliti OVUM memperkirakan bahwa pada tahun 2015 didunia akan ada
>> 750-juta
>> > Fixed Broadband lines, termasuk didalamnya 150-juta Serat Optik. Pada
>> > tahun yang sama jumlah Mobile Wireless Broadband Users sudah akan
>> mencapai
>> > 3,2-milyar orang atau lebih dari 4-kali lipat dari Fixed Broadband
>> lines.
>> >
>> > 3. Indonesia sudah siap mengembangkan IDN Broadband WiMAX di Pita 2,3
>> GHZ
>> >
>> > Setelah berjuang selama 3-tahun akhirnya Indonesia memiliki kemampuan
>> untuk
>> > menguasai Core Teknologi Broadband Wireless Access WiMAX atau Chipset
>> > WiMAX, baik itu WiMAX 16d maupun 16e, dimana malah produk WiMAX 16e
>> telah
>> > berhasil di-expor ke berbagai negara di luar negeri. Bila berhasil
>> > dikembangkan lebih lanjut menuju ke teknologi WiMAX 2.0 (Generasi ke-2),
>> > yaitu WiMAX 16m yang telah diakui oleh ITU sebagai "True 4G" (Teknologi
>> > Seluler Generasi ke-4) yang setara dengan LTE-Advanced, dimana akan
>> dapat
>> > dicapai kecepatan transmisi puncak sampai 340 Mbps, maka akan dapat
>> turut
>> > dikembangkan industri pendukungnya di dalam negeri, seperti antena,
>> > casing, content dan aplikasi-aplikasinya, after-sales-service, training
>> dan
>> > education, dll.
>> >
>> > Ini merupakan sebuah kesempatan emas untuk membangun industri manfaktur
>> > dalam negeri Indonesia, dimana bila kesempatan emas ini dilewatkan, maka
>> > mungkin kesempatan emas serupa tidak akan hadir dalam jangka waktu 100
>> > atau 1000-tahun lagi. Kita harus ingat pengalaman 3-tahun y.l., "Waiting
>> > Game is a Losing Game", melihat ke butir 1 diatas.
>> >
>> > 4. Indonesia belum siap membangun Core Technology LTE, perlu waktu
>> minimum
>> > 3-tahun lagi.
>> >
>> > Teknologi LTE adalah teknologi yang sudah dipatent-kan, Kekayaan
>> > Intelektual-nya (IPR-nya) sudah dimiliki oleh negara-negara lain, yaitu
>> > Eropa, Cina, Korea dan USA. Kalaupun kita ingin mengembangkan Core
>> > Technology LTE sendiri, maka akan perlu waktu lebih dari 3-tahun. Kalau
>> beli
>> > lisensi, maka akan mahal, lagipula mengembangkan teknologi milik orang
>> > lain hanya akan menghasilkan nilai tambah yang sangat minimal.
>> >
>> > Maka berlaku lagi pengalaman pada butir 1 diatas, yaitu "Waiting Game is
>> a
>> > Losing Game....."
>> >
>> > 5. Teknologi WiMAX 16e sudah sangat matang, harga CPE-nya sekitar $30,
>> > sedangkan Teknologi LTE masih pada tahap awal, harga CPE-nya diatas
>> ribuan
>> > Dollar.
>> >
>> > Teknologi WiMAX adalah teknologi Broadband Wireless yang sudah sangat
>> > matang, sebab sudah berjalan selama lebih dari 3-tahun, merupakan
>> > teknologi yang hasilnya terjangkau masyarakat luas, harga CPE-nya
>> sekitar
>> > $30 tahun depan, memiliki ecosystem industri yang robust (kuat), sudah
>> ada
>> > lebih dari 300-jenis perangkat yang terkait, digunakan pada 500 jaringan
>> > telekomunikasi diseluruh dunia yang mencakup populasi sebanyak 800
>> jutaorang.
>> >
>> > Sedangkan Teknologi LTE adalah teknologi yang baru saja
>> dikembangkan(masih bayi,
>> > infant). Untuk mencapai tahap kesiapan seperti Teknologi WiMAX diatas,
>> > maka akan butuh waktu sekitar 2-3 tahun lagi, sehingga pengalaman pada
>> > butir 1 diatas berlaku lagi: "Wating Game is a Losing Game..."
>> >
>> > 6. Pita 2,3GHZ paling cocok untuk WiMAX, bukan untuk LTE yg akan menjadi
>> > keputusan yang aneh.
>> >
>> > Sejak awal memang pita frekwensi 2,3GHz sudah dialokasikan untuk
>> Teknologi
>> > Broadband Wireless Access WiMAX. Menempatkan LTE pada pita 2,3GHz
>> menjadi
>> > sebuah keputusan yang aneh, membuat pelanggan LTE Indonesia menjadi
>> > terkucilkan, tidak bisa membawa keluar perangkat ponsel LTE, PDA LTE
>> atau
>> > Laptop LTE ke luar negeri saat kita bepergian, sebab menggunakan pita
>> > frekwensi diluar standar Internasional. Kalaupun ingin membuat CPE
>> Indonesia
>> > bisa roaming, maka perlu ditambahkan fitur multi-band dengan menambah
>> > biaya bagi masyarakat penggunanya, dan membebani keuangan mereka dengan
>> > biaya yang tidak seperlunya.
>> >
>> > Regulator perlu menetapkan pita 2,3GHz sebagai Teknologi Netral untuk
>> > WiMAX (16d dan 16e).
>> >
>> > Kerugian lainnya, perangkat LTE produksi Indonesia pada pita 2,3GHz
>> tidak
>> > bisa di ekspor ke LN, sehingga membuat industri DN LTE ini sulit untuk
>> > berkembang.
>> >
>> > Solusi yang terbaik bagi LTE Indonesia adalah menempatkannya pada pita
>> 3Gkarena LTE adalah kelanjutan dari teknologi itu, atau pada pita hasil
>> Digital
>>
>> > Dividend siaran Broadcast TV di 700 MHz, dan pada pita 2,6MHz seperti
>> yang
>> > telah dirancang oleh mayoritas negara-negara lain di Dunia.
>> >
>> > 7. Keuntungan Masa Depan dari Operator 3G yang berevolusi ke LTE tidak
>> akan
>> > dinikmati oleh Operator Non-3G dan Operator Baru.
>> >
>> > Para operator telekomunikasi 3G memang mendapat keuntungan penghematan
>> > CAPEX ketika ber-evolusi ke LTE, sebab ada common RF Equipment di BTS
>> yang
>> > dapat di-share oleh kedua teknologi itu. Namun bagi para operator
>> Non-3G,
>> > seperti para ISP, Cable-TV, dan para operator pendatang baru, tidak
>> > mendapatkan keutungan itu ketika menerapkan Teknologi LTE.
>> >
>> > 8. Perlu ada keputusan yang tepat dan cepat.
>> >
>> > Semua pengalaman dan penderitaan bangsa ini selama tiga tahun yang lalu
>> > perlu kita ambil sebagai sebuah pengalaman dan pelajaran yang mahal
>> namun
>> > juga berharga, cukup sudah lost opportunity sebesar Rp 414 Trilyun,
>> jangan
>> > ditambah lagi. Maka kini tiba saatnya kita semua mengambil keputusan
>> yang
>> > tepat dan cepat....
>> >
>> > Silahkan ditanggapi, disanggah, dibenarkan atau didukung, sehingga kita
>> > bisa yakin bahwa keputusan yang diambil adalah yang terbaik, demi
>> kemajuan
>> > bangsa dan negara Indonesia yang kita cintai.
>> >
>> > Wassalam,
>> > S Roestam
>> > http://wirelesstekno.blogspot.com
>> > http://wartaduniamaya.blogspot.com
>> > http://mastel.wordpress.com
>> >
>> >
>> >
>>
>>
>>
>
>


-- 
Eflin MS / Software Consultant
PT. Syridink Informatika Indonesia
(Member Of Bandung High Tech Valley)
Jl. Riung Mulya VI No. 31
Riung Bandung
HP. 0817 4211 30 / 022-722 67883
YM: [email protected]
http://syridink.com
http://aplikasi-software.co.id/
http://aplikasi-software.com
Produk ERP Software:
Aplikasi ERP Accounting Tours & Travel Online
Aplikasi ERP Human Resources Online
Aplikasi ERP Project Management Online

Kirim email ke