Terima  kasih mas Rustam utk info ttg Wimex..kita perlu usulkan rekomendasi yg 
masuk akal tsb., kpd Menkoinfo..ada ide utk tindak lanjutnya ? Bisa kita jumpa 
utk diskusi lanjutan ? 

Wassalam ww adi sasono 

Sent from my iPhone

On Dec 20, 2010, at 7:09 PM, "Sumitro Roestam" <[email protected]> wrote:

Pak Adi Yth,

Saya baru selesai berkunjung ke operator pemenang WiMAX 16d yg sudah menggelar 
jaringannya cukup extensif di pinggiran Jkt dgn 90 BTS, dan pertengahan thn 
2011 mencapai 300 BTS.

Agar bisa laku, mereka harus pasang tarif yg kompetitif terhadap existing 
broadband services, terutama Wired Broadband seperti ADSL, Fastnet, Bitnet, 
Biznet, dll, juga terhadap Mobile Broadband GSM 3.xxH dan CDMA EVDO. Tarifmya 
Rp200.000/bln untuk 1Mbps. Akan ada pula yg 2Mbps dan 3Mbps. Sebenarnya bisa 
sampai 9Mbps, tetapi sementara dibatasi ke 3Mbps. Tarifnya sebanding kecepatan 
transmisinya.

Daya tarik utama WiMAX adalah mutu layanannya yg "true Broadband", jadi untuk 
lihat siaran TV pakai VoD dan HDTV sangat excellence, tidak "ndut-ndutan" kaya 
3G, sebab sistem teknologi 4G ini memang dia-disain khusus untuk data, 
sedangkan 3G untuk voice, data hanya "add-on".

Pada tarif bulanan tsb diatas maka sebenarnya Operator merugi sebab tingginya 
CAPEX CPE dan Jaringan 16d, sebab produk ini sudah langka di pasar, sedangkan 
produsen lokal hanya aseembly ex LN dan menyesuaikan spesifikasi kanal ke 
3,75MHz dan 7,5MHz, merubah softwarenya. Mereka bukan produsen Chipset, 
sehingga ini menambah biaya CAPEX. CAPEX ini bisa 5-10 kali lipat CAPEX 16e.

Sedangkan untuk 16e Indonesia sudah ada disain Chipsetnya yg 100% Indonesia, 
walapun sekarang belum di manufaktur disini, nanti kalau sudah ada Keputusan 
Spesifikasi 16e mereka akan bangun manufakturnya. Namun untuk antenna, casing, 
power supply, rack, dll sudah ada manufakturnya yg lokal.

Kalau pakai WiMAX 16e maka dengan tarif ke pelanggan tsb diatas, para operator 
bisa profitable.

Jadi alternatifnya hanya ada 2 yaitu:
1. Bertahan kepada hanya Standar 16d, dengan akibat operator rugi/bangkrut bila 
dipaksakan. Kalau tarif dinaikkan minimal 3X lipat supaya break-even, layanan 
tidak akan laku. Akibatnya industri 16d akan gagal.

2. Menetapkan Standar 16e secepatnya supaya para operator WiMAX segera 
beroperasi, dengan syarat TKDN yg sama dg 16d (30/40%). Hasilnya industri WiMAX 
Indonesia akan berkembang pesat, memajukan IDN untuk semua komponen2 WiMAX.

Keuntungan lain adalah meningkatnya GDP Indonesia sebesar 1,38% per tahun 
sebagai dampak dari Broadband Economy (tiap 10% penetrasi BB) yg equivqlen dgn 
Rp138 Trilyun per tahun.

Jadi rekomendasi saya adalah secepatnya menerapkan Opsi nomor 2 diatas, supaya 
bangsa in bisa maju lebih cepat, sekaligus juga memajukan Industri manufaktur 
nasional.

Semoga bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara yg kita cintai.
Wassalam,
S Roestam
http://wirelesstekno.blogspot.com
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

From: Adi Indrayanto <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Mon, 20 Dec 2010 11:39:51 +0700
To: <[email protected]>
ReplyTo: [email protected]
Cc: <[email protected]>
Subject: [indonesia] Re: Sebuah Pemikiran buat Masa Depan Anak-Cucu Kita: 
"Waiting Game is a Losing Game"


Pak Soemitro dan rekan2 milis ysh,

Seandainya para operator2 tersebut saat membuat bisnis plannya tetap berpatokan 
dgn standar tersebut, tentu tidak akan "nekad" menawarkan BHP sampai milyaran. 
Lagipula, Owner Estimate yg dilakukan diawal juga tidak terlalu tinggi utk BHP 
bukan?

Asumsi yg digunakan saat membuat BP ini lah yg sebenarnya menjebak mereka 
sendiri. Kalau memang tawaran lelang dari KomInfo tidak menarik secara bisnis, 
kan tentunya tidak akan ada yg tertarik utk berani pasang nilai lelang sangat 
tinggi bukan?

Nah, pertanyaan saya adalah ... apa yg ada dalam benak para operator2 ini saat 
mengikuti lelang tersebut?

Kemudian, sejak awal program BWA ini memang "diproteksi" utk membangun industri 
dalam negeri. Nah, menurut p Soemitro apa yg sebaiknya pemerintah lakukan?  

Membuka saja proteksi ini, sehingga operator2 bisa dgn mudah menggunakan 
produk2 import saja ... yg lebih siap? 

Lalu menurut p Soemitro apa strategi berikutnya untuk bisa membangun industri 
perangkat telekomunikasi dalam negeri?

Lagipula, kalau alasannya hanya terkait dgn kebutuhan boradband, kan sekarang 
pun sudah ada teknologi 3.5G yg sudah digelar. Jadi, tidak ada alasan bahwa 
layanan akses broadband tidak ada di Indonesia.  Justru yg tidak ada itu 
adalah, alternatif teknologi sekelas ADSL utk akses ke daerah rural.  WiMax 16d 
ini bisa jadi lebih cocok utk Fixed BWA daerah Rural ...

Jadi harus melihatnya secara lengkap pak. Bahwa teknologi WiMAX ini ka hanya 
salah satu dari sekian banyak teknologi yg sudah digelar di Indonesia. WiMAX 
kan tidak harus menjadi head-to-head dgn 3.5G, bisa memiliki segmen pasar 
sendiri.

Masalah layak tidaknya secara bisnis, kan bisa dihitung dalam BP nya. Kalau 
memang pasar kurang besar, ya jangan pasang harga lelang utk BHP terlalu tinggi 
lah .... . Ini kan spekulasi namanya ...


salam,

-ai-


2010/12/19 S Roestam <[email protected]>
Bapak Adi Indrayanto dan Bapak Chamdani, serta kawan2 Milis Yth,

Saya berterimakasih kepada bapak2 sekalian karena telah mau menagggapi tulisan 
saya dengan topik tersebut diatas, yang tujuan utamanya adalah meluruskan kalau 
ada hal-hal yang kurang tepat dalam strategi dan kebijakan untuk mengembangkan 
Industri Manufaktur BWA di Indonesia.

Jelas dari posting pak Adi, market untuk BWA WiMAX 16d diperuntukkan sebagai 
substitusi jaringan ADSL yang jumlahnya terbatas. Jaringan ADSL memang kurang 
kompetitif dari segi tarif, mutu layanan, karena dibangun diatas jaringan PSTN 
yang sudah sangat tua umurnya, mungkin sudah 20-tahunan atau lebih, sehingga 
rawan terhadap kondisi cuaca, hujan dan banjir.

Saat ini ada kompetitor jaringan ADSL yang sangat kompetitif, yaitu jaringan 
Serat Optik dan kabel coax dari First Media (Fast Net) yang sangat murah 
tarifnya dan mutunya sangat bagus, saya sudah pakai 1-tahun dengan biaya Rp 
200.000/bulan dan kecepatan transmisi yang stabil sebesar 512 kbps.

Jadi WiMAX 16d hanya cocok buat pelanggan ADSL yang tidak puas, plus pelanggan 
corporate yang belum terlayani FasNet First Media dan pesaing lainnya seperti 
Bitnet, dll yang layananny sangat bagus. Berapakah proyeksi jumlah pelanggan 
itu yang mau memakainya? Apakah jumlah itu cukup besar untuk membangun sebuah 
Industri Manufaktur WiMAX seperti diharapkan oleh Pak Adi Indrayanto?

Mengapa para Operator yang memenagkan Tender !6d tidak mau segera meluncurkan 
layanan itu? Bukankah mereka mengkhawatirkan akan tidak lakunya produk ini? 

Saya mengharapkan Pak Adi untuk bisa bersikap realistis berdasarkan kondisi 
pasar layanan Broadband di Indonesia saat ini, sebab pesaing dari 16d bukan 
saja fixed wired Broadband, tetapi juga layanan2 Mobile Broadband yang saat ini 
bisa diberikan oleh operator 3.xxG yang meng-klaim kecepatan transmisi puncak 
sampai 42 Mbps untuk 3,9G atau HSPA+.

Kita tidak bisa mengikari Teori Persaingan Bisnis kompetitif Michael Porter, 
dimana akan ada 5-Competitive Forces:

1. Rivalry diantara industri yg sdejenis
2. Kompetisi dari Layana Substitusi
3. Kompetisi dari New Entrance (Layanan Baru, 16e, LTE)
4. Bargaining Power Suppliers, Vendors
5. Bargaining Power dari Buyers, Pelanggan.

Terutama para pelangan, mereka tidak bisa dipaksa untuk pakai layanan yang 
tidak sesuai dengan keinginan mereka, misalnya mereka ingin layanan yang bisa 
untuk fixed maupun mobile, tidak terpaku di satu tempat saja, apalagi kalau 
tarif langganannya dan harga modem/antennanya sangat mahal.

Belum lagi masalah Roadmap teknologi dan layaan, apa ada?

Saya ingin mendengar jawaban/tanggapan pak Adi atau lkawan2 lain, sehingga 
secara teknis dan realistis kita bisa membuat kesimpulan yang benar dan 
bermanfaat bagi kemajuan Industri Manufaktur Broadband di Indonesia.

Semoga bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara yang kita cintai.

Wassalam,
S Roestam
http://wirelesstekno.blogspot.com
http://wartaduniamaya.blogspot.com
http://mastel2020.blogspot.com
http:/kampus-maya.com
=====================



----Original Message----
From: [email protected]
Date: 19/12/2010 10:43 
To: 
Subj: [indonesia] Re: Sebuah Pemikiran buat Masa Depan Anak-Cucu Kita: 
&quot;Waiting Game is a Losing Game&quot;

Pak Chamdani,

Aturan yg dibuat utk BWA dgn menentukan spesifikasi khusus di bandwith dan
TKDN itu tujuannya untuk memberikan "proteksi" bagi industri dalam negeri
agar punya kesempatan untuk ikut terlibat dalam pengadaan perangkatnya.

Industri yg saat ini siap utk memproduksi adalah yg mengikuti standard 16d,
sementara yg 16e belum ada yg siap. Kalau pun ada yg mengatakan siap,
mungkin baru sebagian komponennya saja. Bisa dibuktikan sendiri di lapangan.

Tanpa "proteksi" sudah bisa dipastikan produk yg akan masuk adalah produk
import semua, sama seperti saat teknologi GSM di gelar, dan teknologi2
sebelumnya. Apakah kita cukup senang hanya sebagai konsumen produk import
saja? Lalu bagaimana dgn industrinya?

Sy pernah tulis panjang lebar di milis ini juga. Beberapa waktu yg lalu
menjawab email yg dikirim p Soemitro juga. Kenapa ada ketidakcocokan antara
operator yg menang dgn industrinya.

Saat lelang BWA dibuka beberapa tahun lalu, yg dibuka adalah yg utk standar
16d (fixed BWA). Tujuannya adalah utk komplementer teknologi ADSL ...
khususnya di daerah yg belum tergelar kable telekomunikasi. Alokasi ini
(kalau tidak salah 2.360-2.390 GHz) memang ditujukan utk fixed BWA, dan
bukan untuk mobile BWA. Mobile BWA direncanakan berada di alokasi lain,
2.300 - 2.360 GHz, lebih besar sebenarnya dan bandwith nya mungkin nanti 5
MHz dan 10 MHz, berbeda dgn yg fixed yaitu 3.5 MHz dan 7 MHz.

Jadi "roadmap" nya adalah alokasi frekuensi yg berbeda utk standar yg
berbeda, karena 16d dan 16e menggunakan teknologi yg agak berbeda. 16d dgn
OFDM, 16e dgn OFDMA. Ini tidak bisa digunakan pada alokasi frekuensi yg
sama.

Tapi ... operator berencana beda. Entah sengaja atau mendapatkan informasi
yg tidak lengkap. Operator saat mengambil lelang alokasi utk Fixed BWA,
dalam planning nya sepertinya mau menggunakan alokasi ini untuk Mobile BWA
juga. Di sini masalahnya. Ikut lelang utk Fixed BWA dgn teknologi 16d, tapi
berharap bisa menggelar Mobile BWA dgn teknologi 16e.

Lalu kenapa yg 16e belum dibuka? Ya seperti alasan di atas ... menunggu
industri dalam negeri nya siap. Nah, apakah industri 16e dalam negeri sudah
siap? Itu yg musti dipastikan. Siap dalam arti bukan sekedar mengakali
aturan TKDN ... import barang lalu mengaku buatan sendiri.

Jadi ... memang mental bangsa ini yg "parah" ... :-( Maunya gampang ... .
Kalau memang maunya begitu ... buka saja aturannya ... tidak perlu
proteksi-proteksian ... Lupakan membangunan industri dalam negeri ... dan
tutup saja jurusan Teknik Elektro ... toh lulusannya hanya berguna untuk
pilih barang import dan instal barang import ...

Begitu pak Chamdani. Saya sudah tulis beberapa kali, bahkan di milis ini
juga. Tapi kok selalu ada yg bertanya lagi ya? Same question. Mungkin pak
Soemitro berkewajiban untuk menulis secara LENGKAP apa yg sebenarnya terjadi
...

Apakah ada politis? Ya ada ... politisnya itu tadi ... untuk memberikan
kesempatan industri dalam negeri perangkat telekomunikasi utk bisa
berkembang ... dgn mekanisme proteksi. Kalau politis ini dianggap kurang
tepat ... lha mari kita debatkan ... model seperti apa yg cocok untuk
membangun industri ini ... itu kalau masih mau dibangun ...


salam,

-ai-


2010/12/17 Achmad Chamdani Eka P. 

> Pak Roestam,
>
> Tulisan dibawah sangat menarik. Saya baru tahu kalau pak Roestam adalah
> Chairman
> Mastel.
>
> Mungkin Pak Roestam bisa memberikan gambaran untuk Wimax kenapa pemerintah
> masih enggan
> dalam membuat kebijakan yang sifatnya hanya menetapkan pita frekuensinya
> saja
> (bukan teknologi 16d atau 16e). Saya pernah baca Berca gagal mendapatkan
> persetujuan untuk
> menggelar layanan hanya karena perbedaan teknologi yang digunakan. Apakah
> ada masalah
> politis disini ? Terus terang saya jadi blank dengan masalah ini.
>
> Kebetulan saya bekerja dari sisi perakatnya. Ibarat kita berjalan di
> lorong, tanpa pernah melihat
> setitik cahaya jalan keluar.
>
>
> Salam.
> Ach. Chamdani Eka
>
>
> S Roestam wrote:
>
> Kawan2 Anggota Milis Yth,
>
> 1. "Waiting Game is a Losing Game"
>
> Kita sudah tertinggal selama 3-tahun dalam menerapkan Broadband Wireless
> Access sebagai infrastruktur utama untuk menjadikan jaringan Broadband
> sebagai enabler pertumbuhan perekonomian bangsa. Untuk tiap 10% 
> penetrasijaringan Broadband, maka secara empiris diperoleh pertumbuhan

> GDP sebesar 1,38%. GDP Indonesia pada tahun 2010 diperkirakan sebesar US$1.000
> milyar. Bila kita angap tiap tahun jaringan broadband itu tumbuh sebesar
> 10%, maka dalam 3-tahun seharusnya GDP itu tumbuh sebagai dampak Broadband
> Economy sebesar 3x1,38%xUS41.000 milyar = US$41,4 milyar atau Rp414
> Trilyun. Ini merupakan lost of opportunity dari bangsa Indonesia.
>
> 2. "The Future is on Mobile Broadband Technology"
>
> Saat ini di Dunia sudah ada 5-milyar perangkat Mobile Wireless. jadi untuk
> menggenapkan jumlah itu menjadi 6-milyar penduduk Dunia, maka "The Next
> Billion" adalah Mobile Wireless users, utamanya adalah Mobile Broadband
> Wireless users.
>
> Peniliti OVUM memperkirakan bahwa pada tahun 2015 didunia akan ada 750-juta
> Fixed Broadband lines, termasuk didalamnya 150-juta Serat Optik. Pada
> tahun yang sama jumlah Mobile Wireless Broadband Users sudah akan mencapai
> 3,2-milyar orang atau lebih dari 4-kali lipat dari Fixed Broadband lines.
>
> 3. Indonesia sudah siap mengembangkan IDN Broadband WiMAX di Pita 2,3 GHZ
>
> Setelah berjuang selama 3-tahun akhirnya Indonesia memiliki kemampuan untuk
> menguasai Core Teknologi Broadband Wireless Access WiMAX atau Chipset
> WiMAX, baik itu WiMAX 16d maupun 16e, dimana malah produk WiMAX 16e telah
> berhasil di-expor ke berbagai negara di luar negeri. Bila berhasil
> dikembangkan lebih lanjut menuju ke teknologi WiMAX 2.0 (Generasi ke-2),
> yaitu WiMAX 16m yang telah diakui oleh ITU sebagai "True 4G" (Teknologi
> Seluler Generasi ke-4) yang setara dengan LTE-Advanced, dimana akan dapat
> dicapai kecepatan transmisi puncak sampai 340 Mbps, maka akan dapat turut
> dikembangkan industri pendukungnya di dalam negeri, seperti antena,
> casing, content dan aplikasi-aplikasinya, after-sales-service, training dan
> education, dll.
>
> Ini merupakan sebuah kesempatan emas untuk membangun industri manfaktur
> dalam negeri Indonesia, dimana bila kesempatan emas ini dilewatkan, maka
> mungkin kesempatan emas serupa tidak akan hadir dalam jangka waktu 100
> atau 1000-tahun lagi. Kita harus ingat pengalaman 3-tahun y.l., "Waiting
> Game is a Losing Game", melihat ke butir 1 diatas.
>
> 4. Indonesia belum siap membangun Core Technology LTE, perlu waktu minimum
> 3-tahun lagi.
>
> Teknologi LTE adalah teknologi yang sudah dipatent-kan, Kekayaan
> Intelektual-nya (IPR-nya) sudah dimiliki oleh negara-negara lain, yaitu
> Eropa, Cina, Korea dan USA. Kalaupun kita ingin mengembangkan Core
> Technology LTE sendiri, maka akan perlu waktu lebih dari 3-tahun. Kalau beli
> lisensi, maka akan mahal, lagipula mengembangkan teknologi milik orang
> lain hanya akan menghasilkan nilai tambah yang sangat minimal.
>
> Maka berlaku lagi pengalaman pada butir 1 diatas, yaitu "Waiting Game is a
> Losing Game....."
>
> 5. Teknologi WiMAX 16e sudah sangat matang, harga CPE-nya sekitar $30,
> sedangkan Teknologi LTE masih pada tahap awal, harga CPE-nya diatas ribuan
> Dollar.
>
> Teknologi WiMAX adalah teknologi Broadband Wireless yang sudah sangat
> matang, sebab sudah berjalan selama lebih dari 3-tahun, merupakan
> teknologi yang hasilnya terjangkau masyarakat luas, harga CPE-nya sekitar
> $30 tahun depan, memiliki ecosystem industri yang robust (kuat), sudah ada
> lebih dari 300-jenis perangkat yang terkait, digunakan pada 500 jaringan
> telekomunikasi diseluruh dunia yang mencakup populasi sebanyak 800 jutaorang.
>
> Sedangkan Teknologi LTE adalah teknologi yang baru saja dikembangkan(masih 
> bayi,
> infant). Untuk mencapai tahap kesiapan seperti Teknologi WiMAX diatas,
> maka akan butuh waktu sekitar 2-3 tahun lagi, sehingga pengalaman pada
> butir 1 diatas berlaku lagi: "Wating Game is a Losing Game..."
>
> 6. Pita 2,3GHZ paling cocok untuk WiMAX, bukan untuk LTE yg akan menjadi
> keputusan yang aneh.
>
> Sejak awal memang pita frekwensi 2,3GHz sudah dialokasikan untuk Teknologi
> Broadband Wireless Access WiMAX. Menempatkan LTE pada pita 2,3GHz menjadi
> sebuah keputusan yang aneh, membuat pelanggan LTE Indonesia menjadi
> terkucilkan, tidak bisa membawa keluar perangkat ponsel LTE, PDA LTE atau
> Laptop LTE ke luar negeri saat kita bepergian, sebab menggunakan pita
> frekwensi diluar standar Internasional. Kalaupun ingin membuat CPE Indonesia
> bisa roaming, maka perlu ditambahkan fitur multi-band dengan menambah
> biaya bagi masyarakat penggunanya, dan membebani keuangan mereka dengan
> biaya yang tidak seperlunya.
>
> Regulator perlu menetapkan pita 2,3GHz sebagai Teknologi Netral untuk
> WiMAX (16d dan 16e).
>
> Kerugian lainnya, perangkat LTE produksi Indonesia pada pita 2,3GHz tidak
> bisa di ekspor ke LN, sehingga membuat industri DN LTE ini sulit untuk
> berkembang.
>
> Solusi yang terbaik bagi LTE Indonesia adalah menempatkannya pada pita 
> 3Gkarena LTE adalah kelanjutan dari teknologi itu, atau pada pita hasil 
> Digital

> Dividend siaran Broadcast TV di 700 MHz, dan pada pita 2,6MHz seperti yang
> telah dirancang oleh mayoritas negara-negara lain di Dunia.
>
> 7. Keuntungan Masa Depan dari Operator 3G yang berevolusi ke LTE tidak akan
> dinikmati oleh Operator Non-3G dan Operator Baru.
>
> Para operator telekomunikasi 3G memang mendapat keuntungan penghematan
> CAPEX ketika ber-evolusi ke LTE, sebab ada common RF Equipment di BTS yang
> dapat di-share oleh kedua teknologi itu. Namun bagi para operator Non-3G,
> seperti para ISP, Cable-TV, dan para operator pendatang baru, tidak
> mendapatkan keutungan itu ketika menerapkan Teknologi LTE.
>
> 8. Perlu ada keputusan yang tepat dan cepat.
>
> Semua pengalaman dan penderitaan bangsa ini selama tiga tahun yang lalu
> perlu kita ambil sebagai sebuah pengalaman dan pelajaran yang mahal namun
> juga berharga, cukup sudah lost opportunity sebesar Rp 414 Trilyun, jangan
> ditambah lagi. Maka kini tiba saatnya kita semua mengambil keputusan yang
> tepat dan cepat....
>
> Silahkan ditanggapi, disanggah, dibenarkan atau didukung, sehingga kita
> bisa yakin bahwa keputusan yang diambil adalah yang terbaik, demi kemajuan
> bangsa dan negara Indonesia yang kita cintai.
>
> Wassalam,
> S Roestam
> http://wirelesstekno.blogspot.com
> http://wartaduniamaya.blogspot.com
> http://mastel.wordpress.com
>
>
>






      

Kirim email ke