Mungkin terlambat ikutan untuk memberi tanggapan dan opini mengenai "Work from Home" atau "Tele Commuting," dari seseorang yang memang "hidup di jalan." He..he..he..
Anyway, bicara soal "work from home" menurut saya sebenarnya adalah suatu jouney, bukan sesuatu yang bisa dilakukan dadakan. Di kantor kami sudah dari dulu, bahkan sebelum saya jadi karyawan, sudah ada program ini. Tapi tujuannya beda, lebih diarahkan kepada mereka yang pada posisi "disadvantage," yang tidak mungkin datang ke kantor tiap hari (karena faktor "disability," atau merawat keluarga yang "disable"). Sarana yang diberikan cukup memadai, misalnya boleh pasang telepon tambahan atas biaya kantor, melakukan renovasi rumah supaya ada ruang khusus untuk bekerja, dan pada waktu itu, sambungan "lease line" supaya bisa menyambung "dumb terminal" ke rumah mereka. Perkembangan IT pada masa itu, memang sudah menciptakan "opportunity" untuk kerja dari rumah. Saya ingat di tahun 70-an, waktu saya masih kuliah elektro, iri sekali dengan teman saya yang kuliah di Ottawa, Canada. Dia dengan mudah dari tempat tinggalnya, pakai modem yang ada "acoustic coupler," bisa sambung ke komputer di kampusnya terminal TTY, terus menyelesaikan tugas-tugasnya. Saya di Bandung harus puas dengan teknologi "punch card." Dari program "work from home" ini, dikembangkan menjadi beberapa kategori. Yang ada di kantor kami sekarang cukup beragam, dari yang seratus persen kerja dari rumah, kerja dari luar (bisa di tempat kastemer, rumah, Starbucks, dll), yang sekali-kali kerja tidak di kantor, yang musiman, dan tentunya yang harus kerja di kantor. Pembagian ini tentunya tergantung dari banyak faktor termasuk budaya dari negara masing-masing. Kami pakai istilah "mobile workstation" dan "fixed workstation," untuk membedakan tempat kerja mereka yang tidak tetap datang ke kantor dengan mereka yang memang harus kerja di kantor. Pada waktu konsep ini diterapkan di Singapore, ternyata "mobile workstation" yang tersedia, banyak di pantek, alias di "book" 365 hari untuk satu orang saja padahal, orang tersebut sudah bersedia dikatagorikan sebagai "mobile worker." Memang waktu itu ada benefitnya, yaitu mereka bakal dapat Laptop sedang yang "fixed worker" hanya dapat PC desktop. Ternyata yang membuat si tamak ini booking meja satu tahun penuh karena di Singapore pada waktu itu, kerja di rumah tidak nyaman (bayangkan kerja di RUSUNAMI), lagi pula bagi mereka, lebih "cool" kalau bisa kerja di pusat kota (business district) dan dilihat teman-teman lainnya. Dan seperti sudah ditanggapi oleh yang lain, untuk memungkinkan "work from home" bukan sekedar punya BB atau Smartphone lainnya. Laptop yang tersambung dengan broadband masih merupakan alat utama untuk bisa melaksanakannya. Tapi, teknologi hanya satu dari sekian faktor yang bisa membuat program ini sukses. Saya rasa peran HR dan para pimpinan unit-unit kerja, tidak kalah pentingnya. HR bukan saja untuk pengkotak-kotakan jenis pekerjaan (siapa yang boleh kerja di rumah, siapa yang tidak bisa), tapi juga bagaimana mendidik para manager dan supervisor agar bisa memanage karyawan tanpa melihat mereka secara langsung. Believe me, it's not easy. Regards, Deva Choesin From: "Sumitro Roestam" <[email protected]> To: [email protected], [email protected], [email protected], "[email protected]" <[email protected]>, [email protected] Cc: "Sumitro2 Roestam" <[email protected]> Date: 12/29/2010 03:37 AM Subject: [indonesia] Re: [Qbmember] Pasar BlackBerry meningkat 140%tahun2010.Jadikansebagai alat Homeworking Sent by: [email protected] Ibu Nina Kurnia dan Kawan2 yth, Terimakasih atas pendapat Ibu Nina tentang kecocokan smartphone BB untuk pelaksanaan Telework/Homeworking yg komprehensif dibandingkan dgn jenis2 smartphone lainnya, dari perangkat yg memang di-disain untuk telework, harga dan tarif bulanan yg terjangkau, sistem komunikasi yg robust dan dapat menembus kondisi kecepatan transmisi yg extreme (push mail, GPRS, kompresi dan enkripsi data). Keunggulan lainnya, hampir tiap manajer, staff dan karyawan penting telah memiliki perangkat BlackBerry ini. Langkah berikutnya yg ditunggu adalah Komando dari Pimpinan Pemerintahan/Instansi, Direksi BUMN dan Swasta untuk merubah budaya dari kerja di kantor tiap hari, menjadi kerja 1-2 hari per minggu di rumah atau telework. Untuk keperluan office communications yg rutin, maka perangkat BB ini sudah cukup memadai. Namun untuk heavy office work, seperti membuat naskah besar dan panjang, dipakai PC/Laptop yg ada dirumah atau di warnet terdekat, Transmisi naskah s/d 4 Mbytes dapat dilakukan via BB ini. Kita tunggu kesadaran para Pemimpin untuk memulainya, demi memajukan bangsa dan negara, mengurangi beban biaya transport, kelangkaan BBM Premium, menghindarkan kemacetan LL, dan meningkatkan produktivitas nasional. Wassalam, Sumitro Roestam Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...! -----Original Message----- From: "Nina Kurnia Hikmawati" <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Tue, 28 Dec 2010 16:39:32 To: <[email protected]>; <[email protected]>; <[email protected]> Reply-To: [email protected], [email protected] Subject: Re: [Qbmember] Pasar BlackBerry meningkat 140% tahun2010.Jadikansebagai alat Homeworking Ikut ngomentari.. Memang BlackBerry sangat laku keras di pasar global. Kalo dilihat yg menjadi inti keberhasilan dari Black Berry adalah Research and Developmentnya (R&D) dengan membuat inovasi-inovasi layanan smartphone. Kalo kita lihat, salah satau yg menarik dari keberadaan BB adalah karena inovasi-inovasi layanan dan konten BlackBerry dan line of handheld-nya dapat memadukan e-mail(push email), telepon, Instant Messaging (IM) YM, Gtalk, Short Message Services (SMS), Internet, musik, kamera, vidio, radio, organisator, Global Positioning System (GPS), layanan social networking spt FB, Twitter ... dan berbagai macam aplikasi lain dalam satu solusi nirkabel yang di-dubbing “always on, always connected”. Layanan inilah yang menjadi pertimbangan pasar dalam membeli Black Berry. Selain layanan, Black Berry memiliki sekuriti yang sangat handal dengan adanya encrypsi... yang ga bisa dibobol... Dan tercentral di RIM nya... Selain itu harga yang layak, dibandingkan smartphone lainnya, harganya terjangkau banget.. tentu juga karena layanan Hardware dan software menimbulkan orang-orang melirik BB. Tentu keberadaanya.. dapat membantu para pebisnis untuk melakukan kegiatanya bukan hanya di kantor, atau rumah... namun bisa dimana saja dan kapan saja... semua dapat dimudahkan,.... semua tergantung kita yang menggunakannya.. ke arah yang positip tentunya. Nah... Masalah bekerja dirumah... Sebetulnya bukan hanya melalui BB... Asal ada fasilitas modem atau peralatan telekomubikasi... Tentu bisa lancar... Bekerja dirumah... Akan membentu mengurangi kemacetan Jkt..... Namun..hal ini..hanya salah satu solusi... Boleh dicoba diusulkan.. Pak..ide yg bgs.. ------Original Message------ From: [email protected] Sender: [email protected] To: [email protected] To: [email protected] ReplyTo: [email protected] ReplyTo: [email protected] Subject: Re: [Qbmember] Pasar BlackBerry meningkat 140% tahun2010.Jadikansebagai alat Homeworking Sent: Dec 28, 2010 08:56 Coba pakai ...Ada yg gratis, http://logmein.com Atau http://gotomypc.com Utk working from home. Salam, -Irsal Sent from my Verizon Wireless BlackBerry -----Original Message----- From: [email protected] Sender: [email protected] Date: Tue, 28 Dec 2010 00:13:59 To: S Roestam<[email protected]>; QB Leadership<[email protected]> Reply-To: [email protected], [email protected] Subject: Re: [Qbmember] Pasar BlackBerry meningkat 140% tahun 2010. Jadikansebagai alat Homeworking Pak Mitro yasbg. (y)(y)(y)(y)(y) Saya setuju berat dengan ide 'mobile & home working' tsb karena sejak umat manusia menemukan 'pertanian & peternakan & perikanan kolam/tambak' puluhan ribu tahun yg lalu telah terbukti bahwa para 'petani & peternak & pekolam/petambak yg bekerja di/dekat rumah lah yg telah menopang kelangsungan hidup umat manusia hingga kini. Tren '>20 miles private vehicle commuting' alias 'kerja harian dalam jarak radius 20 mil dari rumah sendiri/rumah kontrakan/rumah kolektif dengan mengendarai mobil/motor milik sendiri' (kompleks, mess, asrama, kost sendiri/kolektif, tinggal menumpang) sendiri sebenarnya baru mengalami booming di uni eropa & amrik sejak berakhirnya krisis minyak pertama di awal tahun 70an. Selain itu revolusi telekomunikasi telah membuktikan bahwa dinamika temu muka untuk berbisnis di awal tahun 70an telah mengalami perubahan drastis dengan revolusi telematika dimana (sebagai contoh) transaksi jual beli (trading deal) biji cokelat (cocoa bean) dan kacang mede (cashew nuts) di sulawesi selatan/tenggara yg bernilai puluhan hingga ratusan juta rupiah per transaksi antara petani/pedagang pengumpul/pedagang besar/ eksportir bisa berjalan OK/joss berdasarkan 'e-deal' via percakapan TEL/SMS/FAX/EMAIL. Semoga TELKOM Tbk. akan mengimplementasikan layanan 'VideoPhone Conference' dengan kualitas & harga pass bagi para pelaku bisnis yg memang membutuhkannya sebagai substitusi 'temu muka konvensional/tradisional/primitif' yg di kalangan bisnispun tidak selalu lebih efisien secara biaya & waktu dibandingkan dengan 'VideoPhone Conference'. Kita bisa lihat bagaimana para pelanggar UU korupsi malah sedemikian efisiennya dalam menjalankan bisnis mereka dengan meminimalisir temu muka dengan komunikasi yang memiliki tingkat minimal untuk disadap baik legal maupun illegal (kasus anggodo versus bibit-hamzah adalah contoh vulgarnya :D). Salam e-NKRI BerLogikaMaksimal yg masih tetap menunggu kapan 'Trilogi Omong Kosong Cincin Palapa Jilid 2' akan disajikan kembali kepada publik :D (dimana kendala utama PPP infra yg sukses saat ini adalah pencitraan NKRI yg justru selalu dibumihanguskan oleh mayoritas penguasa bisnis nya sendiri yg pro-status quo jago kandang anti-persaingan global)! HM Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
