Ada untungnya untuk bekerja remote terutama untuk disable. Tetapi yang perlu 
dipikirkan adalah in the near future bila working from home sudah OK, maka 
pekantoran akan kosong. Saya alami hal ini, juga yang saya lihat downtown jadi 
kota hantu. Banyak org akan berada disekitar tempat tinggal. Apalagi kalau 
nanti birokrat di pangkas, dan boleh work from home, maka yang banyak orang 
hanya sekitar pasar terutama foodcourt  dan bar. Bahkan mall sepi, hanya 
foodcourt ramai. Untuk shopping, lebih convenient untuk beli by internet. Saya 
alami sendiri ketika mau beli redwing (safety shoes-saya kerja di oil 
drilling), mereka tulis hanya buka 2 hari seminggu, selanjutnya see our 
internet store. 

 

Saya dukung work from home or remote working. Jadi kapan segala sesuatu seperti 
urus SIM, STNK, KTP, urusan DKI, di internet kan, supaya jakarta tak macet. 
Kenapa segala urusan harus berhadapan dengan birokrat. Bangsa kita yang suka 
peraturan seharusnya mudah untuk membuat sesuatu di internetkan. Semua form put 
in the internet. Mereka birokrat takperlu kantor, work from home?

 

Yang utnuk orang indonesia yang suka bersosialita, hal ini OK, tetapi bisa 
pekerjaan terbengkalai. Kita tahu tabiat bangsa ini. Thanks. Aristo.

 

From: Deva Choesin [mailto:[email protected]] 
Sent: 05 Januari 2011 11:32
To: [email protected]
Subject: [indonesia] Re: Pasar BlackBerry meningkat 
140%tahun2010.Jadikansebagai alat Homeworking

 

Mungkin terlambat ikutan untuk memberi tanggapan dan opini mengenai "Work from 
Home" atau "Tele Commuting," dari seseorang yang memang "hidup di jalan." 
He..he..he.. 

Anyway, bicara soal "work from home" menurut saya sebenarnya adalah suatu 
jouney, bukan sesuatu yang bisa dilakukan dadakan. Di kantor kami sudah dari 
dulu, bahkan sebelum saya jadi karyawan, sudah ada program ini. Tapi tujuannya 
beda, lebih diarahkan kepada mereka yang pada posisi "disadvantage," yang tidak 
mungkin datang ke kantor tiap hari (karena faktor "disability," atau merawat 
keluarga yang "disable"). Sarana yang diberikan cukup memadai, misalnya boleh 
pasang telepon tambahan atas biaya kantor, melakukan renovasi rumah supaya ada 
ruang khusus untuk bekerja, dan pada waktu itu, sambungan "lease line" supaya 
bisa menyambung "dumb terminal" ke rumah mereka. 

Perkembangan IT pada masa itu, memang sudah menciptakan "opportunity" untuk 
kerja dari rumah. Saya ingat di tahun 70-an, waktu saya masih kuliah elektro, 
iri sekali dengan teman saya yang kuliah di Ottawa, Canada. Dia dengan mudah 
dari tempat tinggalnya, pakai modem yang ada "acoustic coupler," bisa sambung 
ke komputer di kampusnya terminal TTY, terus menyelesaikan tugas-tugasnya. Saya 
di Bandung harus puas dengan teknologi "punch card." 

Dari program "work from home" ini, dikembangkan menjadi beberapa kategori. Yang 
ada di kantor kami sekarang cukup beragam, dari yang seratus persen kerja dari 
rumah, kerja dari luar (bisa di tempat kastemer, rumah, Starbucks, dll), yang 
sekali-kali kerja tidak di kantor, yang musiman, dan tentunya yang harus kerja 
di kantor. Pembagian ini tentunya tergantung dari banyak faktor termasuk budaya 
dari negara masing-masing. Kami pakai istilah "mobile workstation" dan "fixed 
workstation," untuk membedakan tempat kerja mereka yang tidak tetap datang ke 
kantor dengan mereka yang memang harus kerja di kantor. 

Pada waktu konsep ini diterapkan di Singapore, ternyata "mobile workstation" 
yang tersedia, banyak di pantek, alias di "book" 365 hari untuk satu orang saja 
padahal, orang tersebut sudah bersedia dikatagorikan sebagai "mobile worker." 
Memang waktu itu ada benefitnya, yaitu mereka bakal dapat Laptop sedang yang 
"fixed worker" hanya dapat PC desktop. Ternyata yang membuat si tamak ini 
booking meja satu tahun penuh karena di Singapore pada waktu itu, kerja di 
rumah tidak nyaman (bayangkan kerja di RUSUNAMI), lagi pula bagi mereka, lebih 
"cool" kalau bisa kerja di pusat kota (business district) dan dilihat 
teman-teman lainnya. 

Dan seperti sudah ditanggapi oleh yang lain, untuk memungkinkan "work from 
home" bukan sekedar punya BB atau Smartphone lainnya. Laptop yang tersambung 
dengan broadband masih merupakan alat utama untuk bisa melaksanakannya. Tapi, 
teknologi hanya satu dari sekian faktor yang bisa membuat program ini sukses. 
Saya rasa peran HR dan para pimpinan unit-unit kerja, tidak kalah pentingnya. 
HR bukan saja untuk pengkotak-kotakan jenis pekerjaan (siapa yang boleh kerja 
di rumah, siapa yang tidak bisa), tapi juga bagaimana mendidik para manager dan 
supervisor agar bisa memanage karyawan tanpa melihat mereka secara langsung. 
Believe me, it's not easy. 

Regards,
Deva Choesin 



From:        "Sumitro Roestam" <[email protected]> 
To:        [email protected], [email protected], 
[email protected], "[email protected]" <[email protected]>, 
[email protected] 
Cc:        "Sumitro2 Roestam" <[email protected]> 
Date:        12/29/2010 03:37 AM 
Subject:        [indonesia] Re: [Qbmember] Pasar BlackBerry meningkat 
140%tahun2010.Jadikansebagai alat Homeworking 
Sent by:        [email protected] 

  _____  




Ibu Nina Kurnia dan Kawan2 yth,

Terimakasih atas pendapat Ibu Nina tentang kecocokan smartphone BB untuk 
pelaksanaan Telework/Homeworking yg komprehensif dibandingkan dgn jenis2 
smartphone lainnya, dari perangkat yg memang di-disain untuk telework, harga 
dan tarif bulanan yg terjangkau, sistem komunikasi yg robust dan dapat menembus 
kondisi kecepatan transmisi yg extreme (push mail, GPRS, kompresi dan enkripsi 
data).

Keunggulan lainnya, hampir tiap manajer, staff dan karyawan penting telah 
memiliki perangkat BlackBerry ini.

Langkah berikutnya yg ditunggu adalah Komando dari Pimpinan 
Pemerintahan/Instansi, Direksi BUMN dan Swasta untuk merubah budaya dari kerja 
di kantor tiap hari, menjadi kerja 1-2 hari per minggu di rumah atau telework.

Untuk keperluan office communications yg rutin, maka perangkat BB ini sudah 
cukup memadai. Namun untuk heavy office work, seperti membuat naskah besar dan 
panjang, dipakai PC/Laptop yg ada dirumah atau di warnet terdekat, Transmisi 
naskah s/d 4 Mbytes dapat dilakukan via BB ini.

Kita tunggu kesadaran para Pemimpin untuk memulainya, demi memajukan bangsa dan 
negara, mengurangi beban biaya transport, kelangkaan BBM Premium, menghindarkan 
kemacetan LL, dan meningkatkan produktivitas nasional.
Wassalam,
Sumitro Roestam

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: "Nina Kurnia Hikmawati" <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Tue, 28 Dec 2010 16:39:32 
To: <[email protected]>; <[email protected]>; 
<[email protected]>
Reply-To: [email protected], [email protected]
Subject: Re: [Qbmember] Pasar BlackBerry meningkat 140%
                tahun2010.Jadikansebagai alat Homeworking

Ikut ngomentari..
Memang BlackBerry sangat laku keras di pasar global. Kalo dilihat  yg menjadi 
inti keberhasilan dari Black Berry adalah Research and Developmentnya (R&D) 
dengan membuat inovasi-inovasi layanan smartphone. 
Kalo kita lihat, salah satau yg menarik dari keberadaan BB adalah karena  
inovasi-inovasi layanan dan konten BlackBerry dan line of handheld-nya dapat 
memadukan e-mail(push email), telepon, Instant Messaging (IM) YM, Gtalk, Short 
Message Services (SMS), Internet, musik, kamera, vidio, radio, organisator, 
Global Positioning System (GPS), layanan social networking spt FB, Twitter ... 
dan berbagai macam aplikasi lain dalam satu solusi nirkabel yang di-dubbing 
“always on, always connected”. Layanan inilah yang menjadi pertimbangan pasar 
dalam membeli Black Berry.  Selain layanan, Black Berry memiliki sekuriti yang 
sangat handal dengan adanya encrypsi... yang ga bisa dibobol... Dan tercentral 
di RIM nya... 
               Selain itu harga yang layak, dibandingkan smartphone lainnya, 
harganya terjangkau banget.. tentu juga karena layanan Hardware dan software 
menimbulkan orang-orang melirik BB. Tentu keberadaanya.. dapat membantu para 
pebisnis untuk melakukan kegiatanya bukan hanya di kantor, atau rumah... namun 
bisa dimana saja dan kapan saja... semua dapat dimudahkan,.... semua tergantung 
kita yang menggunakannya.. ke arah yang positip tentunya. 
Nah... Masalah bekerja dirumah... Sebetulnya bukan hanya melalui BB... Asal ada 
fasilitas modem atau peralatan telekomubikasi... Tentu bisa lancar...  
Bekerja dirumah... Akan membentu mengurangi kemacetan Jkt..... 
Namun..hal ini..hanya salah satu solusi... Boleh dicoba diusulkan.. Pak..ide yg 
bgs.. 

------Original Message------
From: [email protected]
Sender: [email protected]
To: [email protected]
To: [email protected]
ReplyTo: [email protected]
ReplyTo: [email protected]
Subject: Re: [Qbmember] Pasar BlackBerry meningkat 140% 
tahun2010.Jadikansebagai alat Homeworking
Sent: Dec 28, 2010 08:56

Coba pakai ...Ada yg gratis,

 <http://logmein.com/> http://logmein.com 

Atau 

 <http://gotomypc.com/> http://gotomypc.com 

Utk working from home.

Salam,

-Irsal
Sent from my Verizon Wireless BlackBerry

-----Original Message-----
From: [email protected]
Sender: [email protected]
Date: Tue, 28 Dec 2010 00:13:59 
To: S Roestam<[email protected]>; QB Leadership<[email protected]>
Reply-To: [email protected], [email protected]
Subject: Re: [Qbmember] Pasar BlackBerry meningkat 140% tahun 2010.
                Jadikansebagai alat Homeworking

Pak Mitro yasbg. (y)(y)(y)(y)(y)

Saya setuju berat dengan ide 'mobile & home working' tsb karena sejak umat 
manusia menemukan 'pertanian & peternakan & perikanan kolam/tambak' puluhan 
ribu tahun yg lalu telah terbukti bahwa para 'petani & peternak & 
pekolam/petambak yg bekerja di/dekat rumah lah yg telah menopang kelangsungan 
hidup umat manusia hingga kini. Tren '>20 miles private vehicle  commuting' 
alias 'kerja harian dalam jarak radius 20 mil dari rumah sendiri/rumah 
kontrakan/rumah kolektif dengan mengendarai mobil/motor milik sendiri' 
(kompleks, mess, asrama, kost sendiri/kolektif, tinggal menumpang) sendiri 
sebenarnya baru mengalami booming di uni eropa & amrik sejak berakhirnya krisis 
minyak pertama di awal tahun 70an. 

Selain itu revolusi telekomunikasi telah membuktikan bahwa dinamika temu muka 
untuk berbisnis di awal tahun 70an telah mengalami perubahan drastis dengan 
revolusi telematika dimana (sebagai contoh) transaksi jual beli (trading deal) 
biji cokelat (cocoa bean) dan kacang mede (cashew nuts) di sulawesi 
selatan/tenggara yg bernilai puluhan hingga ratusan juta rupiah per transaksi 
antara petani/pedagang pengumpul/pedagang besar/ eksportir bisa berjalan 
OK/joss berdasarkan 'e-deal' via percakapan TEL/SMS/FAX/EMAIL.

Semoga TELKOM Tbk. akan mengimplementasikan layanan  'VideoPhone Conference' 
dengan kualitas & harga pass bagi para pelaku bisnis yg memang membutuhkannya 
sebagai substitusi 'temu muka konvensional/tradisional/primitif' yg di kalangan 
bisnispun tidak selalu lebih efisien secara biaya & waktu dibandingkan dengan 
'VideoPhone Conference'.

Kita bisa lihat bagaimana para pelanggar UU korupsi malah sedemikian efisiennya 
dalam menjalankan bisnis mereka dengan meminimalisir temu muka dengan 
komunikasi yang memiliki tingkat minimal untuk disadap baik legal maupun 
illegal (kasus anggodo versus bibit-hamzah adalah contoh vulgarnya :D).

Salam e-NKRI BerLogikaMaksimal yg masih tetap menunggu kapan 'Trilogi Omong 
Kosong Cincin Palapa Jilid 2' akan disajikan kembali kepada publik :D (dimana 
kendala utama PPP infra yg sukses saat ini adalah pencitraan NKRI yg justru 
selalu dibumihanguskan oleh mayoritas penguasa bisnis nya sendiri yg pro-status 
quo jago kandang anti-persaingan global)!

HM 


Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone





Internal Virus Database is out of date.
Checked by AVG.
Version: 8.0.101 / Virus Database: 270.4.0/1513 - Release Date: 22/06/2008 7:52

Kirim email ke