Kawan2 Anggota Milis Yth,

RIM diberitakan sudah siap dengan Solusi Akses Secure Data di BlackBerry 
Messaging (BBM) dan Email via BlackBerry Internet Server (BIS) yang berfungsi 
sebagai Proxy Server untuk layanan pelanggan BlackBerry di India, sebelum 
deadline tanggal 31 Januari 2011.

Sedangkan untuk layanan BlackBerry Enterprise Server (BES) RIM tidak bisa 
menyediakan akses Secure Data kepada Pemerintah India, sebab yang mengendalikan 
enkripsi datanya adalah para pelanggan BES itu sendiri, yaitu para 
Korporasi/Perusahaan besar yang berlangganan layanan ini. Ini adalah urusan 
antara Otorits Keamanan Pemerintah India dengan para Korporasi pelanggan BB 
sendiri, bukan urusan antara RIM dan Otorita Keamanan India.

Pemerintah India tidak menuntut RIM untuk melakukan Blocking atau Filtering 
konten yang dilewatkan melalui BIS, berbeda dengan tuntutan dari Pemerintah RI 
yang meminta Filtering/Blocking konten pornografi. Hal ini sudah disanggupi 
oleh RIM kepada Pemerintah RI.

Perlu difahami bahwa layanan BES sangat jarang dipakai baik di India maupun di 
Indonesia, sebab umumnya para pelanggan adalah pelanggan individu/retail, bukan 
pelanggan Korporasi atau Perusahaan dan lagi pula tarif-nya juga jauh lebih 
mahal.

Sedangan atas tuntutan India, seperti juga Indonesia, bahwa RIM harus 
meletakkan Server-nya di India, oleh RIM dijawab bahwa tuntutan itu tidak dapat 
dipenuhinya dengan alasan teknis bahwa Sistem Sekuriti yang digunakannya tidak 
memungkinkan hal itu dilakukan. Sistem ini identik digunakan RIM diseluruh 
dunia, bagi semua negara. Mungkin Pemerintah perlu meminta rincian Sistem 
Security RIM ini secara lebih detail, apakah memang secara teknis tidak mungkin.

Namun demikian sampai dengan berita ini ditulis, Pemerintah India belum 
memberikan komentar atas solusi yang ditawarkan oleh RIM itu.

Analisis Layanan RIM/BlackBerry di Indonesia:
Dalam kasus RIM vs India, RIM siap dengan solusi Akses Secure Data yang ada di 
BIS dan BBM messaging, namun untuk data yang di BES (Enterprise Server), mereka 
mengatakan bahwa kewenangan untuk membuka Secure Data di Server Enterprise ada 
di Perusahaan-perusahaan pengguna BES itu, bukan di BlackBerry/RIM. Untuk 
meminta Secure Data maka Otoritas Keamanan harus memintanya dari para 
perusahaan itu langsung. Ini dapat dilakukan tanpa harus pasang Server BB di 
negara India (ataupun Indonesia).Kami ingin berbagi pengalaman menarik pada 
hari Jumat y.l. tanggal 14 Januari 2011 saat ada Pertemuan Koordinasi tentang 
"Green ICT" di Kementrian BUMN yang dipimpin oleh bapak Farhan Helmy, 
Sekretaris Mitigation Working Group Dewan Nasional Perubahan Iklim. Sampai 
dengan 2-minggu y.l. beliau adalah satu-satunya pejabat di Kementrian BUMN yang 
belum memiliki ponsel BlackBerry, sehingga semua kawan2 lainnya mengeluhkan 
sulitnya ber-koordinasi dengan beliau. Akhirnya pak Farhan memutuskan untuk 
beli cicilan perangkat ponsel tercanggih BlackBerry yang ada, yaitu BlackBerry 
Storm, agar bisa berkoordinasi yang lancar di Kementrian BUMN.Situasi di 
Kementrian-kementrian lainnya dari Kabinet Indonesia Bersatu jilid-II kami 
perkirakan tidak jauh berbeda, ponsel canggih BlackBerry adalah perangkat yang 
paling efektif dan efisien untuk koordinasi bisnis. Kami perkirakan pak SBY 
juga memakainya, selain dari Apple iPad yang beliau pakai untuk berpidato atau 
Press Release. Ini adalah kenyataan bahwa betapa pentingnya Layanan BB di 
Indonesia.Pemerintah Indonesia memakai strategi untuk "menjerat" RIM agar mau 
sharing revenue dengan Indonesia melalui interpretasi Peraturan Perundangan 
Indonesia bahwa bisnis RIM ini termasuk bisnis ISP, sehingga RIM harus 
terdaftar sebagai ISP resmi dangan konsekuensi membayar BHP, Ppn, PPh, CSR, 
dsb.Pada awal perjanjian Kerjasama antar RIM dengan para Operator Seluler 
Indonesia, RIM dianggap sebagai Penyedia Aplikasi/Konten, bukan sebagai 
Operator ISP, karena RIM memanfaatkan jaringan ISP para operator Seluler ini, 
dan hanya menjual perangkat-perangkat ponsel BlackBerry di Indonesia. Jadi 
kalau ada kesalahan klasifikasi tentang model bisnisnya, ini bukanlah kesalahan 
RIM, tetapi kesalahan Operator Seluler mitra kerjanya di Indonesia.RIM merasa 
bahwa pihaknya telah memenuhi ketentuan perundangan Indonesia, yaitu membuka 
kantor cabang, memperkerjakan karyawan Indonesia, menampung developer software 
aplikasi BB asal Indonesia, membayar Bea Masuk, dan pajak2. RIM juga berjanji 
akan melakukan blocking/filtering konten pornografi yang melalui Server 
BIS.Lalu apakah para Operator Seluler mitra RIM itu merugi dalam menjalankan 
bisnis RIM di Indonesia dengan sharing revenue sesuai perjanjian mereka? 
Sebenarnya juga tidak, sebab besar kecil-nya profit operator Seluler itu 
ditentukan oleh besar-kecilnya tarif mereka ke pelanggan BB Operator Seluler 
masing-masing. Kalau mereka banting harga rendah demi meraih jumlah pelanggan 
yang makin besar, tentu bisa-bisa juga mereka menjadi rugi.Namun demikian, 
permintaan Pemerintah/Para Operator Seluler agar RIM membangun Server di 
Indonesia juga ada benarnya, untuk menghemat biaya transmisi data LN ke Kanada. 
Dari informasi, penggunaan data para pelanggan BB itu adalah sebanyak 100 
Mbytes/pelanggan/bulan. Kalau ada 3-juta pelanggan maka besarnya data yang hrus 
disalurkan per bulan adalah 300 Terabytes, yang disalurkan melalui saluran data 
LN dengan kecepatan minimal 2 Mbit/detik dari tiap operator Seluler. Jadi kalau 
Server RIM ada di Indonesia, maka akan ada penghematan sekitar 50%-nya.Yang 
cukup mengagetkan kita adalah pertumbuhan jumlah pelanggan BlackBerry di 
Indonesia yang mencapai 50.000 pelanggan per bulan. Ini adalah sebuah bisnis 
yang sangat menggiurkan, sebab aplikasi BB adalah "Killer Application" seperti 
yang kami sebutkan pada posting sebelumnya.
Rekomendasi buat Pemerintah RI:Lalu apakah rekomendasi kita pada perundingan 
dengan RIM pada hari Senin 17 Januari 2011?Menutup layanan BB bagi 3-juta 
pelanggan Indonesia bukanlah sebuah langkah yang bijaksana. Akan sangat banyak 
anggota masyarakat Indonesia yang merasa sangat dirugikan dengan kebijakan 
ini.Memberikan argumentasi yang kuat kepada RIM bahwa membangun Server RIM di 
Indonesia dapat menghemat biaya kedua-belah pihak, memperlancar layanan, dan 
sekaligus juga dapat memenuhi persyaratan "Lawful Interception" secara lebih 
mudah. Jadi ini adalah sebuah solusi yang WIN-WIN.Menetapkan bisnis Aplikasi BB 
di Operator Seluler sebagai bisnis ISP adalah kurang tepat, sebab tidak ada 
pasal atau ayat khusus yang menyebutkan tentang masalah ini dalam peraturan 
perundangan Indonesia saat ini. Penetapan ini adalah merupakan interpretasi 
sepihak, sebab diantara para pakar telematika masih ada perbedaan pendapat yang 
cukup tajam. Melakukan pemaksaan penetapan Layanan BB sebagai sebuah ISP dapat 
menimbulkan perlakuan yang DISCRIMINATORY, dan dapat membuat masyarakat dan 
para Investor takut melakukan innovasi dan kreativitas bisnis di Indonesia. Ini 
juga membuat takut pengusaha-pengusaha bisnis Internet Global untuk hadir 
secara fisik di Indonesia, seperti Salesforce.com, Google.com, Yahoo.com, 
Microsoft Exchange, HotMail, Apple.com, Nokia.com, dan lain-lainnya, sebab 
sewaktu-waktu mereka akan bernasib serupa dengan BB, dianggap sebagai ISP 
melalui interpretasi sepihak Peraturan Perundangan Indonesia yang ada.Lebih 
baik Pemerintah segera menyusun Peraturan Perundangan Baru yang akan mengatur 
bisnis-bisnis Aplikasi/Layanan yang serupa dengan BB ini, dengan pertimbangan 
bahwa Indonesia saat ini sudah memasuki Era CLOUD COMPUTING, dimana akan muncul 
innovasi-inovasi dan kreativitas-kreativitas baru yang dimungkinkan dengan 
hadirnya Cloud Computing ini, seperti layanan Software-as-a-Service (SaaS), 
Software-as-a-Platform (SaaP) dan Software-as-an-Infrastructure (SaaI).Mengajak 
RIM untuk bekerjasama dalam membangun industri manufaktur TIK dalam negeri, 
seperti membangun pabrik ponsel canggih BB di Indonesia dengan sasaran harga 
ponsel yang lebih murah namun dengan fitur yang tidak kalah canggih, bermitra 
dengan mitra-mitra lokal yang cukup mampu, seperti XIRKA, Panggung Elektronik, 
TRT, Hariff, PT INTI, LEN, IMO, ASUS, dll. Kalaupun RIM tidak bersedia, maka 
kita dapat bermitra dengan Vendor Global lainnya, seperti Samsung, Nokia, 
Huawei, ZTE, dan NEXIAN. Ini akan menggerus layanan RIM/BB di Indonesia dan 
menggantikannya dengan layanan tandingan yang didukung Pemerintah.Silahkan 
ditanggapi dan semoga bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara.


Wassalam,
S Roestam
Kunjungi http://mastel.wirenode.mobi dan http://mastel2020.wirenode.mobi
untuk info mutakhir perkembangan TIK via ponsel canggih BlackBerry Anda...

Kirim email ke