Menggulingkan
Nurdin Halid? Serahkan kepada Ical 

Oleh
Cardiyan HIS

 

Nurdin
Halid adalah sosok fenomenal bagaimana seorang anak manusia harus survive. Mana
mau dia disuruh turun. Sedangkan semasa di dalam bui saja dia bisa
mengendalikan PSSI. Ketua Umum PSSI, bagi Nurdin  Halid adalah segalanya. 
Jabatan kebanggaan yang
sangat prestisius apalagi setelah dirinya  dua kali menjadi terpidana dan 
beberapa kasus
lagi masih menghadang di depan. Lalu?

 

Bagaimana menggusur Nurdin Halid? Menurut penulis, ya
serahkan saja ke  Aburizal Bakrie (Ical), Ketua Umum Golkar. Lho ke Ical? Tentu 
saja,
karena “keberhasilan” timnas masuk final Piala AFF ybl diklaim Nurdin Halid 
adalah
karena kemampuan dirinya memimpin PSSI. Dan kemudian ada embel-embelnya, kata
Nurdin Halid lagi,  karena dukungan
Partai Golkar! Nurdin memang jagoan memanipulasi fakta. Ketika lawannya menekan
dengan jalur politik, Nurdin berkilah jangan mempolitisi sepakbola. Dan 
sebaliknya
manakala Nurdin mengklaim keberhasilan PSSI digadang-gadang berkat dukungan
Partai Golkar. 

Nurdin Halid sendiri memang kader Golkar “terpercaya”
 dan sudah menjadi rahasia umum menjadi “ATM
Berjalan” sejak jaman rejim Soeharto. Dan dalam rangka pemenangan Pemilu
Presiden 2014, Nurdin Halid telah ditunjuk Ical sebagai Ketua Pemenangan Pemilu
Golkar se Sulawesi. Bukan main! 

PSSI yang bulan Maret 2011 nanti akan  mengadakan Kongres antara lain agendanya 
“meresmikan”
Nurdin Halid sebagai Ketua Umum PSSI yang ketiga kali berturut-turut; telah
memakan korban-korbannya. Arifin
Panigoro (teman sekampus Ical di ITB, bahkan sama-sama dari jurusan Teknik
Elektro ITB),  yang memiliki PS Bandung
Raya dan menjadi pembina dan sponsor tetap kompetisi PSSI U-15 adalah salah
satu korban “kepiawaian” Nurdin Halid berorganisasi di PSSI (dan Golkar). 
George Toisutta, jenderal bintang 4
yang sekaligus KASAD yang nota bene puluhan tahun membina Persatuan Sepakbola
Angkatan Darat (anggota PSSI) juga tak lolos verifikasi Panitia Pemilihan PSSI
yang  nota bene kroni-kroni Nurdin Halid.

Dua tokoh kuat secara figur dan keuangan telah
dilindas kehebringan Nurdin Halid. Gebrakan Arifin Panigoro melalui Liga Primer
Indonesia (LPI) secara konsepsional dan komersial adalah bagus. Tetapi itu saja
tidak cukup karena “negara adidaya”  bernama FIFA lebih mendukung “perpanjangan
tangannya” di Indonesia yakni kompetisi Liga Super Indonesia (LSI) di bawah
Ketua Umum PSSI, Nurdin Halid. Hebatnya FIFA  pun tutup mata dengan Statuta 
FIFA yang
dimanipulasi oleh Nurdin Halid dan membolehkan “Nurdin good boy Halid”
terpidana dua kali dan beberapa kasus pidana bakal  menghadang di depannya; 
lolos verifikasi untuk
menjadi calon Ketua Umum PSSI 2011-2015. Sebuah pelecehan akal sehat tetapi
suatu fakta ini kehebatan kekuasaan Nurdin Halid.

Gerakan gusur Nurdin Halid melalui jaringan Facebook
dan Twitter yang telah mencapai jutaan tetap tak mampu menurunkan nyali Nurdin
Halid untuk mundur. Begitu pula ribuan demonstrasi para maniak sepakbola di
seluruh Indonesia nyata-nyata tidak efektif. Bahkan yang efektif  adalah slogan 
Nurdin Halid sendiri; “Saya
sangat mencintai demokrasi. Sederhana saja. Saya hanya bisa diturunkan oleh
anggota PSSI melalui Kongres PSSI”. Hebatnya, anggota-anggota PSSI sudah 
“disuap”
macam-macam mulai amplop, entertaintments, studi banding ke klub-klub Real
Madrid dan Manchester United  dan entah
apalagi.

Jadi untuk menggusur Nurdin Halid, menurut penulis hanya
dua cara saja yang akan sangat efektif:

Pertama;
serahkan kepada Ical, bosnya Nurdin Halid di Partai Golkar. Kalau Partai Golkar
ingin memenangi Pemilu 2014 sekaligus mencalonkan Ical jadi Presiden RI 2014,
jangan pelihara kader yang bermasalah seperti Nurdin Halid. Penggemar sepakbola
itu mayoritas pemilih muda yang nota bene menjadi sasaran utama garapan Partai
Golkar. Mana mau anak muda Indonesia memilih Partai Golar kalau juru kampanyenya
orang-orang bermasalah seperti Nurdin Halid atau bahkan Ical sendiri yang masih
bermasalah karena masih belum juga melunasi kewajiban kepada korban lumpur
Lapindo. Dari sekarang Ical sebaiknya meminta Nurdin Halid mundur dari
pencalonan Ketua Umum PSSI 2011-2015 demi misi yang lebih besar bagi Partai 
Golkar
memenangi Pemilu 2014dan Pilpres 2014.

Kedua;
sebenarnya lebih gampang lagi yakni pakai jalur hukum baik melalui KPK maupun
Polisi dan Jaksa. Mengapa? Karena Nurdin Halid hanya takut dengan urusan hukum 
pidana. Sedikitnya ada 2 (dua) bukti
pidana yang melilit dirinya. Yakni bukti aliran dana dari penetapan Pengadilan
di Samarinda bahwa Nurdin Halid dan Andi Darussalam menerima aliran dana korupsi
APBD dari terdakwa mantan manajer Persisam  masing-masing Rp. 100 juta dan Rp. 
80 juta. Kemudian
bukti pengakuan Hamka Yamdhu, mantan anggota DPR 2004-2009 dari Partai Golkar 
yang
juga mantan Bendahara PSSI pada Pengadilan Tipikor, bahwa Nurdin Halid menerima
dana Rp. 500 juta berupa suap cek pelawat pemenangan Miranda Goeltom, sebagai
Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia. 

Masalahnya Nurdin Halid pun tak bakalan tinggal
diam. Otak Nurdin barangkali sudah berpikir melampaui jamannya. Apalagi KPK,
Polisi dan Jaksa sering berolahraga “jalan di tempat” dari pada bergerak jalan
aktif mencokok para koruptor kelas kakap.

www.cardiyanhis.blogspot.com

 

  



Kirim email ke