Do Indonesia next better? Mulai dari kebebasan Pers kah ?

Ha-ha-ha-ha.  saat ini  komersialisasi Pers menjadi tumpuan utama,.. dan Pers 
bukanlah bebas nilai,. emangnya orang-orang yang berdalih kebebasan Pers adalah 
orang-orang tanpa dosa?,.
Substansi yang disampaikan Dipo Alam  lumrah sahaja,.. menuntut keadilan 
pemberiataan yang tidak hanya  satu sisi saja.

Setuju dengan Dipo Alam,. lagu say hello goodbye dan Jali-jali,.. begi pers 
yang 
memanipulasi kebenaran.

Salam,.






________________________________
Dari: nurcholid setiawan <[email protected]>
Kepada: Indonesia nextbetter <[email protected]>
Terkirim: Ming, 27 Februari, 2011 14:29:14
Judul: [indonesia] Re: Menyedihkan  Mantan Aktivis Kampus Menjadi Diktator  dan 
atau Koruptor

Msh "percaya" pd model pendidikan sekuler dan media massa sekuler zaman skrg?

Salam,
Nurcholid


"..Hasbunallah wa ni'mal wakiil."
(QS.Ali Imran 173) 
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّدٍ
________________________________

From:  Cardiyan HIS <[email protected]> 
Sender:  [email protected]
Date: Sun, 27 Feb 2011 11:42:59 +0800 (SGT)
To: <[email protected]>
ReplyTo:  [email protected] 
Subject: [indonesia] Menyedihkan  Mantan Aktivis Kampus Menjadi Diktator  dan 
atau Koruptor

 
Menyedihkan  Mantan Aktivis Kampus Menjadi Diktator  dan atau Koruptor
Oleh Cardiyan HIS 

Sejak lama kampus-kampus di Indonesia sudah bukan menjadi lembaga pendidikan 
lagi tetapi hanya lembaga ujian. Bahkan ditengarai ikut berperan juga sebagai 
pencetak koruptor dan atau diktator? Proses pendidikan karakter secara 
sistematis dan berkesinambungan adalah suatu keniscayaan. Tetapi kampus sering 
berkilah pendidikan karakter hanya buang-buang waktu dan duit.
 
Dipo Alam, Menteri Sekretaris Kabinet RI dilaporkan Media Group (“Metro TV” dan 
harian “Media Indonesia”) ke Bareskrim Mabes Polri. Karena waktu 3x24 jam yang 
diberikan “Metro TV” dan “Media Indonesia”  kepada Dipo untuk meminta maaf 
tidak 
juga dipergunakan  Ini sebagai buntut pernyataan Dipo Alam, agar memboikot 2 
media elektronik (“Metro TV” dan “TV One”) dan satu media cetak harian “Media 
Indonesia”,  yang dinilai selalu bersikap tendensius menjelek-jelekkan 
pemerintahan SBY.  Dipo Alam, menurut pengacara Media Group DR. OC Kaligis, SH, 
telah melanggar UU 14/2008 tentang “Keterbukaan Informasi Publik” dan UU 
40/1999 
tentang “Pers” pasal 4 ayat 2. 

Dalam pada itu, DR. Adnan Buyung Nasution, SH tak habis pikir.  Seorang Dipo 
Alam yang dulu dikenal sebagai seorang aktivis Ketua Dewan Mahasiswa UI 
1975-1976  ini berubah total menjadi seorang otoriter, seorang diktator. "Saya 
malu jadinya. Dipo Alam itu dulu seorang aktivis, saya ikut membela dia 
bersama, 
Hariman dan WS Rendra. Sebagai mantan aktivis kampus  seharusnya dalam jiwanya 
terbentuk segala sikap anti-otoriter. Lha kok sekarang dia dengan jabatannya 
sebagai Menteri Sekretaris Kabinet  menjadi sewenang-wenang," kata Buyung 
kepada 
sebuah statsiun televisi.
Fenomena Dipo Alam  ini semakin menambah gugatan masyarakat bahwa para mantan 
aktivis kampus terkenal di Indonesia diragukan integritasnya untuk menjadi agen 
perubahan Indonesia yang semakin terpuruk. Gugatan masyarakat ini semakin 
mengemuka karena sebelumnya ada mantan aktivis kampus ITB yang dipenjara karena 
kasus suap di Komite Pengawasan dan Perlindungan Persaingan Usaha. Dan awal 
Februari 2011 ada mantan aktivis kampus ITB yang ditahan KPK atas suap cek 
pelawat pemenangan Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia, Miranda Goeltom. 
Masyarakat pantas menggugat, alih-alih diharapkan menjadi agen perubahan yang 
kredibel, eh mereka malah menjadi diktator dan atau koruptor!  Bahkan para 
mantan aktivis kampus ITB yang pernah dipenjara gara-gara melawan rejim 
Soeharto 
kepada penulis mengungkapkan: “Saya sangat muak dan tak akan pernah mau 
membesuk 
sesama rekan aktivis kampus kalau mereka dipenjara karena kasus korupsi!”.
Nah, kalau yang jelek-jelek terekspose dari para mantan aktivis kampus, maka 
almamater  kampus dari anak durhaka itu ikut terseret-seret. Bahkan diduga 
kuat, 
ITB khususnya  ikut pula berperan besar dalam keterpurukan negara Indonesia 
tercinta ini menjadi negara penuh skandal memalukan. Sehingga Krisis Moneter 
yang mengawalinya telah meningkat menjadi Krisis Multi Dimensi hingga sekarang 
ini? (Cukuplah Kampus Mencetak Garong, HU “Pikiran Rakyat”, 5 Maret 2006). 


Barangkali penilaian itu memang terlalu ekstrim, karena dalam kenyataannya 
masih 
lebih banyak mantan aktivis kampus yang bermoral.  Sehingga akibat berita yang 
“diplintir” wartawan “Pikiran Rakyat” -----atas makalah saya di acara seminar 
yang diselenggarakan oleh Kabinet Mahasiswa ITB di Aula Timur ITB pada 4 Maret 
2006 itu------ saya sempat “dikeroyok” oleh dosen-dosen ITB sebagai penilaian 
yang sangat kejam. 

Almamater memang tak bisa disalahkan terus menerus. Tetapi kampus harus terus 
menerus diingatkan agar merenungi kembali sebagai lembaga pendidikan dan bukan 
lembaga ujian. Sebagai lembaga pendidikan, sebagai lembaga penjaga pilar-pilar 
kebenaran,  kampus harus memiliki visi kuat dalam menjalankan misi pendidikan 
mendidik mahasiswa yang berkarakter kuat disamping mengajar mahasiswa menjadi 
cerdas. Penekanan kepada bagaimana mendidik mahasiswa menjadi mahasiswa 
berkarakter kuat baru kemudian mahasiswa cerdas adalah sangat penting karena 
bangsa Indonesia sudah menjadi bangsa yang sedikit memiliki pemimpin yang 
berkarakter kuat untuk membawa Indonesia lolos dari krisis multi dimensi ini. 
Sulit membayangkan Indonesia sebagai negara besar kalau kampus papan atas yang 
diharapkan sebagai pionir tak mampu mendidik para mahasiswanya dengan visi dan 
misi yang berkarakter kuat, penuh idealisme, berjiwa nasionalisme Indonesia 
disamping cerdas.  
Untuk itu kampus juga harus memiliki para dosen yang berkarakter pendidik, 
berkarakter pelatih. Yang memiliki kesabaran dalam melakukan proses pendidikan 
kepada para mahasiswanya. Proses latihan yang sebanyak-banyaknya dan 
seluas-luasnya bagi para mahasiswa, jangan dipandang oleh para rektor dan 
jajarannya sebagai buang-buang waktu dan buang-buang duit. Tetapi ini semua 
adalah bagian dari bagaimana kampus papan atas yang memperoleh bahan baku 
lulusan SLA terbaik harus dapat mengimbanginya dengan memberikan nilai tambah 
tinggi menghasilkan sarjana yang berkarakter kuat, berintegritas tinggi, penuh 
idealisme, penuh nasionalisme Indonesia disamping cerdas.  
www.cardiyanhis.blogspot.com
http://id.linkedin.com/pub/cardiyan-his/20/742/2a6

Kirim email ke