Yang sangat perlu di check adalah apakah sang GB punya ilmu beneran atau cuma dongengan... Jika dongengan, tentu berpotensi tidak sesuai dengan fakta alam yang sebenarnya... Akibatnya juga tidak bisa dipakai untuk "mengenal permasalahan dengan baik" apalagi mencari solusinya... Yang beneran pun agaknya perlu dipilah lagi apakah ilmunya "konstruktif" atau "destruktif" untuk kehidupan... Yang destruktif, mungkin saatnya bagi mereka untuk minggir (moga-moga tidak diadili) atau memperbaiki ilmunya...
Salam Z 2011/3/31 Agus Purwanto <[email protected]> > beberapa tahun lalu, > saya khutbah Jumat > Robot dapat dijadikan sebagai ikon Perguruan Tinggi > tetapi setiap upaya robotisasi mahasiswa harus dilawan. > > salah satu materi khutbah yang membuat saya dicekal, > dilarang khutbah > > Jumat 25 Maret 2011 lalu > dalam khutbah Jumat di masjid kampus > saya bahas ilmu dan alam semesta > saya sampaikan juga, > "Dalam setiap pengukuhan Guru Besar, saya coba lihat buku atau naskah > pengukuhan GB-nya, > saya lihat apakah ada Publikasi di Jurnal Internasional setelah menempuh > studi S3-nya" > > Masjid harus diberdayakan, > termasuk mengontrol para calon GB dan GB itu sendiri. > apakah mereka telah memenuhi syarat substansial > bukan sekedar syarat formal administratif. > Maklum, tunjangan GB sekarang cukup besar > jadi harus dikontrol. > Masjid harus ikut mengawasi, > menumbuhkan rasa`malu bagi GB yang GB-GBan > yang pseudo-GB. > > maka, > menulislah para GB > untuk membuktikan ke-GB-an anda. > > Salam > >
