Terus terang dari dulu saya bertanya-tanya tentang efektifitas "ujian sejenak" yang diselenggarakan hanya 1-4 jam untuk mengukur penyerapan murid yang 6 bulan bahkan 3 tahun. Suatu kali memang merasakan sendiri kelemahannya ketika ikut ujian TOEFL. Ujian pertama memang hasilnya "jeblok" karena dalam kondisi ngantuk habis begadang... Ketika diulangi beberapa hari berikutnya, hasilnya sangat significant naiknya karena dalam kondisi cukup istirahat dan segar... Meski hambatan fisik & psikologis temporal tidak bisa dikatakan terjadi dalam skala mayoritas, namun memang perlu direnungkan kembali, "apa ujian di ujung pelajaran" yang sesaat dan tertulis tersebut cukup representatif untuk menguji kegiatan belajar mengajar yang terjadi selama 1 semester (6 bulan) apalagi untuk 3 tahun. Bukankah hampir semua kita disini (alumni Perg Tinggi) hanya ingat point-point pokok dari pengetahuan di Perg Tinggi dulu, yakni sebahagian besarnya sudah "hilang" dari kepala (kecuali kalau melihat buku kembali)... Lantas, akan bagaimana hasilnya jika diuji kembali?
Mengingat hal diatas, barangkali ada baiknya tidak diperlukan ujian apa-apa di sekolah Pak... Namun sang guru benar-benar aktif menilai kemampuan si murid selama pelajaran berlangsung... Sebutlah sistemnya, "on-teaching exam" (barangkali ada istilah educationya?). Memang, diperlukan extra perhatian dari sang guru sendiri terhadap masing-masing murid... Untuk tahap awal sepertinya agak sulit melaksanakannya, sebagaimana juga proses perubahan sistem lainnya... Insha Allah akan lancar setelah beberapa lama... Bukankah ini sekalian bermanfaat bagi sang guru untuk secara interaktif belajar psikologi proses penyerapan murid dan efektifitas pembelajarannya? Serta secara kontinu membantu mendorong murid lebih giat belajar. Salam Z 2011/5/2 Sumitro Roestam <[email protected]> > Pak Agus dan Kawan2 yth, > > Sejak awal memang terjadi kesalahan kebijakan Diknas yg merubah sampling > mutu pendidikan (tidak semua mata pelajaran dijuji) menjadi sebuah ujian > nasional. > > Seharusnya pakai sistem ujian kelulusan sekolah sistem lama, diserahkan > kepada masing2 sekolah. > > Sampling mutu ya tetap sampling mutu, bukan syarat kelulusan... > > Gitu saja kok, repot2? (Mungkin karena anggaran UN cukup besar dan > menggiurkan....?) > > Wassalam, > S Roestam > > Sent from my BlackBerry® > ------------------------------ > *From: * Agus Purwanto <[email protected]> > *Sender: * [email protected] > *Date: *Sun, 1 May 2011 05:59:57 -0700 (PDT) > *To: *<[email protected]>; <[email protected]>; < > [email protected]>; <[email protected]>; < > [email protected]>; <[email protected]>; < > [email protected]>; <[email protected]>; < > [email protected]>; <[email protected]>; < > [email protected]>; <[email protected]>; < > [email protected]>; <[email protected]>; <[email protected]>; > <[email protected]>; <[email protected]>; < > [email protected]>; <[email protected]>; < > [email protected]>; <[email protected]>; < > [email protected]>; <[email protected]>; widya utama< > [email protected]>; Agus Rubiyanto<[email protected]>; gatut ydyn< > [email protected]>; <[email protected]>; Darminto< > [email protected]>; <[email protected]>; Rohedi< > [email protected]>; Endarko<[email protected]>; < > [email protected]>; <[email protected]>; < > [email protected]>; <[email protected]>; < > [email protected]>; <[email protected]>; < > [email protected]>; <[email protected]>; < > [email protected]>; <[email protected]>; < > [email protected]>; <[email protected]>; < > [email protected]>; <[email protected]>; < > [email protected]>; <[email protected]>; < > [email protected]>; <[email protected]>; <[email protected]>; > <[email protected]>; <[email protected]>; < > [email protected]>; <[email protected]>; < > [email protected]>; <[email protected]>; < > [email protected]>; <[email protected]>; < > [email protected]>; <[email protected]>; < > [email protected]>; <[email protected]>; < > [email protected]>; <[email protected]>; < > [email protected]>; <[email protected]>; <[email protected]>; < > [email protected]>; <[email protected]>; <[email protected]>; > <[email protected]>; Husin Alatas<[email protected]>; < > [email protected]>; <[email protected]>; < > [email protected]>; <[email protected]>; < > [email protected]>; <[email protected]>; < > [email protected]>; <[email protected]>; <[email protected]>; > <[email protected]>; <[email protected]>; < > [email protected]>; <[email protected]>; < > [email protected]> > *ReplyTo: * [email protected] > *Subject: *[indonesia] Jangan lagi bertengkar > > kecurangan telah menjadi hukum dalam unas > "setiap unas diikuti kecurangan masif, sistemik dan diterima bersama" > > karena itu, > mari kita ubah mindset kita > agar tidak terjadi saling serang > sebaliknya, semua heppi > > kecurangan adalah kecurangan selama ia dipandang sebagai kecurangan > kecurangan adalah kewajaran jika diterima seperti sekarang > karena itu silahkan unas jalan terus > > unas adalah kewajaran > kecurangan juga kewajaran > keduanya tidak perlu dipertentangkan > keduanya dapat berjalan beriringan > membentuk karakter bangsa > > > Agus Purwanto > LaFTiFA ITS > http://purwanto-laftifa.blogspot.com > http://ayatayatsemesta.wordpress.com > > > >
