Sekedar mengingatkan kita pada diskusi di tahun 2008 mengenai ramalan
jatuhnya
dollar yang diposting Pak Roestam. ternyata itu sedang terjadi, dan
mungkin akan terjadi.
Wassalam.
On 24/10/2008 1:50, Achmad Chamdani Eka P. wrote:
Saya setuju sekali ide ini, mengganti cadangan USD dengan emas. Tetapi
kendala terbesar
masih teletak pada kebutuhan cadangan USD untuk perdagangan
internasional. Ada baiknya
Indonesia menelorkan inisiatif dengan negara negara non US & barat
untuk merubah alat tukar
perdagangan internasional tsb. dari USD misalnya menjadi Dinar yang
sejatinya adalah emas.
Saya yakin, sooner atau later, USD bakal runtuh. Sebab, bisa
dibayangkan kalau defisit US
semakin besar, tingkat kepercayaan terhadap USD akan melemah dan
menimbulkan gelombang
kepanikan (Secara komulatif, saat ini saja sudah hampir mendekati 1
tahun GDP mereka).
Hal ini akan terjadi seiring dengan semakin merosotnya porsi ekonomi
US terhadap
ekonomi dunia (walapun sekarang masih besar, kekuatan mereka sekitar
1/3 ekonomi dunia).
Ibarat buih, cepat mengembang, tetapi kapan rentan untuk pecah.
Salam.
S Roestam wrote:
Dollar AS adalah sebuah sistem matauang yang dirancang untuk
memperbudak masayarakat Dunia, sebab sejak tahun 1971 oleh Presiden
Nixon dari AS matauang itu dilepaskan dari ikatan dengan Keping Logam
Emas sebagai garansi Nilai Dollar itu. Kemudian dari tahun ke-tahun
matauang Dollar AS ditopang oleh sistem pedagangan Internasional
melalui penggunaan matauang itu sebagai satu-satunya alat transaksi
perdagangan Internasional.
Oleh karena itu diwajibakan bagi negara-negara lain untuk memiliki
Cadangan Devisa Dollar AS di Bank Sentral masing-masing negara
sebagai penjamin kemampuan negara itu untuk membayar utang dagang
mereka. Keadaan ini dimanfaatkan oleh Pemerintahan Amerika Serikat,
terutama oleh Presiden George W. Bush untuk mengeduk keuntungan besar
dari disimpannya dana-dana US Dollar di Bank-bank Sentral diseluruh
Dunia. Pemerintah AS kemudian dengan mudahnya mencetak kertas-kertas
uang Dollar Baru tiap kali negaranya membutuhkannya untuk berbagai
keperluan, seperti pembangunan negerinya, Perang Irak dan Afganistan,
bantuan ke Israel sebagai kepanjangan tangannya untuk mendominasi
kekuasaan di Timur Tengah, pembangunan tempat penyiksaan di
Guantanamo dan Abu Ghraib, operasi-operasi intelejen di berbagai
negara dan lain-
lain lagi.
Defisit anggaran belanja Pemerintah AS saat ini sudah mencapai lebih
dari US$450 Milyar pertahun dan terus bertambah. Secara kumulatif
nilai defisit Anggaran Pemerintah AS sudah mencapai US$11,3 Trilyun.
Apalagi dengan keputusan Bailout Wall Street sebesar US$700 Milyar,
ditambah penyuntikan dana ke American International Group (AIG)
sebesar US$89 Milyar, pembelian saham-saham institusi keuangan AS
yang rontok akibat Krisis Finansial 2008 sebesar US$250 Milyar. Dari
mana datangnya bantuan liquiditas itu? Tak lain dan tak bukan adalah
dengan terus
mencetak uang Dollar oleh The Fed (Sentral Bank AS). Masuknya
milyaran Dollar uang kertas Dollar baru ini tidak terasa karena
Bank-bank Sentral negara-negara lain terus saja menimbun US Dollar di
Kas mereka dengan dalih sebagai Cadangan Devisa masing-masing negara.
Bahaya yang akan dialami Matauang Dollar AS bila akhirnya uang-uang
itu kembali ke sirkulasi di Dalam Negeri AS, akan mengakibatkan
terjadinya Inflasi di AS yang akan segera merembet keseluruh dunia
karena mereka tidak ingin lagi menyimpan uang kertas Dollar sebagai
cadangan Devisa, sebab nilainya akan turun terus dan tidak ada
lempengan Emas sebagai jaminannya.
Nilai Dollar AS yang over-valued ini suatu hari pasti akan runtuh,
seperti diramalkan diatas, menimbulkan gelombang kepanikan masyarakat
AS dan Dunia. Mereka berlomba-lomba membuang Dollar AS itu dengan
membeli aset2 atau apa saja yang dapat dibeli. Terjadi rush yang
makin menurunkan nilai Dollar AS itu. Yang dirugikan umumnya adalah
masyarakat awam yang tidak siap menghadapi peristiwa ini. Mereka akan
kehilangan simpanan dan aset mereka, karena turunnya nilai Dollar AS
itu. Ini adalah kerugian yang harus dibayar mahal masyarakat, dari
hasil The Fed yang mencetak terus-menerus Kertas2 Dollar AS itu tanpa
ada jaminan apa-apa.
Pemerintah AS dan sekutunya dapat saja mencegah terjadinya "rush"
ini, dengan terlebih dahulu mencetak uang Dollar AS Baru yang diikat
nilainya dengan lempengan-lempengan Emas, serta menyatakan bahwa
nilai US$1 yang baru = US$1 yang lama, atau perbandingan nilai 1:1
yang hanya berlaku dinegerinya dan sekutunya. Kemudian Pemerintah AS
dapat saja menyatakan bahwa untuk uang-uang Dollar AS lama yang
disimpan di negara-
negara lain, dinyatakan bahwa nilainya tergantung dari supply-demand
sesuai Pasar Bebas. Ini dapat memicu turunnya nilai Dollar AS lama
menjadi 1/5, 1/10, 1/100 atau 1/1000 nilai Dollar AS Baru, dengan
akibat kerugian besar masyarakat Dunia lainnya.
Untuk menghindari kejadian ini, Pemerintah Indonesia hendaknya segera
melepaskan Matauang Rupiah dari ikatan dengan Dollar AS, dan
merubahnya menjadi ikatan dengan lempengan-lempengan Emas yang
disimpan di Bank Indonesia sebagai jaminan atas nilai tukar Matauang
Rupiah. Ini adalah sebuah langkah agar negeri ini tidak menjadi sapi
perahan untuk
membiayai berbagai kebutuhan Pemerintah AS yang tidak ada untungnya
bagi bangsa Indonesia.
Silahkan ditanggapi.
Semoga bermanfaatl
Wassalam,
S Roestam
Lihat artikel lengkap di http://presidenku.com
--
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi
serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan
akhirat.
Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
--
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat.
Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt