Kawan2 Anggota Milis Yth,
Kita saat ini sudah berada pada Era Broadband, dimana untuk Fixed Broadband
sudah dapat dicapai kecepatan transmisi rata-rata diatas 10 Mbps (bisa diatas
100 Mbps bila digunakan kabel serat optik), sedangkan untuk Mobile Broadband
kita sudah banyak menerapkan layanan 3G dengan kecepatan transmisi puncak
sebesar 14,7 Mbps (untuk satu pengguna, tetapi menurun secara proposional bila
penggunanya bertambah).
Namun pada kenyataannya untuk Mobile Broadband, kecepatan transmisi secara
efektif masih jauh dibawah 1 Mbps, karena besarnya pengguna layanan Seluler di
Indonesia, yang mencapai hampir 200-juta perangkat seluler, sedangkat pita
frekwensi yang dialokasikan bagi tiap operator seluler tidak lebih besar dari
15 MHz total (3x5 MHz).
Beruntung bahwa Pemerintah akhirnya membolehkan para Pemenang Tender Broadband
Wireless Access (BWA) untuk memilih teknologi netral, apakah 16d (fixed) atau
16e (nomadic/mobile)., dimana mayoritasnya akan memilih 16e disebabkan oleh
keunggulan teknologinya dan sudah makin murahnya perangkat terminal pelanggan
(CPE). Dengan demikian dapat diharapkan bahwa Data Overload yang selama ini
terjadi pada jaringan Mobile Broadband 3G dapat di Off-load ke jaringan BWA
melalui kerjasama yang WIN-WIN diantara operator Seluler dan Operator BWA yang
jumlahnya 5 operator tersebut.
Diperkirakan dalam waktu 3-5 tahun mendatang, kecepatan transmisi untuk Mobile
Broadband 4G dapat ditingkatkan menjadi 100 Mbps saat bergerak dan 1000 Mbps
saat stasioner, sesuai definisi 4G menurut ITU, dimana perangkat-perangkatnya
yang sudah teruji di laboratorium adalah perangkat LTE Advanced dan WiMAX 2.0
atau Standar IEEE 802.16m.
Pada sebuah kesempatan pertemuan di DEPKOMINFO, penulis sempat menyarankan
kepada Bapak Menkominfo agar Indonesia segera memanfaatkan Telework atau
Homeworking menggunakan jaringan Broadband yang ada, dimana akan dapat dicapai
peningkatan produktivitas nasional dan penghematan biaya transportasi dari/ke
kantor, penghematan waktu perjalanan yang bisa mencapai 3-4 jam perjalanan tiap
hari,
Jawaban yang klasik baik di Indonesia maupun di banyak negara lain, adalah
bahwa para Eksekutif belum bisa mempercayai apakah dengan diberlakukannya
Telework para pekerja jarak jauh itu akan berkerja dengan lebih rajin dan
tekun, dan bukan malah bermalas-malasan, sehingga tujuan peningkatan
produktivitas itu tidak akan tercapai.
Terlepas dari masih ragunya para Eksekutif ini dalam menerapkan Telework,
seorang Ahli Teknologi dan Inovasi dari Perusahaan Force 3, yaitu Mr. Chris
Knotts, membuat 10-ramalan tentang Telework di tahun 2021, dimana telework
menjadi budaya kerja sehari-hari masyarakat, sbb:
Para Operator Wireless akan meningkatkan kecepatan transmisinya
menyamai Fixed Broadband, sesuai uraian kami tersebut diatas.
Pengguna jaringan telekomunikasi akan selalu "Online". Tidak akan ada
lagi istilah off-line, karena semua pengguna akan selalu tersambung ke jaringan.
Komputer Tablet akan menggantikan PC dan Laptop, karena ukurannya yang
semakin tipis dan ringan (seperti Mac Book Air dan iPad 2), serta akan dapat
dilipat (Sony Tablet S). Akan muncul Smartphone yg dapat dilipat-lipad,
kemudian dapat dibuka menjadi selebar sampai 50-inchi, tanpa keyboard dan hanya
ada tombol on-off. Tanpa storage fisik, karena semua data ada di "Cloud"
Internet.
Semua software aplikasi akan disimpan di "Cloud" Internet.
Semua software aplikasi akan dikemas sebagai Software as a service
(SaaS) yang disewa bebasiskan penggunaannya dan tidak ada lagi paket-paket
software khusus yang mahal, seperti SAP di pasang di server pelanggan.
Text Messaging seperti SMS, IM, Chat, email akan tetap exist.
Video 3D akan menjadi tampilan layar pada tiap perangkat, dan menjadi
hal yang biasa. Akan sering dilakukan Video Conferencing diantara para pekerja
Telework dari rumah masing-masing tiap saat, sehinggan memaksa mereka selalu
mandi dan berdandan agar terlihat rapi dan cantik/tampan saat ada video
conferencing.
Sistim transmisi BlueTooth untuk menghubungkan pengguna ke earphone
akan ditinggalkan, sebab banyak yang memasang perangkat penerima audio dengan
menanamkannya kedalam tubuh pengguna (implant). Ini seperti anak2 muda sekarang
yang suka pasang anting-anting di telinga, hidung atau bibir...
Akan muncul kelompok-kelompok yang tidak ingin terus-menerus tersambung
ke jaringan telekomunikasi/grid. Mereka ingin bebas dari gangguan komunikasi
dan mencari ketenangan hidup.
Generation Gap antara yang tua dan yang muda akan makin berjarak jauh.
Yang muda makin mahir dalam mengadopsi teknologi, sedangkan yang tua akan makin
sulit untuk mengejar ketertinggalannya.
Silahkan ditanggapi
(Trims buat pak Ardi Sutedja atas infonya)
Wassalam,
S Roestam
http://mastel.wordpress.com