Rasanya kunci dari berhasilnya usaha untuk "distribution of work," adalah pemilahan jenis pekerjaan yang bisa dilakukan di luar setting kantor biasa. Sebagai pemimpin kita punya kecendrungan untuk senan tiasa dikelilingi anak-buah. Dari rumah, dalam perjalanan, di kantor, dan bahkan kalau sedang tugas ke luar kota, lihat saja bagaimana para pemimpin perusahaan Indonesia selalu didampingi entah apa itu aspri atau staff khusus. Jadi saya tidak heran kalau mereka kurang PD dengan konsep Telework. Tapi banyak pekerjaan yang sebenarnya bisa di ukur produktifitasnya walaupun kita tidak mengamati para pekerjanya.
Di Amerika sudah umum kalau mereka memperkerjakan tenaga part-timer terutama ibu rumah tangga untuk menjadi call center agent. Jadi mereka dilengkapi sambungan ke komputer dan telepon sehingga bisa memproses entah itu keluhan atau pembelian produk lewat telepon dari pelanggan atau calon pelanggan. Mereka ini murni kerja dair rumah. Tapi karena karena "measurement" seperti Abandon Call, Speed to Answer, selain jumlah call yang ditangani per bulan, supervisor bisa mengetahui mereka itu benar-benar bekerja atau tidak. Tapi di Indonesia rasanya harus dikembangkan bukan work from home tapi work from daerah. Bagaimana kita bisa mendukung desentralisasi dari kota-kota metropolitan ke daerah-daerah untuk mengimbangi pembangunan yang lebih merata. Jadi dalam contoh call center diatas, alangkah lebih baik kalau bank-bank membangun call center di daerah. Langgan di Jakarta kan tidak perlu tahu yang angkat teleponnya ada dimana. Yang penting masalah mereka bisa diatasi segera. Dan ini bisa dengan teknologi yang ada sekarang. Yang perlu kesungguhan dari pihak otoritas untuk membuat "price parity" atas layanan sambungan broadband ini kemana saja di Indonesia. Contoh lain yang bisa kembangkan adalah bisnis pengolahan (business process). Procurement atau istilah yang lebih umum dipakai biro logistik, sebenarnya ada tiga proses utama, pembelian, penerimaan, dan pembayaran. Harus ada pemisahan tanggung jawab agar tidak terjadi kolusi. Jadi proses flow-nya adalah, pembelian mengeluarkan PO/Purchase Order untuk membeli barang yang sudah disepakati harganya. Penerima barang yang mengeluarkan Delievery Report pada saat barang yang dibeli sudah lengkap diterima. Tagihan dari supplier nantinya harus dicocokan dengan PO dan DR baru bisa dibayar. Bisnis proses diatas kelihatannya gampang, tapi bisa sangat rumit karena apa sudah disepakti bisa berubah dengan atau tanpa persetujuan buyer misalnya. Karena ada kelainan antara barang yang dibeli dengan yang diterima, maka harusnya pihak pembayar tidak boleh membayar tagihan tanpa ada referal, atau acc dari buyer. Kembali harus ada "measurement" agar pimpinan biro logistik, bisa tahu apakah anak buahnya kerja dengan baik. Dan salah satu "measurement" ini adalah tingkat "referal" yang kecil persentasenya. Karena bisnis proses logistik ini sudah baku dengan segala "measurement" yang bisa dipakai untuk menilai produktifitas karyawannya, maka tidaklah sulit untuk dipindahkan ke daerah. Lagi-lagi dengan sambungan broadband agar mereka bisa akses sistim dan bertelepon-ria dengan para supplier di kota-kota besar. Contoh barang toh bisa dikirim pakai TIKI, lagi pula yang namanya buyer, tidak boleh bersinggungan langsung dengan supplier supaya tidak "luntur." Masih banyak unit-unit kerja lainnya yang bisa dipikirkan untuk di "spin off." Intinya kita harus punya "measurement" agar bisa menilai kinerja karyawan kita yang bekerja tanpa bisa kita awasi setiap hari. Kalau sudah terbentuk kepercayaan ini, maka untuk memperbolehkan mereka kerja di rumah, tinggal selangkah lagi. Regards, Deva (masih 50-50, kerja di kantor dan kerja dari rumah) From: S Roestam <[email protected]> To: <[email protected]> Date: 09/02/2011 11:55 AM Subject: [indonesia] TELEWORK sepuluh tahun mendatang (Tahun 2021) Sent by: [email protected] Kawan2 Anggota Milis Yth, Kita saat ini sudah berada pada Era Broadband, dimana untuk Fixed Broadband sudah dapat dicapai kecepatan transmisi rata-rata diatas 10 Mbps (bisa diatas 100 Mbps bila digunakan kabel serat optik), sedangkan untuk Mobile Broadband kita sudah banyak menerapkan layanan 3G dengan kecepatan transmisi puncak sebesar 14,7 Mbps (untuk satu pengguna, tetapi menurun secara proposional bila penggunanya bertambah). Namun pada kenyataannya untuk Mobile Broadband, kecepatan transmisi secara efektif masih jauh dibawah 1 Mbps, karena besarnya pengguna layanan Seluler di Indonesia, yang mencapai hampir 200-juta perangkat seluler, sedangkat pita frekwensi yang dialokasikan bagi tiap operator seluler tidak lebih besar dari 15 MHz total (3x5 MHz). Beruntung bahwa Pemerintah akhirnya membolehkan para Pemenang Tender Broadband Wireless Access (BWA) untuk memilih teknologi netral, apakah 16d (fixed) atau 16e (nomadic/mobile)., dimana mayoritasnya akan memilih 16e disebabkan oleh keunggulan teknologinya dan sudah makin murahnya perangkat terminal pelanggan (CPE). Dengan demikian dapat diharapkan bahwa Data Overload yang selama ini terjadi pada jaringan Mobile Broadband 3G dapat di Off-load ke jaringan BWA melalui kerjasama yang WIN-WIN diantara operator Seluler dan Operator BWA yang jumlahnya 5 operator tersebut. Diperkirakan dalam waktu 3-5 tahun mendatang, kecepatan transmisi untuk Mobile Broadband 4G dapat ditingkatkan menjadi 100 Mbps saat bergerak dan 1000 Mbps saat stasioner, sesuai definisi 4G menurut ITU, dimana perangkat-perangkatnya yang sudah teruji di laboratorium adalah perangkat LTE Advanced dan WiMAX 2.0 atau Standar IEEE 802.16m. Pada sebuah kesempatan pertemuan di DEPKOMINFO, penulis sempat menyarankan kepada Bapak Menkominfo agar Indonesia segera memanfaatkan Telework atau Homeworking menggunakan jaringan Broadband yang ada, dimana akan dapat dicapai peningkatan produktivitas nasional dan penghematan biaya transportasi dari/ke kantor, penghematan waktu perjalanan yang bisa mencapai 3-4 jam perjalanan tiap hari, Jawaban yang klasik baik di Indonesia maupun di banyak negara lain, adalah bahwa para Eksekutif belum bisa mempercayai apakah dengan diberlakukannya Telework para pekerja jarak jauh itu akan berkerja dengan lebih rajin dan tekun, dan bukan malah bermalas-malasan, sehingga tujuan peningkatan produktivitas itu tidak akan tercapai. Terlepas dari masih ragunya para Eksekutif ini dalam menerapkan Telework, seorang Ahli Teknologi dan Inovasi dari Perusahaan Force 3, yaitu Mr. Chris Knotts, membuat 10-ramalan tentang Telework di tahun 2021, dimana telework menjadi budaya kerja sehari-hari masyarakat, sbb: 1. Para Operator Wireless akan meningkatkan kecepatan transmisinya menyamai Fixed Broadband, sesuai uraian kami tersebut diatas. 2. Pengguna jaringan telekomunikasi akan selalu "Online". Tidak akan ada lagi istilah off-line, karena semua pengguna akan selalu tersambung ke jaringan. 3. Komputer Tablet akan menggantikan PC dan Laptop, karena ukurannya yang semakin tipis dan ringan (seperti Mac Book Air dan iPad 2), serta akan dapat dilipat (Sony Tablet S). Akan muncul Smartphone yg dapat dilipat-lipad, kemudian dapat dibuka menjadi selebar sampai 50-inchi, tanpa keyboard dan hanya ada tombol on-off. Tanpa storage fisik, karena semua data ada di "Cloud" Internet. 4. Semua software aplikasi akan disimpan di "Cloud" Internet. 5. Semua software aplikasi akan dikemas sebagai Software as a service (SaaS) yang disewa bebasiskan penggunaannya dan tidak ada lagi paket-paket software khusus yang mahal, seperti SAP di pasang di server pelanggan. 6. Text Messaging seperti SMS, IM, Chat, email akan tetap exist. 7. Video 3D akan menjadi tampilan layar pada tiap perangkat, dan menjadi hal yang biasa. Akan sering dilakukan Video Conferencing diantara para pekerja Telework dari rumah masing-masing tiap saat, sehinggan memaksa mereka selalu mandi dan berdandan agar terlihat rapi dan cantik/tampan saat ada video conferencing. 8. Sistim transmisi BlueTooth untuk menghubungkan pengguna ke earphone akan ditinggalkan, sebab banyak yang memasang perangkat penerima audio dengan menanamkannya kedalam tubuh pengguna (implant). Ini seperti anak2 muda sekarang yang suka pasang anting-anting di telinga, hidung atau bibir... 9. Akan muncul kelompok-kelompok yang tidak ingin terus-menerus tersambung ke jaringan telekomunikasi/grid. Mereka ingin bebas dari gangguan komunikasi dan mencari ketenangan hidup. 10. Generation Gap antara yang tua dan yang muda akan makin berjarak jauh. Yang muda makin mahir dalam mengadopsi teknologi, sedangkan yang tua akan makin sulit untuk mengejar ketertinggalannya. Silahkan ditanggapi (Trims buat pak Ardi Sutedja atas infonya) Wassalam, S Roestam http://mastel.wordpress.com
