----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


PERWIRA POLISI TEMBAK WARGA SIPIL, ABRI TERANCAM PECAH

        AMBON (SiaR, 2/3/99), Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI)
terancam pecah setelah tiga perwira polisi menembak mati 3 warga di sekitar
rumah ibadah (mushola) di dusun Ahuru, Ambon, Senin (1/3) subuh pukul 05.00
WIT. Tokoh ulama Maluku HM Yusuf Ely menilai penembakan warga sipil oleh
anggota POLRI itu sebagai tindakan keberpihakan aparat dalam mengatasi
kerusuhan Ambon yang jadi berlarut-larut.

        Kecurigaan warga sipil yang bertikai bahwa aparat keamanan berpihak
mula-mula disuarakan para tokoh agama dan tetua adat menyusul insiden di
dusun Waimital pada pertengahan Pebruari 1999 lalu. Ketika itu 7 warga sipil
dusun Waimital tewas dieksekusi aparat dari kesatuan Kostrad yang dikirim
dari Kodam Wirabuana Ujungpandang. Menurut siaran pers Persekutuan
Gereja-gereja di Indonesia yang diterima SiaR, warga sipil tersebut
dieksekusi oleh pasukan Kostrad yang sebelumnya telah membentuk formasi siap
tempur huruf L.

        Jika dalam insiden Waimital, pasukan Wirabuana yang menembak mati warga
sipil itu berasal dari etnis Bugis-Buton-Makassar, maka sebaliknya, dalam
kasus di dusun Ahuru, ketiga oknum polisi yang menembak warga sipil, yakni
Kapten (Pol) JW, Kapten (Pol) LS, dan Kapten (Pol) ES ditengarai sebagai
berasal dari etnis Maluku.

        Indikasi telah muncul bibit-bibit perpecahan di tubuh kesatuan-kesatuan
ABRI itu semakin tampak ketika terjadi penyerangan massa Kelurahan Kudamati
ke Asrama Tentara Kelurahan OSM, Senin (1/3) malam sekitar pukul 22.00 WIT,
sejumlah saksi mata menyebutkan beberapa anggota militer dan polisi setempat
turut bersama warga menyerbu Asrama Tentara Kelurahan OSM.

        "Anggota militer dan polisi yang ikut bersama warga sipil penyerbu
itu adalah mereka yang ingin balas dendam atas tewasnya anggota keluarga
mereka selama kerusuhan ini," ucap Sapulete, seorang tetua adat.

        Akibat penembakan warga sipil di dusun Ahuru, Forum Silaturahmi Ulama dan
Pengasuh Pondok Pesantren Indonesia (Fosuppi) melalui ketuanya KH Hasib
Wahab Chasbullah dan Sekretaris umum KH Hamdan Rasyid menuntut
Menhankam/Pangab Jenderal TNI Wiranto untuk mengundurkan diri dari
jabatannya, jika memang aparat keamanan dinilai tidak mampu menyelesaikan
dengan segera kerusuhan di bebarapa daerah, termasuk di Ambon.

        Terhadap indikasi adanya perpecahan di antara pasukan ABRI yang mengamankan
kerusuhan Ambon, Kapuspen ABRI Mayjen Syamsul Ma'arif membantah hal itu.
"Kita masih kompak kok. Siapa bilang pecah," katanya menjawab pertanyaan
para wartawan.***

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 2 Mar 1999 jam 11:56:30 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke