----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 09/II/11-17 Maret 99
------------------------------

KREDIT MACET GEROGOTI BANK MANDIRI

(EKONOMI): Bank Mandiri tak juga berdiri. Kendalanya: kredit macet anak-anak
Soeharto dan kroni-kroninya menjerat likuiditas empat bank pemerintah itu.

Rencana merger (penggabungan) empat bank pemerintah: Bank Bumi Daya, Bank
Dagang Negara, Bapindo dan Bank Exim tak terdengar lagi. Mungkin, terlibas
isu lain yang lebih besar: soal likuidasi puluhan bank dan skandal di
belakangnya. Mengapa rencana merger itu macet? Ada banyak faktor, direksi
bank-bank yang akan merger itu kebanyakan menolak rencana pemerintah itu,
kedua protes puluhan ribu karyawan empat bank itu. Kendati pemerintah akan
memberi pesangon yang besar, puluhan ribu karyawan itu enggan melepas
pekerjaannya. Apalagi tersebar kabar, Bank Mandiri yang dipimpin Mar'ie
Muhammad (Presiden Komisaris) dan Robby Djohan (Direktur Utama) itu akan
merekrut para profesional mantan karyawan bank-bank swasta yang dilikuidasi.
Mereka bisa digaji lebih murah dan bisa bekerja lebih profesional.

Namun, ihwal yang paling memusingkan Mar'ie adalah kredit keluarga Soeharto
dan para pengusaha kroninya yang numpuk dan macet. Mar'ie pernah mengakui
soal ini dan dengan nada rendah mengatakan akan menagih kredit itu, siapapun
debiturnya. Artinya, ia akan  berhadapan dengan keluarga Soeharto dan para
pengusaha yang hingga kini masih berkawan dengan penguasa baru.

Empat bank pemerintah itu akan merger jadi Bank Mandiri, namun karena kredit
macet yang jumlahnya luar biasa, penggabungan empat bank itu tertunda.
Sumber di Bank Indonesia menyebutkan, Bank Mandiri mustahil akan jadi bank
yang sehat dan baik karena beban kredit-kredit macet itu. Para pengamat
perbankan yang dihubungi Xpos juga memandang dengan pesimistis, Bank Mandiri
nantinya akan menjadi bank yang baik. Mar'ie, mantan Menteri Keuangan yang
sering bertengkar dengan anak-anak Soeharto itu dikabarkan pusing tujuh
keliling menangani kredit-kredit macet di empat bank calon Bank Mandiri itu.
"Empat bank itu tak sehat lagi, kalau digabung jadinya ya bank sakit. Lebih
mudah menutup keempat bank itu daripada menggabungkannya," ujar seorang
bankir. Jadi, bagaimana? Ya, tagih kredit-kredit macet itu dan disita
kekayaan pemiliknya. "Kalau perlu kejar hingga ke akherat," ujar seorang bankir.

Berikut ini Daftar 50 Debitur Besar Empat Bank Pemerintah itu:

BANK BUMI DAYA
Great River International (Sunyoto Tanudjaya)           Rp 11,4 milyar
Indofood Sukses Makmur (Soedono Salim)                  Rp 10,7 milyar
Timor Putra Nasional (Hutomo Mandala Putra)             US$ 300 juta
Sempati (Hutomo Mandala Putra)                          Rp 1,5 triliun
Catur Swasakti (Aburizal Bakrie)                        Rp 1,1 triliun
Arooban (Prayogo Pangestu)                              Rp 2,5 triliun
Trance Pacipic Indotama (Hasyim Jojohadikusumo)         Rp 500 milyar
PT Astra International (Publik)                         Rp 64,8 milyar
Apao Centertex Corp (Bambang Trihatmodjo)               Rp 598,6 milyar
Bakrie Brothers (Aburizal Bakrie)                       Rp 105,8 milyar
Matahari Putra Prima (Hari Darmawan)                    Rp 17,4 milyar
Barito Pasific Timber (Prayogo Pangestu)                Rp 102,3 milyar
HM. Sampurno (Putra Sampurno)                           Rp 77,3 milyar
Indofood Sukses Makmur (Soedono Salim)                  Rp 37,9 milyar
Astra International (Publik)                            Rp 99,3 milyar
Mustika Ratu (Moerjati Soedibdyo)                       Rp 3,7 milyar
Hanson Industri Utama (Benny Cokro Saputro)             Rp 41 milyar
Sumalindo Lestari Jaya (Astra International)            Rp 694 milyar
Bimantara Citra (Bambang Trihamodjo)                    Rp 10 milyar

BANK DAGANG NEGARA
Catur Swasakti (Aburizal Bakrie)                        Rp 1,1 triliun
Arooban (Prayogo Pangestu)                              Rp 2,5 triliun
Trance Pacipic Indotama (Hasyim Jojohadikusumo)         Rp 500 milyar
PT Astra International (Publik)                         Rp 64,8 milyar
Apao Centertex Corp (Bambang Trihatmodjo)               Rp 598,6 milyar
Bakrie Brothers (Aburizal Bakrie)                       Rp 105,8 milyar
Matahari Putra Prima (Hari Darmawan)                    Rp 17,4 milyar
Barito Pasific Timber (Prayogo Pangestu)                Rp 102,3 milyar
HM. Sampurno (Putra Sampurno)                           Rp 77,3 milyar
Indofood Sukses Makmur (Soedono Salim)                  Rp 37,9 milyar
Astra International (Publik)                            Rp 99,3 milyar
Mustika Ratu  (Moerjati Soedibdyo)                      Rp 3,7 milyar
Hanson Industri Utama (Benny Cokro Saputro)             Rp 41 milyar
Great River International (Sunyoto Tanudjaya)           Rp 11,4 milyar
Indofood Sukses Makmur (Soedono Salim)                  Rp 10,7 milyar
Timor Putra Nasional (Hutomo Mandala Putra)             US$ 300 juta
Sempati (Hutomo Mandala Putra)                          Rp 1,5 triliun
Catur Swasakti (Aburizal Bakrie)                        Rp 1,1 triliun
Arooban (Prayogo Pangestu)                              Rp 2,5 triliun
Timor Putra Nasional (Hutomo Mandala Putra)             US$ 100 juta
Sumalindo Lestari Jaya (Astra International)            Rp 694 milyar
Bimantara Citra (Bambang Trihamodjo)                    Rp 10 milyar
Plaza Indonesia Raelity (Bambang Trihatmodjo)           Rp 160,5 milyar
Bakrie Brother (Aburizal Bakrie)                        Rp 21,4 milyar
Smart Corp (Eka Tjipta Wijaya)                          Rp 69,8 milyar
Bukaka Teknik Utama (Ahmad Kalla)                       Rp 67,2 milyar

BAPINDO
Golden Key (Eddy Tanzil)                                Rp 1,3 triliun
Astra International (Publik)                            Rp 97,9 milyar
Ciputra Development (Ciputra)                           Rp 103,4 milyar
Apac Centretex Corp. (Bambang Tri)                      Rp 865,4 milyar
Bimantara Citra (Bambang Tri)                           Rp 1,6 milyar
Indofood Sukses Makmur (Soedono Salim)                  Rp 49,7 milyar
Bukit Sentul (Hutomo Mandala Putra)                     Rp 208,1 milyar

BANK EXIM
Indocement (Soedono Salim)                              Rp 50,2 milyar
Bakrieland Development (Aburizal Bakrie)                Rp 46,0 milyar
Surya Perkasa (T. Gondokusumo)                          Rp 1,1 triliun
Group Agro Manunggal (The Nin King)                     Rp 355,4 milyar
Timor Putra Nasional (Hutomo Mandala Putra)             US$ 100 juta
Argo Pantes (The Nin King)                              Rp 165,4 milyar
Dharmala Sakti (Suhargo Gondokusumo)                    Rp 15,3 milyar
Astra International (Publik)                            Rp 17,8 milyar
Apac Centrenex Corp (Bambang Trihatmojo Cs)             Rp 32,8 milyar
Indofood Sukses Makmur (Seodono Salim)                  Rp 3 milyar
Bakrie Brother (Aburizal Bakrie)                        Rp 20,4 milyar
Modern Photo (Samadikun Hartono)                        Rp 4,6 milyar

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 14 Mar 1999 jam 02:58:55 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke