---------------------------------------------------------- Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED] with body mail: "signoff indonews" need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED] with body mail: "info refcard" ---------------------------------------------------------- Gus Dur masih tetap Gus Dur . . . . . Tak usah bingung dengan move move politiknya . .. Selama itu demi kesatun bangsa dan demokrasi! Oleh: Ibrahim Isa 29 Desember 1998 I.> Sekali tempo ia menggandeng Megawati, tempo lain ia runtang-runtungdengan Tutut. Ini ciri Gus Dur dalam berpolitik. Ia sering zig-zag! Tapi ini bukan hobynya Gus Dur. Yang jelas dia adalah seorang politikus. Politikus NU pula, tapi bukan politikus NU zamannya Kiayi Wahab atau Kiayi Wahid Hasijm. Gus Dur sudah mengenyam pendidikan modern <ngomong-ngomong: Gus Dur itu suka karya-karya klasik a.l. Ludwig von Beethoven>. Ia pernah belajar di Bagdad, zaman sejak berkuasanya Partai Baath di Irak , yaitu partai sosialis Arab. Ia menentang ideologisasi politik. Dalam bahasa sederhana: Ia menentang digunakannya agama untuk kepentingan politik. Gus Dur juga menentang pengidealisasian tokoh pimpinan<negara> yang dipolitisir demikian rupa. Gus Dur juga satu-satunya tokoh Muslim Indonesia yang tidak menyembunyikan kunjungannya ke Israel ketika zamannya pemerintahan Partai Buruh Israel. Berita terakhir yang menyusul menyatakan bahwa PKB dan PDI-Perjuangan ada semacam 'gentleman agreement'. Yaitu, jika kedua partai tsb merebut mayoritas dalam pemilu yad maka Gus Dur dicalonkan jadi presiden. Bila ia tidak bisa <karena kesehatan, misalnya>, maka Megawati yang jadi. Kalau kedua-duanya tidak, maka yang jadi adalah Sri Sultan Hamengkubuwono X. Dilihat dari pelbagai sudut persetujuan dua partai besar ini adalah suatu set politik yang bisa disebut suatu 'master plan'. Hal itu bisa bikin banyak orang menjadi lega. Tetapi juga bisa bikin sementara orang merasa 'sesak' dan 'sumpek'. Yang penting diharapkan jangan sampai bikin sementara orang atau fihak lainnya yang berseberangan dengan gerakan reformasi dan demokrasi, menjadi kalap atau bahkan sampai gelap mata, lalu 'ngamuk'. Meskipun orang tidak suka, namun, sekali menceburkan diri dalam kehidupan dan perjuangn politik langkah-langkah ataupun move-move zig-zag itu tidak jarang harus dilakukan. Tidak jarang pula move-move seperti itu cepat mengundang komentar: 'pragmatis', 'oportunis', plin-plan' atau berpatpat gulipat'. Apa mau dikata, situasi memang sering berubah dan memang rumit, seperti keadaan Indonesia sejak maraknya gerakan reformasi dan demokrasi, Keeadaan seperti itu sering berulang . Perubahan itu sering pula berlangsung cepat sekali. Jika seseorang politikus atau sesuatu partai politik tidak menyesuaikan tindak-tanduk politiknya itu dengan perubahan situasi, maka ia akan ketinggalan dari situasi. Artinya ia akan kehilangan inisiatif. Kehilangan inisiatif di dalam suatu perjuangan politik yang rumit dan sedang berlangsung dengan intensif, berarti inisiatif akan direbut oleh fihak lawan politik. Melancarkan politik kongkret berarti dengan mengambil sikap dan menjalankan set politiknya itu, ia dengan itu menyatakan sikap politiknya. Yang lebih penting lagi, ialah bahwa dengan sikap dan/atau set politiknya itu, ia bertujuan menimbulkan suatu perubahan yang diperhitungkan akan terjadi pada fihak-fihak yang dituju; juga pada barisan sendiri. Kecuali itu, set-set itu ditujukan untuk menimbulkan efek yang dimaksudkan di dalam masyarakat secara umum. Kesemuanya ini berlangsung atas dasar keadaan kongkrit seseorang' atau sesuatu partai politik Bila seseorang atau suatu partai politik itu 'kecil', 'gurem', tidak punya bobot, pengikutnya hanya beberapa gelintir saja, hanya punya koran atau tabloid dengan sirkulasi tipis-tipis saja, ;maka meskipun punya banyak duit, ia tak ada pengaruh berarti di dalam kehidupan politik. Ia hanya bisa sesekali muncul di radio atau TV, buka suara yang vokal, lalu tenggelam dalam arus perkembangan selanjutnya. Tapi bila yang melakukan set-set atau move-move itu adalah seorang pemimpin kaliberGus Dur, yang punya fungsi sebagai Ketua PB NU, maka tentu lain soalnya. II>. Di bawah kondisi ini ingin sedikit disoroti move-move dan set-set politik Gus Dur bela-kangn ini. Kiranya berikut ini yang pokok dan penting yang dilakukan Gus Dur: Bersama-sama dengan Megawati Sukarno Putri dari PDI - Perjuangan, Sri Sultan Hamengkubuwono X dari Jogyakarta, dan Amien Rais, Ketua PAN, Gus Dur adalah partisan 'Deklarasi Ciganjur', yang kelahirannya di dunia politik Indonesia, tidak bisa lepas dari hasil jerih payah mahasiswa. Sedikit catatan disini: Beberapa hari yang lalu, Gus Dur pernah menyatakan bahwa Amien Rais sebenarnya tidak masuk 'Deklarasi Ciganjur'. Inti pokok 'Deklarasi Ciganjur' adalah penegasan tentang kesatuan Republik Indonesia dan persatuan Indonesia sebagai bangsa. 'Come what may' dua hal itu harus dipertahankan terus . Lalu, ada tuntutan kepada pemerintah Habibie untuk diselenggarakannya pemilu yang luber dan jurdil, diakhirinya Dwifungsi ABRI, tindakan terhadap yang terlibat dalam KKN. Melalui perjuangan serta berbagai usaha dan aksi massa dari kekuatan reformasi dan demokrasi, pemilu ini diharapkan dan diantisipasi bisa menghasilkan suatu DPR dan MPR yang demokratis. Sehingga dengan demikian memungkinkan ditegakkannya kedaulatan rakyat yang sesungguhnya atas Republik Indonesia. Pemerintah yang muncul sebagai hasil pemilu yang jurdil, dimaksudkan akan bertindak sebagai sarana untuk mendorong lebih lanjut perubahan sistim dalam negara Republik Indonesia seperti yang diidam-idamkan oleh gerakan reformasi, khususnya mahasiswa dan kaum muda. Pemerintah yang mencakup dan ditunjang oleh kekuatan reformasi dan demokrasi ini, barulah bisa disebut sebagai suatu p e m e r i n t a h t r a n s i s i menuju pemerintahan yang betul-betul berkedaulatan rakyat dan demokratis. Bagaimana tuntutan-tuntutan politik itu bisa dilaksanakan, kelompok 'Deklarasi Ciganjur' tidak memberikan cara-cara dan sarana yang kongkrit. Memang hal itu sesuatu yang sulit bisa terlaksana, mengingat 'Ciganjur Four' <seperti diungkapkan oleh sementara pakar Indonesia> ketika itu belum merupakan badan kerjasama atau aliansi yang mempunyai bentuk organisasi. Maka masing-masing peserta dari 'Deklarasi Ciganjur' bebas untuk ambil inisiatif sendiri dan bertindak sendiri. Apa efek dari munculnya 'Deklarasi Ciganjur'? Pertama, pada barisan sendiri, khususnya pada kekuatan moral dan politik reformasi dan demokrasi, sekaligus juga kepada mereka yang berdiri diseberang 'statusquo' sana, telah dipakukan suatu pengertian, bahwa saling pengertian dan sikap politik bersama di antara kekuatan politik Islam, nasionalis dan tokoh birokrasi yang nasionalis <birokrasi tertentu, dalam hal ini Sultan Hamengkubuwono X> bukan saja suatu kemungkinan tetapi sudah menjadi kenyataan. Kedua, reformasi sistim politik Indonesia diusahakan berlangsung melalui pemilihan umum dengan memberdayakan, DPR/MPR dan lembaga-lembaga kenegaraan lainnya, menuju suatu negara Indonesia yang merupakan suatu ?rechtstaat?. Apakah ?Deklarasi Ciganjur? akan membawa perubahan dalam konstelasi politik Indonesia selanjutnya? Kiranya begitu. Tampaknya ini suatu permulaan untuk suatu alianasi yang lebih kongkrit antara NU/PKB, PDI Perjuangan dan Sultan Jogja. Apakah ini positif? Yang pasti hal itu lebih baik dari aliansi dari kekuatan-kekuatan yang ada di seberang ?statusquo? sana. Sehubungan dengan ini agak mengherankan juga mengapa Dan Lev, seorang pakar Amerika yang dianggap mengenal Indonesia, begitu pesimis mengenai perkembangan politik di Indonesia. Tapi baiklah kita tunggu perkembangan selanjutnya. Gus Dur menggalakkan gagasan dialog nasional. Ini sudah beberapa saat dicetuskan oleh Gus Dur. Orang mempersoalkan masalah komposisi dan siapa yang mengundang dan menyelenggarakan dialog nasional yang dimaksudkan itu . Sementara orang terpancang pada pelembagaan atau perwadahan dari dialog nasional atau rekonsiliasi nasional. Melihat berbagai tafsiran, konsep termasuk penolakan yang ada, tampaknya Gus Dur semakin menitik beratkan pada hakikat atau isi dari dialog nasional. Bahaya tercabik-cabiknya bangsa dan negara, menggawatnya keadaan keamanan dan kestabilan Indonesia, menjadi pemicu utama mengapa menurut Gus Dur dialog nasional itu amat diperlukan Maka ia tempuh jalan alternatif yaitu membuka ?open house? di Ciganjur,yang belakangan ini. termasuk dikunjungi oleh Dutabesar Amerika, Dutabesar Vatikan dan Utusan dari Dewan Gereja Jerman. Mungkin di luar dugaan banyak orang, datang juga Siswoyo <74> menemui dan bicara dengan Gus Dur di Ciganjur. Siswoyo adalah seorang politikus zaman Sukarno, mantan anggota Konstituate, tahun 1955. Dikatakan bahwa ia juga mantan salah seorang pimpinan PKI yang sudah dilarang dan tak ada lagi. Di situ tampak bahwa siapa saja welcome dan juga diharapkan datang < ke Ciganjur> untuk bicara dengan Gus Dur, mengutarakan fikiran, saran, tanggapan, kritik atau harapan guna kebaikan nusa dan bangsa. Ini ia akan rekam, catat, sistimmatiskan dan nantinya akan diajukan kepada presiden Habibie <ini katanya sudah disampaikannya> dan kepada DPR/MPR pilihan rakyat nanti. Agar DPR/MPR sudah ada input untuk dibicarakan dan dipecahkan. Gus Dur juga bicara dengan Pangab Jendral Wiranto, mantan Pangab Jendral Benny Murdani, Presiden Habibie dan mantan presiden Jendral Suharto. Mereka-mereka itu semuanya adalah orang-orang mantan Orba, atau fihak-fihak yang masih berkuasa. Di sinilah mulai timbul soal. Karena diantara tokoh-tokoh yang diajaknya berdialog itu justru adalah sasaran gerakan reformasi, a.l. yang terpenting adalah mantan presiden Suharto.. Juga Habibie dan Wiranto adalah sasaran gerakan reformasi, meskipun mereka sendiri tidak beranggapan demikian. Menurut Gus Dur tokoh-tokoh seperti Suharto, Habibie dan Wiranto bisa ada peranan mencegah semakin tajam dan gawatnya keadaan keamanan menjelang pemilu, halmana bisa membahayakan terselenggaranya pemilu. Maka asal saja mereka bersama Gus Dur duduk berdialog akan punya peranan untuk terhindarnya suatu melapetaka nasional. Yang menjadikan sakit hati dan soal bagi sementara fihak ialah bahwa Gus Dur menganggap tokoh-tokoh dan fihak lain tidak diperlukan dalam hal ini. Menurut Gus Dur berempat saja sudah sulit untuk berdialog apalagi lebih dari empat. Segi yang mungkin kurang jadi sorotan ialah bahwa dengan cara pendekatan dan move seperti yang dilakukannya, Gus Dur secara implisit memakukan suatu pengertian di kalangan umum bahwa sesungguhnya, yang telah menimbulkan ketidak stabilan nasional ialah orang-orang yang berasal dari kubu Suharto, karena tidak rela Suharto di?lengser?kan. Juga dari fihak yang sekarang memegang kekuasaan. Jadi sesungguhnya mereka-mereka itulah yang bertanggungjawab. Dan juga bahwa Habibie lebih mengutamakan kepentingan politik golongannya sendiri daripada berdialog demi urusan nasional. III.> Dalam situasi yang memang rumit, terkadang seperti keadaan itu 'stalemate', terkadang dirasakan sebagai 'mundur', maka adanya inisiatif dari seorang tokoh pimpinan Islam yang berkordinasi dengan suatu partai nasional yang cukup punya pengaruh seperti PDI-Perjuangan serta saling pengertian dan tampaknya juga kerjasama dengan Sri Sultan Hamengkubowono yang berpandangan demokratis dan maju, yang kesemuanya itu tujuannya adalah untuk memempertahankan kesatuan bangsa dan kesatuan Republik Indonesia dan mengayunkan langkah yang lebih mantap ke reformasi dan demokrasi, perlulah disambut. Mempertimbangkan itu semua ma ka pantaslah diberikannya kesempatan untuk diberlakukannya hak inisiatif yang positif dari fihak manapun, termasuk dari seorang tokohseperti Gus Dur. Selamat bekerja semoga mencapai hasil! ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 5 Jan 1999 jam 09:09:34 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
