----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
and click banner our sponsor
----------------------------------------------------------

From: nana manis

diambil dari Harian Nusa Tenggara
edisi Sabtu, 13 Maret 1999

Rencana Rahasia di balik runtuhnya Orde Baru

Rencana Mengurung Rakyat Indonesia di  Negaranya Sendiri Jurnal
Indonesia Baru (16/02/1999). Kerusuhan, teror bom, dan teror lainnya di
Indonesia disinyalir saling  berkaitan satu sama lain juga berhubungan
dengan rencana kenaikan  tarif fiskal menjadi 4 juta rupiah bulan Maret
1999 ini, demikian seorang  bekas  tarif fiskal menjadi 4 juta rupiah
bulan Maret 1999 ini, demikian seorang anggota KGB (Komitet
Gosudarstvennuy Bezopasnosti) Yuri   Volodislavlich     berbicara pagi
ini di sudut kota Kiev, Ukraina.  Volodislavlich yang pernah bertugas di
Indonesia dari tahun 1971 -   1982  mengatakan bahwa ia harus berbuat
sesuatu kepada rakyat Indonesia   yang  semakin memprihatinkan nasibnya.
Sebenarnya sejak ia mengundurkan diri dari dunia intelijen pada saat
Uni  Soviet pecah menjadi CIS (KGB dibubarkan, digantikan oleh
SVR-red.),   ia  tidak ingin lagi berhubungan dengan dunia politik, ia
hanya ingin  menghabiskan masa tuanya di Kiev sebagai warga negara
biasa. Tapi   sejak  ia membaca berita-berita politik mengenai
Indonesia, semakin lama ia  semakin terkejut melihat perkembangan
politik dan sosial di   Indonesia.  Menurutnya, fenomena yang sekarang
terjadi sebenarnya pernah ia baca   sejak  tahun 1982 lalu. Bermula pada
saat Yuri Andropov (bertugas pada tahun  1967-1982 di KGB) menjadi
atasannya, ia ditempatkan di Indonesia   untuk  memberi bantuan pada
kelompok dan gerakan di Indonesia yang anti blok  Barat. Selama 11 tahun
ia bertugas di Indonesia membuatnya lancar  berbahasa Indonesia dan
beberapa dialek daerah, dan ia pun mengaku   senang  dengan keramahan
rakyat Indonesia.  Beberapa teman bekas informannya dulu sampai kini
masih   menghubunginya  lewat surat. Pada tahun 1979 di mana
pemerintahan Soeharto mulai  menunjukkan titik terang kerjasama dengan
blok Barat, KGB mengirimkan   dua  agennya Viktor Ogibalov yang
keturunan Ukrania dan Igor ziashlavich  seorang agen rahasia dari
Angkatan Udara yang pernah menangani kasus  Letnan Viktor Belenko yang
membelot dengan MIG-25, untuk menemani  Volodislavlich mencuri dokumen
rahasia pemerintah RI. Saat itu, bulan   Juni  1979, mereka bertiga
berhasil mendapatkan beberapa dokumen rahasia   negara,  dan merekannya
di gulungan mikrofilm dari kamera Minox.  Volodislavlich tidak bersedia
menceritakan di mana dan bagaimana   mereka  mendapatkan dokumen-dokumen
tersebut. Ia ingat betul di salah satu   dokumen  tersebut ada dokumen
yang ditulis dengan kode rahasia. Menurut   Ogibalov  kode rahasia itu
menggunakan metode Beale (kode yang menunjukkan kata  dengan cara
menggunakan nomor halaman, nomor paragraf, dan nomor   urutan  kata,
misalnya 129:12:4 25:5:10, dst.).  Selama setahun mereka   mencari  buku
yang digunakan untuk acuan kode rahasia itu, tapi hasilnya   nihil, dan
akhirnya Andropov menginstruksikan mereka untuk menghentikan   pemecahan
kode tersebut atas desakan Politbiro.  Kasus itu sempat lama dilupakan,
sampai akhirnya pada pertengahan   bulan  November 1981,  Volodislavlich
menerima kiriman misterius berisi   kamus  Indonesia - Inggris.Menurut
informan Volodislavlich pada saat itu,  pengirimnya dikenal sebagai
triple agent KGB, CIA (Central   Intelligence  Agency - Agen Rahasia
Amerika Serikat), dan agen rahasia nasional RI   yang  saat itu belum
bernama Bakin. Volodislavlich juga menolak menyebutkan  identitas triple
agent ini. Beberapa hari Volodislavlich sempat  dibingungkan oleh kamus
tersebut yang tidak memberi petunjuk apa-apa.  Sampai pada awal bulan
Desember 1981, Volodislavlich mendengar bahwa   ada  agen CIA ditangkap
di Minsk pada saat memecahkan kode rahasia dokumen   KGB.  Ia segera
teringat kembali dengan dokumen tersebut dan segera   mengontak
Iziashlavich yang saat itu sedang ada di Surabaya.  Dengan resiko
membuang  waktu, ia bersama  Iziashlavich dan Ogibalov mencoba
memecahkan kode  rahasia dari dokumen yang mereka curi tahun 1979 di
kediaman Ogibalov   di  Kemang, Jakarta Selatan.Ternyata memang benar,
kamus tersebut adalah   buku  acuannya.  Ogibalov saat itu merasa mereka
sudah terlambat, karena ia  yakin pihak  CIA juga sudah mendapatkan
informasi itu. Tapi   Volodislavlich  bersikeras mengirimkan  hasilnya
kepada Andropov di Moskwa pada akhir  Januari 1982.  Menurut
Volodislavlich, kalaupun CIA tahu akan hal ini, CIA baru akan
membeberkannya 25 tahun kemudian dalam Fact File mereka. Itu berarti
tahun  2007, dan itu menurut Volodislavlich artinya terlambat bagi
rakyat   dan  bangsa Indonesia. Dokumen tersebut yang dienkripsi dengan
komputer   di  Jerman Barat menceritakan apa-apa saja yang harus
dilakukan jika  pemerintahan orde baru runtuh sebagai balas dendam.
Ternyata Soeharto  sudah memperkirakan kemungkinan terburuk yang akan ia
terima pada   saat  digulingkan dari tampuk kepemimpinan. Jika benar
pada suatu saat ia  dikudeta oleh rakyatnya, ia tak akan segan-segan
membalas dendam   kepada  rakyatnya sendiri. Setelah  membaca terjemahan
dokumen ini, Politbiro  (semacam dewan pemerintahan di Uni Soviet dulu)
menggambarkan   Soeharto  bisa bertindak sebagai Hitler Asia, jika apa
yang tertulis dalam   dokumen  itu benar-benar terjadi. Berikut
beberapa poin yang dirangkum dari  dokumen yang masih disimpan
Volodislavlich sampai sekarang.  "Saudara seangkatan orde baru, saya
sebagai pemimpin orde baru saat   ini  menyatakan bahwa
tindakan-tindakan yang harus dilakukan pada saatnya   nanti  orde baru
runtuh, adalah sebagai berikut:  1. Adu domba antara orang Pribumi dan
China dirangkumkan   Volodislavlich:  Asimilasi antara pribumi dan WNI
keturunan Cina ternyata sangat   dihindari  oleh orde baru, karena
dengan bersatunya kedua kubu ini, akan semakin  sulit untuk diadudomba.
Dari dulu sampai sekarang intel (orde baru)  Indonesia yang bertindak
sebagai provokator selalu berusaha   menciptakan  jurang pemisah antara
pribumi dan WNI Cina. Intel berusaha   menciptakan  image kepada pribumi
bahwa Cina adalah penyedot kekayaan bangsa dan  menjajah pribumi. Tak
jarang juga ditemukan intel yang keturunan Cina   juga  menjadi
provokator dengan sengaja menindas warga pribumi   terang-terangan
supaya mereka membenci Cina. Demikian pula disebutkan di dokumen ini
bahwa  jika orde baru runtuh, maka akan dilakukan tindakan pemerkosaan,
perusakan, dan antipati terhadap Cina yang disuburkan intel supaya
warga  keturunan Cina membenci pribumi, dan tidak betah tinggal di
Indonesia. Era  orde baru juga akan dengan sengaja memberi kemudahan
kepada para   pengusaha  Cina untuk lebih banyak berkembang supaya
kelihatannya memang Cina   adalah  penindas pribumi.  Tidak ada tanggal
jelas dalam dokumen ini kapan gerakan ini akan  dilaksanakan.
Volodislavlich beranggapan bahwa kerusuhan Mei 1998   kemarin  adalah
tanggalnya.  2. Adu domba antar agama dirangkumkan Volodislavlich: Agama
adalah   hal  yang sensitif di Indonesia, sehingga pemerintah orde baru
menempatkan   adu  domba antar agama sebagai counter jika orde baru
runtuh. Agama yang   paling  mudah diadudomba adalah mayoritas Islam dan
Kristen. Sedangkan agama  Katolik kelak akan menjadi agama yang paling
dibenci pemerintah   karena  selain para pastornya dianggap terlalu
mencampuri urusan pemerintah,   juga  karena hasil Konsili Vatican II di
mana agama Katolik menyatakan   bahwa  Yesus hanya menjadi juru selamat
umat Kristiani, dan mengakui Nabi  Muhammad sebagai juru selamat umat
Islam, Budha sebagai penyelamat   umat  Budha, dan lain-lainnya.
Pemerintah orde baru mengusahakan agar hasil  konsili  itu tidak
tersebar luas di masyarakat Indonesia. Intel-intel yang   menyamar
menjadi pendeta Kristen juga mengajak umatnya untuk "bertobat" agar
tidak  seperti umat Katolik yang mereka sebut sebagai penyembah berhala,
juga  provokator yang menodai mesjid pun berbuat yang sama untuk
mengajak  umatnya membenci agama lain.  Provokator yang menodai gereja
Kristen akan membuat aliran-aliran   Kristen  baru garis keras yang
hanya mengakui Yesus sebagai juru selamat semua   umat  manusia, dan
tidak mengakui nabi yang lain supaya terjadi konflik   antara  Kristen
dan Islam. Hal ini digalang selama bertahun-tahun sehingga   para  umat
beragama di Indonesia berpikir bahwa agamanyalah yang paling   benar
dan melupakan fungsi utama agama sebenarnya untuk berkomunikasi   dengan
Sang Pencipta, bukan  untuk berselisih mempertahankan agamanya.
Sedangkan  agama Buda dan Hindu menurut pemerintah orde baru bukan
merupakan   ancaman  serius, karena mereka lebih banyak mengurusi
kehidupan agama mereka  sendiri, tidak terlibat dalam politik. Jika
sampai terjadi perang   antar  agama,  pemerintah orde baru yang sudah
runtuh bisa lebih mudah   melumatkan  rakyat Indonesia, dan akan
mempunyai kesempatan membangun kembali  pemerintahannya.  3.
Penghancuran ekonomi secara total rangkuman Volodislavlich: Tidak
disebutkan di dokumen ini mana yang akan menjadi sasaran penghancuran
ekonomi, ia menganggap merosotnya nilai tukar mata uang rupiah dan
penghancuran Glodok adalah yang dimaksud pemerintah orde baru  4.
Mendirikan pemerintahan boneka setelah era orde baru runtuh dst".
Poin-poin yang ada di dokumen itu menurut Volodislavlich seluruhnya
berjumlah 58 poin, dan tidak akan cukup dijabarkan di sini. Ia
berencana  menulis buku tentang hal ini apa pun resikonya, karena ia
mengaku   selama  11 tahun di Indonesia sudah sering sekali dibantu
rakyat  Indonesia.Tak sedikit pula para sahabatnya yang  dulu menjadi
informan  yang sekarang tinggal di Indonesia. Buku rencananya akan
diterbitkan  dengan judul "Pro Maya Drug: Dasvidaniya!" yang mungkin
akan   diterjemahkan  ke bahasa Inggris menjadi "For My Friends:
Goodbye!". Yang paling  menakutkan menurut Volodislavlich adalah poin ke
47 ke atas mengenai  rencana balas dendam terhadap rakyat sendiri.
Semula ia tak percaya   bahwa  pemerintah orde baru akan tega
dilakukannya, karena sekejam-kejamnya  Hitler pun saat itu membantai
Yahudi, bukan bangsanya sendiri. Tapi  Volodislavlich menjadi ragu
ketika ia mendapat kabar dari salah   seorang  bekas informannya yang
sekarang bekerja di kantor  dirjen imigrasi di  Indonesia yang
menyatakan bahwa fiskal di Indonesia akan dinaikkan   dari Rp
1.000.000,- menjadi Rp. 4.000.000,- bulan Maret 1999 ini, dan
informannya  itu pun mengatakan bahwa bulan November 1999 pemerintah
akan   menaikkan  lagi menjadi 8 juta rupiah. Volodislavlich menambahkan
bahwa dalam   salah  satu poin tersebut menyebutkan bahwa salah satu
bentuk balas dendam  pemerintah orde baru yang runtuh adalah dengan
mengurung bangsanya   sendiri  untuk kemudian dibantai sampai habis,
kemudian digantikan oleh   orang-orang  yang pro orde baru. Dokumen itu
menyebutkan pembataian besar-besaran   itu  akan menggunakan cara
meracuni air PDAM (sekarang PAM-Red.) dan   senjata  biologi, dengan
syarat semua rakyat yang menyebabkan runtuhnya orde   baru  sudah
terkurung.  Volodislavlich semakin yakin bahwa pemerintahan   Habibie
adalah bentuk pemerintahan boneka  Soeharto jika pemerintah Indonesia
benar-benar menaikkan tarif fiskal menjadi 4 juta. Karena disebutkan
dalam  dokumen tersebut, salah satu cara untuk mengurung bangsa
Indonesia   adalah  tidak memperbolehkan mereka ke luar negri. Menurut
pengamatan  Volodislavlich, jika rakyat  masih memusuhi dan mengutuk
Soeharto,   jangan  heran jika tahun 2000 fiskal mendadak naik menjadi
15 juta rupiah   atau 20  juta rupiah. Volodislavlich berujar bahwa
menurut perkiraannya,   Soeharto  ingin melihat Indonesia hancur total
sebelum ia mangkat sebagai balas  dendam  terhadap rakyatnya yang sudah
kurang ajar terhadapnya.   Habibie  sudah mendapat instruksi untuk
jangan menggubris kecaman dunia  internasional atau  rakyat terhadap
kenaikan tarif fiskal ini, karena  tujuan kenaikan tarif ini adalah
untuk menahan sebanyak mungkin warga  Indonesia supaya tidak ke luar
negri, dan itu berarti akan makin   banyak  warga Indonesia yang akan
dibantai oleh gerakan bawah tanah orde baru  kelak. Ketika ditanya kapan
pembataian besar-besaran itu akan   terjadi,  Volodislavlich terdiam
sejenak, kemudian ia menjawab, menurut dokumen   itu,  pembantaian akbar
akan terjadi 3 hari setelah Soeharto mangkat.  Volodislavlich juga tidak
menjawab siapa saja tokoh pro orde baru di  Indonesia sekarang. Dia
mengaku tidak tahu pasti karena ia sudah   tidak  terlibat langsung
dengan dunia intelijen, "Mungkin anda harus   bertanya  pada para agen
CIA yang masih mempunyai rasa solidaritas dengan   rakyat  Indonesia"
tambahnya. (cfd/kiev/021999)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 24 Mar 1999 jam 10:18:23 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke