---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ and click banner our sponsor ---------------------------------------------------------- Kontras: Kekuatan Konservatif Bangkit Lagi Reporter: Hestiana Dharmastuti detikcom, Jakarta- Kekuatan konservatif yang telah tumbang, kini bangkit lagi. Bahkan lebih kuat. Demikian pokok pikiran Kontras (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) yang dibacakan koordinatornya, Munir SH, di Jakarta, Senin (23/3/1999). Kontras melihat ada 2 kecenderungan dalam kekacauan politik dan sosial, yaitu menguatnya kembali kekuatan konservatif oleh kebosanan menghadapi situasi transisi yang tidak menentu. Kedua, munculnya kembali rejim yang tetap melestarikan sistem otoritarianisme sebagai instrumen yang mengontrol dan mengendalikan potensi perlawanan rakyat yang akan mengganggu perputaran modal. Pergantian pemimpin pemerintahan nasional yang dianggap sebagai awal pembaharuan sistem, justru menampilkan rejim pemerintahan yang tidak mampu memenuhi harapan seluruh rakyat. Sehingga memunculkan amarah demi amarah yang termanifestasi dalam bentuk ledakan-ledakan kekecewaan yang tidak terkendali. Wujudnya adalah amuk-amuk massa. Kontras membagi medium dari amuk massa sendiri menjadi dua. Pertama, terjadi antara warga masyarakat dengan aparat negara, baik sipil maupun militer. Kedua, terjadi pertentangan antara sesama warga masyarakat akibat gagalnya pembangunan integrasi sosial oleh penyelenggara negara yang pada akhirnya memposisikan dua pihak saling berhadapan. "Massa terpecah, misalnya pribumi-non pribumi, pendatang dan penduduk asli, agama satu dengan agama lain yang menciptakan semacam sentimen bahkan sikap anti antara satu dengan yang lain," kata Munir. Kontras sendiri kuatir, berbagai kerusuhan massal yang terjadi itu akan dapat dijadikan alasan pembenar terhadap pembentukan rejim represif untuk semakin cepat mengontrol rakyat. Temuan Kontas terhadap kerusuhan, memberikan indikasi bahwa aparat keamanan yang seharusnya menjamin keamanan justru terlibat provokasi dan terkesan membiarkan kerusuhan berlangsung terus. Sebagian peristiwa, seperti kerusuhan Ambon, memperlihatkan turut berpengaruhnya konflik elit politik di tingkat pusat sebagai pemicu dan penggerak yang mampu menggerakakan potensi konflik lokal menjadi terbuka dan termanifestasi dalam pertikaian horizontal. Pranata dan peran sosial tidak berfungsi dan kewibawaan pemerintah jatuh terpuruk. Kontras sendiri menyesalkan aparat yang berlaku represif pada berbagai kerusuhan. "Dalam kondisi ini terlihat lemahnya pemerintahan Habibie. Lebih parah lagi, pemerintah tidak bertanggung jawab pada negara yang mereka pimpin," tegas Kontras. Hak Cipta ) detikcom Digital Life 1999 ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 24 Mar 1999 jam 10:27:47 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
