----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
and click banner our sponsor
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 10/II/18-24 Maret 99
------------------------------

MENDOBRAK TRADISI PARTAI

(POLITIK): PRD ikut Pemilu tetapi tetap tidak ingin menjadi
electoral-machine. Mampukah mereka mempengaruhi sikap partai lain yang
cenderung status quo?

Keputusan politik pimpinan Partai Rakyat Demokratik (PRD) untuk ikut pemilu
Juni 1999, mendatangkan sejumlah gerundelan bahkan cibiran, selain tentunya
banyak juga yang memujinya.  Bahkan masalah ini memaksa para pengurusnya
berjibaku memenuhi undangan dari berbagai organisasi di berbagai kota untuk
"mempertanggung jawabkan"nya.

Gerundelan maupun cibiran itu muncul lantaran kecewa dengan keputusan PRD
yang "melegitimasi" pemerintahan Habibie, pemerintahan yang sebelumnya
dianggap mereka sebagai pemerintahan tidak sah --pemerintahan bentukan rejim
Soeharto yang hampir selama 5 tahun ini ditentang keras oleh para anggota
PRD. Bahkan untuk perjuangan itu, mereka telah mengorbankan sejumlah
aktifisnya, termasuk para pimpinannya Budiman Sujatmiko dan Petrus Haryanto,
masuk dalam penjara. Tetapi mengapa PRD menerima tawaran pemerintah ini
untuk ikut Pemilu?

Dari informasi yang diperoleh, ada sejumlah alasan mengapa mereka memilih
ikut Pemilu. "Keputusan PRD mengikuti pemilu, bukan berarti PRD melegitimasi
pemilu Habibie, yang nyata-nyata tidak demokratis dan tidak jurdil. Karena
masih ada Dwi Fungsi ABRI, masih menggunakan UU Politik yang tidak
demokratis Para tapol/napol (PKI, Lampung, Aceh, PRD, NII, Papua Barat,
Timor Leste) belum dibebaskan, Indonesia masih menjajah Maubere. Pemilunya
dilaksanakan oleh Rejim Habibie-Wiranto, rejim boneka Soeharto pewaris Orde
Baru, masih ada pembatasan peserta pemilu, baik karena masalah asas,
ideologi, bahkan sampai yang bersifat admisnistratif (yang sama sekali tidak
prinsipil) seperti jumlah pendiri, jumlah cabang yang dimiliki, dll," tulis
mereka di warta Pembebasan beralasan mejawab pertanyaan George Junus
Aditjondro, beberapa waktu lalu.

Dari perbincangan dengan beberapa tokoh PRD, sebenarnya alasan utama mereka
mengikuti Pemilu tersebut cukup simpel. Yaitu ingin memakai sarana legal
untuk memperkecil resiko dalam melakukan kampanye mengenai sejumlah
tuntutannya. Seperti pembebasan tapol-napol, pencabutan dwi fungsi ABRI dan
sebagainya itu.

Pendek kata, PRD masih tetap akan memakai prinsip dasarnya: Tidak ingin
menjadikan PRD sebagai Electoral-machine, mesin untuk bisa mengantarkan
duduk dalam kekuasaan.

"Sebab, jika partai hanya semata-mata menjadi electoral-machine, ia tidak
lain hanyalah menjadi kumpulan para penipu, yang mengelabuhi rakyat untuk
memperoleh suara sebanyak-banyaknya. Electoral-machine bukan alat perjuangan
rakyat, tapi hanyalah merupakan kendaraan politik para birokrat partai, yang
kerjanya menembar janji-janji tapi tidak pernah menyentuh probelm riil
masyarakat," kata mereka.

Dan PRD, katanya bukan berarti telah berubah menjadi partai yang
parlementaris, tetapi tetap memegang garis aksi massa sebagai metode
perjuangannya.

Sebagai sebuah langkah pembuktian bahwa garis PRD tidak berubah adalah
ketegasannya mendaftarkan para pimpinan mereka yang di penjara sebagai calon
legislatif. Itu artinya, akan menjajal rejim Habibie untuk bersikap terhadap
tawaran itu. Dan kalau ditolak, ya PRD akan keluar dan memboikot Pemilu.
"Pokoknya, ujung-ujungnya boikot Pemilu," kata salah seorang pengurus.

Kemunculan PRD dalam kancah politik resmi itu memang dinilai cukup
fenomenal. PRD dianggap sebagai salah satu dari dua partai baru yang
memiliki visi jauh lebih maju dibanding dengan partai-partai yang ada.
Partai satunya lagi adalah PAN.

PAN merupakan partai yang telah menggariskan untuk terbuka terhadap
kemungkinan federasi dan mendukung referendum Timtim juga anti dwi fungsi
ABRI. Begitu pula PRD. Tapi PRD lebih maju lagi dibanding PAN setelah mereka
menentukan programnya untuk membebaskan para tahanan-politik dan
merehabilitasinya.  Dan itu sudah dibuktikan dengan mengangkat Pramoedya
Ananta Toer sebagai anggotanya.

Dari segi visi, sebenarnya keduanya merupakan organisasi terdekat untuk
berkoalisi. Tapi apakah mau? Sebab di PAN masih bercokol sejumlah pengurus
yang masih kental dengan kebenciannya terhadap PRD dan "orang kiri". Begitu
pula sisa luka pernyataan Amien ketika PRD kena musibah 27 Juli tiga tahun
silam, tampaknya juga masih membekas. Kecuali, semua melupakan masalah
pribadi dan maju bersama melawan status quo. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 24 Mar 1999 jam 16:46:15 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke