---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ and click banner our sponsor ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 10/II/18-24 Maret 99 ------------------------------ MEMBAYAR PALSU DEMONSTRAN (POLITIK): Milyaran uang palsu telah beredar luas di masyarakat. Diduga keras dana operasi demonstrasi dan pembelaan keluarga Cendana dibiayai dari uang palsu tersebut. Majalah Tajuk edisi No 2 Th II 17 Maret 1999 mengungkap beredarnya milyaran uang palsu. Menurut investigasi Tajuk, uang-uang palsu tersebut diedarkan di sejumlah tempat di Indonesia dan bahkan sudah mampu menembus dunia perbankan. Artinya, langkah para pemalsu sekarang sudah lebih maju. Jika dulu para pemalsu uang belum menggunakan kertas berpengaman (visible fiber), sekarang mereka sudah memakai kertas berpengaman seperti uang uatan Peruri. Sehingga uang-uang palsu itu bisa lolos dari pengamatan memakai sinar UV di kasir-kasir bank resmi. Walaupun, kualitasnya tidak sebaik keluaran Peruri, tapi kertasnya sudah berserat dan memendarkan cahaya. "Dulu orang masih memakai kertas biasa dan hanya memiripkan gambarnya. Sehingga dengan sinar ultra violet keaslian dan tidaknya bisa langsung dideteksi," kata sumber itu. Oleh sebab itu ia menyarankan, agar pihak keamanan melacak dari mana peredaran kertas tersebut. Kalau soal cetak-mencetak, bahkan cetak hologram sekalipun, sudah banyak percetakaan di Indonesia yang bisa. Konon watermark pun sudah mampu dibuat oleh banyak pabrik kertas. Termasuk juga hot stamping foil. "Untuk mengelabui umum kan yang penting penampakan. Dan itu sudah dengan mudah dilakukan. Tapi yang sekarang sudah bisa lolos dari uji sinar UV, itu artinya pengaman di kertasnya sudah bisa ditembus," kata sumber. Sementara itu di Indonesia, perusahaan kertas yang bisa membuat kertas berpengaman hanyalah PT Padalarang. Pabrik kertas milik pemerintah ini merupakan satu-satunya perusahaan kertas yang diijinkan membuat kertas berpengaman yang biasa dipakai untuk kertas perangko, materai maupun pita cukai. Tapi dari sumber di Peruri diperoleh informasi bahwa Padalarang ternyata sampai sekarang belum mampu membuat kertas berpengaman sekuat kertas uang yang di impor Peruri dari Jerman selama ini. Dan peredaran kertas berpengaman ini merupakan monopoli Peruri, termasuk hak impornya. Namun, uang temuan investigasi Tajuk tersebut kertasnya memang tidak sekuat uang keluaran Peruri dan hasil impor tersebut. Kertasnya berkualitas rendah, gampang lusuh dan sobek. Oleh sebab itu, beberapa kalangan akhirnya menduga bahwa peredaran kertas uang itu berasal dari PT Padalarang atau dari Peruri. Atau kertas hasil impor secara gelap-gelapan oleh para sindikatnya. Tapi untuk yang kedua ini konon sulit jika tidak ada permainan antar pejabat tinggi masing-masing pihak. Lantaran di luar negeri pun, pabrik kertas uang juga mendapat pengawasan ketat. Order-ordernya diawasi dan akan selalu dikonfirmasikan ke pemerintah negaranya masing-masing. Tapi kasak kusuk sempat beredar, bahwa seorang Direktur Peruri beberpa waktu sebelum Soeharto jatuh telah kongkalikong dengan perusahaan milik keluarga Cendana, PT Tridaya Esta (milik Bambang Trihatmojo) membuat security manufacturing (pabrik pengaman) yang akan didisain untuk mengambil alih semua pencetakan kertas-kertas berharga milik negara. Seperti Perangko dan pita cukai yang selama ini dikerjakan oleh Peruri-Padalarang dan PT Pura Kudus. Jika isu ini benar, maka besar kemung-kinan isu bahwa keluarga Cendana mencetak uang untuk membiayai demonstrasi para pendukungnya adalah bukan hal yang mustahil. Apalagi beberapa waktu lalu, siapapun orang di Indonesia ini akan sangat kesulitan mempunyai fresh money milyaran rupiah. Tapi sebaliknya pada saat yang sama, kelarga Cendana telah mengeluarkan banyak uangnya untuk membayar demonstran bayaran, partai bayaran dan melakukan sejumlah operasi para anak buahnya untuk mendukungnya. Dugaan keterlibatan Cendana ini juga pernah dilansir kantor berita SiaR yang menyebutkan bahwa operasi peredaran uang palsu keluarga Cendana menggunakan 11 orang. Mereka merupakan tenaga pemasaran yang bertindak mencari nasabah yang mau membeli bahan kertas tersebut. Para pemasar itu kebanyakan dari kalangan ABRI dengan 5 orang otak pelaku. Yakni seorang pejabat tinggi PERURI, seorang brigjen dari Badan Intelejen ABRI (BIA), seorang mayjen anggota BAKIN era Sudibyo, seorang pengusaha dan seorang direktur Bank Indonesia. Jadi, benarkah para demonstran dibiayai dengan uang palsu? Mungkin saja. (*) --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 24 Mar 1999 jam 17:00:17 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
