----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
and click banner our sponsor
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


RCTI MANIPULASI POLLING UNTUK UNTUNGKAN GOLKAR

        JAKARTA (SiaR, 24/3/99) Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI) melakukan
tindakan tak terpuji dengan memanipulasi hasil telepollingnya untuk
menguntungkan Partai Golkar. Hasil akhir telepolling untuk acara Aneka
Dialog dengan tema "Pro-kontra Menteri Ikut Berkampanye", Senin (22/3) malam
kemarin, mengejutkan salah seorang narasumber dialog, Dr Adnan Buyung
Nasution, sebaliknya melegakan bagi narasumber lainnya Ketua DPP Partai
Golkar Theo Sambuaga.

        Salah seorang staf produksi acara RCTI kepada SiaR menuturkan, tindakan
manipulasi itu dilakukan untuk melegitimasi kebijakan pemerintahan Habibie
yang hanya memberlakukan pelarangan kepada lima menteri, tidak kepada
seluruh menteri kabinet. Sumber itu menyebutkan, apa yang disampaikan
moderator Chrys Kelana bahwa, hasil telepolling menyebutkan, 55 persen
penelpon setuju menteri berkampanye, 40 persen penelpon menolak, dan lima
persen abstain sebagai direkayasa, karena hasil sebenarnya menunjukkan
mayoritas penelpon menolak menteri berkampanye.

        Menurut sumber itu, tindakan manipulasi itu memang sudah direncanakan
sebelumnya oleh Chrys Kelana dan Theo Sambuaga, karena Chrys Kelana yang
moderator dan pengarah acara di RCTI tersebut merupakan salah seorang kader
Partai Golkar.

        "Chrys Kelana itu kan baru kemarin keliling ke daerah ikut bersama Ketua
Umum Golkar Akbar Tanjung untuk acara temu kader. Ia sudah teken kontrak
dengan Golkar untuk menjadi pembawa acara pada tiap acara temu kader dan
kampanye jurkam dalam Pemilu Juni 1999 mendatang," ucapnya.

        Dalam peliputan media-massa elektronik pada acara temu kader Partai Golkar
yang menghadirkan Akbar Tanjung beberapa waktu lalu, tampak Chrys Kelana
dengan berapi-api sedang memimpin yel-yel mendukung massa berkaos kuning.

        Adnan Buyung sendiri yang dalam acara Aneka Dialog tersebut begitu gigih
menolak keikutsertaan para menteri untuk ikut berkampanye menyatakan
kekagetannya dengan hasil telepolling tersebut. "Bagaimana tidak kaget, dari
empat penelpon yang bertanya ke narasumber pada malam itu, tiga diantaranya
menentang, hanya satu setuju. Kok, hasil telepolling-nya bertolak belakang
ya?" katanga seperti bertanya.

        Menurut Adnan Buyung, ia tak dapat memastikan apakah ada indikasi
manipulasi dari hasil telepolling tersebut. Tapi, lanjutnya, jika hal itu
terjadi, berarti Partai Golkar melalui kadernya telah melakukan
praktek-praktek politik seperti di masa Orde Baru dulu. "Berarti Partai
Golkar yang sekarang itu tak beda dengan Golkar yang dulu. Hanya ganti kulit
saja. Bagaimana rakyat mau percaya dengan retorika-retorika pengurus Partai
Golkar bahwa yang sekarang ini beda dengan Golkar yang dulu," ucapnya.

        Sementara itu, sejumlah anggota Komite Pemilihan Umum (KPU) menegaskan
kemungkinan akan dilakukannya voting untuk menentukan apakah KPU menolak
menteri berkampanye atau tidak. Ketika ditanya, seandainya hasil voting
menunjukkan KPU menolak menteri ikut berkampanye, tapi hal itu diabaikan
pemerintah dengan argumen tak ada dasar hukumnya, maka salah seorang anggota
KPU Agus Miftah menyebutkan kemungkinan adanya ancaman mundur sebagian besar
anggota KPU.

        "Kalau semangatnya mundur dari KPU, why not. Realistis saja, mayoritas
anggota KPU yang wakil-wakil parpol itu menentang menteri ikut berkampanye",
katanya.***


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 24 Mar 1999 jam 19:50:49 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke