----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

Kamis, 25 Maret 1999

Winters, Gajah atau Semut
BERITA UTAMA
----------------------------------------------------------------------------
---

JEFFREY A. Winters datang ke negeri ini, untuk meluncurkan dua bukunya.
Keduanya buku baru. Isinya bagus, bahasa Indonesianya pun boleh. Satu di
antaranya, berkepala dahsyat: Dosa-dosa Politik Orde Baru. Untuk itu, ia
mendapat sambutan hebat. Hebat, sebab publik menyambut hangat acara bedah
bukunya. Hebat, sebab pers meliputnya dengan antusias. Selesai?

Belum. Dan ini yang penting. Setelah semua seremoni perihal buku usai, dua
episode yang tak kalah dahsyat, pun menyambutnya. Pertama, Kejaksaan Agung
akan memanggil Winters mengenai harta kekayaan mantan Presiden Soeharto.
Kedua, Markas Besar Kepolisian RI resmi menjadikannya tersangka, karena
diduga mencemarkan nama baik Menko Ekuin Ginandjar Kartasasmita. Mencemarkan
nama baik, sebab Winters meragukan "kebersihan" Ginandjar, yang di masa Orde
Reformasi, menjadi partner Bank Dunia dalam rangka membuka hubungan barunya
dengan Indonesia. Winters mengutip laporan Econit yang tersebar ke seluruh
dunia, bahwa ada yang tak beres yang melibatkan Ginandjar dalam kontrak
karya PT Freeport Indonesia, yang terjadi semasa Orde Baru.

Maka, inilah untuk kesekian kali, aparat hukum membidik sasaran yang salah.
Substansinya membongkar KKN, dan mengadili yang nyeleweng. Untuk itu para
cendekiawan bicara, dengan caranya. Tetapi mengapa mereka malah diuber-uber
hendak diperiksa? Inilah yang menimpa George Aditjondro, Christianto
Wibisono, dan kini Winters.

Harus dikatakan di sini, menggeser substansi, memindahkan pokok perkara,
kiranya merupakan siasat tersendiri pemerintahan Habibie. Kasus penyadapan
telepon Presiden Habibie dan Jaksa Agung Ghalib, adalah contoh lain yang
menguatkan hal ini. Aneh, bukan kebenaran isi telepon itu yang disoal, yang
diusut. Aparat malah bersikutat, mencari siapa penyadapnya, dan membuang
waktu memeriksa pers yang menyiarkannya. Padahal, bukankah semua yang waras
tahu, penyadap satu hal, kebenaran isi yang disadap hal lain? Akal sehat
juga bisa bilang: bukankah koruptor satu perkara, dan membeberkannya perkara
lain? Persoalan ialah: manakah causa prima, yang harus didahulukan? Contoh
dapat diperpanjang, tetapi kesimpulan tetap. Aparat hukum telah bekerja ke
arah yang salah, dan dengan sasaran yang keliru. Yang diburu bukan sang
maling, tetapi yang teriak maling. Padahal, berteriak, alias bersuara keras,
adalah merupakan tugas, bahkan panggilan bagi setiap kaum cendekiawan.

Itulah sebabnya, kita melihat telah terjadi salah fokus sehubungan dengan
kasus KKN ini. Bahkan, telah terjadi semacam out of proportion, dengan
membidik Winters.

Maka, kembali kepada proporsi, kembali memiliki sense of proportion, itulah
yang hendak diserukan harian ini. Salah satu proporsi itu ialah, bahwa hasil
riset, pengkajian pakar, suara kaum cendekiawan, betapa pun sumbangnya,
betapa pun miringnya, bukanlah temuan yang dapat dijadikan bukti hukum.
Kecuali itu, tak perlu mengulangi kesalahan sejarah, mengadili para
cendekiawan, kaum pujangga, hanya karena suaranya pedas di telinga
kekuasaan.

Proporsi lainnya ialah kearifan pepatah: Semut di seberang lautan kelihatan,
gajah di depan mata tak tampak. Winters itu semut, korupsi itu gajah.
Mengapa gajah tak tampak?

Kasih kode ---Saur Hutabarat---
as

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 27 Mar 1999 jam 03:57:08 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke