----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

Dr Bachtiar Effendy
Kita Dalam Masa Transisi yang Sangat Labil

Komentar Anda soal siklus 20 tahunan ala Cak Nur?

Memang, dalam ilmu-ilmu sosial ada pendekatan siklik. Dulu ada hubungan
antara pertumbuhan dan penurunan ekonomi. Begitu juga halnya dengan
peristiwa-peristiwa lain. Perang, misalnya. Nah, kalau Cak Nur memaparkan
even-even yang terjadi pada 1905, 1928, lalu 1945, menurut saya, itu tak
bisa dilihat dari sisi aksi reaksi. Mungkin saja 20 tahun nanti akan ada
peristiwa besar. Tetapi, itu bukan merupakan hasil dari apa yang terjadi
saat ini. Apa yang terjadi saat ini belum tentu akan menyebabkan even besar
sekitar 20 tahun mendatang.

Mengapa demikian?

Sekarang ini kita berada dalam masa transisi yang sangat labil. Kita sulit
meramalkan apa yang terjadi dari sebuah proses yang berawal dari masa
transisi ini. Kita tentu berharap proses-proses yang terjadi sekarang
membuahkan sebuah pemerintahan yang terbuka, legitimate, dan demokratis.
Cuma, perlu diketahui, masa transisi bagaikan keping mata uang. Ia memiliki
dua wajah. Pertama, seperti saya katakan di muka, proses ini akan
menghasilkan pemerintahan yang terbuka dan demokratis. Kedua, bisa pula
proses yang tengah berjalan ini menghasilkan pemerintahan yang otoriter.
Atau malah lebih otoriter. Itu semua bergantung pada faktor-faktor yang
bermain. Apakah semua sepakat dengan demokratisasi atau tidak? Ini berlaku
di mana-mana. Seperti di Eropa Selatan dan Amerika Latin. Dari sini bisa
dikatakan apa yang akan terjadi 20 tahun nanti, bisa jadi, tak disebabkan
apa yang terjadi sekarang ini.

Faktor-faktor apa saja yang bisa mempengaruhi format bangsa kita
pascatransisi ini?

Yang pertama, faktor elite politik. Apakah kita ini mempunyai pemimpin
nasional yang terampil? Dulu di Spanyol, sekitar pertengahan era 1970-an,
ada figur yang bernama A. Soarez. Hanya dalam kurun dua tahun ia berhasil
membawa Spanyol menuju era demokratisasi. Yang menarik, setelah berhasil
membawa Spanyol menuju demokratisasi, ia tak bersedia dipilih lagi. Apakah
kita mempunyai pemimpin nasional seperti ini? Saya kira pertanyaan ini tak
usah dijawablah.

Kedua, konfigurasi nasional. Apakah unified atau tidak? Ketiga, faktor
ekonomi. Apakah kita ini mempunyai model ekonomi yang baik? Seperti
diketahui, kita sekarang ini didera krisis multidimensional. Berawal dari
krisis moneter, krisis ekonomi, sampai krisis politik yang berkepanjangan.
Faktor terakhir, adalah kondisi internasional. Apakah kondisinya cukup
kondusif untuk mengembangkan pemerintahan yang demokratis? Agaknya, situasi
internasional ini cukup positif. Soalnya, mereka telah memberikan
bantuan-bantuan. Tetapi, apakah ini bisa diletakkan dalam konteks ekonomi
atau tidak? Artinya, apakah hal ini bisa disebut sebagai reinvestasi?
Menurut saya, belum.

Mencermati faktor-faktor yang Anda paparkan ini, tampak nuansa pesimisme.
Benarkah demikian?

Begitulah. Saya ini termasuk kelompok yang pesimistis. Banyak hal sebenarnya
yang bisa diajukan sebagai contoh. Kalau kita cermati, hari libur untuk
anak-anak sekolah tahun ini cukup panjang. Praktis, mulai kampanye digelar
sampai 7 Juni nanti, mereka libur. Tak hanya murid-murid SD. Mahasiswa S2
pun ikut-ikutan diliburkan. Kesan yang muncul adalah, saya tak bisa
memastikan alias hanya bisa meraba-raba, ini merupakan antisipasi hal-hal
yang mungkin terjadi selama kampanye dan hari pencoblosan. Mungkin agar tak
terjadi kerusuhan. Dan mereka baru masuk satu minggu setelah hari
pencoblosan. Kalau dulu kita minta libur satu hari saja tak diberi, kini tak
tanggung-tanggung. Langsung diberi empat minggu.

Nah, apa yang bisa dilihat dari hal ini? Bahwa pemilu yang baik bukan hanya
pemilu yang luber, jurdil, dan demokratis. Pemilu yang baik juga harus
berlangsung aman. Kita tahu salah satu prasyarat sirkulasi elite adalah
pemilu yang jurdil, demokratis, dan aman. Sekarang terlihat ada
antisipasi-antisipasi seperti itu. Inilah yang antara lain membuat saya
pesimistis.

Mungkin saja, pemilu nanti bisa menyelesaikan masalah. Tetapi, hanya satu
masalah. Mungkin saja, pemilu nanti menghasilkan pemerintahan yang
legitimate. Tetapi, bagaimana dengan masalah ekonomi? Krisis yang kita
hadapi ini sangat berat. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika anjlok
sampai 400 persen. Dari Rp 2.300 per dolar menjadi Rp 8.900. Belum lagi
membenahi masalah-masalah kerusuhan yang terjadi di berbagai tempat.

Apa kemungkinan terburuk yang akan terjadi nanti?

Kemungkinan paling buruk adalah pemilu tak jadi dilangsungkan. Atau mungkin
saja pemilu berlangsung dalam suasana yang tidak kondusif. Misalnya, ada
penentangan di sana-sini. Kalau itu terjadi, bisa diterapkan keadaan
darurat. Dan yang akan tampil nanti bisa the strong man. Hal-hal semacam ini
harus selalu kita ingatkan.

Kalau boleh saya katakan, dalam masyarakat ini ada yang pesimistis dan ada
pula yang optimistis. Biarlah dua pendapat ini berkembang. Nanti akan ada
pertemuan-pertemuan. Dan kita tunggu saja apa yang bakal terjadi nanti.
(ilo)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 27 Mar 1999 jam 03:59:50 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke