----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

KOLOM SUPANGKAT:

                        AMERIKA BELA MUSLIM, MUSLIM BENCI AMERIKA

Hubungan Amerika dengan Islam adalah suatu "love hate" relations.

Ethnic cleansing Yugoslavia/Serbia di Bosnia hampir berhasil kalau Amerika
tidak
campur tangan baik secara militer bersama NATO maupun secara diplomasi me-
lalui "shuttle diplomacy" Richard Holbrooke yang berhasil sukses.
Padahal mayoritas bangsa Amerika adalah Kristen/Katolik, Serbia sesudah komu-
nis lenyap memeluk agama Kristen Ortodoks, bangsa Bosnia memeluk Islam.
Bantuan negara islam seperti dari Turki, Saudi Arabia, Iran bahkan Indonesia,
telah diberikan semaksimal mungkin dan tak dapat disangkal.

Namun bantuan Amerika adalah yang paling menentukan karena diberikan de-
ngan bantuan pasukan dan lindungan payung udara dan diplomasi Holbrooke.
Amerika tidak pernah dapat dukungan apalagi ucapan terima kasih dari Konpe-
rensi Islam dll. Mereka menyimpan dalam hati kesemuanya itu.

Sebabnya ialah karena Amerika sebagai pendukung dan pelindung Israel yang
mutlak telah dianggap bertanggung jawab atas penindasan Israel terhadap Mus-
lim Palestina dengan bantuan moral dan materialnya yang serbatakterbatas.
Karena itu Amerika tetap dibenci dan jasanya di Bosnia tak dihargai.

Memang tidak dapat disangkal pula bahwa Amerika mempunyai kepentingan
nasional di Balkan, namun setidaknya pengakuan atas jasanya harus diberi-
kan. Namun politik Washington di Timur Tengah berurat berakar dalam sekali
dalam kalbu bangsa bangsa Arab, terutama golongan militan dan fundamen-
talisnya.

Sekarang di Kosovo, lagi lagi minoritas Muslim ditindas oleh Yugoslavia/Serbia
karena seperti Aceh mereka memperjuangkan negara Islam terpisah dari Yugo-
slavia. Untuk menghentikan pembantaian masal rakyat Muslim Kosovo,  NATO
di bawah pimpinan Amerika telah melakukan bombardemen selama empat ha-
ri belakangan ini.

Tujuan bombardemen adalah untuk menghentikan pembersihan etnis, pemban-
taian massal dan pengusiran Muslim dari pemukimannya di Kosovo. Tujuan ini
jauh dari tercapai, pasukan Yugoslavia/Serbia dengan liciknya menjalankan
operasi pengusiran Muslim secara intensif.

Konon menurut para peninjau internasional, politik Milosvic adalah untuk me-
nuntaskan pembersihan etnis Muslim dari Kosovo dan tanpa memberikan
kesempatan untuk membali ke Kosovo dengan jalan mensita semua surat
surat identitas, bukti bukti milik perumahan, mobil, dll., sehingga tanpa
surat
surat itu mereka tidak bisa kembali ke kampung halamannya kelak dikemudi-
an hari kalau perang sudah selesai.

Sementara itu NATO tetap tidak mampu menghentikan pembersihan etnis Mus-
lim karena tidak punya pasukan darat untuk melawan pasukan Yugoslavia.
Bombardemen tidak mungkin dilaklukan terlalu lama karena biaya operasinya
yang mahal sekali, dalam pada itu kalau Muslim sudah bersih dari Kosovo
 - dan tujuan ini hampir tercapai - konon  Milosevic yang berhasil memanfa'at-
kan pengalaman pembersihan etnisnya di Bosnia dan Kroasia itu barulah akan
menerima perjanjian perdamaian................

Bombardemen NATO akan sia sia belaka kalau penduduk Muslim
Kosovo sampai dibersihkan dari Kosovo dan tidak akan bisa kembali lagi ke
kampung halamannya akan menjadi pengungsi abadi di luar negeri.

H.S. Hidayat Supangkat
New York.



KOLOM SUPANGKAT:

                                AMERIKA ANAK EMASKAN INDONESIA SOAL ACEH


Adalah fakta yang tidak bisa disangkal lagi bahwa Amerika telah membela
Muslim Bosnia yang sudah terjepit di ibukota Sarajewo sedangkan kantong
kantong Muslim lainnya sudah dikepung oleh pasukan Yugoslavia/Serbia
dan terakhir terjadilah pembantaian massal di Sebrenica di mana pasukan
NATO dan PBB tidak berdaya mencegah atau menghentikannya.

Amerika mengutus Richard Holbrooke dengan shutlle diplomacynya yang
sukses dan gagallah operasi pembersihan etnis Muslim Bosnia dari Sara-
jewo, dll dan tercipatlah perdamaian dengan Balkanisasi di semenanjung
Balkan itu.

CIA, Kongres dan Kabinet Nixon, Carter, Reagan, Bush, Clinton, tahu betul
tindakan pembantaian massal (genocide) pemerintah Indonesia di Aceh, na-
mun mereka bungkam seribu bahasa dan pura pura tidak tahu.
Mungkin karena partai dan ormas Muslim Indonesia bungkam pula, tidak ada
satupun yang mengecam jangankan memprotes, seolah olah menyetujui tin-
dakan di luar perikemanusiaan ABRI.

Di sini tampak bahwa pemerintah dan Kongres Amerika menganak emaskan
Indonesia terhadap Aceh, di mana puluhan ribu rakyat Aceh telah dibantai
massal oleh DOM ABRI  atas perintah Presiden Suharto dan persetujuan par-
tai partai dan ormas ormas Islam: PPP, Muhammadiyah, NU dan akhir akhir
ini ICMI yang jangankan memprotes, mengecampun tidak.

Partai, Ormas Islam "guilty by association".
Partai dan Ormas Islam terlibat dalam pembantaian massal ini secara "guilty
by association" dan harus bertobat seperti Presiden Habibie telah bertobat ke-
pada masyarakat Aceh baru baru ini.

Kalau bukan LSM Internasional yang mengungkapkannya, maka pembantaian
massal Aceh akan tetap terkubur seperti mayat mayat puluhan ribu rakyatnya
yang terkubur secara rahasia.

Secara pribadi saya tidak menyetujui negara Islam, namun kalau satu propinsi
seperti Aceh berjuang mati matian untuk mendirikan negara Islam karena seja-
rahnya yang berbeda dengan propinsi propinsi kita lainnya, maka penindasan
adalah tindakan terkutuk. Banyaklah jalan keluar penyelesaian kecuali pemban-
taian massal kalau kita mau. Kemauan politik tiada.

Hanya Amerika yang perduli terhadap penindasan minoritas Muslim di dunia,
tanpa Amerika, buktinya di Aceh, seluruh dunia, bahkan dunia Islam, bungkam
seribu bahasa. Pada mulanya Iran selalu mengecam Indonesia dalam Konperen-
si Islam, namun setelah umat Syi'ah Indonesia dijadikan sandera politik, maka
Iran akhirnya berhasil dibungkam juga. Anggota konperensi Islam lainnya pura
pura tidak tahu saja. Munafikkun!

Setelah revolusi Iran, Syi'ah dimomoki akan menimbulkan revolusi Islam di
Indo-
nesia sehingga umatnya dicurigai mempunyai hubungan dengan Iran dan dibaya-
ngi terus. Iran diintimidasi Indonesia: kalau tidak diam, Syi'ah Indonesia
akan di-
tindas. Iran terpaksa bungkam.

Dan kesewenangan Indonesia bersrimaharajalela di Aceh selama puluhan tahun.
Tuntutan kemerdekaan Aceh tidak berhasil, baru sekarang mereka mulai menun-
tut referendum. Namun ibarat suara di padang pasir, tiada yang mendengar.

Tanpa bantuan internasional seperti yang dicanangkan oleh aktifis HAM
internasi-
onal Sidney Jones, dan tapa bantuan Amerika khususnya, Aceh tak akan dide-
ngar jeritannya. Muslim Indonesia pada umumnya membenci Amerika karena
politik Israelnya sedangkan pemimpin Aceh seperti a.l. Hassan Tiro, tidak
memilih tinggal di Swedia setelah berhasil jadi pengusaha besar di Amerika.
Memang ia diuber uber Intel Indonesia waktu berada di Amerika.
Tapi waktu momentum baik seperti pembantian massal terkuak lebar, tidak
ada pemimpin atau gerakan yang bisa menarik perhatian Kongres dan Kabinet
Clinton, mungkin tiada dana dan tiada lobbyist pula, sehingga hanya Human
Rights Watch Asia, dll yang menonjolkannya.

Gerakan kemerdekaan Aceh baru mendapat dorongan, pada awal bulan April ini
di Washington akan diadakan perdebatan seru. Mungkin Kongres dan Kabinet
Clinton akan mulai memberikan perhatiannya.

Amerika diharapkan "lebih Muslim drpd Muslim"?
Tanpa kecaman dan protes keras masyarakat Islam Indonesia sendiri, jangan
diharap Amerika akan memberikan pertolongan. Apakah kita mengharapkan
Amerika akan lebih "Muslim daripada Muslim Indonesia"? Mustahil.
Sampai kiamatpun Amerika tidak akan membombardemen Indonesia
seperti yang mereka lakukan di Bosnia dan di Kosovo untuk menghentikan
penindasan di Aceh.

Muslimin Indonesia tampaknya belum mengerti bahwa Aceh mempunyai latar
belakang historis yang berbeda daripada daerah Islam Indonesia lainnya wala-
upun sesama Muslim. Islam di Aceh sudah mendarah mendaging selama tiga,
empat abad tanpa sinkretisme.

Konon menurut sahibulkayat, keturunan Nabi, Kuraisy telah melarikan
diri dari pengejaran para khalif anti Kuraisy di jazirah Arab. Sedangkan para
keturunan Nabi dan Sayidina Ali: Hasan, Husein melarikan diri ke kota Padang.

Aceh tidak pernah mengalami pengaruh Hinduisme atau Buddhisme, Islam lang-
sung masuk dari jazirah Arab yang murni yang dianggap sebagai "Rennaisance"
Islam itu, tidak menembus dulu Hinduisme melalui sinkretisme.

Maka dari itu kita mengerti mengapa Islam mempunyai latar belakang yang ber-
beda dari Islam di Jawa di mana Wahabisme datang belakangan untuk member-
sihkan pengaruh sinkretisme secara terlambat karena sudah terlanjur mendarah
mendaging seperti dalam kebudayaan Jawa, Sunda yang masih menghormati
pewayangan Mahabharata, sedikit sekali Ramayana.

H.S. Hidayat Supangkat
New York
NB Tulisan di atas ini tidak berdasarkan referensi buku buku yang keting-
galan semua di Indonesia, hanya berdasarkan ingatan belaka. Mohon
ma'af kalau ada kekhilafan.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 29 Mar 1999 jam 15:35:28 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke